Seraphina telah tiba di rumahnya bersama Viona dan Viola. Mereka langsung masuk ke kamar dan berganti baju menggunakan piyama.
"Lets party, girls!" Seru Viona yang muncul dari arah walk in dengan piyama tokoh hello kitty favoritnya.
"Kalian mau minum atau makan gak?" Tanya Seraphina pada dua sahabatnya itu.
"Ehm, gue mau s**u cokelat aja Ser." Jawab Viola.
"Gue juga." Ujar Viona ikut-ikutan.
"Yaudah, tunggu disini ya kalian." Ujar Seraphina kemudian ia bergegas menuju dapur untuk membawakan dua gelas s**u cokelat untuk sahabatnya tercinta.
Tak berselang lama Seraphina datang sambil membawa nampan berisi dua gelas s**u cokelat untuk sahabatnya dan segelas s**u putih untuk dirinya.
"Nih dua gelas s**u cokelat just for my best friends!" Seru Seraphina sambil meletakkan dua gelas s**u cokelat itu di atas meja.
"Thank you, princess Sera."
"Anjir, princess Sera." Sera terdiam, ia jadi mengingat panggilan itu. Panggilan saat masa-masa Revano menjadi kekasihnya. Walaupun sekarang status Revano kembali bersamanya. Namun Sera tetap tak bisa memiliki Revano seutuhnya. Istri kedua, kata itulah yang selalu menyadarkan Sera bahwa Revano bukan seutuhnya miliknya.
"Hahaha. Jangan gitu Viona, dia jadi inget masa-masa indah itu."
"Apaan sih kalian?" Ujar Seraphina protes.
"Hahahah jangan baper gitu ah, kan masa lalunya udah jadi masa kini." Ujar Viola malah semakin meledek.
"Udah deh, kan lo niat nginep disini mau cerita sama gue. Eh tapi, kalian bukan mau ngebahas masa lalu gue sama Revano disini kan?" Tanya Seraphina menatap curiga kedua sahabatnya.
Viona dan Viola langsung tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan dari Seraphina.
"Ya enggalah," Sangkal Viola.
"Yaudah kita mulai aja ceritanya. Sebelumnya gue minta maaf sama lo atas apa yang terjadi tadi karena keluarga gue." Sambung Viola
"Gapapa Vio, dari awal gue udah tahu kalau keluarga Revano mana mungkin mau nerima gue." Ujar Seraphina.
"Sebenernya gue sama Viona tuh gak sebahagia kelihatannya."
"Maksud lo?" Tanya Seraphina tak mengerti.
"Gue sama Viola suka dibeda-bedain gitu Ser, sama mama maupun papa. Awalnya cuma mama, papa sama oma Carissa yang kayak gitu. Tapi sekarang Kak Riano sama Revano juga jadi gitu, entah apa salah gue sama Viola ke mereka. Bahkan selama ini gue sama Viola diurus sama bu Marlina, makanya kita gak pernah sungkan sama dia. Papa aja jarang tuh main atau perhatian sama kita, mau kita gak balik juga papa gak pernah teleponin kita. Padahal nih ya biasanya seorang papa tuh paling khawatir kalau anak perawannya telat pulang," ujar Viona menceritakan.
Seraphina hanya diam menyimak apa yang sedang diceritakan si kembar.
"Selama ini papa cuma ngasih uang sama fasilitas aja sama kita. Padahal harta aja gak cukup Ser, kita butuh kasih sayang seorang papa." Ucap Viona lagi sambil air matanya turun membasahi pipi.
Seraphina langsung mendekati Viona dan memeluknya.
"Gue gak tahu harus gimana Vi, yang pasti semuanya pasti ada alasannya. Mungkin mama lo pas lahiran kalian dulu kena sindrom baby blues jadi dia begitu terus sama kalian." Ujar Seraphina menenangkan.
"Itu masuk akal sih, tapi gue malah merasa kalau sebenernya gue sama Viona itu bukan anak mama. Maybe anak papa dari cewek lain, makanya papa cuma ngasih duit aja sama gue dan Vivi sebagai bentuk tanggung jawab." Ujar Viola tiba-tiba. Viona langsung diam mencerna apa kata Viola.
"Masa sih? Gak mungkin deh, coba kalian berpikir positif aja." Saran Seraphina.
"Gue dulu sempet berpikir gitu juga Ser, tapi semakin lama sikap mereka sama gue semakin parah. Malah yang selalu dapet perhatian itu malah Syafira yang notabenennya cuma menantu gitu." Ujar Viola.
"Bener banget sih Vio, gue dulu sempet juga mikir kayak gitu dan Revano jadi berubah sikap sama gue sekitar lima tahun lalu pas mereka balik liburan dari Eropa dan pas Revano putus dari lo." Sambung Viona.
"Loh, emang lo berdua gak ikut ke eropa?"
"Hahaha anjir, boro-boro kita diajak ke Eropa. Rekreasi ke dufan aja kita mah dititipin di rumah bu Marlina. Pas ke Eropa malah kita liburan di kampung halamannya bu Marlina."
"Kok aneh sih?" Tanya Seraphina heran.
"Ya--" belum selesai Viona berbicara tiba-tiba handphone Seraphina berbunyi.
"Hallo..."
"..."
"Iya ada, kenapa?"
"..."
"Hmm."
Seraphina langsung meletakkan handphonenya ke tempat semula.
"Siapa Ser?" Tanya Viola.
"Revano."
"Ngapain?"
"Nanyain lo berdua."
"Cie yang ditelpon suami." Goda Viona.
"Ngapain dia nanyain kita berdua?" Tanya Viola kemudian.
"Khawatir kali sama kalian." Jawab Seraphina
"Gak mungkin." Sanggah Viola.
"Hey guys, dengerin gue. Revano itu pasti sayang kok sama kalian. Mungkin dia bersikap kayak gitu cuma mau nyenengin hati tante Karina aja." Ujar Seraphina.
"Kalaupun iya kayak gitu, pasti dia bakal baik sama kita walaupun dibelakang mama." Sanggah Viola lagi.
"Aduh, udah deh jangan melow-melow gini ah. Mending tidur aja yuk, gue yakin kalian besok ada kelas pagi di kampus." Ujar Seraphina.
Merekapun kemudian tidur bertiga dengan posisi Seraphina di tengah, Viola di sisi sebelah kanan dan Viona di sisi sebelah kiri. Ah, indahnya persahabatan seperti ini.