bab. 13.Meminta Hak

1135 Words
Siang itu, langit Paris terlihat begitu cerah, dengan awan putih yang menggantung lembut di atas jalanan penuh butik mewah. Di salah satu butik terkenal di Avenue Montaigne, suasana terasa elegan dan hangat. Aroma parfum mahal dan kain sutra memenuhi udara, sementara Ellysa berdiri kagum di depan deretan gaun yang digantung rapi di rak kristal berlapis emas. Devan berjalan di belakangnya dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Ia mengenakan kemeja hitam dan jas abu lembut yang membuat auranya semakin berwibawa. Tapi sesekali, senyumnya mencair setiap kali melihat Ellysa tampak kebingungan memilih baju. “Tuan, ini semua… terlalu mahal,” ucap Ellysa pelan sambil menunjuk label harga yang membuatnya terkejut. Devan tersenyum kecil. “Kau tidak perlu melihat harga. Pilih saja yang kau suka.” ucap Devan tidak berhenti menatap Ellysa “Tapi—” “Tidak ada tapi, Ellysa,” potong Devan lembut. “Kau istriku. Tidak ada yang salah dengan memiliki hal-hal indah.” Nada suaranya lembut tapi tegas. Membuat Ellysa hanya bisa menunduk malu, jemarinya menyentuh pelan kain gaun berwarna biru pastel dengan bordiran perak di pinggirannya. Gaun itu sederhana namun anggun, sangat cocok dengan kepribadiannya yang lembut. “Tuan… bolehkah aku minta itu?” tanyanya ragu-ragu, suaranya hampir seperti bisikan. Devan memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Apapun yang kau mau, kau bebas memilih.” jawab Devan Mata Ellysa berbinar, senyum kecil terbit di bibirnya. Ia tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen favoritnya. Melihat ekspresi itu membuat d**a Devan terasa hangat tanpa alasan. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat seseorang tersenyum seindah itu di hadapannya. “Terima kasih, Tuan,” ucap Ellysa dengan lembut, menggenggam pelan kain gaun itu, seolah takut gaunnya akan menghilang. Devan hanya menatapnya dalam diam, senyum tipis terukir di wajahnya. “Senang?” Ellysa mengangguk cepat. “Sangat. Aku… tak pernah membeli pakaian seindah ini sebelumnya.” ucap Ellysa tersenyum senang “Mulai sekarang, anggap saja hidupmu juga harus indah,” balas Devan ringan. Setelah itu, Ellysa mencoba beberapa gaun lain. Setiap kali keluar dari ruang ganti, Devan memperhatikannya dengan seksama. Ia tidak mengatakan banyak, tapi tatapannya cukup membuat wajah Ellysa bersemu merah. Gaun merah maroon, gaun krem lembut, hingga dress kasual untuk jalan sore, semuanya terlihat sempurna di tubuh mungil Ellysa. Ketika ia keluar dengan gaun terakhir berwarna biru yang dipilihnya tadi, Devan tanpa sadar menatap lebih lama. Wajahnya lembut, mata cokelat gadis itu berkilau memantulkan cahaya, dan senyum malu-malu di bibirnya membuat Devan nyaris lupa bernapas. “Bagaimana?” tanya Ellysa dengan pipi memerah. Devan membenarkan kerah jasnya sendiri, berdeham pelan. “Sempurna,” jawabnya singkat tapi dalam. Wajah Ellysa makin memerah. Ia buru-buru kembali ke ruang ganti, sementara Devan hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan berubah tanpa ia sadari. Setelah keluar dari butik, mereka berjalan menyusuri trotoar dengan suasana santai. Langit sore Paris mulai berwarna keemasan, memantulkan cahaya lembut di wajah Ellysa yang tampak cerah dan bahagia. “Kau senang?” tanya Devan, memecah keheningan. Ellysa mengangguk. “Sangat. Terima kasih banyak, Tuan.” Devan menatapnya sekilas. “Jangan terlalu sering memanggilku ‘Tuan’. Kita sedang tidak di rumah.” Ellysa menunduk, tersipu. “Lalu… aku harus panggil apa?” “Devan,” jawabnya dengan nada lembut tapi penuh arti. Ellysa hampir tersedak napasnya sendiri. “Tapi itu—itu tidak sopan.” Devan terkekeh kecil. “Aku yang menyuruhmu.” Akhirnya, dengan suara sangat pelan, Ellysa memanggil, “Devan…” Devan menoleh, menatapnya dengan senyum samar. “Nah, begitu lebih baik.” Hati Ellysa terasa aneh, seperti ada sesuatu yang bergetar lembut di dalam dadanya. Ia menunduk cepat, pura-pura menatap tas belanjaannya agar Devan tidak melihat pipinya yang memerah. Setelah berbelanja, Devan mengajaknya makan siang di restoran tepi sungai Seine yang romantis. Mereka duduk di dekat jendela besar, pemandangan air yang memantulkan cahaya sore terlihat begitu indah. “Coba ini,” kata Devan sambil menyodorkan piringnya. “Kau pasti suka.” Ellysa menatapnya bingung. “Tapi itu milik Tuan—eh, Devan.” “Tidak apa. Aku tidak keberatan berbagi,” ucapnya ringan, sambil menatap gadis itu penuh makna. Dengan malu-malu, Ellysa mencicipinya, lalu tersenyum kecil. “Enak sekali.” Devan menatapnya, lalu berkata pelan, “Kau juga manis… saat tersenyum seperti itu.” Ellysa terdiam. Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga, membuat Devan menahan tawa kecil. Ia menikmati reaksi polos gadis itu. Setelah makan siang, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Ellysa sempat tertidur sebentar di sofa, tubuhnya lelah setelah seharian berjalan dan berbelanja. Devan menatapnya dari balik kursi kerja, menyelesaikan beberapa dokumen di laptopnya, tapi matanya sering teralih ke wajah lembut Ellysa yang damai dalam tidur. Sore menjelang malam, mereka makan malam bersama di balkon hotel, diterangi cahaya lilin dan langit malam penuh bintang. Devan menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Ellysa, aku ingin bicara.” ucap Devan dengan lembut dan hati hati Ellysa menatapnya ragu. “Ada apa, Tuan,..eh, Devan?” Devan menghela napas pelan. “Aku tahu pernikahan kita… tidak dimulai dengan cinta. Tapi malam ini, aku ingin kau tahu, aku tidak akan memaksamu apa pun. Namun… aku juga tidak akan berpura-pura tidak menginginkanmu.” ucap Devan membuat Ellysa sangat terkejut Mata Ellysa melebar. Ia tak bisa menatap langsung ke arah Devan, jantungnya berdetak tak beraturan. Devan melanjutkan, suaranya dalam namun lembut. “Aku seorang pria dewasa, Ellysa. Dan kau istriku. Tapi aku tidak ingin menyakitimu dengan memaksa sesuatu yang belum siap kau berikan.” Ellysa menggigit bibir bawahnya, menunduk dalam. “Saya… saya tidak tahu harus berkata apa.” Devan tersenyum lembut. Ia meraih tangan Ellysa dan menggenggamnya dengan hati-hati. “Kau tidak perlu berkata apa pun. Aku hanya ingin kau tahu… aku akan menunggumu. Sampai kau siap.” ucap Devan Wajah Ellysa menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia merasa malu, gugup, tapi juga… hangat. “Saya,..terima kasih,” ucapnya pelan, suaranya bergetar. Devan mengangkat tangan gadis itu, mengecup punggungnya dengan lembut. “Kau terlalu berharga untuk aku sakiti, Ellysa.” Ellysa terdiam sambil tertunduk,.. perlahan menegakkan kepalanya, member anik diri untuk menatap Devan "saya... Mmm.. tapi... ba...gaimana.. dengan no" "dia masa laluku" potong Devan dengan cepat "Anda sangat mencin" "tidak,.. itu dulu" potong Devan lagi "saya.. tidak ingin menjadi pe" cup... Tiba-tiba sebut kecupan mendarat di bibir mungilnya Ellysa,.. membuat Ellysa terbelalak tak Percaya "tu... hmpttt... cup....cup.mmhhh".. Kembali Devan membungkam bibirnya saat Ellysa akan bicara.. membuat Ellysa tidak bisa berkutik lagi " mmmhhhmuaah. haah" Ellysa menarik nafasku dalam dalam saat Devan melepaskan tautan bibirnya "dulu,.. aku Sang mencintainya.. bahkan sudah berencanakan akan menikah dalam bulan bulan itulah di mana kita menikah,.. tapi... " ucap Devan menghentikan ucapannya dan menatap lembut wajah Ellysa "kau telah mencuri perhatian ku... dan mengalihkan semua fikiran ku" ucap Devan dengan lembut "tu... eh Devan.. aku" "jika kau belum siap,.. aku tidak akan memak" cup... dengan tiba-tiba Ellysa mengecup bibir Devan, membuat Devan tidak percaya....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD