bab. 10 Panik

1112 Words
Langkah kaki Devandra terdengar berat dan cepat saat ia kembali memasuki rumah sakit malam itu. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulitnya, tapi bukan karena suhu rendah, melainkan karena rasa bersalah yang kini menggigit batinnya tanpa ampun. Ia baru saja melampiaskan kemarahannya pada Evaline, wanita yang dulu ia cintai. Namun kini, setelah amarahnya mereda, ada sesuatu yang jauh lebih besar menyesakkan dadanya, Ellysa. Wajah pucat gadis itu, senyumnya yang selalu tenang meski dihina, dan tatapan lembutnya saat menatapnya di ruang rawat... semuanya kini muncul silih berganti dalam pikirannya. Ia teringat bagaimana Ellysa tadi mencoba menghentikannya sebelum pergi. “Tuan, jangan marah... kumohon...” Namun ia malah mengabaikannya. Dan kini, saat menapaki koridor menuju lantai tiga tempat kamar Ellysa berada, langkahnya tiba-tiba berhenti. Ada suara gaduh. Suara teriakan dan langkah-langkah terburu-buru. “Cepat panggil dokter!” terdengar suara teriakan seorang seseorang “Pegang tangannya! Jangan biarkan dia bergerak!” Jantung Devan berdegup keras. Ia mengenali suara itu, suara suster dari ruangan Ellysa. Tanpa berpikir panjang, ia berlari secepat mungkin. “ADA APA INI?!” bentaknya keras begitu sampai di depan pintu kamar Ellysa. Beberapa perawat dan suster tampak sibuk di dalam ruangan. Salah satu dari mereka menoleh, wajahnya panik. “Tuan ... maaf! Nyonya tadi mendadak histeris, berteriak memanggil Anda! Infusnya sampai terlepas!” ucap suster tersebut terlihat panik.. Devan melihat darah tercecer di lantai membuatnya sekali panik Devan langsung masuk tanpa peduli. Pandangannya langsung tertuju pada Ellysa, terbaring di ranjang, wajahnya pucat, air mata masih menetes di pipinya. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Seorang dokter sedang berusaha menenangkan, sementara suster lain mencoba memasang infus baru di lengannya yang kini berlumur darah kecil. Devan terpaku di tempat. Napasnya tertahan. Dunia seolah berhenti berputar. “E-Ellysa...” suaranya serak, hampir bergetar. Ia melangkah pelan mendekat, namun dokter segera menahan bahunya. “Tuan, mohon tunggu sebentar. Kami baru saja memberikan obat penenang ringan. Istri Anda mengalami serangan panik yang cukup parah.” ucap dokter menjelaskan “Serangan... panik?” ulang Devan pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. Dokter mengangguk sambil menghela napas. “Sepertinya beliau mengalami tekanan emosional yang cukup berat, Tuan. Saat kami tiba, beliau terus memanggil nama Anda, berulang kali, sambil menangis ketakutan. Katanya Anda tidak datang, dan dia takut Anda marah padanya.” Kata-kata itu menghantam d**a Devan seperti pisau tajam. Ia terdiam, matanya langsung beralih ke arah Ellysa yang kini terbaring lemah, bibirnya sedikit bergetar meski matanya terpejam karena pengaruh obat. “Dokter... dia akan baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan nada cemas yang jarang sekali terdengar keluar dari mulut seorang Devandra , wajahnya terlihat sangat panik “Untuk saat ini, beliau hanya perlu istirahat total. Tapi jika tekanan emosional ini berlanjut, kami sarankan untuk mendapat pendampingan psikis. Dia masih muda, Tuan... terlalu muda untuk menanggung beban seberat ini.” kelas dokter tersebut membuat Devan memejamkan mata Devan menunduk dalam, menatap tangan istrinya yang kurus dan dingin. Ia menggenggamnya perlahan, lembut, seolah takut menyakiti. Tangannya besar dan kokoh, tapi malam itu, genggamannya penuh penyesalan. “Maafkan aku...” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Para suster perlahan meninggalkan ruangan, memberi mereka ruang. Tinggal Devan seorang diri di sisi Ellysa. Ia menatap wajah gadis itu lama sekali. Pucat, lemah, tapi tetap memancarkan ketenangan yang entah mengapa membuat hatinya semakin remuk. Devan menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia masih memegang tangan Ellysa erat-erat, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan gadis itu. “Harusnya aku tidak pergi,” katanya pelan, menunduk. “Harusnya aku tidak membiarkan amarah menguasai diriku.” Ia memejamkan mata, menahan gejolak di dadanya. Ingatan tentang bagaimana ia menampar Evaline di depan umum kini terasa tak sebanding dengan penyesalan yang ia rasakan sekarang. “Aku yang membuatmu begini, Ellysa...” suaranya pecah di ujung kalimat. “Aku yang membuatmu ketakutan...” Lalu, seperti refleks, Devan berdiri dan membetulkan selimut di d**a Ellysa. Ia menyentuh dahi gadis itu, masih agak panas, tapi keringat dingin sudah berkurang. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk lagi, menatap Ellysa dari jarak sangat dekat. “Mulai sekarang,” ujarnya lirih, “aku janji... aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi. Termasuk aku sendiri.” Ucapnya pelan sambil mengelus kepala Ellysa dengan lembut Sementara itu, di sisi lain, di sebuah apartemen mewah dengan dinding kaca menghadap malam Jakarta, Evaline mengamuk habis-habisan. “b******k!!” prangggg....teriaknya sambil melempar gelas wine ke dinding hingga pecah berantakan. Cairan merah tua itu memercik ke lantai, seperti darah yang melambangkan amarahnya yang membara. Jannet, yang masih bersama dengannya, mundur ketakutan. “Evaline! Tenanglah! Kau bisa dilaporkan kalau terus begini!” ucap Jannet mencoba menenangkan sahabatnya Evaline berbalik dengan mata merah menyala. “Dilaporkan? Peduli setan!...Aku sudah dipermalukan di depan puluhan orang di restoran itu, Jannet! Aku...aku ditampar di depan umum! Oleh lelaki yang dulu sujud mencintaiku!... apakah itu normal.. haah.. Devan.. ku Jannet.. dia.. dia sudah membuat kita malu!! " teriak Evaline sangat marah Ia memukul meja kaca di hadapannya hingga piring di atasnya bergeser. “Dia memilih gadis kampung itu! Gadis yang bahkan tak pantas duduk di mejanya! Aku yang membentuk Devan seperti sekarang, Jannet!....Aku!” teriaknya seperti orang kesetanan Jannet menelan ludah. “Evaline... kau sudah melampaui batas. Kalau kau terus seperti ini ” “Diam!!” teriak Evaline, matanya kini basah. “Dia tampar aku demi perempuan itu. Demi gadis yang hanya tahu menunduk dan menangis. Tapi aku tidak akan kalah, Jannet. Aku tidak akan kalah!” Ia berjalan mondar-mandir, napasnya memburu, rambutnya berantakan. Lalu tiba-tiba ia berhenti, menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang tamu apartemen. Senyum tipis terbentuk di wajahnya yang masih basah air mata. Senyum yang penuh dendam. “Kalau Devan pikir dia bisa hidup tenang bersama gadis itu... dia salah besar,” bisiknya dengan nada mengancam. “Aku akan buat gadis itu menyesal lahir ke dunia. Aku akan buat Devan berlutut, memohon agar aku berhenti.” “Evaline...” Jannet memegang bahunya, suara gemetar, “jangan katakan kau mau, ” Evaline menoleh, matanya tajam seperti pisau. “Kau tak tahu seberapa jauh aku bisa pergi, Jannet.?” Ia mendekat ke jendela besar, menatap kota yang berkilau di bawah sana. “Mulai sekarang... aku akan buat semuanya jadi permainan. Permainan yang hanya aku yang tahu akhirnya.” ucapnya dengan sinis otaknya sudah penuh dengan rencana jahat Di rumah sakit, malam semakin larut. Devan masih duduk di sisi ranjang Ellysa, belum bergerak sedikit pun. Ia memandangi wajah gadis itu, lalu membelai rambutnya dengan lembut. “Tidurlah, Ellysa,” bisiknya, suaranya pelan dan hangat, jauh dari dingin yang biasa ia tunjukkan. “Aku tidak akan ke mana-mana ” ucapnya pelan seolah takut membuat Ellysa terbangun Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Devandra Mauria merasa takut kehilangan seseorang,....bukan karena tanggung jawab, tapi karena perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD