Bab 5 – Tangis di Balik Pintu
Setelah kepergian Evaline, suasana di rumah besar keluarga Mauriat kembali hening. Hanya terdengar langkah pelan para pelayan yang membereskan cangkir teh dan piring kecil dari ruang tamu. Semua menunduk, berusaha seolah tidak terjadi apa-apa, padahal mereka tahu betul, udara di rumah itu terasa berat setelah kehadiran tamu tak diundang tersebut.
Ellysa berjalan perlahan menaiki tangga besar menuju kamarnya. Gaun bunga lembut yang ia kenakan tadi kini terasa menyesakkan. Ia menunduk, matanya sayu. Senyum tenang yang tadi ia pertahankan di depan Evaline kini menghilang sama sekali.
Begitu sampai di kamarnya, Ellysa menutup pintu perlahan dan bersandar pada daun pintu kayu itu. Nafasnya berat, dadanya terasa sesak. Semua perkataan Evaline masih terngiang jelas di telinganya
“Kau dinikahinya karena kasihan. Karena balas budi.”
Kata-kata itu seperti racun yang mengendap di hatinya, pelan-pelan melukai tanpa bisa dihindari. Ia berjalan ke arah ranjang, duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam bertabur bintang.
Dari luar, bulan tampak bundar dan terang, namun bagi Ellysa, malam itu begitu kelam.
“Benar, aku tidak pantas,” bisiknya lirih, suara kecilnya tenggelam di antara denting jam antik di dinding.
Ia menunduk, memegangi ujung gaunnya dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir tanpa suara di pipinya.
Wajah kedua orang tuanya tiba-tiba terlintas di benaknya , Ayahnya, Pak Wicaksono, yang selalu mengajarinya untuk kuat dan tidak membenci siapa pun. Dan Ibunya, Ibu Mirna, yang selalu mengelus rambutnya setiap kali ia menangis.
Keduanya meninggal karena melindungi Devandra, orang yang kini menjadi suaminya.
Sungguh, Ellysa tidak pernah menyesali keputusan orang tuanya. Tapi rasa kehilangan itu tetap menoreh luka yang tak bisa disembuhkan waktu. Ia masih terlalu muda untuk menanggung beban seberat itu.
Ia menatap foto kecil yang berdiri di meja rias , potret dirinya bersama kedua orang tuanya, tersenyum bahagia di kebun bunga mawar rumah lama mereka.
Sekujur tubuhnya bergetar. Air mata jatuh lebih deras.
“Mah… Pah…” suaranya pecah, bergetar, “kalian semua pergi… meninggalkan aku sendirian…”
Ia terisak, tubuhnya terguncang pelan.
“Karena menyelamatkan orang lain… aku jadi yatim piatu. Sekarang siapa yang akan memelukku kalau aku sedih? Siapa yang akan menenangkan aku saat takut?” ucapnya dengan sangat lirih
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
Tangis seorang gadis muda yang kehilangan segalanya rumah, kasih sayang, dan kebahagiaan masa kecil. Kini ia tinggal di rumah yang besar dan megah, tapi terasa begitu sepi dan dingin.
Sementara itu, di balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, Devandra berdiri dengan diam.
Tadi ia bermaksud datang ke kamar Ellysa untuk sekadar berbicara. Entah mengapa, sejak kejadian sore tadi, pikirannya tak bisa tenang. Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh di dadanya, perasaan yang tak ingin ia akui, tapi sulit ia abaikan.
Namun, begitu ia mengetuk pelan dan sedikit membuka pintu, suara tangisan Ellysa langsung menyambutnya.
Ia terdiam di tempat.
Di balik celah pintu, ia melihat gadis itu duduk di tepi ranjang, bahunya berguncang pelan, wajahnya tertutup tangan. Suara tangisnya terdengar lembut namun memilukan, seperti melodi patah yang menembus dinding hatinya.
Devandra mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras, matanya meredup.
Ia tidak pernah menyangka, gadis yang selama ini selalu menatapnya dengan sopan dan penuh ketenangan itu ternyata menyimpan luka sedalam itu.
Dan tanpa sadar, rasa bersalah di dadanya semakin membesar.
Semua ini… terjadi karena dirinya.
Jika saja dulu ia lebih hati-hati, jika saja ia tidak melibatkan Pak Wicaksono dan istrinya dalam urusannya, mungkin mereka tidak perlu mati.
Dan gadis itu Ellysa tidak perlu kehilangan segalanya di usia semuda ini.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dalam d**a. Tapi saat mendengar Ellysa kembali berbisik lirih, suaranya semakin bergetar.
“Pah… Mah… Aku berusaha kuat, sungguh. Tapi… aku lelah…”
Tangis itu semakin dalam, membuat Devan memejamkan mata lebih rapat, menahan perasaan bersalah yang menyesakkan.
Selama ini ia berpikir Ellysa hanyalah tanggung jawab. Seorang gadis yang harus ia lindungi demi rasa terima kasih pada orang tuanya.
Tapi malam itu… semua pandangannya goyah.
Ellysa bukan sekadar tanggung jawab. Ia adalah seseorang yang kehilangan segalanya karena dirinya dan masih memilih untuk tetap tenang, tetap sopan, tetap menghormatinya tanpa sedikit pun membenci.
Itu membuat hatinya terasa diremas.
Devan ingin masuk, ingin menenangkan gadis itu. Namun langkahnya tertahan. Ia tidak tahu harus berkata apa, bagaimana harus bersikap.
Ia terbiasa menghadapi perundingan bisnis dan situasi tegang dengan kepala dingin, tapi menghadapi tangisan tulus seperti itu membuatnya benar-benar kehilangan kata.
Akhirnya, ia hanya berdiri diam di balik pintu, mendengarkan.
Setiap helaan napas, setiap isak kecil Ellysa, seperti memukul batinnya.
Setelah beberapa menit, Devandra menarik napas berat dan menutup pintu perlahan, memastikan tidak menimbulkan suara. Ia menunduk, menggenggam erat tangannya sendiri, lalu berbalik meninggalkan koridor panjang itu.
Namun, langkahnya tidak secepat biasanya. Ia berjalan pelan, seolah setiap langkah membawa beban baru.
Untuk pertama kalinya, Devandra Mauriat, pria yang selalu dingin dan tegas merasa hatinya diguncang oleh kelembutan dan luka seorang gadis muda.
Malam itu, di ruang kerjanya yang sepi, Devan duduk termenung di kursi kulit hitam. Gelas whisky di tangannya tak tersentuh. Pandangannya kosong, menatap bayangan dirinya di jendela besar.
“Ellysa…” bisiknya pelan, seolah menyebut nama itu membuat dadanya semakin sesak.
"maaf.. " gumamnya merasa sangat bersalah
Entah sejak kapan, namanya saja sudah mampu membuat hati Devan terasa berat dan hangat, sekaligus bersalah.
Sementara di kamar di lantai atas, Ellysa akhirnya tertidur dengan air mata yang belum kering di pipinya, tanpa tahu bahwa di balik sikap dingin suaminya… hatinya mulai goyah.
Devan, kembali melewati lorong kamar Ellysa,.. bahkan mendekatkan telinganya, di balik pintu, terdengar sepi.. tangannya mencoba menekankan handle pintu dan membukanya
cek lek.. pintu di buka dengan pelan, karena takut menggangu Ellysa,.. terlihat tubuh kecil Ellysa meringkuk seperti anak kucing yang tengah memeluk foto kedua orang tuanya.. tanpa selimut bahkan posisinya menyilang
Devan tersenyum tipis, beberapa saat, melihat posisi tidur Ellysa yang terlihat lucu, entah fikiran dari mana, dia merogoh ponselnya dan mengambil beberapafoto tersebut..
"lucu" gumamnya, namun setelah itu, dia menghela nafas, panjang lalu duduk di samping ranjang Ellysa
perlahan tangannya mengusap lembut kepala Ellysa dengan ragu, bahkan tangannya sedikit gemetar
"maaf,.. karena aku, hidupmu jadi seperti ini" gumamnya sangat pelan.. perlahan Devan mengambil foto tersebut dari dekapan Ellysa.. dan mengubah posisi tidur Ellysa agar nyaman,.. dengan mengangkat sedikit tubuh kecil tersebut.. dan menyelimutinya
"mimpi indah,.. aku janji,.. aku akan membuatmu bahagia, tapi berikan aku waktu" cup... ucap Devan sambil mengecup kepala Ellysa dengan lembut
setelah itu dia pun meninggalkan Ellysa sendirian,.. langkah Devan terlihat mantap, seolah mendapatkan sebuah energi baru, ia pun kembali masuk kedalam ruang kerjanya
"Max... ke rumah ku sekarang" ucapnya tegas