027. ART Baru

1140 Words
Sekembalinya Nadya ke rumah dia masih berpikir tentang ayahnya, tentang teka-teki yang ingin diselesaikannya. Terlalu rumit bagi Nadya yang tak suka dengan genre kehidupannya saat ini. Seorang anak tiba-tiba membuka pintu rumah, Nadya terkejut. Tapi dia pernah melihat anak itu bermain di depan bersama teman-teman sebayanya. Sesekali dia sering memperhatikan Nadya, tapi ia tak kenal. Siapa anak itu. "Mbak Nadya, kenapa akhir-akhir ini suka diem aja? Kayak bukan Mbak Nadya, lho," komentarnya. Ah jangan-jangan dia deket sama Nadya. Batinnya. "Eh iya maaf ya, soalnya Mbak Nadya sibuk. Nama kamu siapa?" tanyanya. "Mbak Nadya lupa namaku juga? Sibuk apa emangnya? Namaku Nishwa. Mbak Nadya amnesia ya?" Anak yang sepertinya berusia 7 tahun itu kesal karena Nadya di depannya kini berubah, dan bukan hanya berubah tetapi memang benar-benar berbeda. "Astaga iya Nishwa maaf ya. Mbak Nadya emang agak amnesia. Jadi sini deh Nishwa mau nggak ngajarin Mbak Nadya bahasa Jawa? Soalnya Mbak Nadya jadi lupa bahasa Jawa," alibinya yang benar-benar tak masuk akal itu. Tapi jujur Nadya memang membutuhkan tutor untuk memperdalam bahasa Jawa agar orang tua Nadya kandung tidak bertambah curiga, paling tidak dia harus mengerti bahasa dasar agar tidak cengo ketika dihadapkan dengan mereka. Terlebih ayah Nadya. Bagaimana pun juga yang boleh tahu tentang semuanya hanya Biru, selain Biru tak ada yang boleh tahu bahwa di dalam tubuh Nadya bukanlah Nadya. Bisa-bisa ia dikatakan gila dan tebakan paling mudahnya, ia akan dirawat oleh spesialis dan entah gimana selanjutnya. "Oh gitu, ya. Boleh kok Mbak Nad. Ayo Nishwa ajarin." "Ayo sini." Nishwa duduk di depan Nadya setelah anak itu menutup kembali pintunya. Nadya pun menaruh biskuit dan minuman di meja, sengaja agar Nishwa memakannya dan tidak bosan jika nanti Nadya mengulang-ulang atau melakukan banyak kesalahan. "Enggak itu bahasa jawanya apa?" Sembari bertanya, Nadya menyiapkan note untuk dicatat. Jaga-jaga jika dia lupa, maka akan langsung membuka catatannya. "Enggak itu mboten. Kalau nggak ada bahasa jawanya Mboten wonten atau boten enten, Mbak." "Oke bentar." Nadya langsung mencatat apa yang dikatakan Nishwa. "Kalau enggak tahu?" "Mboten sumerep." "Nggak ngerti?" "Mboten ngertos." "Sendirian?" "Piyambak." "Mau?' "Bade." "Mau ke mana?" "Bade pundi?" "Okay deh udah dulu ya, nanti besok Nishwa main ke sini lagi ya. Ajarin Mbak Nadya bahasa Jawa lainnya. Ngomong-ngomong ini bahasanya bisa dipakai buat komunikasi sama orang tua juga, kan?" "Komunikasi itu apa, Mbak?" "Komunikasi itu ngobrol. Ngobrol sama orang tua." Nishwa mengangguk. "Nggih, Mbak iso." "Okay, terima kasih Nishwa." "Suami Mbak Nadya ke mana?" "Oh lagi kerja. Kenapa emang?" "Enggak soalnya Nishwa takut." "Hah takut? Takut sama siapa?" "Suami Mbak Nadya." "Emang kenapa suami Mbak Nadya?" "Pernah marahin Revan waktu kami main petak umpet. Udah agak lama sih, tapi tetep aja takut. Mas itu marahnya serem, Revan dijewer dan hampir mau ditampar." Nadya terkejut. Hah? Dia agak tak percaya jika Jingga sedemikian kasar, tapi di sisi lain Nadya juga mempercayai ucapan Nishwa karena dia anak kecil dan Nadya yakin Nishwa tak berbohong. Terlihat dari kedua mata anak itu, dia bercerita dengan penuh kejujuran dan rasa was-was. "Emang Revan ngapain waktu itu?" tanya Nadya. Jujur saja dia juga tidak tahu siapa Revan, tapi mungkin anak itu sebaya dengan Nishwa. Buktinya dia masih bermain petak umpet. "Waktu itu kan Mas Jingga lagi bertamu di sini, duduk di luar. Terus aku yang ngitung, Revan dan temen-temenku lari cari tempat sembunyi. Yang lain pada lari ke utara, tapi Revan sendiri yang lari ke selatan. Terus dia tadinya pengen ngumpet di balik punggungnya Mas Jingga, tapi sebelum itu dia nggak sengaja nambrak kaki Mas Jingga dan bikin kopi yang sedang diminum Mas Jingga tumpah. Akhirnya Revan dimarahi, dia dijewer dan hampir mau ditampar kalau waktu itu Mbak Nadya nggak cepet keluar buat belain Revan. Abis itu Revan nggak mau diajak main lagi kalau ada Mas Jingga. Dia takut, kami yang lihat juga takut. Marahnya Mas Jingga serem banget," tutur Nishwa. Benarkah? Nadya benar-benar tak habis pikir. Masalahnya, mereka masih anak-anak wajar berbuat demikian, adapun jika salah bukannya lebih baik diberitahu tentang kebenarannya, dinasihati agar mereka mengerti? Jika dikasarin hal itu akan membuat anak traumatis. Jika saja saat itu dia tahu kejadian ini, mungkin ia akan memarahi Jingga habis-habisan. "Coba nanti ajak Revan maen ke sini. Bilang sama Revan, Mas Jingga nggak ada kok. Oh gini aja, nanti sore kita makan bersama sama temen-temen kamu gimana? Nanti Mbak Nadya sediakan banyak makanan buat kita." Nadya menawarkan. "Beneran Mbak Nadya?" Nishwa tampak tak percaya. Nadya mengangguk. "Beneran. Mau nggak? Kalau mau, sekarang kamu pulang dan nanti undang semua teman-teman kamu biar nanti sore jam empat makan di sini, ya." "Iya Mbak. Nishwa pulang, ya! Nishwa mau ngundang semua teman-teman Nishwa biar makan di sini bareng." "Oke, hati-hati sayang." Nadya tersenyum. Selepas Nishwa pergi seorang wanita 30 tahunan tiba. Dia tampak membawa tas balon, dan menunduk di ambang pintu melihat Nadya dari dalam. "Assalamualaikum, Mbak," ucapnya. "Iya ada apa?" Seperti biasa, Nadya tak pernah menjawab salam. "Kulo Wulan, mriki--" "Udah, pakai bahasa Indonesia aja. Gimana?" Nadya memotong ucapan wanita itu. "Oh iya, Mbak, maaf. Saya Wulan, saya ditugaskan untuk kerja di sini. Katanya Mbak-nya butuh ART-kan ya? Saya asal Solo, Mbak." "Oh oke. Sini masuk." Nadya meminta wanita itu untuk segera masuk. Wulan menuruti. Dia tampak sungkan untuk duduk. "Udah nggak papa duduk aja, Mbak? Oh gini aja deh, buat hari ini kamu istirahat aja dulu. Di belakang ada satu kamar yang biasanya buat lemari, tapi kamu di sana aja nggak papa. Soalnya di sini nggak ada kamar yang bener-bener kosong. Nanti besok beli lemari lagi aja buat baju-bajumu." Nadya berusaha bertindak solutif. Rumah sekecil ini memang seharusnya tak perlu bantuan ART tapi dia malas untuk melakukan banyak hal sendiri. Jika bisa menyuruh, kenapa harus bertindak sendiri? Begitu motto-nya. "Oh iya, Mbak. Paham." "Ya sudah sana istirahat. Soalnya nanti sore mau ada acara kecil-kecilan di sini." "Kalau begitu saya bantu aja, Mbak." "Nggak papa? Tapi kan kamu ini baru tiba banget." "Saya udah dari semalem sampai Malang, Mbak. Tapi saya nginep di rumah temen karema udah malem takut ganggu Mbak Nadya. Jadi, saya udah istirahat. Saya pengin langsung kerja aja, Mbak, biar jangan buang-buang waktu." "Oh gitu, kamu bisa masak kan? Kira-kira menurut kamu masakan apa yang sekiranya enak buat anak-anak?" "Mungkin kita bisa bikin nasi biryani, Mbak." "Nasi biryani kayak gimana, ya?" "Nasi kuning tapi nanti dicampur sama daging ayam, Mbak. Kebetulan saya bisa masak nasi biryani." "Oh boleh deh nggak papa. Ini uangnya buat beli bahan-bahan dan hal-hal lainnya. Saya nggak tahu harus ngapain, jadi nanti saya bantu masak aja, ya. Itu pun kalau bisa." Nadya memberikan beberapa lembar uang berwarna merah, lalu ditanggapi oleh ART-nya. "Ndak papa, Mbak, saya sendiri bisa masak biryani kok. Lagian cepet. Saya beli bahan-bahannya dulu ya, Mbak." Nadya mengangguk, "Tapi kamu tahu tempatnya? Maksudnya pasar atau perlengkapan makanan di sini?" "Saya pernah kerja di Malang selama 3 tahun sebelum balik ke Solo, Mbak. Jadi, saya lumayan hafal tempat ini." "Oh okay, hati-hati."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD