Viola bangun dari tidurnya dan bergegas menuju ke luar kamar. Di depan pintu kamar ia berpapasan dengan Viona.
"Seraphina mana?" tanya Viola.
"Mana gue tahu, gue bangun dia udah gak ada di kamar." Jawab Viona.
"Elo kenapa keluar dari situ?" tanya Viona kemudian.
"Semalem sempit banget tahu! Gue gak kebagian tempat, mana elo mepet-mepet terus akhirnya gue jatuh ke lantai. Ya udah gue pindah kamar aja." Jawab Viola.
"Hehehe, I'm sorry my twin."
"Udah yuk turun kita cari Sera." Ajak Viola kepada kembarannya itu.
Mereka berdua turun ke bawah dan mencari Seraphina.
"Seraphina, lo dimana?" teriak Viona.
Tak ada sahutan.
"Ser?" panggil Viola kemudian.
Tak lama orang-orang yang ada di kamar Riano berdatangan menghampiri si kembar.
"Kalian kenapa berisik di rumah orang?" tanya Devano tegas.
"Hah? Kok papa ada disini?" Tanya Viona kaget, sedangkan Viola hanya memasang ekspresi datar seperti biasa ketika ia berhadapan dengan papanya ini. Memang hubungannya dengan papanya menjadi sangat renggang karena kejadian yang sudah ia ceritakan kepada Seraphina kemarin malam.
"Kalian kenapa ada disini?" tanya Devano tanpa menggubris pertanyaan Viona.
"Kita nemenin Seraphina disini lah Pa, kan su---" belum selesai Viona berbicara Seraphina sudah menutup mulut Viona dengan telapak tangannya.
"Kalian pasti laper kan? Makanya bawel, yuk kita ke ruang makan tadi gue udah masak buat kalian berdua." Ujar Seraphina sambil menarik tangan Viona dengan Viola yang mengikuti di belakang.
"Sera?" panggil Devano.
Seraphina menoleh.
"Papa pulang dulu kalau begitu, ayok Revano." ujar Devano mengajak anaknya.
Seraphina hanya mengangguk kemudian menuju ke ruang makan bersama Viona dan Viola.
"Sera, ada apa sih?" tanya Viona sambil berbisik.
Seraphina kemudian menceritakan apa yang terjadi saat Viona dan Viola masih tidur.
"Lo serius?" tanya Viola tak percaya.
"Iya, gue gak tahu gimana pemikiran bokap lo berdua. Masa iya gue mau disatu rumahin sama Riano sedangkan yang punya hubungan resmi itu gue sama Revano. Tapi Revano juga malah ngenalin gue sebagai anaknya bu Marlina." Ujar Seraphina sambil menidurkan kepalanya di meja makan.
"Selalu ya mereka semena-mena sama semua orang." Ucap Viola berapi-api.
"Apa rencana lo?" tanya Viola kemudian.
"Gue sih punya rencana buat bikin Riano bergantung dulu sama gue, saat itu udah terjadi pasti keluarga lo bakalan gak setuju kan. Saat itu juga gue bakal serang balik mereka." Jawab Seraphina.
Viola mengangguk.
"Dan misi gue juga sebenernya buat mancing Revano apakah dia masih cinta sama gue atau engga." Lanjut Seraphina yang mendapat sorakan 'cie' dari Viona.
"Bagus, pertahankan apa yang seharusnya jadi milik lo. Tapi jangan menunjukan kalau lo lagi bersandiwara, pelan-pelan aja. Kita bakal bantu lo, tenang aja." Ujar Viola menasehati.
"Kayaknya urusan balas dendam sama keluarga sendiri lo paling semangat."
"Emang hahaha."
"Anjir.." pekik Viona.
"Apaan?" tanya Viola dan Seraphina kompak.
"Gue skip kelas dosen killer." Lirih Viona.
"Mampus!!" teriak Seraphina dan Viola bebarengan.
"Sialan kalian!"
**
"Kalian ngapain disini?" tanya Riano datang yang menghampiri si kembar.
"Suka-suka kita lah!" jawab Viola sinis.
"Ya kali kita mau ngebiarin lo tinggal disini sama Seraphina berdua?" tanya Viona balik dengan nada yang sinis juga.
"Gue gak setuju lo berdua disini!" Bentak Riano.
"Siapa elo? Terus masalahnya apa kalau kita disini? Kita tiap hari malah tinggal disini apalagi disaat orang-orang di rumah itu selalu enggak nganggap kita berdua." Ujar Viola yang sama membentak juga.
Riano diam.
"Dan satu lagi, lo sama Seraphina itu gak ada ikatan apapun. Ya kali lo mau digrebek warga sini karena dituduh kumpul kebo?" ujar Viola lagi, ia sungguh kesal dengan sikap Riano yang semena-semena seperti ayahnya. Hanya ia dan Vionalah yang biasa saja sikapnya, ia berpikir ia masih punya hati dengan tidak memperlakukan orang-orang seenaknya.
Tanpa mereka sadari ternyata Seraphina mendengarkan di balik tangga sampai geleng-geleng kepala karena heran bagaimana isi kepala Riano itu.
**
Sore ini Seraphina baru akan berangkat ke kampus. Saat mencapai pintu utama ia dikagetkan dengan suara Riano yang memanggilnya.
"Seraphina!" panggil Riano.
"Hai Kak, kenapa?" tanya Seraphina.
"Ngampus?" tanya Riano.
"Iya."
"Naik apa?"
"Udah pesen ojek online."
"Oh gitu, sayang banget ya."
Seraphina mengerutkan keningnya. "Emang kenapa?"
"Sayang banget keadaan kakak lagi kayak gini, jadi gak bisa anter jemput kamu ke kampus." Ujar Riano.
Seraphina diam.
"Pokoknya entar kalau kakak udah sembuh kakak bakalan anter jemput kamu ke kampus atau kemanapun pokoknya." Ujar Riano lagi.
Seraphina mengangguk.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya kak." Ujar Seraphina.
Riano mengangguk.
"Sampai ketemu lagi." Ucap Riano dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Semoga gue secepatnya bisa pulih, biar gue bisa lamar lo, Seraphina." ujar Riano setelah Seraphina tak terlihat lagi dari pandangannya.
**
Seraphina tiba di kampus. Seperti biasa ketika ia memasuki kampus maka para catcaller akan menggodanya.
"Neng Sera cantik, sini dong sama Aa Asep!" teriak Asep salah satu catcaller yang merupakan teman Revano.
Tunggu. Teman Revano. Itu artinya Revano ada disana dan ternyata benar kini Revano tengah menatap ke arahnya.
"Sera, jangan sombong-sombong dong. Kalau kita nanya tuh jawab, entar ngga laku-laku loh!" Ujar Rion, ia juga masih merupakan temannya Revano.
Seraphina melangkah pergi, ia memang tak pernah memperdulikan siapapun yang menggodanya karena menurut Seraphina itu sangat-sangat tidak penting.
"Kebiasaan deh tuh cewek, jual mahal banget." Gerutu Rion.
"Maklum sih cantik." Timpal Ferry.
"Percuma cantik tapi jual mahal, gue perkosa baru tahu rasa!" ujar Rion dengan enteng tanpa mengetahui bahwa Revano kini sedang menahan amarahnya karena ucapan Rion barusan.
"Gimana kalau kita kerjain dia? Ya seneng-seneng dikitlah sama cewek cantik." Ucap Rion sambil menaik-turunkan alisnya.
"Enggak! Gak ada yang boleh mainin dia!" peringat Revano kepada para sahabatnya.
"Maneh kenapa deh, Van?" tanya Asep.
"Iya nih, lo gak salah dengerkan? Gue nyebutnya Seraphina, bukan Syafira." Sambung Rion.
"Ya pokoknya jangan aja."
"Lo aneh!"
"Pokoknya---" ucapan Reavno terpotong kala Syafira datang merangkul lengannya.
"Sayang.. ayok pulang." Ajak Syafira.
"Kamu gak masuk kelas?" tanya Revano.
"Enggak ah, males. Ada tugas dari dosen killer dan aku belum. Daripada dikeluarin pas mata kuliah berlangsung, mending aku skip aja deh." Ujar Syafira.
"Aku bilang apa sayang, kamu tuh jangan males-malesan terus di rumah. Kalau ada tugas ya kamu kerjainlah." Peringat Revano pada istri pertamanya itu.
"Aku gak males-malesan kok, kan aku sama kamu lagi giat buat bikin dede bayi." Ujar Syafira.
"Haduh, aing panas disini mah. Ada pasutri ngomongin bikin anak jadi aing kabita!" ujar Asep menyela obrolan Revano dan Syafira.
Kemudian Asep berlalu dari hadapan mereka.
"Heh, Asep Markusep elo mau kemana anying?" tanya Ferry.
"Ogah aing disitu mah, panas! Mending nyamperin neng Sera yang cantik se-Jakarta." Teriak Asep dari jarak sebelas meter.
"Nu gelo!" umpat Ferry.
Tak lama Rion pun ikut pergi dari sana, bedanya Rion tak mengucapkan sepatah katapun.
"Elo juga mau kemana, Rion?" tanya Ferry.
"Nyusul Asep ngapelin Seraphina," Jawab Rion ketus.
"Lah, itu manusia dua kenapa sih?" tanya Ferry akhirnya.
"Van, lo tahu kenapa si Rion begitu?" tanya Ferry lagi.
"Van.."
Tak ada sahutan.
"Revano..."
Masih taka da sahutan.
"Vano..."
Tetap taka da sahutan.
Saat Ferry menengok kebelakang, sudah tak ada siapapun. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Revano berjalan bersama Syafira menuju ke mobilnya.
"Anjing, b*****t kalian semua! Gue ditinggal disini, awas aja!" omel Ferry kepada para sahabat yang meninggalkannya.