***
Azalea, gadis cantik berambut hitam gelombang yang panjang, dengan mata yang indah. Namun sayang, mata itu terus saja mengeluarkan bulir hangatnya. Dia hanya duduk di balkon menatap langit penuh bintang yang terang, bulan juga bersinar begitu ceria, seolah mengejeknya yang tengah patah hati saat ini.
Telinganya masih bisa mendengar sorakan-sorakan meriah di bawah sana. Hatinya semakin terluka, nyeri itu begitu terasa. Azalea untuk pertama kalinya patah hati, oleh cinta pertamanya.
Bahkan Azalea tau, bahwa Kevin ternyata tidak pernah mencintainya. Kevin hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan Sisil.
Azalea hanya mampu diam saja, ingatan dan perkataan Kevin terus berulang di kepalanya. Sesak yang dia rasakan benar-benar menyakitkan hatinya, malam semakin dingin, Saat ini Azalea bahkan tidak punya tempat bersandar, atau seseorang yang bisa mendengarkannya. Semua orang yang dia punya telah pergi.
Azalea tidak tidur, bahkan sampai suara ramai di bawah sudah berhenti. Pesta pertunangan itu sudah selesai saat menjelang Fajar.
Para tamu sudah banyak yang pulang, bahkan keluarga Kevin juga sudah pulang. Mendadak Azalea mengingat perkataan ibunya.
"Hiduplah dengan bahagia."
Saat itu Azalea tidak mengerti, sampai ibunya melanjutkan ucapannya.
"Tidak setiap kebahagiaan itu, adalah harta kekayaan. Kau bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cara mu sendiri."
Azalea tersentak halus, dia mengusap air matanya.
Ibu benar, aku tidak akan mendapatkan kebahagiaan di sini, bersama orang-orang menjijikan yang selalu memanfaatkan aku. Tidak ada lagi alasan aku untuk tetap tinggal. Baiklah, aku akan kembali nantinya untuk mengambil hak ku kembali.
Azalea membereskan barang-barang seperlunya yang dia butuhkan. Dia diam-diam keluar dari rumah itu, dan akhirnya berhasil.
***
3 Tahun sudah berlalu dan Azalea sudah hidup dengan damai di sebuah kota kecil sederhana. Meskipun itu sebuah kota, tapi tidak begitu berpolusi, kota itu sangat asri dengan banyak pepohonan.
Namun orang-orang di sini sering memangginya dengan Alea.
Aku berniat kembali ke rumah itu saat usia ku 20 tahun, untuk mengambil segala hak ku. Tapi, aku yang sekarang sudah menikmati kehidupan ku yang sederhana ini? Aku tidak ingin lagi terlibat masalah. Aku hanya ingin hidup tenang sekarang. Jadi aku lebih baik melanjutkan kehidupan ku di sini.
Dan Alea, sudah hidup sebagai penjual bunga di sini, dia memiliki toko bunga yang indah. Dan cukup ramai pembeli. Alea bukan tanpa alasan membuka toko bunga, ya dia ingin mengulang kembali masa-masa bersama ibunya, meski ibunya tak lagi ada di sisinya. Namun, bermodalkan kenangan itu, Alea mampu melanjutkan kehidupannya.
Selama hidup sendiri sebagai penjual bunga, Alea bahkan tidak ingat kapan dia terakhir kali menangis. Alea juga sering belajar membuat obat-obatan dengan tanaman herbal oleh seorang nenek yang tinggal berdua dengan suaminya di rumah sebelah.
Ibu benar, harta dan takhta bukan penentu kebahagiaan. Aku rasa hidup seperti ini sudah lebih dari cukup, memiliki kehidupan yang damai ini.
"Datang lagi yaaa~" Alea melambaikan tangannya pada pelanggan terakhirnya hari ini. Hari sudah menjelang malam, toko bunga Alea pun sudah tutup. Sebelum tidur, Alea kembali memastikan jendela dan rumahnya terkunci, juga memastikan tidak ada ulat di tanamannya.
Setelah semuanya beres, Alea mematikan lampunya dan bersiap tidur.
Kling!!
Bell di atas pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk. Alea melihat ke arah pintu, pintunya tertutup, tapi bell itu masih bergoyang.
"Kalo mau maling salah orang, aku gak punya harta. Cuma ada bunga." Kata Alea mencoba berjalan mendekat, langkah nya pelan penuh kehati-hatian.
Saat Alea berjalan, mendadak keseimbangannya goyah, dia terjatuh namun ada seseorang yang menangkapnya. Pria itu langsung menutup mulut Alea. "Diam, atau ku bunuh?" Pria itu sudah menodongkan pisau di leher Alea.
Jantung Alea berdetak lebih kencang, dia sangat ketakutan. 3 tahun dia hidup sendirian, baru kali ini Alea merasakan hal semengerikan ini?
Tapi tiba-tiba Alea mendengar suara ribut-ribut dari luar sana. Seperti suara orang berlarian secara ramai-ramai. Alea tidak tau pasti apa yang mereka bicarakan.
Pria itu menyeret Alea mendekat ke jendela, dia mengintip situasi di luar. Alea juga melihatnya, tampak beberapa orang berbaju hitam sedang mondar mandir membawa banyak senjata.
"Sial, mereka terlalu banyak. Seandainya aku tidak terluka, ini pasti sangat mudah membantai mereka." Gumam pria itu.
Alea melirik wajah pria itu,
Jadi orang ini terluka?
Alea merasakan ada cairan yang lengket di punggungnya, juga dia baru merasakan bau anyir darah.
Orang ini terluka? Di bagian perut atau dadanya? Mungkin? Aku bisa memanfaatkannya saat dia lengah.
Pria itu menghela napasnya lega, saat orang-orang yang mengejarnya sudah berpergian.
Kesempatan!
Tukhh!!
Alea menyikut bagian yang terluka itu, dia langsung mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur. Alea tau jelas, bagian itu adalah bagian yang terluka.
"Hentikan itu..., aku tidak akan membunuh mu, kau hanya perlu diam dan biarkan aku beristirahat di sini sebentar, ughh...," kata pria itu sembari terus memegangi bagian yang terluka, dia berharap pendarahannya bisa berhenti.
"Aku tidak peduli, aku tidak berniat menampung seorang buronan. Itu hanya akan mempersulit diri sendiri, jadi keluarlah sendiri sebelum aku memanggil orang-orang yang tadi dan melempar mu keluar." Alea menyalakan lampunya. Dia bisa melihat pria itu sudah berlumuran darah. Alea takut, namun dia harus berlagak seolah berani, demi kebaikannya sendiri.
Pria itu malah tersenyum miring, "Coba saja katakan pada mereka. Kau dan aku akan mati disana. Kau mau mati? Lakukan lah. Aku bukan orang jahat, jadi bukan buronan. Aku hanya akan di sini sampai pagi."
Alea diam saja, dia tidak peduli dengan hidup dan mati orang ini. Dia hanya peduli akan dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa aku percaya pada mu? Mungkin saja nantinya kau akan membunuh ku lalu mengambil semua harta ku?" Alea masih menatap dingin pria itu.
"Untuk apa? Bukannya kau sendiri yang bilang tidak memiliki harta, dan hanya bunga?"
Alea diam sebentar. "Aku harap aku tidak melihat mu saat aku bangun pagi nanti." Alea berjalan pergi, namun tangannya di hentikan oleh pria itu.
"Aku Alex, kotak P3K? Apa kau punya? Aku butuh untuk menutup luka ku, setidaknya agar aku tidak mati kehilangan darah."
"Akan aku ambilkan." Alea melepas pegangan itu.
Pria itu membuka bajunya dengan segala usaha. Tampak di sana banyak luka sayatan dan sebuah tusukan pisau di perutnya. Lengannya juga terluka.
Alea datang, dia terkejut melihat luka sebanyak itu.
Dengan luka sebanyak itu? Dia masih mampu lari? Dan menyandera ku? Yang benar saja, apa orang ini benar-benar manusia?
Alex menatap Alea. "Ada apa? Apa kau mulai iba? Karna melihat luka sebanyak ini? Wah wah, kau punya hati ternyata?"
Alea diam, dia hanya memberikan kotak P3K itu. Alex langsung memnukanya, dia sama sekali tidak meminta bantuan Alea.
Sombong sekali, sudah kesusahan tapi tidak meminta bantuan, angkuh sekali. Aku juga tidak perduli.
Alea berbalik berjalan pergi.
"Ughh...," desisan itu berasal dari Alex.
***