Paman Hasan menatap dalam-dalam ke arah sepasang mata keponakannya melalui layar ponsel. Sebagai pria yang membesarkan Nabila, ia tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan gadis itu, namun ia juga melihat keteguhan yang luar biasa di sana. Paman Hasan menghela napas berat, perlahan menurunkan pundaknya yang tegang dan melepaskan gagang pintu ruko. "Jika ini memang keputusan yang kamu ambil dengan sadar bersama suamimu, Nabila... Paman hanya bisa memegang janji legal suamimu," ujar Paman Hasan dengan suara rendah yang sarat akan rasa berat hati. "Tapi ingat, jika pria itu berani melanggar hukum negara atau menyakitimu, pintu ruko Paman selalu terbuka untukmu pulang." Nabila mengangguk pelan, dadanya terasa sesak namun sekaligus lega karena berhasil meredam kepanikan keluarganya tan

