bab. 15 Setelah Semalam

1010 Words
Pagi itu matahari menembus tirai tipis kamar hotel tempat mereka menginap di kota kecil pinggiran Prancis. Cahaya keemasan menyentuh wajah Ellysa yang masih terlelap, membuat kulitnya tampak hangat berpendar. Angin lembut dari jendela yang sedikit terbuka membawa aroma laut yang tenang. Devan sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu. Ia duduk di kursi dekat tempat tidur, mengenakan kemeja putih tipis, memperhatikan sosok wanita yang kini terlelap di antara lipatan selimut tebal. Ada ketenangan di wajahnya, sesuatu yang jarang ia lihat sejak semua luka itu datang. Ia tersenyum samar, mengingat betapa gugupnya Ellysa semalam. Ia masih bisa mendengar suaranya yang pelan, tangannya yang bergetar ketika mencoba menyesuaikan diri dengan kehadiran seorang pria di sisinya. Tapi yang paling membuat Devan terdiam adalah air mata lembut yang jatuh tanpa suara, bukan karena takut, tapi karena perasaan dalam yang selama ini ia pendam. Ia mendekat, menyibakkan helai rambut di pipi Ellysa, lalu berbisik pelan, “Tidurlah… kau milikku sekarang.” ucap Devan dengan pelan Namun beberapa menit kemudian, Ellysa mulai bergerak pelan. Wajahnya sedikit meringis, tubuhnya terasa kaku. Ketika mencoba duduk, ia mengerang pelan. “Ah…,” ucapnya hampir tanpa suara. Devan segera menghampiri. “Hei, pelan-pelan,” katanya lembut sambil menahan bahu Ellysa agar tidak terlalu memaksakan diri. Ellysa menatapnya dengan mata yang masih buram oleh kantuk dan rasa malu yang mendadak menyergap. Ia menunduk cepat, memeluk selimut ke dadanya, pipinya memerah. “Saya… maaf, Tuan… aku hanya ingin bangun,” ujarnya pelan. Devan menghela napas kecil, lalu tersenyum. “Kau tidak perlu memanggilku ‘Tuan’ lagi, Ellysa. Panggil aku Devan saja. Dan istirahatlah dulu, kau masih terlihat lelah.” ucap Devan dengan lembut Ellysa menatapnya ragu, tetapi ada kehangatan yang tidak bisa ia sembunyikan. “Saya tidak apa-apa… hanya sedikit pegal,” ucapnya gugup. Devan tertawa kecil, menatapnya dengan lembut tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia tahu persis apa yang dirasakan Ellysa saat ini,..kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, dan juga rasa malu yang sulit dijelaskan. Tapi di balik semua itu, ada ketulusan yang tumbuh di antara mereka. "apa aku terlalu kasarnya semalam, hingga kau" "diam.. " sentak Ellysa malu sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut, membuat Devan terkekeh "sudah berani sekarang" ucap Devan sedikit tegas "mm.. maaf" cicitnya Ellysa pelan "hmm akan ku fikirkan.. " ucap Devan terkekeh “Aku sudah pesan sarapan. Kau ingin aku bantu duduk?” tanyanya pelan. Ellysa sempat terdiam, tapi akhirnya mengangguk. Devan perlahan membantu memiringkan tubuhnya, lalu menopang punggungnya dengan bantal. Ia melakukannya sangat hati-hati, seolah takut menyakitinya. “Ellysa,” panggilnya lembut setelah beberapa saat hening. “Kau tahu… aku tidak menyesali apapun tentang semalam.” Ellysa terdiam, menatap ke arah jendela yang diterpa sinar matahari. “Saya… tidak tahu harus bilang apa,” suaranya lirih, hampir bergetar. Devan menatapnya lama, lalu menggenggam tangan Ellysa yang ada di atas selimut. “Kau tidak perlu memaksakan apa pun. Aku hanya ingin kau tahu… aku tidak akan pergi lagi. Tidak akan membiarkanmu merasa sendiri seperti dulu.” ucap Devan penuh ketulusan Ellysa menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya, ia menatap mata Devan tanpa ragu. Ada sesuatu di sana—bukan hanya kasih, tapi juga janji diam yang tak perlu diucapkan. “kenapa…” bisiknya pelan. Devan tersenyum samar. “Mungkin karena kau mengajariku caranya menyesal.” Keduanya terdiam lagi, tapi kali ini bukan karena canggung. Ada keheningan hangat yang memenuhi ruang di antara mereka. Di luar, langit tampak semakin cerah, dan burung-burung laut beterbangan di udara. Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawa sarapan, croissant hangat, buah segar, dan secangkir teh herbal. Devan menyiapkan meja kecil di sisi ranjang, lalu menyuapkan sepotong kecil roti pada Ellysa. “Tidak perlu seperti ini…” ucap Ellysa malu. “Biar saja. Aku ingin melakukannya,” sahut Devan dengan nada penuh kasih. “Lagipula, kapan lagi aku bisa menyuapi istriku sendiri?” ucap Devan dengan lembut Ellysa tersenyum kecil, pipinya kembali memerah. Ia menerima suapan itu dengan ragu, lalu tertawa kecil ketika Devan menatapnya tanpa berkedip. “Kenapa menatapku begitu?” tanyanya malu. “Karena baru kali ini aku melihatmu tersenyum tanpa beban,” jawab Devan jujur. Seketika mata Ellysa sedikit berkaca-kaca. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan perasaannya. “Aku… tidak tahu harus bilang apa lagi,” gumamnya. “Kau terlalu baik, padahal aku—” “Tidak ada ‘padahal’,” potong Devan lembut. “Kau sudah cukup berjuang selama ini, Ellysa. Sekarang biarkan aku yang membuatmu bahagia.” potong Devan dengan cepat Ucapan itu membuat d**a Ellysa terasa hangat. Ia menggenggam tangan Devan pelan. “Terima kasih,” katanya lirih. Setelah sarapan, Devan mengajak Ellysa duduk di balkon hotel, menikmati udara segar. Ia menyelimuti bahunya dengan shawl lembut, sementara Ellysa memandangi pemandangan menakjubkan kota tua yang berada di bawah sana. “Tempat ini indah sekali…” katanya pelan. “Ya,” jawab Devan singkat, lalu menatapnya dari samping. “Tapi tidak seindah kamu.” Ellysa spontan menoleh dengan wajah merah padam. “Devan!” Devan hanya tertawa kecil. “Apa? Aku hanya jujur.” Suasana berubah hangat dan lembut. Ellysa yang dulu selalu menunduk, kini mulai berani tersenyum lepas. Ia mulai menceritakan hal-hal kecil, tentang masa kecilnya, tentang kebun bunga di rumah orang tuanya, dan tentang impian sederhana yang dulu sempat ia kubur karena takut. Devan mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa sekalipun memotong. Ia hanya sesekali menatapnya, lalu mengangguk pelan, seolah sedang merekam setiap kata yang keluar dari bibir Ellysa. Sore menjelang, sinar matahari mulai berganti warna menjadi keemasan. Ellysa bersandar di bahu Devan, menikmati hembusan angin lembut yang membawa aroma laut. Ia merasa damai, sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini. Devan menatapnya dengan lembut. “masih sakit? " tanya Devan tiba-tiba, membuat Ellysa tersipu "kenapa tanya begitu" ucap Ellysa malu "tidak usah malu,.. jawab saja" ucap Devan "hmmm" jawab Ellysa tersipu "mau kedokter... maaf aku telah membuat mu kesakitan" ucap Devan dengan lembut "tidak perlu" jawab Ellysa, Devan merengkuh nyonya lembut memberikan kehangatan, membuat Ellysa memejamkan matanya Keduanya terdiam, tapi hati mereka berbicara dalam diam. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi luka yang menahan. Yang tersisa hanya perasaan hangat yang perlahan tumbuh di antara keheningan langit sore itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD