Ellysa duduk diam di kursi dekat jendela ruang rawatnya. Hujan rintik-rintik turun di luar sana, membuat pemandangan rumah sakit terasa sendu. Jemarinya memainkan ujung selimut putih yang menutupi kakinya. Sesekali ia menatap keluar, menghela napas pelan, mencoba menenangkan hatinya yang terasa masih begitu rapuh. Sudah tiga hari ia di rumah sakit, dan kini dokter mengatakan bahwa tubuhnya mulai stabil. Namun jiwanya belum pulih sepenuhnya.
Suara langkah kaki dari luar membuatnya menoleh, tapi ternyata bukan Devan. Hanya seorang perawat yang datang untuk memeriksa infus dan tekanan darahnya. Setelah perawat itu pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Ellysa menarik napas panjang, matanya kembali menerawang.
“Mah… Pah… Kalau saja kalian masih ada, aku pasti tidak akan merasa sesepi ini,” bisiknya lirih.
Tangannya perlahan mengusap air mata yang jatuh tanpa izin. Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu terasa dipaksakan. Dalam hatinya, ia tahu, sejak kehadiran Evaline, ia merasa makin kecil. Ia tidak mengerti kenapa hidupnya harus diwarnai penghinaan dari wanita itu. Ia juga tidak mengerti kenapa hatinya masih berdebar setiap kali Devan menunjukkan perhatian kecil, meski ia tahu Devan mencintai wanita lain.
Sementara itu, di ruangan lain, Devan sedang berbicara dengan psikiater Ellysa. Wajahnya tegang, matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam.
“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanyanya pelan namun penuh penekanan.
Psikiater itu menatap Devan dengan lembut. “Secara fisik, Ny. Ellysa sudah membaik, Tuan Devan. Tapi kondisi psikisnya… masih sangat lemah.” ucap dokter Irma menjelaskan
Devan mengernyit heran. “Maksud dokter?”
“Dia terlihat menahan banyak hal. Trauma kehilangan kedua orang tuanya masih kuat. Dan kini, ditambah tekanan dari lingkungan sekitar, membuatnya merasa sendirian. Dia... hanya butuh seseorang yang bisa membuatnya merasa aman.”
Devan menunduk, rahangnya mengeras. “Apakah saya… yang membuatnya seperti itu?” tanya Devan
Sang dokter hanya menatapnya, tidak menjawab secara langsung. “Yang jelas, dia sangat menyayangi Anda, Tuan Devan. Tapi di sisi lain, dia takut. Takut kehilangan tempat bersandar lagi.”
Perkataan itu membuat d**a Devan terasa sesak. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas berat. Rasa bersalah mengalir deras dalam dirinya. Ia tahu ia telah gagal melindungi Ellysa dari luka, padahal ia berjanji akan menjaganya.
Setelah pembicaraan itu selesai, Devan berjalan perlahan kembali menuju kamar Ellysa. Langkahnya terdengar berat, tapi setiap langkah penuh dengan niat untuk menebus kesalahannya. Saat membuka pintu, ia melihat pemandangan yang menyesakkan, Ellysa duduk diam menatap keluar jendela, dengan mata yang tampak kosong.
“Ellysa…” panggil Devan lembut.
Ellysa menoleh kaget. “Tu–Tuan Devan…” suaranya gemetar.
Devan tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. “Sudah… jangan panggil aku dengan begitu formal,” ucapnya perlahan.
“Kau sudah cukup lelah. Sekarang waktunya kita pulang.” ucap Devan dengan lembut
Ellysa menatapnya bingung. “Saya… saya sudah boleh pulang?” tanya Ellysa
Devan mengangguk. “Dokter bilang kondisimu sudah stabil.” Ia mengulurkan tangannya. “Ayo, aku antar pulang.”
Dengan ragu, Ellysa menyambut tangan itu. Sentuhan hangat Devan membuat jantungnya berdetak cepat. Ia berusaha menunduk agar pria itu tidak melihat pipinya yang memerah.
Mereka berjalan keluar bersama. Para perawat menatap keduanya dengan senyum kecil, seolah melihat sepasang suami istri muda yang mulai menemukan kedekatan mereka kembali. Namun, saat keluar dari area rumah sakit dan masuk ke dalam mobil, Ellysa merasa ada yang aneh. Jalan yang mereka lewati bukan arah menuju rumah.
“Tuan… kita tidak pulang?” tanya Ellysa ragu... menatap jalanan yang berbeda
Devan melirik sekilas, lalu tersenyum kecil. “Tidak.”
Ellysa menelan ludah. “Lalu… kita mau kemana?”
“Kita akan ke bandara.” jawab Devan
Mata Ellysa membesar. “Bandara?!”
Devan mengangguk tenang. “Kau butuh waktu untuk sembuh, Ellysa. Untuk benar-benar pulih. Aku ingin membawamu pergi dari semua tekanan ini. Dari semua kenangan buruk itu.” ucap Devan dengan lembut
Ellysa terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Hatinya campur aduk antara terkejut dan haru. “Tapi… perusahaan? Anda sibuk…” ucap Ellysa tidak enak hati
“Tidak apa-apa. Aku sudah mengatur semuanya.” Devan menatapnya penuh keyakinan. “Untuk kali ini, aku ingin melakukan sesuatu bukan untuk pekerjaan… tapi untukmu.” ucap Devan dengan anda suara begitu pelan
Kata-kata itu membuat Ellysa tercekat. Ia memalingkan wajah, menatap ke luar jendela, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Mobil melaju menuju bandara pribadi milik keluarga Mauria.
Beberapa jam kemudian, Ellysa berdiri terpaku di depan pesawat jet pribadi yang begitu megah. Ia belum pernah melihat sesuatu seindah itu.
“Apakah… kita benar-benar akan naik ini?” tanyanya lirih.
Devan tersenyum melihat ekspresinya. “Ya. Pesawat ini milik keluargaku. Dan hari ini, hanya kita berdua yang akan terbang.”
Ellysa menunduk malu. “Saya… tidak tahu harus berkata apa.”
“Tidak perlu berkata apa-apa,” balas Devan lembut. “Nikmati saja perjalanan ini.”
Mereka pun naik ke pesawat. Suasana di dalam terasa mewah, tapi juga hangat. Sofa empuk berwarna krem, aroma kopi, dan langit biru di luar jendela memberi kesan damai. Ellysa duduk di dekat jendela, sementara Devan duduk di seberangnya, memperhatikannya dengan tatapan lembut.
Beberapa menit setelah lepas landas, Ellysa menatap pemandangan awan di luar sana dengan senyum samar. “Indah sekali,” bisiknya.
Devan menatapnya lama sebelum menjawab, “Ya… sangat indah.” Tapi pandangannya tidak pada awan yang di pandang Ellysa,.. melainkan pada Ellysa yang tampak tenang untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Perjalanan mereka menuju Eropa pun dimulai. Hari pertama, mereka tiba di Paris. Devan mengajak Ellysa berjalan di tepi Sungai Seine, menikmati suasana senja. Ellysa masih terlihat canggung, tapi Devan sabar menuntunnya. Ia memperlakukan gadis itu dengan begitu lembut, seolah takut membuatnya patah lagi.
Saat malam tiba, mereka makan malam di restoran kecil di Montmartre. Lampu-lampu kota Paris memantul di matanya yang indah. Untuk pertama kalinya, Ellysa tertawa kecil saat Devan mencoba berbicara bahasa Prancis dengan aksen yang buruk.
“Tuan… Anda salah sebut,” kata Ellysa sambil menahan tawa.
Devan mengangkat alis. “Oh ya? Jadi kamu lebih pintar dariku sekarang?” ucap Devan terkekeh
Ellysa menunduk malu. “Tidak… hanya,..lucu saja.”
Tawa lembut itu membuat Devan ikut tersenyum. Dalam hatinya, ia tahu, senyum itu yang ingin ia lihat setiap hari.
"cantik.. " ucap Devan tersenyum,..saat melihat Ellysa tertawa kecil
Dan malam itu, di bawah langit Paris yang bertabur bintang, Devan berjanji dalam hatinya,...ia akan menebus semua luka yang pernah Ellysa rasakan. Ia akan menjadi pelindung, bukan penyebab air matanya lagi.
Namun, di sisi lain dunia… seseorang tengah menatap foto mereka di media sosial, dengan mata penuh amarah. Evaline.
Ia mengepalkan tangannya, menatap layar dengan tatapan membara.
“Baiklah, Devan… kalau itu yang kau mau… Aku akan pastikan gadis itu tak akan pernah tenang.” ucapnya sambil mereka ponselnya karena amarah