bc

Beyond The Chaos

book_age18+
37
FOLLOW
1K
READ
revenge
forbidden
contract marriage
one-night stand
family
HE
love after marriage
age gap
fated
forced
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
curse
badboy
stepfather
heir/heiress
drama
sweet
bold
campus
city
office/work place
cheating
disappearance
secrets
love at the first sight
assistant
substitute
like
intro-logo
Blurb

Bagi Nabila As-Syifa, bertahan hidup sebagai mahasiswi yatim piatu penerima beasiswa di tengah dinginnya Alberta, Kanada, sudah cukup menguras seluruh energinya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa sebuah situasi pelik yang mengancam kelangsungan studinya akan melempar Nabila ke dalam jangkauan Caspian Devereux. Caspian (30 tahun) adalah CEO berdarah dingin pemimpin Devereux Group yang hidup di tengah hiruk-pikuk intrik korporat internasional. Demi mengamankan takhta bisnisnya dan meredam kekacauan keluarga, pria angkuh bertubuh 192 cm itu menawarkan sebuah transaksi hitam di atas putih: pernikahan kontrak. Di atas kertas, aturan Caspian sangat mutlak—tidak ada keterikatan emosi, tidak ada ruang untuk cinta, dan Nabila hanyalah bidak pelindung reputasinya. Caspian bersumpah tidak akan pernah menyerahkan hatinya pada "gadis kecil" berniqab yang dianggapnya terlalu kaku dan asing.​Namun, Caspian keliru.​Di balik tubuh mungilnya yang hanya 150 cm, Nabila memiliki prinsip yang sekokoh karang. Ia sama sekali tidak silau oleh kemewahan Devereux, dan ketegasannya perlahan mulai mematahkan setiap argumen logis Caspian. Setiap kali Caspian harus menunduk dalam-dalam untuk menatap mata teduh di balik kacamata itu, ego dan dinding es di hatinya terkikis tanpa ia sadari. Saat badai salju Alberta mulai mencair dan rasa posesif yang tak masuk akal mulai membakar d**a Caspian, masa kontrak mereka justru habis. Nabila yang telah menyelesaikan studinya bersiap melangkah pergi, membawa kembali kebebasannya. Caspian Devereux yang terbiasa memenangkan segala hal, kini harus meruntuhkan seluruh keangkuhannya untuk berlutut mengejar sebatang kara yang dulu ia abaikan. Namun, ketika benteng pertahanannya runtuh total, apakah semuanya sudah terlambat?

chap-preview
Free preview
BAB 1: SILUET ES DI GERBANG TROPIS
​Napas Nabila terputus-putus, menyisakan kepulan asap putih pekat yang langsung buyar disapu angin malam yang ganas. Kedua kakinya yang terasa mati rasa berkali-kali terperosok ke dalam tumpukan salju tebal sebatas lutut. Di sekelilingnya, deretan pohon pinus raksasa Hutan Alberta berdiri tegak bagai pilar-pilar raksasa yang tak berujung, mengurung tubuh mungilnya di tengah kegelapan malam yang beku. ​ "Kgrrrhhhh... Hshhh!" Geraman berat bercampur desisan tajam keluar dari sela taringnya yang memamerkan air liur. Srekk! Nabila membeku, jantungnya berhenti. Menoleh, matanya horor. Di balik es, mata merah menyala melesat. Seekor kucing bob (bobcat) besar, kekar, dengan taring tajam siap menerkam dalam satu lompatan. Napasnya serasa berhenti seketika. "Ya Allah... tolong..." cicit Nabila. Air matanya menetes pasrah, dan dalam hitungan detik, bulir hangat itu langsung membeku menjadi kristal es di permukaan pipinya. ​Ia mengerahkan sisa tenaga yang tersisa, memaksakan kakinya berlari terseok-seok menuju satu-satunya titik terang di tengah vegetasi forest yang rapat. Di ujung jalan setapak, berdiri sebuah luxury log cabin—vila kayu khas pegunungan Alberta yang sangat mewah, lengkap dengan pilar-pilar batang pohon kasar dan cerobong asap batu alam yang mengepulkan asap tipis ke langit malam. Namun, tepat beberapa meter sebelum jemarinya mampu mencapai undakan kayu teras vila, ujung kakinya tersangkut akar pohon yang terkubur salju. ​Nabila tersungkur keras. Kain niqab hitam yang menutupi wajahnya terlepas akibat benturan, menampakkan wajah polosnya yang pucat pasi menatap langit malam Alberta yang kelam. Di belakangnya, serigala itu melompat ke udara, memperlihatkan taring-taring tajam yang berkilat siap mengoyak mangsa. Nabila refleks memejamkan mata erat-erat, memasrahkan diri pada maut yang sudah menjemput. DORR! Nabila menjerit sekeras yang dia bisa. Cipratan darah hangat dari serigala yang ambruk itu mengenai wajahnya, memicu rasa takut yang membuat seluruh tubuhnya seketika lumpuh. Di tengah jeritan yang belum usai, sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang sangat bersih mendadak berhenti tepat di depan wajahnya. Sinar hangat dari lampu teras vila kayu di atasnya langsung terhalang oleh siluet tubuh seorang pria tegap yang berdiri menjulang tinggi. ​Pria asing itu berdiri setinggi 192 sentimeter, memegang sebuah senapan berburu di tangan kanannya dengan sangat santai, seolah senjata mematikan itu hanyalah aksesori ringan. Mantel wol hitam tebal membungkus tubuh atletisnya yang tegap, sementara beberapa butir salju menghiasi rambut pirang keperakannya yang ditata rapi. Sepasang mata hijau hazel pria itu menunduk, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat Nabila dengan pandangan yang luar biasa datar, tajam, dan dingin sekeras es. ​ Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu menurunkan senapannya, lalu mengulurkan satu tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam ke arah Nabila. Gerakannya begitu elegan, namun memancarkan aura d******i mutlak yang membuat jiwa Nabila menciut sekaligus terhipnotis dalam waktu yang bersamaan. ​ Ikut aku. Perintah bisu itu seolah bergema kuat di kepala Nabila. Entah mengapa, ada dorongan aneh yang mendesak Nabila untuk menyambut uluran tangan kokoh pria asing tersebut. ​Begitu jemari mungil Nabila menyentuh telapak tangan pria itu, dunia di sekeliling mereka mendadak berubah lambat. Pria itu menarik tubuh mungil Nabila dalam satu hentakan lembut namun penuh tenaga, membawa Nabila langsung ke dalam dekapan d**a bidangnya yang hangat dan kokoh. Aroma mint yang segar bercampur keharuman kayu maskulin yang mahal dari tubuh pria itu langsung mengepung seluruh indra penciuman Nabila. ​ Alih-alih membiarkannya kedinginan di luar, pria itu menuntun Nabila masuk ke dalam vila kayu yang hangat. Di depan perapian yang menyala merona, pria itu berlutut di hadapan Nabila yang masih gemetar di atas karpet bulu. Dengan gerakan yang teramat perlahan dan penuh kelembutan yang sangat kontras dengan pembawaan dinginnya, jemari panjang pria itu menyingkirkan sisa salju yang menempel di rambut Nabila. ​ Tatapan mata hijau hazel pria itu berubah dalam, mengunci sepasang mata bulat Nabila dengan keintiman yang begitu pekat. Pria itu menundukkan wajahnya yang tampan, mendekat hingga Nabila bisa merasakan embusan napas hangatnya yang menyapu permukaan kulit pipinya yang polos tanpa penghalang kain. Jantung Nabila bertalu begitu hebat saat jemari pria itu mengusap lembut bibir bawah Nabila, sebuah sentuhan posesif yang begitu mesra hingga membuat seluruh tubuh Nabila meremang. Tepat saat dahi mereka saling bersentuhan dan pria itu berbisik rendah— ​"Nabila! Astaghfirullah, bangun! Ini sudah jam berapa, kamu belum cek koper lagi!" ​ GEBRAK! ​ Nabila tersentak hebat, kedua matanya terbuka lebar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa mau melompat keluar dari rongga d**a. Alih-alih vila kayu hangat di Alberta dan dekapan mesra pria berambut pirang, sekelilingnya adalah dinding kamar tidurnya yang bercat putih kusam di pinggiran Jakarta. Suara deru perapian berganti menjadi bising kipas angin dinding yang berputar kencang, mengembuskan hawa panas tropis yang langsung membuat kulitnya basah oleh keringat. ​Bibi Sari berdiri di ambang pintu kamar dengan kedua tangan di pinggang dan wajah bersungut-sungut. "Cepat mandi! Pamanmu sudah memanaskan mobil sejak tadi. Hari ini kita terbang ke Kanada, Nabila! Kenapa malah tidur mendengkur begitu?" ​ "A-ah... iya, Bi! Maaf," cicit Nabila, langsung terduduk dengan tubuh yang masih gemetar ringan. ​ Begitu punggung Bibi Sari menghilang dari balik pintu, Nabila buru-buru mengusap wajahnya yang terasa memanas. Detak jantungnya masih bertalu liar akibat kejaran serigala dan sentuhan intens di akhir mimpinya tadi. Bulu kuduknya meremang. Dikejar binatang buas di tengah hutan salju sedalam itu terasa seperti firasat buruk yang sangat mencekam bagi Nabila, apalagi ini adalah kali pertama dirinya akan menginjakkan kaki di luar negeri untuk melanjutkan studi. ​ Nabila buru-buru melafalkan doa, “Allahumma inni a’udzubika min ‘amalis syaithan wa sayyiatil ahlam,” memohon perlindungan dari tipu daya setan dan mimpi buruk. Ia mengembuskan napas ke kiri tiga kali, mencoba mengusir rasa cemas yang mendadak menggelayuti hatinya. Marabahaya di tanah asing yang belum pernah ia kunjungi adalah ketakutan terbesarnya saat ini. ​ Nabila menggeleng kuat-kuat, memaksa logikanya kembali bekerja. Ia menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya ke lantai kamar yang hangat menyengat. Tatapannya tertuju pada paspor hijau dan map berlogo University of Alberta yang terletak di atas meja belajar. ​ Hari ini perjalanan panjang menuju Alberta dimulai. Ia harus fokus, mengunci rapat-rapat kecerobohannya, dan yang paling penting, mengubur bayangan mimpi buruk tentang serigala ataupun pria asing bermata hijau hazel itu dalam-dalam. Toh, itu semua cuma bunga tidur yang mustahil terjadi di dunia nyata. ​ Nabila menarik napas dalam-dalam, mengikat rambutnya asal, lalu bergegas menyambar handuk di balik pintu sebelum Bibi Sari kembali menggedor kamarnya untuk ketiga kali. ​Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang ​"Awas, Nabila! Kanan, kanan! Trolinya miring!" ​Nabila tersentak. Pekikan Bibi Sari dari arah belakang sukses membuat kedua tangannya yang memeluk kemudi troli besi itu semakin gemetar. Di balik kain niqab hitamnya, sisa-sisa doa perlindungan yang baru saja ia rapalkan di kamar seolah menguap, tergantikan oleh kepanikan murni. Kacamata bermata tebal yang bertengger di hidungnya terus meluncur turun karena keringat dingin, membuat pandangannya yang memang terbatas menjadi semakin kabur. ​ Dengan tinggi badan yang hanya 150 sentimeter, Nabila harus bertumpu penuh pada ujung kakinya, mengerahkan seluruh bobot tubuh demi menahan lima koper besar yang ditumpuk menjulang di hadapannya. Namun, roda kanan troli yang aus seolah memiliki kendali sendiri, memaksa muatan berat itu membelok tajam ke arah pilar metal Terminal 3 Keberangkatan Internasional yang padat. ​ "Paman, rodanya macet—" cicit Nabila, suaranya diredam kain niqab. ​ Paman Hasan mencoba merangsek maju di antara lautan calon penumpang, mengulurkan tangan untuk meraih ujung koper. Namun terlambat. Saat Nabila mencoba menarik paksa kemudi ke arah kiri, ujung sepatu sneakers-nya justru tersangkut pada sasis besi bawah troli miliknya sendiri. Keseimbangan tubuh mungilnya hilang sepenuhnya. ​ BRAK! ​ Troli besi itu menghantam pilar dengan keras. Satu koper paling atas terpelanting, jatuh berdentang di atas lantai marmer yang mengilap. Belum sempat Nabila menguasai rasa syoknya, ritsleting tas jinjing rajut yang ia dekap justru jebol, menghamburkan tumpukan kertas formulir, fotokopi berkas universitas, hingga paspor hijaunya ke segala arah. ​ "Ya Allah..." Nabila memekik panik. ​Ia langsung merosot ke lantai, berlutut dengan gerakan canggung. Tangannya bergerak liar, meraup lembaran-lembaran kertas yang mulai terbang ditiup angin AC bandara. Wajah di balik niqabnya seketika terasa memanas hebat karena rasa malu. Orang-orang di sekitar mulai menoleh, berbisik, dan melewatinya dengan tatapan terganggu. ​ Tepat saat jemari mungil Nabila hendak menyambar paspor hijau yang meluncur agak jauh ke tengah koridor jalan, sebuah bayangan besar mendadak jatuh menaungi tubuhnya. Sinar lampu terminal di atas kepala Nabila seketika terhalang oleh siluet tubuh yang luar biasa tegap dan tinggi. ​ Gerakan tangan Nabila membeku di udara. ​Sebuah sepatu pantofel kulit hitam yang sangat bersih, mewah, dan mengilap mendadak berhenti tepat beberapa sentimeter dari ujung jarinya. Nyaris menginjak dokumen pentingnya. ​Nabila refleks mendongak. Di balik kacamatanya yang miring, ia harus mendongakkan kepalanya sangat tinggi, mendongak lagi, dan terus mendongak untuk bisa melihat siapa pria yang kini berdiri tegak di hadapannya. Napas Nabila seketika tercekat di tenggorokan. Seluruh dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga. ​ Pria asing itu berdiri kokoh hampir setengah meter lebih tinggi dari tubuh mungil Nabila. Kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak kontras dengan mantel wol gelap yang tersampir resmi di lengan kiri. Cahaya lampu bandara jatuh tepat di atas rambut pirang keperakannya yang ditata rapi, membingkai garis rahangnya yang sekeras pahatan es. ​ Namun, yang membuat pasokan udara di paru-paru Nabila seolah tersedot habis adalah sepasang mata hijau hazel yang tajam. Pria itu tengah menunduk, menatap lurus ke arah Nabila dengan pandangan yang luar biasa datar, dingin, dan tanpa emosi. ​ Pria di vila kayu itu... Sanubari Nabila menjerit histeris. Kemiripan ini terlalu mengerikan untuk disebut kebetulan. Jantung Nabila bertalu begitu hebat hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya, persis seperti saat ia dikejar serigala dalam mimpinya beberapa jam yang lalu. Apakah ini marabahaya yang ia takutkan? Mengapa pria dari bunga tidurnya kini mewujud nyata di hadapannya? ​ Caspian Devereux tidak bergerak sedikit pun. Tidak ada kilatan pengenalan, tidak ada rasa kasihan, apalagi kehangatan mesra seperti di depan perapian mimpi Nabila. Ia hanya menatap gadis berniqab yang terduduk berantakan di bawah kakinya seolah Nabila hanyalah seonggok kerikil kecil yang mengganggu jalurnya menuju area pemeriksaan VIP. ​ Nabila mengerjap, merasa seluruh keberaniannya menguap di bawah intimidasi fisik yang nyata ini. "E-excuse me... sorry," cicit Nabila dalam bahasa Inggris yang terbata-bata karena gugup setengah mati. ​ Pria berambut pirang itu tidak menyahut. Dengan gerakan yang sangat elegan dan aristokrat, ia hanya menggeser langkah kakinya sedikit ke samping—membiarkan paspor Nabila tetap tergeletak di lantai—lalu melanjutkan langkahnya begitu saja. Pria itu membelah kerumunan bandara yang bising dengan aura d******i yang mutlak, meninggalkan aroma parfum mint dan kayu maskulin yang mahal dan pekat di udara. ​ Nabila tertegun sejenak di lantai, mendekap dadanya yang masih bergetar hebat saat menyadari aroma parfum itu sama persis dengan aroma yang merengguk kesadarannya di dalam mimpi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
724.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
959.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.2K
bc

Not just, the Beta

read
342.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook