Menemukan mu kembali

1006 Words
*** Alex menatap Alea. "Ada apa? Apa kau mulai iba? Karna melihat luka sebanyak ini? Wah wah, kau punya hati ternyata?" Alea diam, dia hanya memberikan kotak P3K itu. Alex langsung membukanya, dia sama sekali tidak meminta bantuan Alea. Sombong sekali, sudah kesusahan tapi tidak meminta bantuan, angkuh sekali. Aku juga tidak perduli. Alea berbalik berjalan pergi. "Ughh...," desisan itu berasal dari Alex. Suara itu mengingatkan Alea pada almarhuma ibunya, ibunya adalah orang yang sangat baik, berhati lembut dan penyayang. "Berbuat baiklah bukan untuk orang lain, tapi itu untuk dirimu nantinya." Sampai sekarang Alea tidak mengerti apa maksud ibunya, tapi... Alea berbalik, dia duduk di hadapan Alex yang terluka. "Diamlah, biar aku yang lakukan." Alea mulai mengobati lukanya. Dia mencoba menghentikan pendarahannya. Alex menatap Alea dengan senyuman miring, tanpa Alea sadari. Beberapa waktu sudah berlalu, luka itu sudah terbalut dan pendarahan mampu di hentikan. "Lebih baik pergi sekarang, ke rumah sakit. Ga ada yang tau apa yang akan terjadi berikutnya." Kata Alea dengan wajah datar. "Entah kenapa, aku lebih nyaman di sini." Katanya menatap aneh Alea. "Aku harap aku tidak melihat mu besok pagi." Alea berjalan naik ke atas, lantai bawah adalah toko bunganya, dan lantai atas adalah bagian kamar dan dapurnya. *** Alea memandangi bingkai foto dirinya dan ibunya. Mereka tampak bahagia hidup sederhana di toko bunganya, bahkan senyumannya juga terlihat begitu tulus dan bahagia. Tatapan sang ibu padanya penuh cinta dan kasih sayang. Alea bahkan tidak ingat kapan dia di marahi oleh sang ibu. Kehilangan ibunya adalah bencana terbesarnya. Alea melihat kotak di sebelah bingkai, itu adalah kotak pemberian terakhir ibunya, yang katanya tidak boleh hilang. "Buka ini saat usia mu 20 tahun, dan kotak ini akan mengubah hidup mu." Kata-kata ini membuat Alea ragu untuk membuka kotaknya bahkan saat usianya sudah 22 tahun. Tangan Alea gemetar memegangi kotak itu. Dia baru saja ingin mengambilnya, tapi tangannya tertahan di udara. Alea menggelengkan kepalanya. Aku belum siap membukanya, ibu maafin Azalea. Alea tidak bisa tidur malam itu, mungkin karna ada orang lain di rumahnya. Namun hari semakin larut, meski dia tidak bisa tidur, Alea memaksakan dirinya. Dia tidak ingin kesiangan membuka toko bunganya, karna itu adalah satu-satunya sandaran dia hidup. Saat Alea sudah tertidur, tanpa dia sadari, Alex masuk ke dalam kamarnya. Alex mendekat ke arah Alea yang sudah tertidur, dia menyentuh pipi Alea lembut. Wajahnya bersinar lembut dengan cahaya remang-remang itu. Alex mencium kening Alea. "Aku akhirnya menemukan mu..., lagi. Karna sudah ku temukan, mana mungkin ku lepaskan." "Ya, meskipun kau ingin mengusir ku berapa kali pun, aku tidak peduli, aku akan tetap di sini." Alex naik ke kasur Alea, dia juga ikut tidur di sana, bahkan dengan mendekap Alea erat. "Selamat malam, mulai hari ini, semua hari-hari mu akan berwarna seperti bunga-bunga ini, aku berjanji." Alex mengecup bibir Alea tanpa Alea sadari. Bertahun-tahun aku akhirnya menemukan mu..., lagi..., Azalea Defana. Alex menutup matanya. Dia sangat ingat waktu kecil dia adalah seorang yatim piatu di sebuah panti asuhan. Waktu itu ekonomi panti asuhan sangat sulit tapi sampai ibu Azalea menjadi donatur tetap, dan Alea sering main ke sana. Dan Alea, menjadi satu-satunya teman bermain Alex. Waktu itu hidup ku putih tanpa warna hingga kau datang dan mewarnainya, dulu putih dan dingin seperti salju, hingga kau hadir mengisi warna kehangatan layaknya musim semi. *** Matahari pagi itu terbit dengan ceria, dia bersinar memancarkan cahayanya. Alea sudah membuka matanya, tapi ada yang aneh, Alea membuka matanya, benar saja sudah ada Alex di depannya. Sontak, Alea mendorong Alex, membuat pria tampan itu membuka matanya. "Masih pagi, kenapa sudah ribut sekali?" Alea diam sebentar, dia fokus menatap wajah tampan dengan rambut acak dan mata sayu pria itu, alisnya tebal, hidungnya mancung, pria yang sangat tampan itu ada di hadapan Alea. Saat pertama kali bertemu, Alea tidak menyadarinya, pria itu setampan ini. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku bilang aku tidak ingin melihat mu di pagi hari? Harusnya kau sudah pergi pagi ini." Kata Alea dengan wajah tak sukanya. "Loh? Kau menyuruh ku pergi? Aku pikir kemarin malam kau mengatakan ingin melihat ku saat kau membuka mata mu. Yaa, sepertinya aku salah mendengarnya." Sahut Alex dengan wajah tak berdosanya. "Apa dasar kau bisa berfikiran aku ingin melihat mu saat aku membuka mata?" "Tentu saja itu mudah, karna aku sangat tampan, dan kau terpesona pada pandangan pertama. Wajar sih, aku adalah orang tertampan stok terakhir." Katanya dengan senyuman tanpa malu di wajahnya. "Lalu kenapa harus di kasur ku? Tidur di sebelah ku?!" "Karna di bawah sangat dingin, makanya aku ke atas. Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun dengan mu loh, bahkan pakaian mu masih utuh. Itu menandakan aku orang yang baik." Tambah Akex dengan senyuman licknya. Hanya mungkin beberapa kali kecupan di bibir, karena aku sangat merindukan mu. Dan itu aku sudah menahan nafsu ku loh, untuk tidak berbuat lebih. Salah mu sendiri yang pergi jauh dari ku. Alea mengerutkan dahinya tak habis pikir. Bagaimana ada orang seperti ini? "Pergilah dari sini." "Aku terluka, sebagai orang yang baik biarkan aku beristirahat di sini sebentar." Alea menghela napasnya, dia bangkit berdiri. "Lain kali aku tidak suka orang lain tidur di atas kasur ku, mengerti?" "Oh ya, dimana ibu mu? Aku tidak melihatnya, aku harus izin dulu bukan untuk tidur di sini?" "Aku yatim piatu." Alea keluar dari kamar itu. Orang ini, tidak akan mencuri barang-barang di rumah ku bukan? "Sejak kapan?" Pertanyaan itu mampu menghentikan langkah Alea sebentar. "Bukan urusan mu." ia melanjutkan jalannya keluar. Alex diam, jantungnya dan kesadarannya masih belum menerima fakta bahwa orang baik yang selalu menolongnya telah tiada. Bu Ameera? Sudah tiada, sejak kapan? Sejak kapan kau tinggal sendirian, Azalea? Apakah itu alasan, kau mendadak menjadi sedingin salju? Seperti aku yang dulu? Alex mengambil bingkai foto itu, dia menatap seseorang yang di panggilnya bu Ameera. Aku berjanji, akan menjaga putri mu dan memberikan kebahagiaan untuk nya. Segalanya yang dia inginkan akan ku berikan. *** Alea menyirami tanamannya, pikirannya masih terpaku pada pria yang menerobos rumahnya. Alea tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, mengapa dia membiarkan orang asing masuk ke dalam rumahnya. Apa aku harus mengusirnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD