11

712 Words

"Aku tidak tahu jika suamimu adalah pria yang kita temui di restoran kemarin," adalah kata pertama yang diucapkan Andrew saat kami masuk ke dalam toko roti. Aku memilih untuk tidak langsung menjawab ucapan Andrew. Sebab, aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Sehingga aku membiarkan Andrew kembali berkata, "Maafkan aku, bukan maksudku untuk mencampuri urusan pribadimu. Hanya saja jika dia memang benar suamimu, mengapa dia bersama wanita lain hari itu?" Aku memandang wajah Andrew dengan wajah datar. Berusaha menutupi bagaimana perasaanku saat ini. Bingung sekaligus malu. Malu karena sikap Morgan. Harus kuakui jika orang lain yang melihat sikap Morgan tentu saja akan bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang dilihatnya sedang bersama perempuan lain, hari ini malahan mengak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD