Malam mulai turun di atas kota Praha. Lampu-lampu jalan berkilau lembut seperti bintang yang jatuh ke bumi, memantulkan bayangan romantis di kaca mobil yang sedang melaju pelan. Di kursi penumpang, Ellysa tertidur pulas bersandar di jendela, wajahnya tenang setelah seharian berjalan menyusuri jalanan tua, menikmati arsitektur klasik dan suasana yang penuh warna.
Devan yang duduk di sampingnya hanya bisa menatap dalam diam. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya setiap kali melihat Ellysa tersenyum. Dan malam ini, melihatnya tertidur dengan wajah yang begitu damai, Devan merasa… seolah semua kesalahan di masa lalu mulai sedikit demi sedikit terhapus.
Ia tersenyum kecil, lalu menatap wajah Ellysa lebih lama. Rambutnya sedikit berantakan karena angin sore tadi, tapi justru itu membuatnya tampak semakin alami dan lembut. Devan perlahan mengulurkan tangan, mengelus pelan kepala gadis itu.
“Mungkin seperti ini yang namanya bulan madu…” gumamnya dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan.
Tangan Devan berhenti sesaat di pipi Ellysa, lalu ia menarik napas panjang. “Kalau saja aku bisa memutar waktu… mungkin aku tak akan membiarkanmu terluka seperti dulu,” lanjutnya, lirih.
Sopir yang duduk di depan hanya tersenyum samar lewat kaca spion. Ia tahu, bosnya yang selama ini dikenal dingin dan tegas, kini sedang berubah menjadi seseorang yang lebih lembut, semua karena seorang gadis bernama Ellysa.
Begitu mobil berhenti di depan hotel bintang lima yang berdiri megah di tepi sungai, Devan bergegas turun. Ia membuka pintu untuk Ellysa, namun gadis itu masih tertidur.
“Dia pasti benar-benar kelelahan,” ucap Devan pelan sambil tersenyum. Ia kemudian membungkuk, mengangkat tubuh Ellysa dengan hati-hati.
Tubuhnya yang ringan dan aroma lembut parfum bunga di lehernya membuat d**a Devan terasa sesak aneh. Ellysa menggeliat pelan di pelukannya, tapi tak sampai terbangun. “Tuan…” gumamnya dalam tidur, membuat Devan terdiam sejenak. Ada nada lembut dan manja di suara itu yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
“Ya, aku di sini…” bisiknya lembut, tanpa sadar menundukkan kepala, menatap wajah Ellysa dari jarak yang sangat dekat.
Ia membawa gadis itu masuk ke kamar hotel mereka suite luas dengan pemandangan langsung ke sungai Vltava yang berkilau di bawah cahaya malam. Ia meletakkan Ellysa perlahan di atas tempat tidur, lalu menyelimuti tubuhnya dengan lembut.
Devan duduk di tepi ranjang, menatapnya lama. Gadis itu tampak begitu damai, berbeda dari Ellysa yang sering terlihat gugup dan penuh kecemasan. Wajahnya yang polos, bulu matanya yang lentik, hingga napasnya yang teratur, semuanya membuat Devan tersadar betapa berartinya Ellysa kini dalam hidupnya.
“Kenapa kamu bisa membuatku seperti ini, hm?” gumamnya, setengah tersenyum getir. “Aku bahkan tak bisa berhenti memikirkanmu.”
Ia bangkit perlahan, membuka jasnya, lalu duduk di kursi dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat pemandangan malam kota Praha yang indah, dan bayangan Ellysa di pantulan kaca. Malam itu, Devan tidak langsung tidur. Ia hanya duduk di sana, sesekali menatap gadis yang kini menjadi istrinya itu, membiarkan waktu berjalan dengan tenang.
Pagi harinya, cahaya matahari lembut menembus tirai kamar. Ellysa membuka matanya perlahan, merasa hangat dan nyaman. Ia terkejut melihat dirinya sudah diselimuti dengan rapi. Di meja kecil di samping tempat tidur, ada nampan berisi sarapan lengkap, croissant, buah, dan secangkir cokelat panas, beserta secarik catatan bertuliskan tulisan tangan yang sangat rapi:
“Pagi, Ellysa. Aku keluar sebentar untuk urusan kecil. Nikmati sarapanmu....Devan.”
Ellysa menggigit bibirnya, menatap tulisan itu dengan senyum malu-malu. Ia belum terbiasa dengan perhatian sekecil ini. Tapi entah kenapa, hatinya terasa hangat sekali. Ia menikmati sarapannya sambil sesekali menatap pemandangan dari jendela, dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar hidup tanpa rasa takut.
Beberapa jam kemudian, Devan kembali. Ia membawa setangkai bunga mawar putih. “Sudah bangun rupanya,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Ellysa buru-buru berdiri. “Tu–Tuan… saya sudah sarapan. Terima kasih banyak.”
Devan mendekat, menyerahkan bunga itu. “Untukmu.”
Ellysa menatapnya dengan mata membulat. “Untuk saya?” ucap Ellysa Devan gugup sekali terkejut
“Ya. Karena hari ini, kita akan berjalan lagi. Tapi kali ini bukan untuk sekadar jalan-jalan…” Devan berhenti sejenak, menatap dalam ke matanya. “Aku ingin kamu belajar tersenyum tanpa rasa takut.”
Kata-kata itu membuat d**a Ellysa bergetar aneh. Ia menunduk, menggenggam erat tangkai bunga di tangannya.
Hari itu, mereka berkeliling ke berbagai tempat , dari taman kota yang penuh bunga, hingga menara jam astronomi yang terkenal. Ellysa tertawa kecil saat Devan berusaha menirukan gaya turis asing yang berfoto aneh. Ia bahkan sempat memotret Devan secara diam-diam dengan ponselnya, lalu tersipu sendiri.
Devan memperhatikannya dari kejauhan, merasa aneh tapi bahagia. Ia tak pernah melihat Ellysa tertawa selepas itu. Setiap tawa gadis itu seperti menyalakan kembali sisi hangat dalam dirinya yang dulu lama mati karena beban hidup dan kesibukan.
Saat sore tiba, mereka duduk di tepi sungai menikmati es krim. Ellysa menatap pantulan cahaya oranye di permukaan air. “Saya tidak menyangka bisa sampai di sini, Tuan...terimakasih” ucap Ellysa akhirnya memberanikan dirimu untuk bicara
Devan menatapnya dengan lembut. “Kenapa?”
“Karena saya pikir… orang seperti saya tidak pantas mendapatkan...maaf...jadi istri anda.”
Devan mendesah pelan, lalu menatap lurus ke matanya. “Ellysa, jangan pernah berkata seperti itu lagi.”
Gadis itu menatapnya bingung.
“Setiap orang berhak bahagia. Termasuk kamu. Dan… kalau kamu lupa caranya bahagia, biar aku yang ajari lagi,” ucap Devan dengan nada lembut tapi tegas.
Ellysa terpaku, jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu di mata Devan yang berbeda malam itu ,..bukan hanya rasa iba, tapi kehangatan yang tulus.
Malam harinya, mereka kembali ke hotel. Ellysa langsung tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur, terlalu lelah setelah seharian tertawa, berjalan, dan menikmati hari. Tapi Devan masih terjaga, duduk di tepi ranjang menatapnya lagi.
Ia menyentuh lembut tangan Ellysa yang terkulai di atas selimut, menggenggamnya perlahan.
“Kau tahu…” bisiknya lembut. “Melihatmu tersenyum seperti ini… rasanya seperti melihat cahaya matahari setelah badai panjang.”
Ia menunduk, mengecup punggung tangan Ellysa dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
“Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini berubah… tapi yang jelas, aku tak ingin kehilanganmu lagi.” cup.. Devan mengecup kening Ellysa Devan sangat lembut cukup lama
Di luar, hujan kembali turun perlahan, seolah menjadi saksi diam dari janji yang belum terucap. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Devan dan Ellysa berada dalam kedamaian yang sama,...dua hati yang mulai menyatu tanpa mereka sadari.