Pagi hari Seraphina terbangun dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya.
"Engghh.. Vi, bangun dong ini berat." Gumam Seraphina kepada Viona.
Namun Viona malah semakin mendengkur, sepertinya tidak mendengar Seraphina. Dengan berat hati akhirnya Seraphina bangun dari tidurnya dan langsung mengguncang-guncang badan Viona.
"Vivi, bangun dong. Udah pagi nih, lo ada kelas pagi kan?" Tanya Seraphina sambil tetap mengguncang badan Viona.
"Lima menit lagi." Ujar Viona sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Wait, Viola mana?" Gumam Seraphina. Ia mencari Viola ke seluruh penjuru ruangan namun hasilnya nihil. Akhirnya ia memutuskan keluar kamar dan mencari Viola ke seluruh ruangan di rumahnya tapi tak ada. Hingga akhirnya ia berhenti di depan pintu kamar milik Revano, ia belum melihat kesana. Kemungkinan besar Viola memang ada disana. Akhirnya Seraphina membuka pintu dan dugaannya benar, Viola tengah terlelap disana.
"Heh, Vio. Bangun dong!" Suruh Seraphina.
"Kalem 10 menit lagi." Ujar Viola.
"Adek kakak gak ada bedanya." Gerutu Seraphina kemudian berjalan keluar dari kamar dengan perasaan jengkel menghadapi kedua sahabatnya yang kembar itu. Iamemilih kembali ke kamarnya dan segera mandi. Dilihatnya Viona tidak merubah posisi tidurnya.
Setelah selesai mandi Seraphina bergegas untuk sarapan. Ia tak menghiraukan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas. Tak lama kemudian terdengar suara bel pertanda ada tamu yang berkunjung.
"Tunggu sebentar!" teriak Seraphina sambil berjalan menuju pintu utama.
Saat membuka pintu ia dikejutkan dengan kedatangan papa mertuanya.
"Loh, Om? Ada apa ya?" tanya Seraphina heran.
"Panggil saya papa."
"Ada apa ya Pa?" tanya Seraphina lagi.
"Kamu gak mau mempersilahkan papa mertuamu ini masuk?"
"Hahhh? Ahh iya Pa, ayo masuk." Ajak Seraphina kemudian.
"Viona dan Viola ada disini?" tanya Papa Devano setelah duduk.
"Iya ada Pa, tapi mereka masih tidur." Jawab Seraphina.
Devano hanya mengangguk.
"Ada yang mau papa bicarakan sama kamu." Ujar Devano begitu tegas.
Seraphina mengernyit pertanda bingung.
"Soal apa ya, Pa?"
"Riano sudah sadar."
Seraphina semakin tidak mengerti, apa hubungannya jika Riano sadar dengan dirinya. Meski Riano sadar tetap saja Seraphina tak bisa menuntut Riano untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Terus?" tanya Seraphina.
"Dia mengalami kelumpuhan dan papa akan menempatkan dia disini sementara hingga kakinya bisa berjalan kembali."
"Apa? Papa gak salah ngomong kan? Maksud papa apa dengan masa pemulihan Riano disini,"
"Ada alasan yang tidak bisa papa katakan kepada kamu sekarang."
"Papa gak takut kalau seandainya Seraphina melakukan balas dendam?" tanya Seraphina dengan tangis yang sudah berderai.
"Papa yakin kamu gak akan mungkin melakukan itu." Jawab Devano dengan entengnya.
"Bisa aja aku melakukan itu, Pa." ujar Seraphina sambil menatap benda di depannya dengan tatapan kosong.
Tak lama kemudian dua orang datang dari arah pintu utama. Mereka Revano dan Riano. Revano berjalan mendekat sambil mendorong kursi roda Riano.
"Sumpah demi apa ini kalau Revano ngebiarin kakaknya tinggal sama istrinya. Apa dia bener-bener gak ada rasa sama gue?" tanya Seraphina dalam hatinya.
"Di..dia siapa?" tanya Riano kepada Revano.
"Dia anaknya bu Marlina yang jaga rumah ini." Jawab Revano.
DEG!
Cukup sudah. Seraphina menyesal mau menikah dengan Revano. Jika tahu akan begini lebih baik ia menjadi gelandangan saja daripada harus tersiksa batin seperti ini.
"Kalau gitu aku siapin dulu kamar buat kak Riano." Ujar seraphina sambil berdiri kemudian pergi dari sana. Sebelum pergi Seraphina menatap Revano sekilas.
Ia masuk ke dalam kamar yang akan ditempati oleh Riano. Ia menutup pintunya kemudian menangis di belakang pintu itu.
"Gak Ser, lo gak boleh nangis. Lo gak boleh lemah gini." Ujarnya menenangkan diri sendiri. Kemudian suatu ide terlintas di benaknya, ide yang akan membuktikan apakah Revano masih menyimpan rasa padanya atau tidak. Bahkan ide ini bisa membuat keluarga itu menjadi tak berbuat seenaknya kepada orang. Caranya adalah membuat Riano bergantung padanya.
Di ruang tamu Riano terus tersenyum sejak ia melihat Seraphina tadi.
"Kenapa sih elo sunyam-senyum sendiri?" tanya Revano heran melihat kakaknya yang sedari tadi seperti orang gila.
"Cewek tadi cantik, gue jatuh cinta." Ujar Riano to the point.
DEG!
"Dia milik gue, bang!" ujar Revano, tentu saja dalam hatinya. Mana mungkin ia mengatakan kalau Seraphina adalah istri keduanya.
Sepertinya pilihan Riano mengenalkan Seraphina sebagai anak Bu Marlina kepada Riano adalah hal yang salah besar. Bagaimana mungkin jika nantinya Riano dan Seraphina menjalin hubungan? Bagaimana jika Seraphina tidak akan menjadi miliknya lagi? Katakan saja bahwa Revano egois, namun itulah kenyataannya bahwa ia tak ingin Seraphina menjadi milik orang lain. Mungkin ia lebih rela jika Syafira yang dijatuhcintai oleh kakaknya itu.
"Ah elo mah, Bang. Baru aja ketemu mana mungkin elo langsung jatuh cinta gitu sama dia, palingan lo cuma kagum aja karena dia cantik." Ujar Revano menyangkal.
"Serius Van, kalau gue udah pulih nanti langsung deh gue lamar dia." Ujar Riano terkekeh.
Revano mendengus, sungguh hatinya saat ini panas.
Seraphina kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa dua cangkir the untuk Devano dan Revano.
"Maaf ya, Pa. Aku telat ngasih minumnya." Ujar Seraphina merasa tak enak kepada papa mertuanya.
"Tidak apa-apa, makasih ya maaf papa merepotkan." Ujar Devano.
"Nyadar juga lo, emang elo ngerepotin pake nitipin anaknya segala kesini." Ujar Seraphina dalam hatinya, ia mencoba sabar demi melancarkan misinya membuat para orang egois ini sadar.
"Ayok kak Riano, mau aku anterin ke kamar?" tawar Seraphina kepada Riano.
"Oh boleh, ayok kamu dorongin kursi roda aku ya." Pinta Riano.
"Iya siap kak." Kata Seraphina sambil menampilkan senyuman termanisnya untuk kakak iparnya itu.
Revano semakin panas. Senyuman itu dulu hanya untuknya, walaupun kini Seraphina sudah menjadi miliknya tetapi senyuman itu tak pernah ada. Hanya ekspresi datar dan dinginlah yang Seraphina selali tunjukan padanya.
"Pa, gimana kalau Bang Rian jatuh cinta sama Sera?" tanya Revano khawatir.
"Ya bagus dong, kamu bisa tenang bersama Syafira tanpa harus selalu ada ketakutan kalau kamu akan jatuh cinta kepada Seraphina." Jawab Devano dengan enteng.
"Gak bisa gitu dong, Pa! Seraphina itu istrinya Revano." Kata Revano dengan suara yang meninggi.
"Gak usah ngegas gitu, boy! Salah kamu yang tidak mau mengakui Seraphina sebagai istri kamu, lebih parah kamu malah bilang kalau Seraphina adalah anak dari Bu Marlina."
Revano diam ia menyadari kesalahannya.
"Makanya sebelum ngomong itu pikirkan dulu, kamu tahukan kalau istri kedua kamu itu memang cantik?"
Revano masih diam.
"Ingat Revano, kamu menikahi dia itu sah secara hukum dan agama. Bukan nikah siri."
"Terus Revano harus gimana, Pa?" tanya Revano frustasi.
"Papa tahu kalau kamu sudah jatuh cinta kepada Seraphina. Maka, berlaku adilah buat Seraphina. Papa mendukung kamu bersama Syafira, tapi kamu harus adil juga kepada Seraphina walaupun kamu menikah atas dasar perintah papa untuk bertanggung jawab atas ulah kakak kamu. Jangan datang pada Seraphina hanya karena kamu mau meminta jatah saja saat Syafira halangan. Hahahaha.."
"Pa, Revano serius."
"Papa juga serius. Kalau Seraphinanya mau dulu sudah papa jadikan dia istri kedua." Ujar Devano disertai gelak tawa.
"PAPA!" teriak Revano.
"Sudahlah boy, saran papa bagi waktumu seminggu untuk Syafira dan seminggu untuk Seraphina." Ujar Devano sambil menepuk bahu anaknya itu lalu berjalan menuju kamar yag ditempati Riano untuk berpamitan.
"Berat banget ya rasanya punya dua istri." Keluh Revano lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Riano.