BAB 2: JALUR DINGIN

1638 Words
​Sisa keharuman mint dan aroma kayu maskulin yang pekat masih tertinggal di udara Terminal 3, berbaur dengan bau avtur dan pendingin ruangan yang menusuk. Nabila masih terpaku di atas lantai marmer, jemarinya bergetar saat akhirnya berhasil memungut paspor hijau dan lembaran formulir pendaftarannya yang berserakan. ​"Nabila! Kamu ini bagaimana, sih? Untung paspornya tidak terinjak orang!" Bibi Sari datang mendekat, langsung menyambar koper yang terpelanting dan menatanya kembali ke atas troli dengan gerutuan yang tak henti-henti. "Sudah, cepat bantu Pamanmu dorong. Memalukan dilihat orang banyak." ​ Paman Hasan membantu Nabila berdiri, menepuk-nepuk debu imajiner di lengan gamis hitam keponakannya. "Kamu tidak apa-apa, Nabila? Wajahmu pucat sekali di balik niqab itu. Apa kamu sakit? Perjalanan kita kembali ke Kanada ini sangat jauh, lho." ​ "T-tidak apa-apa, Paman. Nabila hanya... terkejut," bisik Nabila, suaranya nyaris hilang. ​Mata bulat di balik kacamata tebal itu bergerak liar, berusaha mencari siluet pria yang baru saja melangkah pergi. Namun, sosok berambut pirang keperakan itu sudah lenyap di balik barisan pembatas jalur VIP Check-in, seolah-olah kehadirannya tadi hanyalah sekelebat hantu yang sengaja datang untuk menguji warasnya pikiran Nabila. ​ Itu tidak mungkin dia, batin Nabila meyakinkan diri sendiri seraya membetulkan posisi kacamatanya yang melorot, mengikuti langkah Paman Hasan dan Bibi Sari menuju konter check-in. Bagaimana bisa seseorang yang baru mendarat di mimpiku tadi malam, tiba-tiba berdiri di bandara Jakarta siang ini? Ini tidak logis. ​ Namun, sensasi dingin dari tatapan mata hijau hazel pria itu terasa terlalu nyata untuk disebut sebagai delusi. Tatapan yang tidak mengisyaratkan apa-apa selain rasa terganggu, seolah Nabila hanyalah debu kosmik yang tidak sengaja menghalangi langkahnya. Sangat kontras dengan kelembutan posesif yang ia rasakan di depan perapian mimpinya. ​ Proses check-in dan pemeriksaan imigrasi berlangsung bagai kabut tebal di kepala Nabila. Sepanjang antrean, ia terus merapatkan diri di dekat Bibi Sari. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya Nabila menginjakkan kaki di bandara internasional untuk melakukan perjalanan lintas benua. Rasa asing, gugup, dan takut membayangi setiap langkahnya. ​ Bagi Paman Hasan dan Bibi Sari, perjalanan ini adalah jalan pulang menuju rumah mereka di Alberta. Setelah bertahun-tahun menetap di Kanada bersama putri semata wayang mereka, Intan—yang juga sudah kuliah lebih dulu di sana—paman dan bibinya sengaja pulang ke Jakarta hanya untuk menjemput Nabila. Sebagai anak yatim piatu, Nabila kini diajak ikut serta untuk melanjutkan studi di kampus yang sama dengan sepupunya. Kehadiran paman dan bibinya di sisi Nabila sedikit banyak mengurangi rasa gemetar di lututnya menghadapi dunia baru yang asing. ​Saat waktu keberangkatan tiba, mereka bertiga melangkah bersama melewati garbarata menuju pesawat Boeing 777 yang akan membawa mereka melakukan transit di Tokyo sebelum menuju Vancouver, dan berakhir di Edmonton, Alberta. ​ Begitu melangkah masuk ke dalam kabin pesawat, hawa dingin dari sistem pendingin udara langsung menyergap. Langkah kaki mereka melewati barisan kabin depan—area First Class yang luar biasa mewah dengan sekat-sekat privat bagai kamar hotel mini. ​Nabila yang berjalan menunduk di belakang Bibi Sari, mendadak menghentikan langkahnya sekilas. Wangi mint dan keharuman kayu maskulin yang mahal itu kembali tercium, begitu pekat di sekitar baris kursi nomor dua First Class. ​ Melalui sudut matanya, Nabila melihat pria berambut pirang keperakan tadi sudah duduk di sana. Prian itu tampak sedang melonggarkan dasinya dengan gerakan malas yang elegan, sementara tatapan mata hijau hazel-nya yang sekeras es menatap lurus ke arah jendela pesawat, mengabaikan sekitar. Aura d******i dan kemewahan yang memancar dari sosoknya seolah menegaskan bahwa mereka hidup di dua dunia yang sepenuhnya berbeda. Pria itu berada di singgasana kelas satunya yang eksklusif, sementara Nabila harus melanjutkan langkah menuju kompartemen belakang. ​ "Nabila, ayo jalan terus, Nak. Jangan melamun di jalan," bisik Paman Hasan lembut dari belakang, menyadarkan Nabila. ​ "A-ah, iya, Paman," cicit Nabila cepat-cepat mempercepat langkahnya, berusaha mengusir debaran aneh di dadanya. ​ Mereka terus berjalan menyusuri lorong hingga tiba di kabin kelas ekonomi yang berjubel. Nabila menyelusup masuk ke kursi paling dalam di dekat jendela, sementara Bibi Sari duduk di kursi tengah, dan Paman Hasan di kursi paling luar dekat lorong. ​ Nabila menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke dinding pesawat, menatap keluar jendela ke arah sayap pesawat yang kokoh. Penerbangan pertamanya ke luar negeri untuk menyusul sepupunya, Intan, dan memulai hidup baru di Alberta baru saja dimulai. Namun, bayangan pria dingin di bilik First Class depan sana sudah berhasil mengusik ketenangannya. Marabahaya atau bukan, Nabila hanya bisa berdoa agar perjalanan panjangnya menuju tanah Kanada berjalan dengan aman. ​Nabila buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, menatap lurus-lurus pada hamparan sayap pesawat yang statis. Di balik kain niqabnya, napas gadis berusia 20 tahun itu memburu pendek dan patah-patah. Jemarinya meremas kain gamis hitamnya dengan begitu kencang hingga persendian tangannya memutih. ​ Aroma mint yang tajam dan keharuman kayu maskulin yang pekat itu seolah sengaja tertinggal di indra penciumannya, berputar-putar di dalam kabin ekonomi yang dirasanya semakin sempit. ​ "Nabila? Kamu melamun lagi, Nak?" Suara lembut Paman Hasan memecah kepanikan Nabila. Paman Hasan sedikit mencondongkan tubuhnya melewati Bibi Sari yang sedang sibuk merapikan letak majalah penerbangan di kantong kursi depan. ​ "A-ah, tidak, Paman. Nabila hanya... sedikit pusing mendengarkan suara mesin pesawat," dusta Nabila lirih. Ia membetulkan letak kacamatanya yang meluncur turun akibat keringat dingin yang mulai membasahi pelipis. ​ Bibi Sari yang mendengar hal itu langsung membuka tas jinjingnya, mengeluarkan sebotol kecil minyak angin aromatherapy. "Ini, pakai di kening dan lehermu. Penerbangan pertama memang selalu membuat kepala pening. Nanti kalau sudah sampai di rumah kita di Alberta, kamu bisa istirahat sepuasnya bersama Intan." ​Nabila menerima botol kecil itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Bi." ​ Sambil mengoleskan minyak angin di balik kerudungnya, logikanya kembali bertarung hebat. Ingat, Nabila. Pria itu ada di kelas satu. Di bilik mewahnya yang terpisah jauh di depan sana. Dia tidak akan mungkin berjalan ke bagian belakang kabin ekonomi yang berjubel ini. Kalian berada di dunia yang sepenuhnya berbeda. ​ Alasan itu terdengar sangat masuk akal, namun bayangan sepasang mata hijau hazel yang sekeras es tetap tidak bisa diusir dengan mudah. Mengapa bayangan dari bunga tidurnya semalam harus menjelma menjadi sosok pria nyata di atas pesawat yang sama? Apakah ini sebuah kebetulan, ataukah justru awal dari marabahaya yang sesungguhnya? ​ Dua jam berlalu sejak Boeing 777 itu lepas landas dari Jakarta. Tanda kenakan sabuk pengaman telah dipadamkan, digantikan oleh bisingnya aktivitas para pramugari yang mulai membagikan baki makanan untuk para penumpang kelas ekonomi. ​ Nabila menolak halus bagian makanannya, perutnya terlalu mual dan penuh oleh rasa cemas untuk bisa mencerna apa pun. Ia hanya meminta segelas air putih hangat pada pramugari yang melintas. ​ Di sampingnya, Bibi Sari sudah tertidur pulas dengan bantal leher terpasang, sementara Paman Hasan tampak serius membaca beberapa berkas dokumen kerja. Keheningan di antara baris kursi mereka sedikit membuat Nabila tenang, sampai akhirnya desakan dari kandung kemihnya memaksa Nabila untuk bergerak. ​ Nabila melirik ke arah paman dan bibinya dengan ragu. "Paman... maaf, Nabila mau ke toilet sebentar." ​ Paman Hasan mendongak dari berkasnya, lalu tersenyum maklum. Ia segera menegakkan tubuh dan melangkah keluar ke koridor lorong untuk memberikan jalan bagi keponakannya. "Hati-hati, Nak. Lantai pesawat kadang agak licin." ​ "Iya, Paman." ​ Sifat ceroboh dan clumsy Nabila memang selalu menjadi musuh terbesarnya di saat-saat krusial. Baru saja melangkah dua meter di lorong kabin ekonomi yang remang menuju area lavatory, ujung jilbab panjangnya tersangkut pada sudut sandaran tangan salah satu kursi penumpang. Nabila tersentak, refleks menarik jilbabnya dengan panik hingga membuat botol minyak angin aromatherapy yang sejak tadi ia genggam terlepas dari jemarinya. ​ Botol kaca kecil itu menggelinding cepat di atas karpet lorong pesawat, meluncur melewati batas tirai abu-abu tebal yang memisahkan kabin ekonomi dengan area kelas atas. ​ "Astaghfirullah..." pekik Nabila tertahan. ​Tanpa berpikir panjang, Nabila langsung membungkuk dan berjalan setengah merangkak mengejar botol tersebut, menyibak tirai pembatas tanpa memedulikan aturan privasi antar-kelas pesawat. Fokusnya hanya satu: botol itu jangan sampai pecah atau mengganggu penumpang lain. ​ Tepat saat jemari mungilnya berhasil menyambar botol kaca itu di atas lantai karpet area depan, sebuah guncangan hebat mendadak melanda badan pesawat. ​ Turbulensi. ​ Lampu indikator sabuk pengaman mendadak menyala merah dibarengi suara denting peringatan yang nyaring. Guncangan keras itu melempar keseimbangan tubuh mungil Nabila. Bukannya mundur ke kabin ekonomi, tubuhnya yang limbung justru terpelanting maju ke arah koridor penghubung First Class. Kedua tangannya bergerak panik di udara, bersiap untuk jatuh tengkurap dengan tragis di atas lantai. ​ Namun, sebelum wajahnya menghantam lantai, sebuah lengan yang luar biasa kokoh, tegap, dan bertenaga menangkap pinggangnya dalam satu hentakan cepat, menahan seluruh bobot tubuhnya itu dengan sangat mudah. ​ Nabila tersentak hebat, matanya melebar horor di balik kacamata tebalnya saat mendapati dirinya tertahan sepenuhnya oleh dekapan satu tangan yang begitu protektif. Detik itu juga, aroma mint dan keharuman kayu maskulin yang mahal langsung mengepung seluruh inderanya tanpa ampun. ​ Nabila refleks mendongak tinggi-tinggi, dan napasnya seketika tercekat di tenggorokan. ​Pria berambut pirang keperakan dari First Class itu kini berdiri tepat di hadapannya. Tampaknya pria itu baru saja keluar dari lavatory depan saat guncangan terjadi. Kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sedikit berkerut di bagian lengan, memancarkan aura kematangan seorang pria dewasa berusia 30 tahun yang matang dan penuh kuasa. ​ Dari jarak yang sedekat ini, sepasang mata hijau hazel milik Caspian Devereux menunduk tajam, mengunci sepasang mata bulat Nabila dengan pandangan yang luar biasa datar, dingin, dan tanpa emosi. Tatapannya seolah menembus kain niqab hitam Nabila, menatap tajam gadis ceroboh yang lagi-lagi membuat kekacauan tepat di bawah kakinya. ​ Dunia di sekeliling mereka seolah mendadak berhenti berputar. Sentuhan fisik yang nyata ini menghantarkan sengatan aneh yang membuat seluruh tubuh Nabila meremang, memicu debaran jantung yang bertalu begitu hebat di dalam rongga dadanya—persis seperti akhir dari mimpi buruknya di bawah langit malam Alberta. ​ Pria itu tidak bersuara, namun cengkeraman tangannya di pinggang Nabila mengeras, seolah menuntut penjelasan mengapa "gadis kecil" dari kelas ekonomi ini bisa menyusup sampai ke areanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD