10

775 Words

Tak ada suara yang terdengar kecuali suara sang penyiar yang terus berkicau tanpa kehabisan kata-kata memenuhi ketegangan diantara aku, Morgan dan Katy. Jika boleh memilih, ingin rasanya aku memilih untuk naik taksi daripada satu mobil dengan mantan sepasang kekasih yang saat ini hanya saling melirik melalui spion dalam. "Turunkan aku di halte busway saja, Mas." Katy membuka suaranya dari arah belakang. Morgan melirik Katy dari spion dalam. "Tidak usah. Aku akan mengantarmu. Tapi sebelumnya aku harus mengantar Clariana terlebih dulu. Toko rotinya tidak jauh dari sini." Mendengar jawaban yang diberika Morgan berhasil membuatku memutar kedua bola mataku. Jauh di dalam lubuk hatiku ingin rasanya aku menampar pipi mulus milik Morgan keras-keras. Tapi aku tahu hal itu tidak akan pernah ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD