Gara tidak pernah membuang pelurunya sia-sia. Kalau ia menembak, pasti pada titik yang langsung melumpuhkan lawannya. Seperti sekarang, empat dari mereka tinggal tersisa satu. Entah siapa nama dari mereka dan Gara juga tidak mau repot-repot bertanya. Mustahil kalau tubuhnya tidak dipenuhi luka. Bekas tembakan di lengannya bahkan sudah mengering, belum lagi bekas sabetan dari lawannya. Rasanya sudah kebas saking terlalu lama dibiarkan. "Katakan anda menyerah. Sebelum saya benar-benar menghabisi anda tanpa ampun," Gara berucap tenang melihat Pria yang tersisa penuh luka. Dengan napas terengah Pria itu meludah di hadapan Gara. "Setelah kawan saya tewas, mana mau saya menyerah." Seringai muncul dari bibir Gara. "Anda terlalu picik. Kawan? Di dunia bawah tanah ini tidak ada yang n

