Bagian 3

887 Words
Revano, Rion, Asep dan beberapa teman yang lainnya sedang berada di kantin. Tiba-tiba sebuah tangan terulur ke hadapan Rion dengan sebuah brosur yang ada di tangan tersebut. Dan betapa senangnya Rion ketika melihat siapa yang mengulurkan brosur itu kepadanya, siapa lagi kalau bukan Seraphina. "Hari ini ada seminar, kalau ada waktu kalian boleh dateng," Ujar Seraphina. "Kalau bisa kalian semua dateng ya biar dapet ilmu yang banyak, bukannya cuma ngetrekin cewek-cewek yang lewat." Lanjut Seraphina sarkasme. Disana ada Revano namun Seraphina tak begitu memghiraukannya karena ia tahu bahwa Revano tak mungkin membongkar tentang hubungan mereka. Saat Sera akan pergi tiba-tiba Rion menarik tangannya. "Eh sorry, Sera. Apa lo juga bakal datang disana?" Tanya Rion basa-basi dan dia juga tidak melepaskan cekalan tangannya kepada Sera. Sera melirik cekalan tangan Rion dengan sinis dan sangat terlihat bahwa gadis itu tak suka dengan apa yang dilakukan Rion. "Ehm sorry..." Ujar Rion kemudian. "Lo pasti punya kemampuan membaca kan? Gue kasih itu brosur biar lo baca bukan cuma lo pegang." Sindir Sera terang-terangan. Rion dibuat malu setengah mati disana. Berbeda dengan teman-temannya yang lain yang sudah nampak menahan tawa. Kemudian Sera pergi dari sana tak ingin berlama-lama. Terutama ada Revano yang terus menatapnya tajam. Sekitar pukul lima sore, seminar telah selesai. Geng Revano tak ada satupun yang hadir mungkin bagi mereka mendatangi seminar hanyalah membuang-buang waktu. Kini Seraphina tengah berjalan menuju ke area depan kampus untuk mencari taksi. Ketika sampai dekat area parkiran ia dikejutkan dengan mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak hampir menabraknya. Seraphina hanya memejamkan mata menahan amarah. TIN! "Why are you so stupid?" Maki Sera akhirnya kepada sang pengendara. Kaca jendela depan mobil itu terbuka dan menampilkan sepasang suami istri, siapa lagi jika bukan Revano dan Syafira. "Oops.. sorry kita gak sengaja. Makanya jangan ngelamun kalau jalan, kayak punya nyawa banyak aja." Cibir Syafira. Seraphina yang semula wajahnya merah padam karena marah kini berubah menjadi datar dan dingin. Entah kenapa berhadapan dengan dua insan itu Seraphina hanya terlihat kalem saja jarang menampakan bahwa dirinya tengah marah. Tak mau mendengarkan cibiran Syafira yang menurutnya sangat mengganggu. Seraphina memilih untuk melanjutkan langkahnya melewati mobil Revano. "Eh cewek pelakor! Lo budeg apa ya? Gue ngomong daritadi kok gak dijawab." Namun Seraphina tetaplah Seraphina. Senyaring apapun orang yang mengajaknya bicara dia takkan meladeninya jika menurutnya sangat tak penting. "Ngadepin romeo-juliet kw 4000 buang-buang waktu banget," Ujar Seraphina sambil meneruskan langkahnya. "Pelakor pelakor, yang duluan sama Revano siapa anjir." Lanjutnya sambil tetap melangkah. "Aku gak suka sama Seraphina tuh kayak gitu, beb! Dia selalu pura-pura gak denger apa yang orang bilang." Gerutu Syafira yang kini tengah berada dalam mobil bersama Revano. "Udah dong, kamu jangan bikin masalah. Dia kan gak mulai duluan, gak enak aja kalau kamu mulai duluan." Ujar Revano menenangkan. "Kamu belain dia, beb? Awas aja kalau kamu sampai ada rasa lagi sama dia." Ujar Syafira tak terima. "Malahan dari dulu rasa aku sama dia gak pernah hilang, Sya." Ujar Revano tetapi hanya di dalam hatinya. "Kenapa diem?" "Eh, engga . Aku cuma mau adil aja sama kalian berdua, kalian itu sama-sama istri aku." Ujar Revano. Syafira hanya mendengus tak suka ketika Revano berucap seperti itu. Seraphina tiba di rumah tepat pukul enam sore. Keningnya berkerut heran mengapa lampu rumahnya masih belum menyala. "Kok gelap sih? Bu Marlina sama tante Katrina kemana ya?" Tanyanya heran. Saat membuka kenop pintu ia dikejutkan dengan orang yang memegang pundaknya. Tubuhnya menegang seketika. "Si..si..siapa ya?" Tanya Seraphina terbata namun tak ada jawaban sama sekali. Ia pun bertekad untuk membalikkan badannya. Saat membalikkan badannya ia langsung menjerit seketika. "AAAARHH HANTU!" Jeritnya tak tertahan. "Mana mana hantu?" Tanya orang itu. "Tante Katrina?" Katrina langsung memencet saklar lampu agar lampunya segera menyala. Seraphina bernafas lega ketika tahu bahwa itu hanyalah Katrina yang sedang memakai masker wajah. Bukan hantu.   "Tante sumpah deh kayak hantu!" "Eh eh kamu ini tante lagi perawatan biar cantik malah dikatain kayak hantu." "Lagian kenapa tante bukan nyalain lampu udah mau menjelang malem begini!" "Maaf dong sayang, tadi tante tuh anteng di kamar lagi perawatan pokoknya." "Emang mau kemana sih tan?" "Loh kamu gak tahu?" "Engga tan." "Keluarganya Revano kan selalu ngadain acara keluarga setiap sebulan sekali." "Oh. Mana aku tahu tan." "Makanya biar kamu tahu, malem ini kamu ikut tante ya kesana." Ajak Katrina. "Gak mau ah tante, ngapain? Lagian pasti kehadiran aku gak akan diharapkan sama keluarga itu." "Kamu jangan pesimis gitu sayang, pokoknya kamu ikut ya tante gak terima penolakan sama sekali!" "Pokoknya aku gak mau tante! Aku harus kerja." Ujar Seraphina kekeh pada pendiriannya. "Kamu kerja?" Tanya Katrina kaget. "Iya tante." "Kenapa kerja? Apa uang yang Revano kasih ke kamu gak cukup?" "Tante ini bukan masalah uang atau apapun, aku udah kerja jadi waiter di salah satu kafe dari jaman kuliah tingkat dua. Dan aku kerja karena aku cari kesibukan, tante pasti tahu kan dari dulu aku gak ada temen selain Viola sama Viona.". "Tapi apa kamu gak capek setelah kuliah langsung kerja?" "Kalau aku capek mana mungkin aku mau kerja hehe." "Yaudah pokoknya sekarang kamu siap-siap, tante fix mau bawa kamu ke rumah keluarga Revano! Gak menerima penolakan pokoknya!" Seraphina akhirnya menuju ke kamarnya dengan langkah lunglai rasanya ia tidak ingin bertemu dengan keluarga itu. Saat pernikahannya dengan Revano saja hanya diadakan di KUA tanpa keluarga Revano kecuali ayahnya Revano saja. "Feeling gue gak enak deh." Ujar Seraphina pada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD