026. Malam di Hotel 2

1249 Words
Biru mendekatkan wajahnya ke arah Nadya, dia menempelkan bibirnya di bibir Nadya dan keduanya mulai terjun dalam romantisme yang manis. Nadya—Caramel, sangat menikmati setiap sentuhan yang Biru berikan, kedua manusia itu benar-benar terjun dalam rasa yang terbayangkan. Biru begitu cekatan menjelajahi segala titik yang berada di bawah tubuhnya. Sementara perempuan yang hilang kewarasan pun menerima segala hal yang lelaki itu lakukan. "Biru," lirih Nadya. "Diam." Biru mendaratkan ciumannya di bibir merah itu. Sesekali Nadya merasakan bagaimana hangat bibir Biru melintasi seluruh lekuk tubuhnya. "Biru, berhenti." Kali ini suara Nadya agak keras. Biru benar-benar cepat dalam hal memberikan kenikmatan. Nadya menyukainya, tetapi ia harus menghentikan ini. Biru menghentikan kegiatannya. Dia menatap wajah wanita di bawahnya. Menatap wajah Nadya. "Siapa yang kamu sukai?" tanya Nadya. "Kamu." "Sebut namaku dengan jelas." "Kamu." "Biru, sebut namaku dengan jelas!" sentak Nadya. "Ca.ra.mel." Biru mengejanya dengan sangat jelas. Wanita itu tersenyum, lalu dalam hitungan detik dia mendorong tubuh Biru yang telah melepaskan kemejanya sejak tadi dan hanya menyisakan celana levis saja. Nadya buru-buru duduk di pangkuan Biru, sementara tangan lelaki itu berusaha meraih kancing penutup d**a wanita di depannya. "Biru, jangan. Serius. Aku mencintai kamu. Bukan Nadya yang mengatakan ini tapi Caramel." Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Biru, "Tapi sayang, kenapa laki-laki hanya menginginkan s*x? Kenapa setiap kita bertemu kamu hanya menginginkan tubuhku, Biru?" "Aku menyukainya." "Aku ingin kebebasan. Aku nggak mau menyerahkan hal berharga ini pada seseorang yang nggak mencintaiku. Ini tubuh Nadya, berarti kau menyukai Nadya?" "Aku mencintaimu. Mencintai seseorang yang menghuni di tubuh Nadya. Saat kamu udah berhasil keluar dari tubuh Nadya, aku mohon temui aku dan buat aku jatuh cinta sama kamu. Aku mencintai kamu, aku suka kamu," bisik Biru. Nadya tersenyum. Dia bangkit dari pangkuan Biru, lalu memakai kembali kemejanya dan duduk di depan pria itu. "Apa aku harus tidur di sini malem ini? Sekamer dengan orang maniak s*x?" tanya Nadya retoris. "Tteokbokki yang kamu buat emang sangat enak, jujur aku menyukainya. Tapi selalu kebanyakan." "Kamu nggak suka?" "Aku suka. Tapi biarkan aku istirahat malam nanti. Besok, aku harus cari rumah tante." "Aku akan bantu kamu. Cari bersamaku selepas kerjaanku selesai. Gimana?" "Jangan ributkan aku, jangan urusin aku, Biru. Kamu fokus sama kerjaanmu. Aku akan langsung pulang besok sore," pinta Nadya. "Aku nggak mau gara-gara aku kamu jadi terhalang ke semuanya. Pokoknya kamu harus fokus ke kehidupan kamu hari ini, jangan fokus ke aku." "Mana bisa. Kamu udah bikin semuanya berubah." "Serius?" Nadya tertawa kecil. Biru mengangguk. ** Malam sekitar pukul 23.00, Nadya dan Biru duduk bersandar di atas kasur yang sama sembari berselonjor menonton film dari Netflix yang berada di layar depan. Gelapnya kamar benar-benar berhasil menciptakan vibes yang romantis, dan Nadya menyukainya. Sudah lama dia tak melakukan ini, biasanya ketika dia masih menempati tubuhnya, hampir setiap malam dia mematikan lampu dan melihat film dari proyektor. Dan nahasnya setelah berada di kontrakan Nadya, keinginan untuk menonton tak lagi ada dikarenakan malas dan tentu saja dia sibuk mencari cara agar dapat keluar dari tubuh asing ini. "Ah, bodoh banget. Kenapa dia nggak ngelawan? Dasar lemah. Aku nggak suka karakter yang lemah," omel Nadya sembari memakan kripik kentangnya. "Dia seneng laki-laki itu, tapi malu ngungkapinnya." "Hah? Nggak melawan bukan berarti seneng. Bisa jadi karena emang nggak bisa. Jangan dipukul rata deh," omelnya. Biru tertawa kecil. "Nat, aku tidur duluan ya." Dia mengecup pipi Nadya kemudian tidur sembari memeluk pinggang Nadya. Seperti anak kecil yang tertidur di pelukan ibunya. Nadya menoleh ke arah Biru yang sudah memejamkan matanya, tapi kemudian dia kembali fokus pada layar di depannya. Dia benar-benar menikmati film yang akan selesai 30 menit lagi. Hingga pukul 23.35 film selesai. Nadya mematikan layar di depan dan tersisa hanya lampu kamar yang remang-remang. Ingin dimatikan pun, Nadya takut kegelapan. Dia memindahkan tangan Biru dengan pelan, lalu mulai tidur di samping lelaki itu. Nadya menatap wajah Biru yang telah pulas, dia mengacungkan jari telunjuknya, lalu mengusap hidung Biru yang mancung, bibir Biru yang merah berisi dan semua yang ada pada Biru, Nadya suka. Terlalu munafik untuk menolak Biru hanya karena dia tak mau Biru melakukannya dengan Nadya. Dia hanya ingin Biru memakan Tteokbokki dengan Caramel versi diri Caramel sendiri. "Biru, i love you so much," bisiknya. "Serius aku nggak pernah jatuh cinta sedalem ini sama seseorang, aku nggak pernah sekalipun membayangkan jatuh cinta pada laki-laki tapi Biru di depan kamu ... seakan aku kehilangan kewarasan dan aku kehilangan diriku sendiri. Biru, jika aku sampai gila aku yakin bahwa obatnya hanya kamu." Nadya kembali membisik. Handphone milik Nadya berdering. Wanita itu menggeser tombol hijaunya. "Ya Jingga," lirih Nadya. "Belum tidur? Kamu baik-baik aja, kan?" Dari seberang Jingga bertanya. "Iya aku baik-baik aja. Ini baru mau tidur baru selesai nonton." "Na--" Biru berucap lirih, Nadya terkejut. Buru-buru dia mendaratkan bibirnya di bibir Biru agar lelaki itu tak bersuara. Dia takut jika Jingga curiga dan mengetahui semuanya. Meskipun siapa juga yang akan melapor. Di kamar ini hanya ada mereka berdua. "Nadya?" "Ya, Jingga. Aku mau tidur. Kamu belum ngantuk kah?" Nadya menaruh telunjuknya di bibir Biru, lelaki itu tersenyum. Mungkin Biru baru tahu bahwa Jingga tengah menelpon Nadya. "Kamu lagi di mana?" "Aku di kamer. Di rumah. Emang kenapa?" "Sendirian, kan?" "Iya. Emang sama siapa? Kan kamu nggak ada." "Ah oke deh, selamat tidur cantik. Besok aku telepon lagi. Miss u." "Okay." Nadya mematikan sambungan teleponnya, lalu menjauhkan jemarinya dari bibir Biru. "Kamu kenapa bangun lagi?" "Aku nggak suka denger suara Jingga." "Udah cepet tidur lagi. Aku minta maaf kalau ganggu." "Enggak, Sayang. Rasanya aku nggak mau tidur malem ini." "Kenapa? Besok kamu ada kerjaan kan?" "Enggak ada. Kan lusa, Cantik." "Ah gitu, tapi Biru ... aku laper." "Mau keluar?" "Jangan ngarang. Aku males juga udah malem." "Pesan makanan aja, ya. Ntar aku suruh temenku." Nadya mengangguk. Biru mengambil ponselnya, dia mengetikan beberapa kata lalu mengirimkannya pada Moka. Dia juga malas untuk keluar apalagi Bandung malam amat dingin, dan sepertinya dia lebih betah meringkuk di balik selimut. Sekitar 15 menit kemudian, handphone Biru menyala. Dia bangkit dan berjalan ke arah pintu. Membuka pintu kamar untuk mengambil makanan dan segera menutupnya kembali. "Ada chicken sama roti. Minumnya jus alpukat dan s**u. Ah, kayaknya ada yoghurt juga." Biru menyalakan lampu, lalu menaruh kresek di meja sedangkan Nadya turun dari ranjang dan menghampiri lelaki itu. "Maaf ya kalau kedatangan aku ke sini ngerepotin," ucap Nadya. "Enggak, Sayang. Astaga. Serius, Nadya jangan ngomong kayak gitu aku nggak suka. Nggak ada yang direpotkan aku seneng kamu di sini. Ingat ucapanku, aku nggak suka kamu bilang gitu." "Okay, sorry." Nadya membuka kreseknya lalu mulai memakan nasi dan chicken pelan-pelan. Akhir-akhir ini dia memang sering sekali merasa lapar. Sangat aneh. Padahal biasanya dia hanya butuh camilan saja, mungkin ini efek dari bayi? Entahlah dia tak mengerti. Di depannya, Biru menyedot jus alpukat sembari memainkan ponsel. Sesekali Nadya memperhatikan lelaki di depannya itu, kemudian buru-buru dia memasukan kembali sampah ke dalam kresek. Ia mengambil ice cream, lalu mulai menyendoknya sedikit demi sedikit. "Udah selesai makannya?" Biru tak sadar. Nadya mengangguk. Dia kembali menyuapkan ice cream rasa pisang sedikit demi sedikit. Padahal cuaca sedang dingin, tapi perempuan itu bahkan terlihat lahap menikmati ice cream-nya. Biru bangkit setelah memasukan cup ke dalam kresek sampah. Dia mendekat ke arah Nadya, membungkukan badannya di depan perempuan itu. Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nadya dan menjilat ujung bibir Nadya yang terkena ice cream dengan lidahnya. "Aku tidur," ujarnya seraya tersenyum. Nadya tak menjawab, dia hanya menegang di tempat mendapat perlakuan yang dia sukai. Ah Biru, kenapa dia begitu menggoda dan ingin rasanya untuk segera dimiliki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD