Seraphina tiba di halaman rumah mewah milik Devano—ayah mertuanya. Feelingnya sedari tadi sangatlah tak enak, entah apa yang akan terjadi nanti, baik atau buruk Sera harus mau menghadapinya.
“Waw! Lihat siapa yang datang!” ujar seseorang di belakang Seraphina. Tak lain dan tak bukan orang itu ialah Syafira.
Seperti biasa Seraphina hanya menanggapi dengan ekspresi dingin dan datar.
“Elo itu bisu ya?” tanya Syafira geram karena Seraphina mana pernah menanggapi omongannya.
“Kalau ditanya tuh ngejawab dong!” Syafira akhirnya ngegas karena ia kesal juga dengan tingkah Seraphina.
“Terserah lo mau nganggep gue bisu, gagu, tuli atau apapun. Karena omongan lo itu gak ada gunanya walaupun gue tanggepi!” Seraphina akhirnya bersuara namun kali ini dengan nada yang tajam.
“Hahaha akhirnya elo bersuara juga.” Ejek Syafira.
“Sera!” panggil seseorang dengan semangat.
“Vivi!” balas Seraphina tak kalah semangat.
“Ahh, akhirnya elo ikutan juga acara keluarga disini. Welcome to our family ya, Sera.” Ujar Viona begitu antusias.
“Sebenernya gue gak mau sih ikut kesini, tapi gue menghargai ajakan tante Katrina yang terkesan memaksa.” Beritahu Sera dengan nada malas.
“Hahahaha.. emang lo jagonya nyenengin hati orang.”
“Ayo sayang kita masuk ke dalam, di luar panas.” Ujar Katrina yang tiba-tiba datang.
Viona pun segera menggandeng Sera menuju ke dalam rumah tanpa memperdulikan Syafira yang tengah menatap mereka tak suka. Syafira memang dari dulu tak bisa merebut hati si kembar Viona dan Viola. Si kembar itu selalu menganggap bahwa Syafira itu musuh mereka dan memang pada kenyataannya juga Revano dan si kembar tidak akur entah apa alasannya padahal mereka memiliki orang tua yang sama.
“Dan sebentar lagi lo akan malu, Seraphina.” Gumam Syafira dengan sinis.
Keadaan rumah yang tadinya ramai akan canda tawa antar anggota keluarga akhirnya menjadi hening kala melihat kedatangan Viona dan Katrina yang membawa Seraphina.
“Loh, kalian ngapain bawa dia ke acara keluarga kita?” ujar Karina—ibunya Revano.
“Mama apaan sih?” sergah Viona.
“Kamu yang apa-apaan Viona? Ngapain kamu bawa si parasite kesini?” tanya Karina lagi.
“Parasit?” gumam Seraphina kemudian ia tertawa remeh kepada ibu mertuanya itu.
“Lihat, bahkan dia tidak menghargai saya. Malah menertawakan saya.”
Seraphina kemudian berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil melipat tangannya di depan d**a memperhatikan drama apa yang akan dibuat oleh keluarga yang selalu berbuat seenaknya ini.
“Dia itu bisu Ma, tiap diajak ngomong sama Syafira aja gak pernah ditanggapin.” Adu Syafira semakin memanasi ibu mertuanya itu.
Viona akan bicara namun ditahan oleh Seraphina.
“Orang yang kalian sebut parasite ini adalah anak dari dua orang yang sudah jadi korban pembunuhan yanh dilakukan oleh anak kalian.” Ujar Seraphina.
Wajah Karina berubah menjadi tegang.
“Itu hanya kecelakaan!” Bantah Karina.
“Kecelakaan atau bukan saya tetap menganggap hal itu sebagai pembunuhan, karena apa? Karena orang tua saya meninggal dan kalian menganggap saya sebagai parasite padahal kalian sendiri yang menyeret saya ke dalam keluarga penuh drama ini. Saya bahkan gak pernah meminta pertanggungjawaban dari kalian atas kepergian orang tua saya. Kalian harusnya malu kalau berhadapan sama saya, karena kalian melindungi pembunuh. See? Dia sekarang koma kan? Gak jelas hidup atau mati. Saya gak tahu gimana caranya Viona dan Viola bertahan dalam keluarga ini,” Ucap Seraphina yang berhasil mengbungkam mulut orang-orang yang ada disana.
“Bahkan dengan liciknya kalian membuat perusahaan ayah saya bangkrut hanya karena takut saya menuntut anak kalian yang sedang koma itu. Dan tante Katrina, saya yakin kalau tante sekongkol sama mereka untuk mempermalukan saya disini. Saya kira tante baik, tapi sama aja. Orang-orang di keluarga ini gak punya hati kecuali Viona dan Viola.” Lanjutnya sambil menatap tajam ke arah Katrina.
Katrina menggeleng.
“Enggak Sera, bahkan tante gak tahu bakalan seperti ini. Kalau tante tahu tante gak akan maksa kamu untuk ikut kesini, sayang.” Jelas Katrina merasa bersalah.
Seraphina tidak menanggapi dan langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu utama.
“Sera, elo mau kemana?” tanya Viona yang ikut bangkit.
“Mau bikin orang yang koma jadi titik!” jawab Seraphina tanpa menengok lagi ke belakang dan membuat semua orang disana kaget.
“Revano, kejar dong Seraphina. Dia berniat mau membunuh kakak kamu.” Ujar Karina panik.
“Ini yang bikin aku selalu gak betah di rumah, disini suka seenaknya sama orang lain!” ujar Viola yang baru turun dari kamarnya.
“Diam kamu, Viola!” Hardik Karina.
“Kenapa Ma? Mama selalu membedakan antara aku, Viona dan Syafira. Disini yang anak Mama itu Syafira atau kita Ma? Bahkan dari aku dan Viona kecil Mama gak pernah ngasih kasih sayang dan cinta Mama sama kita? Apa salah kita Ma?” tanya Viola, matanya sudah berkaca-kaca.
“Karena kam---“ ucapan Karina terpotong oleh Devano.
“Cukup kalian, jangan memperpanjang masalah yang sepele.” Ujar Devano tegas.
“Aku yakin, ada yang kalian sembunyiin diantara aku dan Viola.” Ujar Viona yang kini bersuara.
“Udahlah Vivi, kita mending susulin Seraphina. Silahkan kalian berpesta disini tanpa kami!” ujar Viola.
Kemudian mereka berdua hilang dibalik pintu utama.
“Kenapa jadi gini sih?” tanya Katrina cemas.
“Salah kamu kenapa membawa Seraphina kesini.”
“Salahkan juga Mas Devano yang menikahkan Revano dengan Seraphina!” ujar Katrina tajam lalu melenggang pergi dari sana.
Seraphina kini tengah berjalan sendirian di jalan komplek dekat rumah orang tau Revano.
“Benerkan kalau feeling gue jelek berarti ada hal yang memuakkan. Contohnya sekarang nih!” Gerutunya sambil terus berjalan.
“Tumbenan gue lancar ya tadi marah-marah. Biasanya kalau gue marah gue cuma diem aja. Wah ada kemajuan nih.” Ujarnya lagi.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang membunyikan klaksonnya.
TIN!
“Sialan!” umpatnya kepada mobil itu.
“Cewek! Sendirian aja.” Ujar orang yang ada di dalamnya.
“Kalian…”
“Hahahaha.. ayok naik, jangan ngedumel sendiri aja. Bikin penyakit hati, mending kita party sendiri di rumah lo.” Ujar orang itu yakni Viona.
Seraphina pun masuk ke dalam mobil itu.
“Mood gue turun banget, parah.” Ujar Seraphina yang masih kesal.
“Hahaha.. Tapi bagus tuh biar lo tahu alasan kenapa kita berdua gak pernah balik ke rumah.” Ujar Viola.
“Untung lo berdua gak kayak mereka.”
“Iya dong, kita mah bukan turunan gak punya hati.” Ucap Viona bangga.
“Anak mama sama papa kan cuma Revano sama Riano, kit amah apa atuh cuma remahan macaron.” Lanjut Viola.
“Anjir.. hahahha…”
Dan mereka bertiga asyik bercerita di dalam mobil seakan tidak pernah ada masalah yang terjadi.
“Ser, gue mau cerita. Gue udah nyimpen ini lama banget dan gue rasa elo orang yang tepat buat gue berbagi.” Ujar Viola.