bab. 9 Kemarahan Devan

1130 Words
Begitu mendengar dari suster bahwa Evaline datang dan menghina Ellysa, wajah Devan langsung menegang. Matanya memancarkan amarah yang menakutkan. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan keluar dari ruang rawat Ellysa dengan langkah cepat dan berat. “Tu... Tuan Devan, tunggu!” seru Ellysa, mencoba bangkit dari ranjang. Tapi tubuhnya masih lemah, dan pandangannya berkunang. Ia hanya mampu menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. “Jangan marah... kumohon...” suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara langkah cepat di lorong rumah sakit. Devan tak peduli. Ia berjalan melewati koridor panjang rumah sakit, wajahnya dingin dan rahangnya mengeras. Napasnya berat, memburu bersama rasa marah yang menyesakkan d**a. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Ellysa, gadis polos yang bahkan tak mampu menyakiti seekor lalat, harus menanggung hinaan di depan banyak orang. Apalagi dari Evaline, wanita yang dulu ia kira mengenal arti cinta., ternyata seperti ini Begitu tiba di parkiran, Devan masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tangannya mencengkeram setir erat-erat, matanya fokus, dan pikirannya hanya satu: Evaline harus diberi pelajaran. Sementara itu, di sebuah restoran mewah di kawasan Mentari Hills, Evaline tengah duduk di meja pojok bersama sahabat dekatnya, Jannet. Di hadapan mereka terhidang wine mahal dan beberapa hidangan khas Prancis. Tawa mereka terdengar keras, memancing perhatian beberapa tamu di sekitar. “Hahaha, Evaline! Kau benar-benar kejam!” seru Jannet, menutup mulutnya dengan tangan karena hampir tersedak tawa. “Kau bilang dia sampai nangis di rumah sakit? Oh Tuhan, aku tak menyangka kau bisa sejahat itu!” Evaline meneguk sedikit minumannya, tersenyum puas dengan tatapan licik. “Aku tidak peduli. Gadis itu memang pantas dipermalukan. Bayangkan saja, perempuan dari keluarga biasa, menikah dengan pria sekelas Devan Mauria? Dunia ini sudah gila kalau membiarkan itu terjadi.” Jannet terkekeh, mengangkat alis. “Tapi aku dengar dia manis dan sopan, Evaline. Mungkin dia memang disayang Tuhan?” ucap Banget setengah mengejek “Disayang Tuhan?” Evaline mendengus sinis. “Jangan membuatku tertawa. Tuhan pun pasti tak ingin melihat orang sepertinya jadi nyonya Mauria. Aku akan pastikan dia kehilangan segalanya,...kepercayaan diri, harga diri, bahkan akal sehatnya.” ucap Evaline dengan ketus Jannet menatap sahabatnya itu dengan mata membesar. “Astaga, Evaline... kau gila. Maksudmu kau mau buat dia—” “Kalau bisa sampai gila, justru itu lebih bagus,” potong Evaline cepat, bibirnya melengkung ke arah senyum jahat. “Dia akan menyesal pernah lahir ke dunia ini dan menikahi Devan.” “Tapi kau tak takut kalau Devan tahu? Dia bisa benar-benar marah padamu.” ucap Jannet sedikit khawatir Evaline menyeringai santai, memainkan gelas wine di tangannya. “Devan?......Oh, Jannet sayang, kau tak mengenal Devan sepertiku. Dia itu memang mudah tersulut emosi, tapi hatinya masih milikku. Marahnya hanya sebentar. Habis itu—” ia mendengus kecil sambil menyeringai nakal, “kau tahu sendiri bagaimana caraku menenangkannya bukan?” ucap Evaline dengan sinis Jannet menutup mulutnya, terkekeh geli. “Astaga... kau memang tidak ada obat, Evaline.” Namun belum sempat mereka tertawa lebih lama— BRAKKK!! Suara keras membuat semua orang di restoran itu menoleh. Sebuah hantaman keras di meja Evaline membuat gelas wine mereka jatuh dan pecah berantakan di lantai. Evaline dan Jannet spontan berdiri, kaget setengah mati. “De... Devan?” suara Evaline bergetar ketika menyadari siapa yang berdiri di depan mereka. Ya, Devandra berdiri di sana, dengan jas formal hitamnya, wajah tegang, dan mata yang tajam seperti pisau. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan amarah. Ia terlihat seperti singa yang siap menerkam. Semua tamu di restoran itu mendadak terdiam, menatap adegan tegang itu dengan waswas. “Devan... aku bisa jelaskan,” ujar Evaline mencoba menenangkan situasi. Tapi sebelum kata-katanya habis— PLAAKKK! Suara tamparan keras menggema di seluruh ruangan. Evaline terhuyung ke belakang, pipinya langsung memerah. Beberapa orang di restoran menutup mulut karena terkejut. “Berani sekali kau menyakiti istriku!” bentak Devan dengan suara berat dan tajam, membuat suasana mendadak mencekam. “De... Devan, aku—” “Diam!!” hardik Devan, nadanya membuat semua pelayan di sekitar menunduk ketakutan. “Aku sudah memperingatkanmu, Evaline! Jangan pernah ganggu Ellysa lagi! Apa yang kau lakukan di rumah sakit itu pengecut!” teriak Devan dengan keras Evaline menatap Devan dengan mata membulat dan bibir bergetar. “Aku hanya ingin,....aku hanya ingin bicara padanya! Aku masih mencintaimu, Devan! Dia tak pantas—” “Cukup!” suara Devan bergema, menghentikan semua percakapan di ruangan. Ia menatap Evaline tajam. “Kau tahu apa yang tak pantas? Cara berpikirmu! Aku tak menyangka wanita yang dulu kucintai bisa serendah ini. Kau bukan Evaline yang kukenal. Kau hanyalah bayangan gelap dari masa laluku!” ucap Devan dengan tajam, sorot matanya penuh kemarahan Jannet menelan ludah gugup, mencoba menarik tangan Evaline. “Evaline... kita pergi saja, tolong...” Tapi Evaline justru menangis, matanya berkaca-kaca. “Kau berubah, Devan... dulu kau begitu mencintaiku!” ucap Evaline dengan lirih Devan menatapnya dingin. “Ya. Tapi cinta itu sudah mati, bersamaan dengan kebohonganmu dulu.” Suasana menjadi semakin hening. Pelayan menatap satu sama lain, tak berani bergerak. “Dan dengarkan ini baik-baik,” lanjut Devan dengan nada rendah tapi penuh tekanan, “kalau kau berani mendekati Ellysa lagi, aku tak akan hanya menamparmu, Evaline. Aku akan membuatmu menyesal telah menyentuh hidupku lagi.” ucap Devan terlihat sangat marah Setelah mengucapkan itu, Devan menatap Jannet singkat dengan sorot tajam yang membuat wanita itu gemetar ketakutan, lalu berbalik pergi meninggalkan restoran. Langkahnya mantap, tegap, dan penuh amarah yang tertahan. Evaline hanya bisa berdiri terpaku, tangannya menyentuh pipi yang masih panas karena tamparan itu. Wajahnya merah bukan hanya karena rasa sakit, tapi juga karena malu, karena seluruh tamu restoran kini menatapnya seperti penjahat. Jannet menatapnya bingung. “Evaline... kau baik-baik saja?” tanya Jannet sangat khawatir Evaline tak menjawab. Matanya kosong, tapi di dalamnya berkecamuk dendam yang semakin membara. Ia mengepalkan tangannya erat-erat di sisi meja. “Devan...” gumamnya dengan suara serak, “kalau itu yang kau mau... maka mulai hari ini, aku akan pastikan kau menyesal memilih gadis itu.” Jannet menatapnya takut-takut. “Evaline... jangan lakukan sesuatu yang gila lagi, kumohon...” Tapi Evaline tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dingin, menatap bayangan dirinya di kaca jendela restoran yang memantulkan sosok wanita yang telah kehilangan cinta, dan digantikan oleh dendam. Sementara itu, di sisi lain, Devan mengemudi tanpa arah. Napasnya masih memburu, pikirannya penuh kemarahan dan penyesalan. Ia memukul setir mobil keras-keras. “Kenapa aku baru tahu sekarang...” gumamnya lirih, “bahwa aku sudah menyakiti Ellysa begitu dalam... karena masa lalu yang bodoh.” gumamnya pelan Matanya memejam sesaat. Dalam diam, hanya satu hal yang ia tahu pasti Kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Ellysa lagi. Tidak Evaline. Tidak siapa pun..... Devan kembali ke rumah sakit dengan langkah yang gontai dia berdiri sejenak untuk menetralkan amarahnya sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan Ellysa "tuan"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD