Part 16

2121 Words
Part 16 Raja menyunggingkan senyum sinisnya, merasa tak percaya saja dengan kelakuan adiknya yang menurutnya sudah melampaui batasannya. Daffa itu hanya seorang ipar untuk Tiara, namun sikapnya seolah dia lah yang suaminya. "Bukannya arah kantor Papa itu beda yang dengan sekolah? Kenapa harus repot-repot mengantarkan Tiara, kalau arah Kakak dan Tiara saja satu tujuan." Raja berujar tak habis pikir, namun Daffa justru menggeleng pelan seolah tak setuju dengan argument kakaknya. "Kak Raja dan Tiara memang satu tujuan, tapi Kak Raja enggak pernah bersikap seolah kalian memiliki tujuan yang sama. Jadi apa salahnya kalau aku yang mengantarkan dia? Toh, arah kantor dan sekolah bedanya enggak jauh kok, paling cuma beberapa ratus meter, apa susahnya belok lagi?" Daffa menjawab santai sembari memakan sarapannya, tanpa mau peduli bagaimana kakaknya geram melihat sikapnya. "Kamu itu hanya akan membuang-buang waktu, Tiara akan tetap berangkat dengan Kakak." "Enggak kok, demi Tiara, enggak apa-apa waktuku terbuang. Ya enggak, Ra?" Daffa menaikturunkan alisnya ke arah Tiara yang tersenyum dan mengangguk. "Iya, Kak." "Tapi, Tiara. Kamu dan saya itu tujuannya sama, tapi kenapa kamu malah mau diantar Daffa?" Raja bertanya tak terima, namun kali ini Tiara tidak bisa menurut lagi, jujur saja ia sudah tidak sanggup lagi diperhatikan banyak orang karena turun dari mobil orang dan berjalan sampai sekolah. Andai Tiara bukan artis, mungkin ia akan baik-baik saja meskipun ada yang mengucilnya, namun posisinya berbeda, ia seorang artis yang juga membawa nama agensinya. Bila perusahaan tempatnya bekerja tahu, Tiara bisa saja dipecat dan kehilangan pekerjaannya. "Maaf, Pak. Sebenarnya saya juga kurang nyaman diturunkan di jalan, banyak orang yang memerhatikan saya. Apalagi kalau sampai ada yang tahu siapa saya, kedepannya saya bisa mendapatkan masalah." Tiara menjawab penuh bersalah yang tidak bisa Raja bantah, karena sikapnya juga cukup keterlaluan. "Nanti pulangnya kamu juga akan aku jemput dan aku antarkan sampai rumah, aku enggak tahu kamu semenderita ini, Ra. Maafkan aku ya, karena baru tahu hal ini. Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti enggak akan membiarkan Kak Raja berangkat sama kamu ke sekolah." Daffa menatap tak suka ke arah Raja seolah ingin memberinya penekanan, bila apa yang dilakukannya memang keterlaluan. "Terima kasih, Kak." Tiara tersenyum tulus, meski ada rasa tidak enak hati pada Raja yang terus saja memerhatikannya dengan mata dinginnya. *** Tiara tersenyum sembari melambaikan tangan saat mobil yang Daffa tumpangi akan melaju pergi. Saat mobilnya sudah menjauh, di saat itu lah Tiara menurunkan tangannya lalu masuk ke dalam sekolah. Sedangkan di belakangnya, ada mobil Raja yang baru datang, empunya itu juga melihat bagaimana Tiara tersenyum ke arah mobil Daffa, dan yang dilakukannya hanya melengos malas bahkan saat mobilnya mendahului Tiara seolah tidak mengenalnya. Raja benar-benar dibuat kesal dengan kelakukan adiknya itu, sikapnya terlalu perhatian pada Tiara, padahal status mereka adalah ipar, status yang tidak seharusnya diumbar seolah mereka memiliki hubungan spesial. Tidak ingin terus-terusan memikirkan kelakuan adiknya, Raja berusaha mengalihkan pikirannya pada materi yang harus ia ajarkan ke seluruh muridnya. Ya, seperti itu lah Raja, selalu berusaha bersikap profesional dengan pekerjaannya, meski terkadang ada kalanya hatinya dibuat kesal oleh beberapa orang. Setelah turun dari mobil, Raja mengedarkan pandangannya dan mendapati Tiara yang sedang berjalan sembari tersenyum hangat ke arahnya. Namun Raja berusaha tidak memedulikannya, tatapannya bahkan teralih ke arah lain dengan sangat mudah, yang tentu saja membuat Tiara merasa bersalah. Tiara sendiri merasa yakin, bila Raja masih kesal dengannya karena sudah menentangnya untuk berangkat bersama. Tiara sendiri juga tidak bisa bila terus-terusan di posisi di mana ia harus turun bahkan jauh sebelum sampai sekolah, rasanya aneh untuk dirinya yang mudah sekali dikenali banyak orang. Tatapan keraguan dari mata semua orang yang melihatnya berjalan, seolah mereka ingin mengatakan bila Tiara mirip seorang bintang, namun terdengar mustahil karena penampilan dan kehidupannya yang tidak meyakinkan. Jujur, Tiara mulai muak ditatap seperti itu, hatinya risih seolah diusik kembali oleh rumor buruk yang selalu menggangu telinganya. Itu lah kenapa Tiara memilih untuk menerima tawaran Daffa untuk mengantarkannya, meskipun lelaki itu adalah saudara iparnya, namun dia adalah orang baik, sikapnya ramah dan supel, Tiara merasa nyaman berada di dekatnya. Sebenernya saat Tiara menginap di rumahnya, ia sudah membicarakan hal ini pada tantenya, bila ia ingin sopirnya menjemputnya saat akan berangkat dan pulang sekolah seperti saat ia masih belum menikah dengan Raja. Hal itu disikapi baik oleh tantenya, wanita yang sudah mengurusnya itu bahkan sangat setuju, namun keesokan paginya, Tiara harus menggagalkan niatnya karena tawaran Daffa yang tidak mungkin ditolaknya. Saat Tiara tidak mendapatkan respons baik dari Raja yang disapanya melalui senyumnya, yang Tiara lakukan hanya merapatkan bibirnya dengan sesekali menghembuskan nafas panjangnya. Menghadapi Raja memang lah tidak mudah, lelaki itu bak es yang sulit mencair sehangat apapun Tiara berusaha melelehkannya. "Tiara," panggil Nathasa yang berlari di belakangnya, sedangkan Tiara yang melihatnya hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya, sahabatnya itu ternyata sudah datang dengan jarak waktu yang tidak terlalu lama. "Pagi, Sha. Baru sampai ya?" tanya Tiara setelah Nathasa berada di depannya. "Iya. Tapi, kok tumben sih kamu berangkatnya lebih awal dari aku? Biasanya kan kamu paling akhir, di detik-detik bel masuk sekolah malah." Nathasa berujar heran, namun Tiara justru tersenyum, seburuk itu kah catatan berangkat sekolahnya selama ini, padahal Tiara merasa sudah berusaha mengerjakan semuanya lebih awal. Namun sepertinya apa yang Nathasa katakan memang benar, ia sering kali hampir terlambat masuk kelas. "Iya-iya. Tapi, enggak sering kan?" tanya Tiara meyakinkan yang diangguki setuju oleh Nathasa. "Iya sih," jawab Nathasa. "Sudah yuk masuk kelas! Kemarin enggak ada PR ya?" ujar Tiara sembari berjalan beriringan dengan Nathasa ke arah kelas. "Kok kamu tau?" tanya Nathasa keheranan, yang seketika didiami oleh Tiara, karena tidak mungkin mengatakan bila ia tahu dari Raja tadi malam. "Cuma nebak aja kok ...." Tiara menggaruk lehernya yang tidak gatal, berusaha bersikap senatural biasanya. "Oh ...." Nathasa mengangguk paham yang ditanggapi Tiara dengan hembusan nafas lega. "Oh ya, Ra. Tadi aku lihat kamu diantar mobil, tapi bukan mobil milik kamu sih. Kamu diantar siapa tadi? Cowok yang kemarin ya?" tanya Nathasa tiba-tiba setelah mereka berada di depan kelas. "Cowok yang kemarin? Maksud kamu siapa?" tanya Tiara tak mengerti, tanpa menyadari Raja yang sedang berjalan menuju ke kelasnya. "Itu loh yang kemarin, yang menemui kamu di sana," tunjuk Nathasa ke arah tempat di mana Tiara bertemu dengan Daffa. "Oh itu ...." Tiara mengangguk paham. "Iya-iya, dia siapa? Pacar kamu ya?" tanya Nathasa antusias, sedangkan Raja yang mendengarnya mulai melirihkan langkahnya berusaha menguping pembicaraan mereka. Raja hanya merasa penasaran saja dengan siapa lelaki yang muridnya itu maksud, terlebih lagi semua itu berhubungan dengan Tiara yang mau bagaimana pun dia tetap lah istrinya. "Dia Kak Daffa." Tiara menyunggingkan senyumnya yang ditatap dengan mata menggoda oleh Nathasa. "Ciyeee, dia pasti cowok yang lagi dekatin kamu ya? Atau jangan-jangan kalian sudah pacaran ya?" tuduh Nathasa dengan sesekali menoel pipi Tiara yang kian tersenyum malu. "Enggak kok dan enggak mungkin juga." "Memangnya kenapa? Kamu cantik, dia ganteng. Apanya yang enggak mungkin?" "Ya karena enggak bisa aja." "Kenapa sih? Kalian saudara jauh ya?" tanya Nathasa terdengar kecewa, namun Tiara justru menggeleng, membuat Raja geram dengan jawaban Tiara, merasa gemas saja dengan kalimat yang dipakainya. "Bukan kok. Kak Daffa itu ...." "Tiara, Nathasa. Kenapa masih ada di luar kelas? Cepat masuk!" sentak Raja tiba-tiba, membuat kedua muridnya itu terkejut takut dan menoleh ke arahnya. "Tapi ini kan belum bel masuk kelas, Pak." Nathasa menjawab heran, matanya bahkan masih bisa melihat bagaimana teman-temannya yang lain berlalu lalang dengan santainya. "Terus kenapa kalau belum bel masuk kelas?" "Ya ... kan ...." "Iya, Pak. Maaf, kita akan masuk kelas sekarang. Permisi, Pak." Tiba-tiba Tiara menyahut sopan yang menarik lengan Nathasa dan mengajaknya ke kelas, meninggalkan Raja yang tampak kesal. Tiara yakin, dibalik sikap Raja yang tampak kesal dengan Nathasa, sebenarnya lelaki itu masih marah dengannya, itu lah kenapa Tiara memutuskan untuk mereka mengalah dan segera pergi dari sana. "Kenapa jalannya harus cepat-cepat sih, Ra? Bel masuk memang belum bunyi kok, Pak Rajanya aja yang keterlaluan, padahal yang lain masih jalan-jalan." Nathasa menggerutu kesal, merasa lelah saja dengan sikap gurunya yang selalu saja seenaknya, bahkan sebelum kelasnya dimulai. "Sudah lah, cepat atau lambat, tujuan kita tetap kelas kan? Apa salahnya dipercepat?" jawab Tiara yang dihelai nafas oleh sahabatnya. "Iya sih." Nathasa menjawab pasrah lalu mengikuti langkah Tiara untuk masuk ke kelasnya. *** Saat mengajar di jam akhir sekolah, Raja justru terdiam memikirkan apa jawaban Tiara saat temannya itu bertanya mengenai hubungannya dengan Daffa. Terlebih lagi Raja juga sempat mendengar bila teman Tiara itu curiga bila mereka pacaran, sedangkan Tiara justru bersikap malu-malu seolah hal itu adalah nyata dan benar terjadi, meski ucapannya terdengar ingin mengelak dari tuduhan yang disematkan untuknya. Namun tetap saja, semua itu tak membuat Raja percaya begitu saja dengan kepolosan istrinya. Sekarang Raja yakin, bila sebenarnya Tiara diam-diam menyukai Daffa, itu lah kenapa dia terlihat lebih nyaman saat dekat dengan adiknya. Kedekatan mereka bahkan terlihat di luar rumah, seolah ingin mengumbar kemesraan di depan semua orang. Memikirkan semua itu benar-benar membuat Raja merasa tak nyaman, hatinya serasa dikhianati, padahal Tiara bukanlah istri yang diharapkannya menjadi teman hidupnya, namun tetap saja Raja merasa gadis itu sudah merendahkan harga dirinya. Tidak ingin tinggal diam, Raja berpikir untuk menanyakan langsung pada Tiara, tentunya saat ia dan gadis itu berdua tanpa ada orang lain berada di sekitar mereka. Tak lama, bel jam akhir berbunyi, menandakan waktu pelajaran sudah seharusnya selesai. Mendengar itu, Raja mendirikan tubuhnya dan menatap seluruh muridnya yang sedang mengemasi barang-barangnya, tak terkecuali Tiara. "Pelajaran sudah selesai, kalian bisa pulang sekarang dan tetap hati-hati di jalan. Untuk Tiara, tolong tetap duduk, karena ada yang harus saya tanyakan mengenai kedisplinan kamu yang sering sekali bolos sekolah." Raja menatap tegas ke arah Tiara yang terdiam dengan ekspresi wajah pasrah, tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali mengangguk untuk mengiyakannya. "Iya, Pak." Tiara menjawab lesu, tatapan matanya tampak kecewa, padahal Daffa sudah menunggunya di depan sekolah. "Mau aku temani enggak, Ra?" tanya Nathasa memastikan, bila melihat dari ekspresi wajah temannya, rasanya Nathasa tidak mungkin pulang dan meninggalkannya begitu saja. "Enggak usah, kamu pulang saja dulu." Tiara menyunggingkan senyumnya, ia tahu Nathasa sedang kasihan dengannya, namun Tiara lebih kasihan bila temannya itu tidak segera pulang. "Oke, maaf ya?" "Enggak apa-apa." Tiara menggeleng yakin yang disenyumi oleh Nathasa lalu melambaikan tangan dan pergi dari sana. "Ada apa, Pak?" tanya Tiara setelah semua temannya pergi dari sana, sedangkan Raja yang masih berdiri di depan kelas mulai melangkahkan kakinya ke arah Tiara dan duduk di kursi yang berada tepat di depannya. "Tadi saya mendengar teman kamu bertanya tentang Daffa itu siapanya kamu, dia bahkan menuduh kalian berpacaran kan?" tanya Raja serius yang diangguki setuju oleh Tiara. "Iya, Pak. Kenapa ya? Tapi tadi bukannya Bapak mau membahas tentang saya yang sering tidak masuk sekolah kan, lalu apa hubungannya dengan Kak Daffa?" tanya Tiara tidak yakin. "Saya cuma mengarangnya, saya juga tidak mau ada yang curiga dengan hubungan kita." "Oh begitu ...." Tiara mengangguk paham. "Tadi saya sempat mendengar teman kamu bertanya apa kamu dan Daffa itu saudara jauh? Tapi kamu malah menjawab bukan. Lalu apa yang kamu katakan ke temanmu itu? Apa kamu menjawab, bila kamu dan Daffa memang sedang dekat seperti orang pacaran, begitu?" tanya Raja serius, karena ia sempat melihat Tiara dan temannya itu membicarakan hal yang sama setelah masuk ke kelas. "Tidak kok, Pak. Saya tidak pernah mengatakan bila saya dan Kak Daffa itu dekat seperti orang pacaran." "Lalu kamu mengatakan apa ke temanmu itu?" "Saya mengatakan bila Kak Daffa itu saudara terdekat saya, jadi mana mungkin saya dan dia pacaran. Begitu, Pak." Tiara menjawab jujur yang diangguki mengerti oleh Raja. "Oh ...." "Memangnya kenapa ya, Pak? Apa itu penting?" "Tentu saja tidak. Saya ... saya cuma khawatir kamu mengatakan ke temanmu itu tentang hubungan kita yang sebenarnya. Saya tidak mau ada yang tahu bila kita ini suami istri, bisa-bisa saya dikeluarkan dari sekolah karena sudah menikahi murid sendiri." Raja menjawab tegas meski terdengar ragu di awal kalimatnya. "Iya, Pak. Saya paham itu kok, saya belum pernah mengatakannya ke siapapun bahkan ke Fani sekalipun." "Fani? Fani siapa?" "Itu laki-laki setengah perempuan yang mendandani saya kemarin," jawab Tiara yang diangguki paham oleh Raja. "Oh dia ...." "Iya, Pak. Fani tahunya saya tinggal di tempat saudara saya karena saya harus fokus ujian." "Baguslah." Raja menjawab tenang, diam-diam bibirnya tersenyum mengetahui Daffa tidak diakui sebagai lelaki yang dekat dengan Tiara. "Iya, Pak. Apa cuma itu saja, atau masih ada yang harus kita bicarakan?" tanya Tiara yang digelengi kepala oleh Raja. "Iya, cuma itu saja. Oh ya, kamu mau pulang kan? Kamu ikut mobil saya pulang, kamu tunggu saja di tempat biasa." "Maaf, Pak. Tapi Kak Daffa sudah menunggu saya di depan sekolah, saya harus cepat-cepat ke sana, karena Kak Daffa harus balik lagi ke kantornya. Saya pergi dulu, Pak. Permisi," pamit Tiara buru-buru tanpa mau menunggu jawaban Raja terlebih dahulu. "Daffa lagi," gumam Raja kesal, dengan bibir tersenyum sinis, merasa muak saja dengan adiknya yang satu itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD