bab. 3 Ketika Gunung Es Mulai Retak

1290 Words
Sudah hampir tiga minggu sejak Ellysa resmi tinggal di kediaman Mauriat. Perlahan-lahan, rumah yang dulu terasa asing mulai ia kenal, aroma kayu mahoni di lorong utama, kebiasaan Helena yang selalu menyiapkan teh melati di sore hari, dan langkah berat Tuan Devan yang selalu terdengar setiap kali pulang larut malam. Sikap Devan memang tak berubah, tetap dingin, tegas, dan menjaga jarak. Namun, ada momen-momen kecil yang tanpa sengaja mencairkan suasana di antara mereka. Seperti ketika Devan membiarkannya bermain piano, atau saat ia diam-diam meninggalkan payung di dekat taman agar Ellysa tidak kehujanan saat membaca buku. Mereka tidak berbicara banyak, tapi diam itu tidak lagi setajam dulu. Hingga suatu pagi yang tenang, dunia Devan kembali terguncang. Devan baru saja keluar dari ruang rapat saat sekretaris pribadinya menghampiri. “Tuan Mauria,” katanya dengan nada hati-hati, “ada tamu yang ingin menemui Anda. Beliau bilang, Anda pasti ingin bertemu dengannya.” ucap sang sekertaris “Siapa?” tanya Devan datar, masih menatap berkas di tangannya. “Seorang wanita, Tuan. Namanya… Evaline.” jawab sekretarisnya Langkah Devan terhenti. Seketika napasnya membeku. Nama itu seperti hantaman keras di dadanya, nama yang dulu ia ingin dengar lagi, tapi tidak dalam keadaan seperti ini. “Bawa dia ke ruang pribadi,” ucapnya cepat, berusaha menahan gemuruh perasaan yang tiba-tiba muncul. Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya terbuka. Seorang wanita berambut cokelat panjang melangkah masuk dengan percaya diri, tubuhnya masih anggun seperti dulu. Wangi parfumnya memenuhi ruangan, mengingatkan Devan pada masa lalu, masa ketika hidupnya terasa lebih mudah. “Devan…” Evaline tersenyum tipis, suaranya lembut namun penuh kekuasaan. “aku merindukan mu?” ucap Evaline dengan manja Devan menatapnya lama, matanya tajam tapi sarat emosi. “Aku pikir kau sudah pergi untuk selamanya, Evaline.” ucap Devan dengan datar Wanita itu mendekat, langkahnya ringan. “Aku memang pergi. Tapi bukan karena aku ingin, Devan. Kau tahu alasannya.” “Karena aku menikah?” ucap Devan dengan datar Evaline tersenyum miris. “Kau pikir mudah bagiku mendengar kabar orang yang kucintai menikah dengan gadis lain… dan lebih muda dariku?” ucap Evaline dengan wajahnya sendu Devan menarik napas panjang. “Kau tahu alasannya. Aku tidak punya pilihan waktu itu. Ini tentang kehormatan keluarga dan…” “Dan nyawamu yang diselamatkan orang lain,” potong Evaline pelan tapi menusuk. “Ya, aku tahu. Tapi tetap saja, Devan. Kau menikah. Dan aku—” ia berhenti sejenak, menatap mata Devan dalam-dalam, “aku masih mencintaimu.” ucap Evaline dengan sedikit tajam Kata-kata itu membuat d**a Devan terasa sesak. Ia mencoba menahan diri agar tetap tenang, namun dalam dirinya ada gejolak yang sulit dijelaskan. “Evaline…” “Devan, dengar aku dulu,” ucap Evaline sambil mendekat, suaranya melembut. “Aku tidak datang untuk menuntut. Aku hanya ingin kau tahu, aku masih di sini. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa pernikahanmu tidak membuatku hancur. Tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu.” ucap Evaline dengan mata yang berkaca kaca Devan terdiam. Matanya menatap wajah wanita yang dulu mengisi hari-harinya dengan tawa dan ambisi. Ia rindu, teramat rindu. Tapi di sisi lain, bayangan wajah Ellysa muncul sekilas di pikirannya, wajah lembut yang selalu menunduk sopan, tangan kecil yang dengan hati-hati merawat bunga di taman belakang setiap pagi. Ia menggenggam pelipisnya, mencoba menyingkirkan rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam. “Evaline, aku sudah menikah,” katanya akhirnya. “Aku tahu,” jawab Evaline cepat, senyumnya samar tapi matanya tajam. “Tapi apakah kau bahagia, Devan? Dengan gadis itu?” ucap Evaline tersenyum sinis Pertanyaan itu membuat Devan terdiam. Bahagia? Kata itu terasa asing. Ia bahkan tidak tahu seperti apa kebahagiaan itu sekarang. Tapi anehnya, setiap kali mengingat Ellysa, ada rasa tenang yang muncul, bukan cinta, bukan gairah, tapi semacam kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Dia baik,” jawab Devan akhirnya. “Sangat baik.” ucap Devan “Baik?” Evaline tersenyum sinis. “Tentu saja baik. Tapi kau bukan pria yang butuh ‘baik’, Devan. Kau butuh wanita yang bisa mengimbangi ambisimu, bukan gadis kecil yang hanya tahu menunduk dan diam.” ucap Evaline lagi mencoba meruntuhkan keegoisannya Kata-kata itu menusuk seperti pisau. Devan ingin membantah, tapi ia tidak bisa. Ia tahu Evaline berbicara dengan logika, namun ada bagian dalam dirinya yang tidak lagi sependapat dengan logika itu. “Evaline, aku menghargaimu. Tapi aku tidak ingin memperumit keadaan. Aku tidak bisa mengkhianati… statusku sekarang.” Wanita itu tertawa kecil, langkahnya mendekat, sampai jarak mereka hanya beberapa inci. “Statusmu?” bisiknya lembut. “Devan, kau dan aku tahu pernikahan itu hanya formalitas. Kau menikah untuk menebus hutang. Tidak ada cinta di sana.” Devan menatapnya lama, rahangnya menegang. “Tapi aku sudah berjanji akan melindunginya,” katanya pelan. Untuk pertama kalinya, suara Evaline melemah. “Kau berubah.” “Mungkin,” jawab Devan datar. “Atau mungkin aku mulai mengerti apa artinya tanggung jawab.” ucap Devan, membuat Evaline mengepalkan tangannya Evaline terdiam, lalu perlahan menatapnya lagi, kali ini dengan nada menggoda. “Kalau begitu… bolehkah aku hanya menjadi temanmu, Devan? Aku tidak akan meminta apa pun. Aku hanya ingin berada di dekatmu seperti dulu.” ucap Evaline seraya menempelkan tangannya mulai menggerayangi tubuh Devan Devan menatapnya tajam. “Kau tahu itu berbahaya.” Evaline tersenyum kecil. “Aku selalu suka hal yang berbahaya.” grepp.. Devan menggenggam tangan Evaline dengan cukup kasar "jagalah batasanmu" ucapnya dengan tegas, membuat Evaline sangat terkejut Sore itu, Devan pulang lebih awal. Kepalanya penuh pikiran, langkahnya terasa berat saat melewati halaman rumah. Di ruang tamu, ia menemukan Ellysa sedang membaca di sofa, ditemani secangkir teh hangat. Gadis itu segera berdiri dan menunduk sopan. “Selamat sore, Tuan.” Devan menatapnya sejenak, entah kenapa, matanya terasa sulit beralih. Ia baru saja bertemu wanita yang dulu ia cintai mati-matian, namun yang kini menatapnya dengan tulus justru gadis yang tak pernah ia pilih. “Kau sudah makan?” tanyanya tiba-tiba. Ellysa sedikit terkejut. “Belum, Tuan. Saya menunggu Tuan pulang.” jawab Ellyas “Tidak perlu menunggu. Aku tidak suka membuatmu repot.” ucap Devan dengan datar “Saya tidak repot,” jawabnya lembut. “Saya hanya… merasa pantas menunggu.” balas Ellysa dengan lembut Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk jauh ke hati Devan. Ia berdeham kecil, mencoba menutupi keterkejutan aneh yang melandanya. “Baiklah. Makan malam sekarang.” ucapnya, membuat Ellyas hampir menjatuhkan bukunya, karena kerasa tidak percaya beberapa saat kemudian Mereka duduk di meja makan panjang seperti biasa, tapi kali ini Devan tak lagi hanya fokus pada makanannya. Ia memperhatikan cara Ellysa memegang sendok dengan hati-hati, cara matanya menatap penuh rasa hormat setiap kali ia berbicara. Tidak ada kepura-puraan di wajah itu, semuanya tulus. “Bagaimana kegiatanmu hari ini?” tanya Devan tiba-tiba. Ellysa tampak heran. Ia jarang ditanya seperti itu. “Saya… membantu Nyonya Helena menata ulang ruang baca. Dan… saya menulis surat untuk makam Papa dan Mama.” jawab Ellysa dengan lembut Devan menunduk pelan. “Aku mengerti.” “Terima kasih karena telah menjaga makam mereka, Tuan. Saya tahu itu bukan kewajiban Tuan, tapi—” “Sudah seharusnya,” potong Devan. “Mereka menyelamatkanku. Tidak ada balasan yang cukup untuk itu.” ucap Devan lagi Ellysa tersenyum lembut, dan entah kenapa, senyum itu membuat d**a Devan terasa aneh, hangat dan sesak sekaligus. Namun malam itu, saat Devan berbaring di tempat tidur, wajah Evaline kembali muncul di benaknya. Suara lembutnya, tatapan matanya yang tajam, dan godaan di setiap gerakannya. Ia memejamkan mata dengan kesal. “Kenapa aku harus merasa bersalah?” gumamnya. “Aku tidak melakukan apa pun…” Tapi hatinya tahu, ada yang berubah. Dulu, ia yakin akan meninggalkan segalanya demi Evaline. Kini, hanya membayangkan Ellysa tahu bahwa ia bertemu dengan mantan kekasihnya saja sudah membuatnya gelisah. Ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar. “Apa yang terjadi padaku…” gumamnya pelan sambil menatap kedepan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD