Chapter 2: Luka yang Tak Terlihat

1426 Words
Liburan sekolah biasanya menjadi masa yang dinantikan oleh Hana. Setiap tahunnya, ia dan kakaknya, Farel, akan menghabiskan waktu di rumah nenek dan kakek di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di sana, semuanya terasa berbeda—lebih tenang, lebih damai. Udara segar yang mengalir lembut di antara pepohonan, suara burung berkicau di pagi hari, serta kesederhanaan hidup yang membuat segala masalah seolah menguap bersama angin desa. Bagi Hana, rumah nenek dan kakek adalah tempat pelariannya dari semua keributan yang sering terjadi di rumah. Di kota, mamah dan papah Hana selalu sibuk. Mamahnya, yang seorang perawat, sering kali harus bekerja berjam-jam di rumah sakit, sementara papahnya, yang seorang dokter spesialis mata, juga jarang di rumah karena pasien-pasiennya. Di desa, Hana merasa bisa bebas dari kesepian yang biasa ia rasakan di kota, meskipun ada saat-saat ketika ketenangan di sana bisa terasa menakutkan. Hari itu, seperti biasa, Hana dan Farel bermain di halaman rumah neneknya. Matahari bersinar cerah, memberikan kehangatan yang membuat segala sesuatu terasa hidup. Mereka berlari-larian mengejar satu sama lain, tertawa ceria, menikmati kebebasan yang hanya bisa mereka temukan di desa. Namun, suasana yang damai itu berubah ketika dari kejauhan, terdengar suara musik riang. Nada-nada ceria yang diiringi suara denting bel mulai memenuhi udara. "Odong-odong!" seru Farel dengan mata berbinar. Hana, yang juga mendengar suara itu, langsung berhenti berlari dan melihat ke jalan utama. Di sana, terlihat sebuah odong-odong berwarna cerah, penuh dengan lampu dan gambar-gambar lucu, meluncur pelan di sepanjang jalan desa. Anak-anak kecil berlarian menuju odong-odong itu, mengejar kendaraan yang membawa kegembiraan dalam bentuk kursi-kursi berputar dengan musik anak-anak yang tak pernah gagal membuat mereka tertawa. "Kita naik, yuk!" ajak Farel sambil melompat kegirangan. Hana, yang juga tak ingin ketinggalan, langsung mengangguk. Tanpa berpikir panjang, keduanya mulai berlari menuju jalan, bergabung dengan anak-anak lain yang sudah lebih dulu mengejar odong-odong. Namun, sebelum mereka bisa keluar dari halaman, suara berat kakek mereka terdengar dari pintu rumah. "Kalian jangan naik odong-odong!" tegur kakek mereka dengan nada tegas. "Itu bahaya! Nanti bisa kecelakaan!" Kakek Hana dikenal keras kepala dan sangat protektif terhadap cucu-cucunya. Ia selalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati, terutama ketika berkaitan dengan hal-hal yang menurutnya berisiko. Namun, seperti anak kecil lainnya, kegembiraan Hana dan Farel membuat mereka mengabaikan peringatan itu. Dalam hati, mereka berpikir, apa yang salah dengan naik odong-odong? Semua anak di desa naik, dan mereka semua tampak baik-baik saja. "Ayo, kita naik sebentar aja," kata Farel sambil menarik tangan Hana. "Gak apa-apa, kakek pasti gak akan marah kalau kita cuma sebentar." Hana sempat ragu sejenak, tapi akhirnya ia mengikuti langkah kakaknya. Keduanya menyelinap keluar dari halaman rumah dan berlari menuju odong-odong yang masih bergerak pelan di sepanjang jalan. Mereka berhasil naik ke salah satu kursi kosong dan mulai tertawa bersama anak-anak lain. Odong-odong mulai bergerak lebih cepat, mengitari jalan desa yang berkelok-kelok, sementara lagu-lagu riang anak-anak terus terdengar dari pengeras suara. Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung sebentar. Di sebuah tikungan tajam, tiba-tiba kendaraan itu kehilangan kendali. Sopirnya panik, mencoba menghentikan odong-odong yang semakin cepat meluncur di jalan menurun. Hana merasakan tubuhnya tegang, tangannya memegang erat kursi, sementara Farel yang duduk di sampingnya terlihat pucat. Keduanya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan benar saja, dalam hitungan detik, kendaraan itu oleng, dan dengan suara keras, odong-odong itu tergelincir ke pinggir jalan. Semuanya terjadi begitu cepat. Hana hanya bisa mendengar jeritan anak-anak di sekitarnya, tubuhnya terlempar, dan rasa sakit yang tiba-tiba menyengat seluruh tubuhnya saat ia terjatuh ke tanah. Dunia seolah berputar. Pandangannya kabur, dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, semuanya menjadi gelap. Ketika Hana membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit putih rumah sakit. Matanya terasa perih, dan ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya terdiam. Suara mesin-mesin rumah sakit terdengar samar-samar di sekelilingnya, diiringi dengan suara langkah kaki dan bisikan pelan. Hana masih mencoba mengumpulkan kesadarannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang di samping ranjangnya. "Mamah..." Hana berbisik dengan suara serak. Tenggorokannya terasa kering, tapi ia memaksakan diri untuk berbicara. Mamahnya segera mendekat, menggenggam tangan Hana dengan lembut, wajahnya penuh kekhawatiran. "Hana, kamu sudah sadar. Kamu baik-baik saja, Nak," kata mamahnya dengan suara lembut, meskipun ada ketegangan di balik suaranya. Hana mengedarkan pandangannya, mencoba memahami situasi. Ingatan tentang kecelakaan itu tiba-tiba menghantamnya, membuat hatinya berdegup kencang. Ia memutar kepalanya dengan perlahan, mencoba mencari sosok Farel. "Bang Farel mana, Mah?" tanyanya dengan cemas. "Abang Farel baik-baik saja, dia ada di ruang sebelah," jawab mamahnya. "Kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Hana terdiam sejenak, merasa lega mendengar bahwa kakaknya selamat. Namun, ada satu pertanyaan yang masih menghantuinya. "Bagas mana, Mah?" tanya Hana lagi. "Dia baik-baik saja, kan?" Suasana di ruangan itu tiba-tiba berubah. Mamah Hana terdiam, wajahnya yang tadinya penuh perhatian kini tampak muram. Air mata mulai menggenang di matanya, dan Hana langsung tahu jawabannya sebelum mamahnya sempat berkata apa-apa. "Bagas... sudah gak ada, Hana," kata mamahnya pelan, suaranya bergetar. Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Dunia Hana runtuh dalam sekejap. Bagas, teman kecilnya yang selalu bermain bersamanya setiap liburan, kini benar-benar telah pergi. Air mata mulai mengalir di pipinya, dan tubuh Hana bergetar, terisak tanpa suara. Semua kenangan bermain bersama Bagas kini terasa begitu jauh, menyisakan kekosongan yang tak terbayangkan. Mamahnya memeluknya erat-erat, tapi tak ada yang bisa menghapus rasa kehilangan itu. Sejak hari itu, setiap kali Hana melihat odong-odong di jalan, kenangan pahit tentang kecelakaan itu kembali menghantuinya. Odong-odong yang dulunya penuh kegembiraan kini hanya membawa rasa duka yang mendalam. Bagas tidak akan pernah kembali, dan kecelakaan itu akan selalu menjadi bayangan yang tak bisa ia lupakan. Bagi Hana, masa kecilnya yang dulu penuh dengan petualangan dan tawa, kini diwarnai oleh trauma yang menyakitkan, luka yang tidak terlihat namun terasa begitu nyata di dalam hatinya. Liburan di rumah kakek dan nenek selalu menjadi waktu yang penuh kenangan bagi Hana. Selain ketenangan dan udara segar yang membedakan desa dari hiruk-pikuk kota, di sana Hana mendapat kesempatan untuk mempelajari banyak hal baru. Salah satu pengalaman yang paling diingatnya adalah ketika ia belajar naik sepeda. Setiap pagi, kakeknya dengan sabar mengajarinya mengayuh sepeda roda dua. Pada awalnya, Hana sering kali jatuh, namun semangatnya tak pernah surut. Setelah beberapa hari, ia akhirnya bisa menjaga keseimbangan dan bersepeda dengan lancar di jalanan desa yang berkelok. Kegembiraan Hana tak bisa dibendung saat ia berhasil menguasai sepeda roda dua. Namun, sifat bandelnya kadang tak bisa dikendalikan. Suatu hari, merasa sudah cukup ahli, Hana diam-diam mencoba sepeda onthel milik kakeknya, sepeda tua dengan roda yang besar dan berat. Meskipun ia tahu kakeknya sering memperingatkannya agar berhati-hati, Hana tetap nekat. Sayangnya, saat mencoba mengayuh sepeda itu menuju halaman rumah, ia kehilangan kendali dan terjatuh dengan keras. Lututnya terluka, namun lebih dari itu, harga dirinya yang tersakiti. Meski demikian, kakeknya tak pernah memarahinya. Dengan sabar, beliau mengobati lukanya sambil tersenyum, hanya mengingatkan agar Hana lebih berhati-hati. Selain sepeda, petualangan lain yang sering dilakukan Hana adalah memanjat pohon mangga di halaman rumah. Pohon itu sudah ada sejak kakeknya muda, dan cabang-cabangnya yang kuat menjadi tempat favorit Hana untuk menghabiskan waktu. Namun, meskipun ia mahir memanjat, sering kali ketika sudah berada di atas, rasa takut tiba-tiba melanda dan kakinya gemetar. Kakeknya yang sudah tahu kebiasaan Hana, selalu datang untuk membantunya turun, meskipun beliau sering harus meninggalkan pekerjaannya sebentar. Sabar, penuh pengertian, kakeknya selalu berkata, "Jangan takut, kamu bisa turun pelan-pelan." Di antara semua kenangan masa kecil Hana di rumah kakek dan nenek, kenangan bersama Farel mungkin adalah yang paling istimewa. Kakaknya yang satu ini selalu punya ide-ide kreatif untuk mengisi waktu mereka selama di desa. Salah satu favorit Hana adalah ketika mereka membuat rujak buah bersama. Dengan semangat, Farel mengajak Hana dan saudara-saudaranya untuk memetik buah-buahan segar dari kebun, lalu mencampurkannya dengan bumbu rujak yang pedas. Momen makan rujak bersama di bawah pohon mangga adalah salah satu kenangan termanis dalam hidup Hana. Namun, Farel juga punya sisi jahil yang kadang membuat Hana kesal. Suatu sore, ketika penjual tahu gejrot keliling lewat, Farel menyuruh Hana untuk membelinya. Tapi, bukannya membeli tahu gejrot biasa, Farel dengan sengaja meminta penjual itu menambahkan delapan cabai dalam porsinya. Hana yang tidak menyangka, akhirnya harus merasakan pedas luar biasa dari tahu gejrot itu, sementara Farel tertawa geli melihat adiknya kehabisan air untuk meredakan rasa pedas. Begitulah, di balik setiap petualangan dan kenakalan, ada kebersamaan yang tak tergantikan antara Hana dan keluarganya. Meskipun kadang ada luka yang terlihat seperti saat Hana jatuh dari sepeda atau tersiksa oleh pedasnya cabai, ada juga luka yang tak terlihat, luka di hati yang kadang lebih sulit disembuhkan. Hana tahu bahwa bagaimanapun, setiap kenangan ini akan terus hidup dalam dirinya, menjadi bagian dari siapa dirinya di masa depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD