Pagi di mansion keluarga Mauriat biasanya selalu berjalan teratur. Cahaya mentari yang baru muncul menembus tirai panjang ruang tamu, memantul lembut di dinding marmer putih. Di dapur, suara lembut para pelayan sudah mulai terdengar, menyiapkan sarapan untuk sang tuan rumah.
Devandra Mauria, seperti biasanya, bangun lebih pagi dari siapa pun. Disiplin adalah hal yang telah mendarah daging dalam dirinya. Jam lima pagi ia sudah terjaga, mandi dengan air dingin, lalu mengenakan kemeja biru tua yang rapi dan dasi hitam. Penampilannya selalu sempurna, dingin, maskulin, dan berwibawa.
Sambil menatap pantulan dirinya di cermin, Devan menarik napas dalam. Namun entah mengapa, pagi itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang terasa kosong. Sejak tadi pikirannya terus melayang pada kejadian semalam.
Tangisan Ellysa.
Suara lirih gadis itu yang memanggil orang tuanya.
Suaranya yang lembut namun menyayat hati, masih bergema di telinganya hingga kini.
Ia mencoba mengabaikannya. Menepis perasaan bersalah yang terus menekan dadanya. Kau hanya kasihan padanya, Devan, katanya dalam hati. Jangan libatkan perasaanmu.
Namun hati manusianya, tak semudah itu bisa dikendalikan. Bahkan pria sedingin Devan pun mulai goyah.
Beberapa menit kemudian, ia turun ke ruang makan besar.
Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat dua puluh. Biasanya, di jam segitu, Ellysa sudah duduk di kursinya, dengan rambut panjang tergerai rapi, senyum lembut di bibir, dan sapaan sopan setiap kali Devan datang.
Namun pagi itu, kursi di ujung meja masih kosong.
Devan mengerutkan kening, menaruh map kerjanya di meja, lalu melirik ke arah pelayan yang sedang menyiapkan kopi.
“Di mana Nyonya?” tanyanya datar, tapi matanya memancarkan tanda tanya.
Pelayan perempuan itu menunduk sopan. “Saya… tidak tahu pasti, Tuan. Biasanya Nyonya sudah ada di meja sebelum Anda datang, tapi tadi beliau tidak keluar kamar.” jawab pelayan tersebut sambil menunduk
Devandra menatap kosong sebentar, sebelum mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Kau sudah memanggilnya?”
“Sudah, Tuan. Tapi Nyonya bilang nanti saja.”jawabnya lagi
Devan terdiam. Ia mengambil sendok, mencoba meneguk kopi di depannya, tapi tangannya berhenti di tengah jalan.
“Nanti saja?” gumamnya pelan, tak biasa mendengar Ellysa menolak sopan panggilan seperti itu.
Biasanya gadis itu selalu menurut, tak pernah menunda permintaan siapa pun apalagi perintahnya.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Devan menaruh kembali sendoknya ke meja. Tatapannya menajam, lalu berdiri.
“Aku akan ke kamarnya.”
“Tuan—” pelayan itu hendak berbicara, tapi Devan sudah melangkah cepat menuju tangga marmer putih.
Langkahnya terdengar mantap, tapi di dalam hatinya mulai tumbuh kegelisahan. Entah kenapa, firasat buruk menggelayut di dadanya.
Sesampainya di depan kamar Ellysa, Devan berhenti sejenak. Ia mengetuk perlahan.
“Ellysa,” panggilnya pelan. namun tak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras. “Ellysa, kau sudah bangun?”
Masih hening. Tak ada suara langkah, tak ada sahutan. Hanya suara jam dinding di lorong yang berdetak pelan.
Devan menarik napas, lalu memutar gagang pintu. Tidak terkunci. Ia mendorongnya perlahan.
Begitu pintu terbuka, hawa kamar langsung terasa berbeda. Tirai masih tertutup sebagian, membuat cahaya pagi hanya masuk samar-samar. Udara di dalam ruangan terasa lembab dan berat.
“Ellysa?” panggilnya lagi, kini dengan nada cemas.
Pandangan matanya langsung tertuju ke arah ranjang.
Di sana, tubuh mungil Ellysa terbaring tak bergerak, wajahnya pucat pasi, rambutnya menempel di kening karena keringat dingin.
“ELLYSA!” seru Devan spontan, berlari menghampiri. Ia segera memegang dahi gadis itu panas....Panas sekali.
Tubuh Ellysa gemetar lemah, napasnya tersengal pelan.
“Ya Tuhan…” gumam Devan, matanya melebar. Ia tak pernah panik sebelumnya, bahkan saat menghadapi ancaman bisnis atau bahaya fisik. Tapi kali ini, rasa takutnya nyata.
Tanpa berpikir panjang, Devan mengangkat tubuh Ellysa ke dalam pelukannya. Tubuhnya ringan, tapi sangat panas. “Bertahanlah, Ellysa…,” katanya pelan, suaranya bergetar.
Ia melangkah cepat keluar kamar, menuruni tangga besar sambil berteriak memanggil sopir. “Siapkan mobil sekarang! Ke rumah sakit!” teriaknya, semua pelayan pun ikut panik
Para pelayan langsung terkejut dan berlari-lari kecil, membuka pintu besar mansion. Sopir sudah siap di depan, dan Devan tanpa banyak bicara langsung masuk ke mobil dengan Ellysa di pangkuannya.
Di perjalanan, ia memangku gadis itu erat, menatap wajahnya yang semakin pucat. Napasnya tak teratur, sesekali tubuhnya menggigil kecil.
“Bertahan, Ellysa. Aku tak akan biarkan kau kenapa napa,” ucapnya lirih, tapi kali ini suaranya benar-benar dipenuhi kepanikan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Ia menggenggam tangan Ellysa, yang terasa sangat dingin di antara jemarinya. “Kenapa kau tidak bilang kau sakit?” ucapnya dengan lirih
Mobil melaju cepat membelah jalanan kota, membiarkan bunyi klakson dan sirene samar-samar di kejauhan.
Sesampainya di rumah sakit, Devan langsung turun dan menggendong Ellysa masuk tanpa menunggu bantuan siapa pun. Para perawat yang melihatnya segera berlari mendekat.
“Cepat panggil dokter!” suaranya tegas namun serak karena cemas.
Mereka segera membawa Ellysa ke ruang gawat darurat. Devan berjalan di belakang mereka, matanya tak lepas sedikit pun dari tubuh gadis itu yang kini ditidurkan di atas ranjang dorong.
Begitu sampai di ruang pemeriksaan, salah satu dokter datang. “Kami akan menanganinya, Tuan. Tolong tunggu di luar sebentar.” ucap seorang dokter menutup pintu ruang pemeriksaan
Devan terdiam, ingin ikut masuk, tapi akhirnya mengangguk dengan berat hati. Ia berdiri di luar ruangan, memijit pelipisnya. Tangannya mengepal, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena takut.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar. “Tuan muda ?”
“Bagaimana kondisinya?” tanya Devan cepat.
“beliau Demam tinggi akibat kelelahan dan stres. Kami sudah berikan cairan infus dan obat penurun panas. Dia perlu istirahat total, setidaknya beberapa hari ke depan.” ucap dokter tersebut menjelaskan
Devan mengembuskan napas lega, tapi matanya tetap serius. “Boleh saya lihat dia?”
“Silakan. Tapi jangan ganggu waktu istirahatnya.”
Ia masuk perlahan ke kamar rawat yang tenang. Ellysa terbaring di ranjang putih, dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya masih pucat, tapi napasnya sudah mulai stabil.
Devandra duduk di kursi di samping ranjang, menatap lama wajah lembut itu. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan setiap detailnya, garis halus di pipi, bibir yang tampak lemah, dan bulu mata yang basah karena sisa air mata.
“Kenapa kau harus sekuat ini sendiri, Ellysa…” katanya pelan. “Kalau kau sedih, kalau kau lelah, kau bisa bicara padaku.” ucap Devan dengan pelan
Ia menyentuh lembut punggung tangan Ellysa, lalu menggenggamnya pelan. “Aku janji… aku tidak akan biarkan kau menanggung semuanya sendiri lagi.”
Dan untuk pertama kalinya, di pagi yang tenang itu, Devandra Mauria, pria yang selalu menjaga jarak menatap istrinya bukan lagi sebagai beban atau tanggung jawab…
melainkan seseorang yang mulai ia takut kehilangan.
"maaf, karena aku hidupmu jadi seperti ini, karena aku kamu kehilangan orang tuamu" ucapnya dengan sangat lirih, ia merasa sangat bersalah setelah kejadian semalam