Nadya kembali menutup pintu, lalu berdiri lagi di depan cermin. Dia bosan berada di tubuh orang lain, dia ingin balik ke tubuhnya sendiri. Berjalan-jalan di pantai menggunakan bikini, ke mana pun menggunakan baju bebas, dan tak ada yang melarang atau menatapnya aneh. Dia kangen berlibur ke Aussie dan bermobil dengan sahabatnya, memakan Tteokbokki bersama di kamar hotel dan tentu saja hanya Tteokbokki buatan Biru yang paling enak. Bahkan dia tak percaya bahwa akhirnya dia jatuh cinta dengan penulis itu dan sejujurnya sampai sekarang dia masih penasaran kenapa Biru bisa melupakan Nadya secepat itu? Bukankah katanya Nadya adalah cinta pertama Biru. Tapi persetan dengan itu Nadya yakin bahwa mungkin manusia memang senang dengan perubahan, dan Biru juga akhirnya bisa berubah dengan memalingkan perasaannya dari Nadya ke Caramel.
Selepas itu dia menyalakan lagu dari kanal youtube, mendengar lagu-lagu lama karena lagu-lagu kesukaannya di 2019-2020 jelas belum ada. Sedikit aneh, tapi mau tak mau akhirnya dia mendengarkan juga. Tapi jika dipikir lagi kadang-kadang lagu lama lebih membekas daripada lagu-lagu baru. Misalnya lagu-lagu lamanya Taylor Swift dan Ariana Grande yang sulit buat dilupakan.
"Mbak Nadya, ada paketan." Wulan berkata dari luar.
Nadya menautkan kedua alisnya? Paketan? Padahal dia tak memesan apa pun di market place. Tapi akhirnya Nadya bangkit juga dan membuka pintu. Ia mengambil paketan dari tangan Wulan, lalu kembali menutup pintu lagi. Dia membaca alamat yang tertera, benar namanya. Dia juga melihat nama penerimanya, tapi ... benar namanya Nadya. Perempuan itu penasaran, dia membukanya dan dilihatnya ada dress hitam selutut yang sangat cantik, mirip dengan dress kesayangannya dulu.
Di bawahnya ada sebuah surat, Nadya membacanya.
Seminggu lagi aku ulang tahun, aku merayakannya di Jakarta. Minggu depan memang seharusnya pulang, tapi aku memilih menetap di Jkt karena akan ada acara lainnya. Aku pengin kamu ke sini, memakai baju itu. Aku sudah memesan tiket untuk kamu, kamu hanya tinggal berangkat.
Aku nggak mau dapet penolakan dari kamu, pun aku pasti bakal kecewa banget kalau kamu nggak dateng. Jadi, please ke sini ya, Sayang ...
Tertanda: Biru.
Biru? Gila. Bahkan dia nyuruh gue ke Jakarta? Sendirian? Tapi kalau gue memutuskan nggak dateng, bukannya gue terlalu jahat sama Biru? Nadya langsung meraih ponsel, menekan kontak Biru dan langsung memanggilnya.
"Iya Nadya," sapa Biru.
"Kamu pengin aku ke Jakarta lagi?" tanya Nadya to the point.
"Iya. Aku ulang tahun, aku akan adakan pesta di sini. Aku nggak bisa balik ke Malang. Aku pengin kumpul sama temen-temen dan kamu kalau bisa ...." Biru menjawab lirih.
"Kalau aku nggak bisa?" Nadya bertanya retoris.
"Harus bisa. Nad, nggak lama. Kamu tega nggak datang ke orang yang pengin banget pestanya di hadiri sama kamu?" Biru berkata tegas dan berhasil membuat Nadya tidak enakan. Apakah itu hanya akal-akalannya saja, tapi Nadya juga benar ingin sekali datang ke Jakarta (lagi).
"Okay nanti aku ke sana," putusnya tanpa basa-basi.
"H-1 kamu harus udah ke sini. Jangan bilang Jingga. Aku nggak mau kamu berantem sama dia. Serius, aku cuma pengin kamu hadir itu aja," jawab Biru.
"Yakin? Hanya itu?" Nadya tak percaya.
Dari seberang sana Biru tertawa. "Mungkin, itu dulu. Ah ayolah Sayang, aku nggak bisa berpisah lama sama kamu. Serius, aku nunggu kamu balik ke tubuhmu dan buat aku cinta kamu. Aku pengin ngabisin malam sama kamu, sama Caramel."
"Me too, Biru. But i don't know kapan semuanya berakhir." Nadya menjawab dengan suaranya yang sangat pelan. "Kadang aku mikir kayak orang yang nggak punya harapan, padahal aku tahu bahwa aku masih dikasih kesempatan buat kembali. Tapi kadang ketakutan berhasil bikin aku cemas. Aku takut kalau gagal dan nggak bisa balik, tentu ini mimpi buruk banget dan kayaknya aku bakal bunuh diri kalau itu bener terjadi." Nadya berceloteh, ketika mengingat dirinya yang memang tidak bisa bebas dan terpenjara di tubuh orang lain rasanya dia frustrasi dan merasa tidak ada jalan. Dia cemas dengan keadaan dirinya sendiri. Dia tidak tahu apakah Nadya menyukai nasibnya, apakah Nadya menyukai jalan cerita yang diambil Caramel untuknya? Bahkan dia jadi bertanya-tanya seistimewa apa Nadya sampai-sampai malaikat atau apalah itu yang bertugas dalam pertukaran jiwa ini sampai mengorbankan orang lain hanya untuk Nadya.
Apakah di kehidupan sebelumnya Nadya adalah permaisuri dari seorang pangeran atau bagaimana? Bahkan dia tak paham. Semuanya masih berbentuk teka-teki.
"Nat, jangan ngomong gitu. Kamu tau, aku bakal frustrasi kalau kamu kayak gini. Kamu bisa kembali ke kehidupan kamu sebelumnya dan semua akan baik-baik aja. Percaya sama diri kamu sendiri, percaya sama apa yang kamu yakini. Aku tau ini berat, bahkan terkesan kayak dongeng yang nggak mungkin tapi nyatanya kamu bisa jalanin ini walau belum selesai. Kamu bisa lewatin ini walau kamu kesel, marah, dan mungkin ngerasa kalau semuanya nggak adil. Tapi nyatanya kamu bisa. Ya udah, lanjutkan. Kamu bisa. Aku percaya. Sabar ya cantik. Istirahat gih, jaga diri baik-baik dan have a nice day."
"Biru, tapi kamu yakin kan kalau semuanya akan berubah menjadi sediakala. Kalau aku kembali ke tubuhku dan aku nggak inget kamu bagaimana?" tanya Nadya. Kali ini dia bahkan cemas pada banyak hal. Ia merasa bahwa apa yang dicemaskan akan terjadi. Bagaimana jika nanti setelah Nadya kembali ke kehidupannya sebagai Caramel, ia tidak tahu dan tidak kenal sosok Biru?
"Paling enggak, di antara kita berdua ada yang masih nyimpen ingatan ini, kan? Aku bakal nemuin kamu dan bilang kalau aku suka kamu. Ya, kalau memang semudah itu. Dan tolonglah jangan terlalu overthinking. Aku tau ini terdengar cuma nasihat basi, tapi beneran, lebih baik kamu pikirkan cara biar bisa hadir di ulang tahunku karena aku kangen kamu. Aku kangen bibir kamu dan aku kangen semuanya. Tolong jangan sampe nggak ke sini. Aku tunggu kamu."
"Okay." Nadya mematikan ponselnya.
Dia berpikir alasan terbaik apa yang harus ia siapkan agar nanti Jingga mempercayai dirinya untuk ke Jakarta. Sekarang tak sebebas seperti sediakala. Misalnya sebebas saat dia masih sendirian, tapi kali ini ada Wulan yang bisa saja selain menjadi ART, dia juga bertugas menjadi mata-mata yang melaporkan semuanya pada Jingga. Ini tak aman jika Nadya memaksakan kehendaknya untuk nekat datang ke Jakarta. Tapi bisa tidak bisa, dia harus ke sana. Harus hadir di pesta ulang tahun Biru. Setidaknya dia ingin menghadiri acara itu.