Udara sore di mansion keluarga Mauriat terasa lengang dan sendu. Cahaya matahari yang masuk melalui kaca tinggi menimpa lantai marmer, menciptakan bayangan lembut yang menenangkan. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Hari itu, kepala pelayan datang tergesa-gesa ke ruang kerja Devandra.
“Tuan Muda,” katanya dengan suara berbisik, “Nona Evaline… dia datang. Dan… sekarang sedang berbicara dengan Nyonya Ellysa di ruang tamu.” ujar nyonya Helena sang kepala pelayan Mansion
Devandra yang sedang menatap layar laptop langsung menegakkan tubuh. Sekilas, rahangnya menegang, jemarinya mengepal pelan di atas meja kerja. “Ellysa sendirian?” tanyanya datar.
“Ya, Tuan. Semua pelayan perempuan sedang menyiapkan jamuan sore di dapur. Saya khawatir Nona Evaline datang dengan maksud yang tidak baik.” ucap nyonya Helena
Devandra menghela napas panjang, tapi ekspresinya tak berubah. “Aku mengerti. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruang tamu untuk sekarang. Aku akan melihat sendiri.” ucap Devan
"baik tuan'"
Ia pun bangkit, melangkah menuju lorong panjang menuju ruang tamu. Setiap langkahnya berat dan dipenuhi dilema yang tak ingin ia hadapi.
"Evaline...., berani dia datang kesini" geram Devandra sambil berjalan cepat menujukan ruang tamu
Sementara itu di ruang tamu yang luas dan hangat, Ellysa duduk dengan sopan di sofa bermotif bunga, mengenakan gaun sederhana berwarna lembut. Senyumnya tipis, matanya teduh, sementara di hadapannya berdiri Evaline , wanita berpenampilan glamor dengan raut wajah penuh kesombongan yang berusaha ia sembunyikan di balik senyum manis.
“Jadi, kamu yang bernama Ellysa y?” suara Evaline terdengar lembut tapi tajam, seperti belati berlapis sutra.
Ellysa menatapnya tenang, menautkan kedua tangannya di pangkuan. “Benar, saya Ellysa Mauria. Silakan duduk, Nona Evaline,” ucapnya sopan.
Evaline tersenyum miring, menatap sekeliling ruangan seolah menilai rumah yang bukan miliknya.
“Hmm… tempat ini tak banyak berubah. Masih berkelas seperti dulu,” katanya sembari duduk santai tanpa diminta dua kali.
Lalu pandangannya beralih menelusuri wajah Ellysa. “Kau tampak sangat muda… terlalu muda untuk menjadi istri seorang Devan, bukan?” ucap Evaline tersenyum mencibir
Ellysa menunduk sedikit, suaranya lembut namun tegas. “Saya hanya menjalankan amanah orang tua, Nona.” jawabnya masih sopan
“Oh, jadi kau menikah dengan Devan karena perintah orang tua?” Evaline tersenyum mengejek. “Kau tahu, jika bukan karena rasa kasihan dan balas budi, dia tidak akan pernah melirikmu.” ucap Evaline dengan sinis
Senyum di bibir Ellysa sedikit goyah, tapi ia segera menegakkannya kembali. “Saya tahu,” jawabnya jujur. dan tenang
“Saya sadar posisi saya di rumah ini. Saya tidak pernah berharap lebih dari seorang istri yang menjalankan kewajibannya.”
“Benar-benar polos,” gumam Evaline dengan tawa kecil. “Kau tak tahu betapa Devan dulu mencintai aku. Dia hampir melamarku sebelum—”
Evaline berhenti sejenak, menatap Ellysa dengan tatapan menusuk. “Sebelum kau muncul dan ‘dipaksakan’ menikah dengannya.” ucap Evaline dengan tanam dan menekan
Ellysa tetap tersenyum, meski hatinya perih seperti disayat. “Jika memang Tuan Devan mencintai Nona begitu dalam, maka saya turut bahagia,” katanya pelan.
“Mungkin, suatu hari nanti, dia bisa bahagia kembali dengan orang yang dia cintai.” ucap Ellysa tetap tersenyum, meskipun ia paksakan, namun harus tetap bersikap tenang, untuk menjaganya martabat kelurga Mauria
Evaline menatapnya tajam, tidak menyangka Ellysa akan menjawab sebijak itu. Ada rasa kesal yang muncul di dadanya, bukan karena Ellysa membantah, tapi karena gadis itu terlalu tenang.
“Jadi kau tidak marah? Tidak cemburu mendengar aku adalah kekasihnya dulu?” ucap Evaline tidak percaya
Ellysa menggeleng pelan. “Cemburu bukan hak saya, Nona. Pernikahan kami memang tidak berdasarkan cinta. Tapi saya menghormati Tuan Devan sebagai suami, dan saya berterima kasih karena keluarga beliau telah menerima saya.” jawab Ellyas dengan bijak
Jawaban itu membuat Evaline terdiam beberapa detik. Ia menggertakkan giginya, berusaha menahan amarah yang mulai naik ke ubun-ubun. Kenapa gadis ini bisa setenang itu? pikirnya. Bukankah seharusnya dia menangis atau marah?.. apalgi masih muda, harusnya bersikeras manja
Ia ingin Ellysa goyah, ingin melihat gadis muda itu kehilangan ketenangan yang mengganggu harga dirinya.
“Ah, kasihan sekali,” ucap Evaline dingin sambil berdiri, berjalan mendekat.
“Kau tahu, setiap malam sebelum aku pergi dulu, Devan selalu datang menemuiku. Dia mencintai caraku membuatnya nyaman, cara aku membelainya, bahkan—”
“Ellysa,” suara berat Devandra tiba-tiba terdengar dari arah pintu.
Evaline tertegun, membeku di tempat. Sementara Ellysa menoleh, matanya membulat kaget.
Devandra berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam yang membuat wajahnya semakin tegas dan dingin. Tatapan matanya menusuk tajam ke arah Evaline.
“Devan… aku—”
“Cukup, Evaline.” Suaranya rendah namun berwibawa, penuh tekanan yang membuat ruangan itu seketika terasa mencekam. “Aku sudah cukup mendengar semuanya dari awal.” ucap Devan dengan tegas
Evaline mencoba tersenyum manis. “Aku hanya ingin bicara—”
“Dengan cara menghina istriku di rumahku sendiri?” potong Devan dengan sangat tajam.
Nada suaranya mengandung amarah yang ia tahan dengan susah payah. Ia melangkah mendekat, berdiri di antara mereka, seolah membangun dinding pelindung di depan Ellysa.
Evaline tersentak kecil, tak menyangka Devan akan membela Ellysa seperti itu.
“Kau berubah, Devan…,” katanya lirih, matanya bergetar menahan kecewa. “Dulu kau tidak pernah membentakku seperti ini.” ucap Evaline mengiba
“Dulu aku tidak menikah. Sekarang aku sudah punya istri.” ucap Devan tegas
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Evaline, rasanya seperti tamparan keras di wajah. Napasnya bergetar, bibirnya menegang menahan emosi.
Ellysa menunduk, mencoba menenangkan suasana. “Tuan, tolong jangan salah paham. Nona Evaline hanya—”
“Ellysa,” ujar Devan lembut, tapi tegas. “Kau tidak perlu membela orang yang tidak menghormatimu.”
"Devan.. " sentak Evaline tidak percaya
Kata-kata itu membuat hati Ellysa bergetar. Untuk pertama kalinya, Devan memanggil namanya tanpa nada dingin, dan membelanya di depan orang lain. Tapi ia tetap menunduk, tidak ingin memperkeruh suasana.
Sementara Evaline berdiri dengan air mata yang mulai berkaca. “Jadi… ini akhirnya, Devan? Kau benar-benar sudah melupakan aku, ?” Evaline nyarios menangis
Devan menatapnya lama, namun pandangan itu kini kosong, tak ada lagi cinta, hanya kenangan yang telah usang.
“Aku tidak melupakanmu, Evaline. Tapi aku tidak bisa mengingkari takdir. Orang tuaku mempercayakan hidup Ellysa padaku, dan aku tidak akan mengkhianati kepercayaan itu.” ucap Devan dengan datar
Evaline terdiam beberapa detik sebelum tersenyum miris. “Kau benar-benar sudah menjadi pria yang berbeda, Devan… pria yang bahkan tidak aku kenal lagi.”
Ia lalu berbalik, langkah sepatunya bergema pelan meninggalkan ruangan. Namun sebelum keluar, ia menatap Ellysa sekilas dengan tatapan tajam, campuran iri dan dendam yang belum padam.
Begitu pintu tertutup, hening menyelimuti ruangan. Ellysa menunduk, kedua tangannya mengepal di pangkuan.
“Tuan… maafkan saya. Saya tidak bermaksud—”
Devan menatapnya dengan pandangan yang sulit ditebak.
“Kau tidak salah, Ellysa.”
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan mendekat, berdiri tepat di depan gadis itu.
“Kau… tetap tenang, bahkan saat dia mencoba menjatuhkanmu. Aku menghargai itu.” ucap Devan dengan lembut
Ellysa menelan ludah, wajahnya sedikit memerah. “Saya hanya tidak ingin mempermalukan nama keluarga Mauria.”
Sekilas, sudut bibir Devan terangkat tipis, senyum kecil yang jarang sekali muncul. “Kau benar-benar berbeda,” gumamnya pelan.
Lalu ia berbalik, berjalan menuju pintu. “Istirahatlah, Ellysa. Jangan hiraukan apa pun yang dia katakan tadi.” ucap Devan seraya meninggalkan Ellysa
Begitu Devan pergi, Ellysa menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu, matanya bergetar lembut.
Meski hatinya perih, ada kehangatan kecil yang tumbuh di dalam d**a, sebuah perasaan yang tidak ia mengerti.
Mungkin, untuk pertama kalinya, Devandra mulai melihat dirinya bukan sekadar istri karena balas budi., namun dia tidak ingin berharap lebih, karena sadar akan statusnya yang hanya orang biasa, yang hidup di bawah naungan keluarga besar seorang Mauria