bab. 4 Godaan Yang Kembali Datang

580 Words
"aarghhhh...!! " brakkkk... prangggg,.. teriak Evaline saat sampai di apartemen nya setelah dia datang ke kantor Devan tapi hanya mendapat penolakan "bagaimana bisa?! " ucap Evaline dengan geram, sambil membanting semua barang yang ada di hadapannya "bagaimana bisa,.. Devan ku yang begitu bucin,.. tergila gila padaku,.. sekarang berubah sangat cepat, setelah menikahi gadis ingusan itu" umpat Evaline sangat marah "tapi lihat saja Devan,... jangan panggil aku Evaline, jika tidak bisa mendapatkan mu kembali" ucapnya tersenyum sinis, dia bertekad dengan kuat jika tidak akan pernah menyerah untuk kembali mendapatkan Devan Keesokan harinya, di kantor, Evaline datang lagi, kali ini tanpa pemberitahuan. Ia masuk ke ruangan Devan sambil membawa kopi kesukaannya, seolah tak ada batas antara masa lalu dan kini. dengan mengenakan gaun yang selalu sexy Evaline dengan anggunnya masuk kedalam ruangan Devan “Aku tahu kau masih marah,” katanya sambil tersenyum genit. “Tapi aku hanya ingin membuatmu sedikit tenang.” ucapnya dengan sangat manis Devan mendesah berat. “Evaline, jangan lakukan ini.” ucap Devan saat Evaline duduk di. meja di hadapannya dengan membuktikan sedikit kakinya, membuat Devan yang memang pria normal, terlihat menelan ludah, “Aku hanya ingin bicara.” ucap Evaline lembut, sambil jemarinya menelusuri tubuh Devan dengan nakal “Tidak perlu.” grep... ucap Devan menahan jemari Evaline,.. Namun Evaline tetap mendekat, tangannya menyentuh bahu Devan. Sentuhan itu ringan, tapi membuat seluruh tubuhnya menegang. “Devan…” bisik Evaline lembut. “Aku tahu kau merindukanku.” bisiknya dengan sensual Untuk sepersekian detik, waktu seolah berhenti. Ada rasa rindu yang membuncah, tapi juga rasa bersalah yang menyesakkan. Devan menarik diri perlahan, menatap wanita itu dengan mata tajam tapi goyah. “Evaline, jangan goda aku,” katanya dengan suara rendah. “Aku tidak bisa melakukan ini.” ucap Devan berusaha menahan semua hasratnya Evaline menatapnya kecewa. “Kau benar-benar berubah…” ucap Evaline merajuk dan cup... Evaline mengecup leher Devan, membuat Devan memejamkan matanya "Devan... uuhhh....akuuh.." "cukup Evaline, hentikan...! " sentak Devan dengan nada tinggi, saat Evaline berusaha menggerayangi tubuhnya "Kau menolak ku Devan?.... haah.. aku tidak percaya, kau begitu tergila gila padaku,.. kita sudah sering melakukan ini Devan... jangan munafik! " ucap Evaline sangat kecewa “Karena sekarang aku punya sesuatu yang harus kujaga.” balas Devan dengan suara yang bergetar “Ellysa?” tanya Evaline dengan nada sarkastik. Devan tidak menjawab. Evaline tertawa kecil, tapi matanya berkaca. “Baiklah. Tapi suatu saat, Devan… kau akan sadar, bukan tanggung jawab yang membuatmu hidup, tapi cinta.” Lalu ia pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan keharuman yang samar dan kekacauan yang besar di hati Devan. Devan menghela nafas, dana kembali duduk di kursinya dengan nafas yang masih memburu, ia tidak menyangkalnya, dia pun sangat merindukan hal hal yang sering mereka lakukan dulu,.. tapi entah kenapa, sekarang justru hal itu telah membuat Devan merasa risih, apalagi jika mengingat wajah lolos istri kecilnya, Ellysa Malamnya, Devan pulang larut. Ellysa sudah tertidur di sofa dengan buku di d**a, lampu ruangan masih menyala. Ia mendekat pelan, menatap wajah gadis itu yang tampak tenang dalam tidur. Ada sesuatu yang lembut di sana, sesuatu yang Evaline tak pernah punya, ketulusan tanpa syarat. Devan menunduk, mengambil buku itu perlahan agar tidak membangunkannya. Namun jari Ellysa bergerak, menyentuh pergelangan tangannya secara tak sengaja. Sentuhan kecil itu menghentikan napasnya. Ia berdiri lama di sana, hanya memandangnya. “Kenapa kau bisa membuatku ragu, Ellysa…” bisiknya pelan. Lalu ia mematikan lampu dan berjalan pergi, meninggalkan ruangan dalam gelap, namun dalam dadanya, cahaya kecil yang tak ia mengerti mulai tumbuh perlahan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD