028. Makan Bersama

1173 Words
Sore pukul 15.30, Nadya melihat Wulan yang hampir menyelesaikan pekerjaannya. Ia membuat nasi biryani yang dimasaknya secara manual melalui kompor. Wulan tampak menikmati pekerjaannya, sementara Nadya hanya ikut membersihkan rumah saja. Itu pun Wulan melarangnya karena ternyata dia sudah tahu bahwa Nadya tengah hamil. Satu dua anak-anak teman Nishwa mulai datang. Mereka tampak duduk di teras depan menunggu teman-temannya yang lain. "Mbak Nadya, Mas Jingga nggak ada kan?" tanya Nadya. "Oh enggak ada kok. Santai aja. Pokoknya nanti kalian makan sepuasnya, ya!" "Ye, makasih Mbak Nadya." Tak lama dari itu sekumpulan anak-anak mungkin berjumlah sekitar dua puluhan datang, Nadya tersenyum berusaha ramah walau sejujurnya dia risih melihat pemandangan ini, terlebih ia tak suka rumah menjadi kotor. Tapi apa boleh buat, dia sedang drama menjadi Nadya yang baik, Nadya seperti sediakala. Tidak baik juga jika dia ciptakan sekat terus menerus dengan para tetangga dan anak-anak. Wulan kemudian keluar membawa nampan yang dijajarkan. Lalu dia mulai menumpahkan nasinya di nampan-nampan agar mereka makan berbarengan. Nadya sedikit terkejut, kenapa Wulan tak menaruhnya di piring saja. Apakah mereka mau berbagi dengan temannya, tapi ... Nadya merasa mual. "Wulan, kenapa nggak di piring aja? Kenapa harus bareng-bareng? Kita nggak tahu ke depannya, gimana kalau ada yang bawa kuman, bisa-bisa nanti menularkan ke yang lain," bisik Nadya. "Aman kok, Mbak, tenang aja." Jujur saja Nadya menjadi tak berselera. Kenapa Wulan melakukan ini? Makan bareng-bareng memang asyik katanya, tapi Nadya sendiri tak pernah melakukannya. Bahkan dia tidak mau menyedot dari sedotan yang sama dengan siapa pun, kecuali Biru mungkin. Tapi demi menjaga sikap, akhirnya Nadya tetap duduk di antara mereka untuk menikmati mereka makan. "Okay anak-anak, sebelum makan mari kita berdoa bersama-sama terlebih dahulu, ya. Doa dimulai." Wulan memimpin acara tersebut, sementara Nadya yang tak kenal doa hanya memperhatikan. Mana sempat berdoa, dia biasanya langsung makan hingga kenyang setelah itu selesai. "Bismillahirrahmanirrahim ... Allhumma baarik laana fiima razaqtana wa qiinaa 'adzabannar ... Aamiin." Mereka kemudian terlihat langsung menikmati makanannya dengan sangat lahap. Sesekali mereka bercanda, kemudian melanjutkan kembali makannya. Wulan mengeluarkan satu dus air mineral, ditaruhnya di antara mereka, lalu dibukanya kemudian. "Makannya hati-hati, ya. Jangan buru-buru. Ini bukan perlombaan," kata Wulan. "Mbak namanya siapa? Kok kayak baru lihat," tanya anak laki-laki yang duduk paling ujung. "Namanya Wulan, kalian bisa manggil saya Mbak Wulan. Mulai hari ini saya bekerja di rumah Mbak Nadya, salam kenal ya semuanya." Wulan menjawab ramah. Ramah sekali malahan. Mereka tampak menyambutnya dengan suka cita. Padahal lebih lama Nadya di sini daripada Wulan, tapi kepribadian Wulan yang asyik, membuat dia lebih dulu disukai anak-anak. Tapi ya itu tak masalah sedikit pun. Sejak awal Nadya memang tak terlalu suka dengan anak kecil, ia risih. Pernah suatu ketika saat dia masih menjadi Caramel, banyak keponakan yang datang ke rumahnya dan main-main di kamarnya, selepas itu ada saja barang miliknya yang rusak dan pecah, bahkan album NCT tiba-tiba ada di kolong ranjang tidur. Setelah itu dia selalu menutup pintunya rapat-rapat jika ada satu saja keponakannya yang datang. Bukan masalah harus diganti atau tidak, bahkan jika tak diganti pun dia bisa membelinya lima lagi, enam lagi, atau tujuh lagi, tapi tentang seberapa sayang dia sama album-album miliknya. Dan kembali melihat anak-anak di depannya kini, bahkan Nadya hanya berpura-pura bahagia saja sejak awal. Dia berpura-pura senang menghadapi mereka, walau sisi lain berkata, mengapa mereka tak cepat-cepat untuk menyelesaikan makannya dan kemudian langsung pulang. Tapi jika dibandingkan dengan tempramental Jingga, Nadya memang merasa bahwa lebih baik dirinya daripada Jingga. Semarah-marahnya dia pada anak kecil, sekesal-kesalnya dia pada banyak keponakannya, dia tak pernah sekalipun melayangkan tangannya pada mereka, karena Nadya tahu bahwa percuma saja mengasari anak kecil tak pernah ada gunanya, yang ada hanyalah semakin berani dia atau meninggalkan traumatis pada anak tersebut. Handphone berdering, Nadya melihat nomor Jingga memanggil. Video Call. Nadya menyalakan videonya, lalu terlihat wajah Jingga dari layar. "Lagi ngapain, Nat?" tanya Jingga dari seberang yang jauh. "Nemenin anak-anak makan. Lagi ngadain acara nih." Nadya menggunakan kamera belakang kemudian. Dia melihat wajah Jingga yang terkejut. "Anak-anak makan di rumahmu? Ada acara apa emangnya?" Jingga bertanya. "Ya nggak ada acara apa-apa. Permintaan maaf sama Revan aja, yang dulu pernah kamu hampir tampar itu," jawab Nadya pelan. Dia tidak tahu yang mana bernama Revan, hanya saja dia yakin di antara banyak anak-anak itu ada Revan di antaranya. "Nat, serius. Aku reflek nggak sengaja. Waktu itu aku emang lagi kesel sama salah satu mahasiswa karena selalu aja terlambat. Kamu masih inget itu, Nadya?" Nadya bangkit, dia tak betah jika berbicara dengan suara yang tertahan. Dia masuk ke ruang tamu, lalu menjeda videonya dan mulai berkata. "Tapi Jingga, kekesalan kamu sama mahasiswa nggak ada gunanya menjadikan anak itu pelampiasan. Sampai sekarang kamu udah minta maafkah sama dia? Aku tahu dia salah, tapi segitu marahnya kamu sampai mau menampar dia?" "Nat, bahkan kamu masih ingat detail cerita itu? Kenapa nggak dilupain aja? Itu masalah kecil, aku khilaf." Jingga berkilah. "Seberapa sering kamu khilaf begitu?" debat Nadya. "Okay, aku minta maaf. Jangan perpanjang masalah ini. Kamu selalu aja memperpanjang kesalahan-kesalahan yang aku buat, aku minta maaf, Sayang." "Okay. Ngomong-ngomong kamu pulang kapan?" Kali ini suara Nadya lebih direndahkan. Dia sepertinya lelah juga. Selalu maaf yang Jingga ulang-ulang. "Minggu depan aku pulang. Mau aku bawakan sesuatu?" "Ya, bawa makanan yang banyak." "Terus apa lagi?" "Itu aja. Hati-hati." "Kamu juga, ya. Jaga kandungan kamu baik-baik." Nada hanya bergumam. "Aku tutup ya, miss you ..." "Okay." Sambungan mati, Nadya beranjak ke arah kamar dan menutup pintunya kemudian. Dia berdiri di depan kaca, membuka kaosnya dan menampilkan perutnya yang telah berisi seorang bayi. Di depan cermin, ia lepaskan semua pakaiannya kecuali bra dan underwear. Ia mengusap-usap perutnya, dan tersenyum kemudian. Serius, ternyata begini rasanya hamil. Biasa aja, sih. Hanya karena ada yang beda sedikit saja. Nadya melakukan mirror selfie, lalu mengirimkannya pada Jingga, suaminya. Ah, hampir saja dia mengirimnya pada Biru jika tak buru-buru menyadari. Nadya Sent a photo Menurut kamu aku gendutan nggak sekarang? Jingga Enggak, cantik. Kamu cantik. Astaga, aku makin jatuh cinta. Nadya Mau lagi? Jingga Nat ... serius, tunggu aku pulang. Nadya Okay. Nadya tahu sepertinya Jingga tak bisa menahannya. Entah kenapa bukan hanya Jingga, Biru juga, keduanya hanya maniak s*x. Mungkin salahnya juga selalu mancing, tapi tak bisakah mereka menahannya sekadar basa-basi, berpura-pura tidak menginginkan misalnya. Tapi jika tentang Biru, bahkan Nadya seperti seseorang yang hilang kewarasan. Dia selalu nurut melakukan apa pun, tubuh Biru seakan memiliki sihir dan harum lelaki itu selalu Nadya sukai dan bersama Birulah Nadya benar-benar merasa betah. Ia tahu Biru seperti tak bisa menghormatinya, dia selalu melakukan yang diinginkan otaknya tanpa persetujuan dari Nadya, tapi nahasnya dia selalu luluh dan rela jika Biru yang melakukan itu. Padahal suaminya adalah Jingga, tapi anehnya bersama Jingga bahkan tak ada rasa. "Mbak Nadya!" Wulan mengetuk pintu. Nadya membuka pintu kamar miliknya, Wulan terlihat terkejut. "Ada apa sih? Biasa aja dong, sama-sama perempuan kok," tegur Nadya. "Maaf, Mbak, tapi itu anak-anak mau pulang." "Oh ya udah, saya nggak bisa nemuin sekarang. Soalnya tiba-tiba pusing. Bilangin aja makasih dan jangan takut ke sini walaupun nanti ada suami Mbak Nadya, gitu, ya," pesan Nadya. "Iya, Mbak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD