Part 15

2011 Words
Part 15 Setelah makan malam, Raja diantar Daffa ke kamarnya. Setelah duduk di ranjangnya, Raja terdiam sembari menatap sekitarnya. Biasanya ada Tiara yang akan menanyakan apa yang dibutuhkannya sebelum ia benar-benar terlelap, sedangkan gadis itu bermain ponsel, terkadang juga belajar bila ada pekerjaan dari sekolah. Entah kenapa, Raja merasa kesepian sekarang, kamarnya juga terasa hampa, padahal Raja selalu merasa baik-baik saja sebelum Tiara datang dan menjadi istrinya. Namun anehnya kini, Raja seolah disiksa oleh kerinduan, padahal cuma malam ini Tiara akan pulang ke rumahnya sendiri. Mungkin besok gadis itu juga sudah kembali, lalu kenapa Raja merasa ada yang salah dalam dirinya. Sekarang, tidak ada yang bisa Raja lakukan, padahal tubuhnya sudah membaik dari malam sebelumnya. Sampai saat Raja berpikir untuk membuka ponselnya, di sana ia menekan aplikasi berlogo merah di mana banyak video di sana. Di saat itu lah, Raja berpikir untuk mencari film yang pernah Tiara mainkan, dengan hanya menyebut nama Ara, banyak film yang keluar dengan urutan panjang dengan waktu video berdurasi berbeda-beda. "Ternyata Tiara menjadi artis sudah sejak kecil, wajar kalau banyak yang memuji aktingnya," gumam Raja sembari mengangguk lirih setelah melihat video di mana Tiara masih kecil, namun sudah bermain film dengan epiknya. "Tapi, tunggu! Kenapa aku malah memujinya? Dan apa ini? Kenapa aku melihat film-filnya?" Tiba-tiba Raja merasa bila tingkahnya terlalu aneh, sampai saat ia berpikir untuk mematikan ponselnya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. "Raja, kamu jangan gila! Tiara itu anak kecil, dia bahkan murid kamu sendiri di sekolah, jadi please jangan tertarik dengan gadis itu!" ingat Raja pada dirinya sendiri, karena ia merasa hatinya mulai goyah dan Raja tak menginginkan hal itu. "Aku harus tidur, aku enggak boleh memikirkan anak kecil itu! Ya, aku harus melupakannya." Raja memejamkan matanya, berharap mimpi akan menemaninya saat terlelap tanpa harus repot-repot merindukan istri kecilnya itu, karena Raja yakin perasaannya itu hanya sebatas rasa bersalah. *** Keesokan paginya, Raja akan berangkat sekolah, tubuhnya mulai pulih kembali seperti sedia kala. Ekspresi wajahnya juga tampak lebih bersemangat dari pagi biasanya, Raja berpikir mungkin itu karena ia merindukan sekolah dan para muridnya. Saat Raja turun ke lantai bawah, kakinya tertuju ke arah meja makan, di mana biasanya Tiara sudah menyiapkan sarapan dan juga bekal makanan untuknya. Namun sayangnya semua itu tidak ada, karena pada kenyataannya hanya ada Daffa yang sedang bermain ponsel dengan roti dan s**u di hadapannya. "Tiara belum pulang?" tanya Raja sembari melirik ke arah dapur dan hanya ada asisten rumah tangganya di sana. "Tumben peduli sama Tiara, sampai tanya dia sudah pulang apa belum?" sindir Daffa tanpa mau menatap ke arah Raja yang mendudukkan tubuhnya sembari melirik tak suka ke arahnya. "Kakak cuma tanya ya, karena mau bagaimana pun, Tiara itu tetap istri Kakak." Raja menjawab tak suka, namun Daffa justru tersenyum meremehkannya. "Istri? Sejak kapan Kak Raja mau mengakui Tiara sebagai istri? Bukannya Kak Raja ya yang paling enggak peduli ke Tiara." "Kamu itu enggak tau apa-apa. Hanya karena Kakak kurang baik ke Tiara, bukan berarti Kakak enggak peduli ke dia." "Terserah lah. Aku harus berangkat kerja dulu," jawab Daffa malas lalu mendirikan tubuhnya dan pergi dari sana, ia sudah sangat malas berdebat dengan kakaknya, sejak awal mereka memang tidak pernah bisa akrab. Untungnya, kakaknya itu sudah sembuh dari sakitnya, jadi Daffa tidak perlu repot-repot menjaga kakaknya yang menyebalkan itu. "Kamu enggak buat bekal makanan?" tanya Raja ke arah Daffa yang hampir menjauh dari posisinya. "Enggak." "Terus Kakak bawa makanan apa ke sekolah, Kakak kan juga baru sembuh." "Bi Mina mungkin sudah menyiapkan bekal buat Kakak, coba tanya aja, orangnya ada di dapur." Daffa menjawab sepengetahuannya tanpa mau menghentikan langkahnya, sampai saat tubuhnya sudah berada di luar rumah, di saat itu lah ia tidak mendengar suara kakaknya. Di sisi lainnya, Raja hanya bisa menghela nafas panjangnya, adiknya itu tidak masak, padahal hasil makanannya cukup enak meski tidak bisa disamakan dengan Tiara, namun Raja tetap menyukainya. Namun sekarang, Raja harus terima bila ia harus membawa makanan hasil masakan asisten rumah tangganya. *** Sesampainya di kelas muridnya, Tiara menatap ke arah depan, di mana sudah banyak siswa dan siswinya yang sudah masuk di jam pelajarannya, namun Raja tak mendapati Tiara ada di antara mereka. "Di mana anak itu? Apa dia terlambat?" gumam Raja dalam hati, meski ia sendiri kurang yakin dengan dugaannya itu, mengingat Tiara adalah murid yang cukup disiplin saat pelajaran dimulai. "Nathasa." Tidak mau terus-terusan merasa kepikiran, akhirnya Raja memanggil teman dari istrinya tersebut, yang sepengatahuannya mereka memang sangat dekat. "Iya, Pak." Nathasa mendirikan tubuhnya sembari menatap tanya ke arah Raja. "Tiara ke mana? Apa dia belum sampai di sekolah?" Raja menunjuk ke arah bangku kosong yang berada di dekat Nathasa. "Maaf, Pak. Sepertinya Tiara belum bisa masuk sekolah, ada keperluan mendesak yang harus dia kerjakan." "Keperluan mendesak apa?" "Saya juga kurang tahu, Pak." Nathasa menjawab jujur, namun Raja justru tampak terlihat kesal mendengarnya. "Kamu bisa duduk dan terima kasih informasinya!" Raja menyuruh Nathasa duduk yang hanya gadis itu angguki. Sedangkan Raja berusaha terlihat baik-baik saja dan memulai jam pelajarannya, meski di dalam hatinya Raja merasa kesal sekaligus khawatir karena Tiara tidak menghubunginya, padahal ia adalah suaminya, namun sepertinya gadis itu mulai menyepelekannya dan tentu saja hal itu membuat Raja marah. *** Tiara yang baru sampai di rumah Raja langsung membuka pintunya, namun wajah dan tubuhnya tampak lesu seolah sedang kelelahan. Sedangkan di sisi lainnya, Raja menunggu istrinya itu di sofa dan saat melihatnya pulang, di saat itu lah Raja berdiri dengan ekspresi wajah dingin menghadang Tiara di sana. "Dari mana saja kamu?" tanya Raja to the point tanpa basa-basi, yang sempat membuat Tiara terkejut melihat keberadaannya yang datang begitu tiba-tiba. "Pak Raja ...." "Saya tanya, kamu dari mana saja, Tiara?" tanya Raja penuh penekanan dengan ekspresi wajah ketegasan. "Saya kan sudah izin ke Bapak kalau saya akan menginap di rumah saya." Tiara menjawab lirih, nada suaranya terdengar takut-takut, terlebih lagi saat melihat wajah marah milik suaminya, semakin menambah rasa tak berdaya pada tubuh Tiara yang sudah cukup kelelahan. "Tapi kenapa kamu harus bolos sekolah?" "Maaf, Pak. Saya ada pekerjaan mendadak ...." "Oh jadi pekerjaan kamu itu lebih berharga dari pendidikan kamu, begitu? Bagus ya kamu? Kenapa tidak berhenti sekolah saja, dari pada kamu mempermainkan pendidikan seperti ini." Entah bagaimana Raja terdengar begitu marah, membuat Tiara merasa bersalah dibuatnya. "Saya minta maaf, Pak. Saya janji, saya akan lebih memperhatikan pendidikan saya mulai saat ini." "Ingat ya, Tiara. Kamu itu sudah kelas tiga, sudah seharusnya kamu memikirkan ujian dari pada kerja enggak jelas." "Iya, Pak. Saya mengerti." Tiara mengangguk paham dan bahkan terus tertunduk tanpa mau menatap ke arah Raja. Karena hal itu, mereka sampai tidak menyadari bila Daffa yang baru datang, langsung mengepalkan tangan melihat kakaknya begitu berlebihan saat memarahi Tiara, padahal menurutnya apa yang Tiara lakukan tidak terlalu parah. Gadis itu seorang aktris, sebagai seseorang yang memiliki banyak idola, tentu saja Daffa sangat paham bagaimana kehidupan idolanya termasuk Tiara. Pekerjaan aktris seperti Tiara memang banyak menyita waktu, bahkan tenaga dan otak, jadi akan sangat wajar bila Tiara tidak bisa berangkat sekolah, kakaknya tidak harus memarahinya seolah Tiara sudah menyelingkuhinya. "Kak Raja apa-apaan sih? Kenapa harus berlebihan hanya karena Tiara enggak sekolah?" ujar Daffa tak terima sembari menatap tegas ke arah kakaknya. "Kamu itu enggak tahu apa-apa, jadi jangan ikut campur! Tiara itu harus bisa disiplin sekolahnya, kalau sering bolos, bagaimana dengan ujian dia? Memangnya kamu mau lihat dia enggak lulus sekolah apa?" "Aku tahu, tapi Kak Raja bisa kan bilang baik-baik, enggak harus ngegas nadanya. Apa Kak Raja enggak lihat, Tiara sedang kelelahan sekarang, harusnya Kak Raja suruh dia istirahat, bukan dicaci maki!" "Siapa yang caci maki? Kakak cuma ...." "Sudah, Kak, Pak. Saya minta maaf, kalau saya salah, saya janji enggak kan bolos sekolah lagi. Jadi please, jangan bertengkar ya?" ujar Tiara ke arah mereka, berusaha menengahi perdebatan yang memang biasa mereka lakukan. "Kamu pasti kecapean kan? Aku antar kamu ke kamar ya?" ujar Daffa yang disenyumi oleh Tiara, lalu keduanya pergi dari sana, meninggalkan Raja yang tampak tak suka melihat kedekatan mereka. *** Malam harinya, Raja menatap heran ke arah Tiara yang sudah rapi dengan piyamanya seolah sudah siap terlelap, namun gadis itu justru mengambil selimut dan menjabarkannya di lantai lengkap dengan bantalnya. "Kamu mau tidur di lantai?" tanya Raja tak yakin, terlebih lagi saat melihat mata sayunya, entah bagaimana hatinya tiba-tiba merasa iba. "Iya, Pak." Tiara berusaha tersenyum hangat seperti biasa, namun Raja justru menghela nafas, membuat Tiara ragu apa dirinya sudah berbuat salah lagi kali ini. "Ada apa, Pak? Bapak butuh sesuatu?" Tiara bertanya hati-hati. "Tidak kok. Saya cuma mau kamu tidur di samping saya, di ranjang yang sama." Raja menepuk sisi ranjang yang berada di sampingnya, yang ditatap tak mengerti oleh Tiara. "Tapi, Pak. Kita kan ...." "Kamu jangan salah paham dulu! Saya mau kita tidur seranjang, karena saya tidak mau kamu sakit dan menyusahkan saya lagi. Sudah cukup kamu menyusahkan saya di sekolah, kali ini jangan sakit di rumah!" Raja berujar serius yang sempat Tiara diami lalu mengangguk tanda mengerti. "Iya, Pak. Saya akan tidur di ranjang dengan Bapak." Tiara mendirikan tubuhnya lalu berjalan ke arah sisi lain ranjang, tanpa menyadari bagaimana Raja memerhatikannya secara diam-diam. "Pak," panggil Tiara yang langsung ditatap tanya oleh Raja. "A-apa?" Raja berusaha terlihat biasa saja, padahal hatinya merasa aneh sekarang. "Apa ada PR yang harus saya kerjakan, Pak? Atau materi yang harus saya tulis?" Tina menatap ke arah Raja yang berusaha memalingkan wajahnya lalu membaringkan tubuhnya. "Tidak ada, cepat tidur sana!" Raja membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara, sedangkan istri kecilnya itu hanya mengangguk dan menjawab sangat lirih, takut mengganggu suaminya yang sepertinya jarang sekali bisa sabar. Lelaki itu mudah sekali marah dan bahkan mengatakan kalimat yang menurut Tiara cukup kasar, meski Tiara paham kenapa Raja bersikap seperti itu, namun tetap saja ini semua juga tidak mudah untuk Tiara jalani. *** Pagi harinya, lagi dan lagi Raja harus melihat Tiara memasak di dapur dan dibantu adiknya, siapa lagi kalau bukan Daffa? Adiknya itu entah bagaimana bisa bangun lebih pagi dari biasanya semenjak ada Tiara di rumah, padahal seingat Raja, Daffa adalah sosok lelaki pemalas yang terkadang suka seenaknya dengan waktu. Itu lah kenapa dia lebih memilih bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki pegawai freelance, di mana adiknya itu bisa bekerja di jam yang dia tentukan sendiri. "Padahal kamu cuma sehari enggak masak sarapan dan bekal makan siang, tapi rasanya sudah berbulan-bulan, saking kangennya aku dengan masakan kamu, Ra." Daffa berujar ke arah Tiara saat mereka sedang menyiapkan makanan di atas meja, sedangkan di sana juga sudah ada Raja yang tampak malas mendengar ucapan adiknya yang berlebihan. "Maaf ya, Kak. Kemarin aku benar-benar kecapean, apalagi siangnya aku juga harus datang ke acara lagi, jadi aku enggak bisa pulang pagi." Tiara menjawab bersalah yang disenyumi oleh Daffa, berbeda dengan Raja yang tampak kian malas berada di sana. "Iya, enggak apa-apa kok. Aku mengerti pekerjaan kamu sebagai artis, pasti sibuk kan? Orang kaya Kak Raja mana mau bisa mengerti?" sindir Daffa dengan sesekali melirik ke arah Raja, yang tentu saja membuat kakaknya itu geram. "Maksud kamu apa? Sebagai guru, kakak enggak bisa menolerir sikap Tiara, karena dia sudah kelas tiga, sudah bukan saatnya dia bisa bekerja seenaknya di jam sekolah." Raja menyahut tak terima. "Oh ya? Aku sih enggak peduli." Daffa menjawab tak acuh lalu duduk di kursi makannya, seolah sengaja membuat kakaknya marah. "Tolong jangan bertengkar apalagi di depan makanan," cegah Tiara berusaha menengahi. "Dia yang duluan," jawab Raja sembari menunjuk ke arah adiknya. "Iya, Pak. Maaf ya, lebih baik Bapak sarapan ya? Saya ambilkan nasinya." Tiara mengambil piring milik Raja lalu mengambilkannya nasi, ia benar-benar tidak ingin melihat kedua saudara itu bertengkar lagi. Padahal mereka sudah sama-sama dewasa, namun sikapnya masih saja kekanak-kanakan. "Oh ya, Ra. Mulai hari ini aku yang antar kamu ke sekolah ya, sekalian aku berangkat kerja." Daffa berujar serius ke arah Tiara yang terdiam sembari menatap ke arah Raja yang kembali memerhatikannya dengan mata geramnya. "Kan aku berangkat dengan Pak Raja, Kak." Tiara menoleh ke arah Raja yang berusaha terlihat tenang, meski sebenarnya lelaki itu diam-diam tersenyum mendengar jawaban Tiara. "Enggak usah, nanti kamu malah disuruh turun sebelum sampai ke sekolah." Daffa menjawab tenang namun ucapannya sangat menggambarkan bagaimana tajamnya ia ingin menyindir kakaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD