Chapter 1 : Sendiri di Antara Keramaian
Hana berdiri di pinggir halaman sekolah, memperhatikan anak-anak lain yang berlarian dengan tawa riang. Beberapa di antara mereka masih menggandeng erat tangan orangtuanya, sementara yang lain sudah lebih berani menjelajah halaman sekolah dengan semangat. Suasana hari pertama sekolah ini benar-benar penuh dengan campuran kegembiraan, kecemasan, dan bagi Hana, rasa sepi yang aneh di antara keramaian. Ransel birunya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena barang-barang di dalamnya, tapi karena perasaan yang ia bawa sejak tadi pagi.
Di sudut halaman, Tegar, seorang anak laki-laki seumur Hana, menangis keras. "Aku nggak mau ditinggal, Bu! Temani aku di sini! Aku takut!" Tangisannya bergema, memecah suasana yang sebelumnya hanya riuh dengan suara percakapan dan tawa kecil anak-anak lain. Ibunya mencoba menenangkan dengan sabar, meskipun wajahnya terlihat sedikit cemas.
Hana memperhatikan dari jauh. Rasa kasihan muncul di hatinya melihat Tegar yang ketakutan. Namun di balik simpati itu, ada juga rasa iri yang mendalam. Anak-anak lain tampaknya ditemani oleh orangtua mereka. Orangtua yang akan memeluk dan menenangkan mereka di saat mereka takut atau cemas. Sementara itu, Hana berdiri sendiri. Tak ada sosok ibu yang menggenggam tangannya atau ayah yang menepuk punggungnya. Hanya dia, ranselnya, dan suara ramai di sekelilingnya.
Hari ini, seperti banyak hari lainnya, Hana harus datang ke sekolah sendiri. Mamahnya, seorang perawat, bekerja dengan jadwal yang padat. Pagi ini, sebelum Hana bangun, mamahnya sudah pergi bekerja. Begitu juga dengan papahnya, seorang dokter spesialis mata yang sering kali menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Meski mereka mencintainya, Hana sering merasa seperti hidup di dunia yang terpisah dari mereka.
Langkah kakinya terasa berat saat ia mulai memasuki gedung sekolah. Kelas yang ia tuju sudah hampir penuh. Anak-anak yang duduk di dalam kelas sebagian besar masih ditemani orangtua mereka, berbincang dengan guru atau membantu mengatur meja anak mereka. Suasana itu membuat hati Hana semakin tenggelam dalam perasaan sepi. Ia memilih duduk di bangku yang berada di dekat jendela, tempat favoritnya sejak dulu. Dari sana, ia bisa melihat keluar, melihat dunia di luar tembok sekolah yang ramai namun terasa jauh.
Hana menatap ke luar jendela, menyaksikan halaman sekolah yang mulai sepi seiring dengan berakhirnya momen perpisahan antara anak-anak dan orangtua mereka. Beberapa anak masih melambai-lambaikan tangan mereka kepada orangtua yang sudah berjalan menjauh. Lalu perlahan, ruang kelas mulai tenang. Hana mengalihkan pandangannya dari jendela ke papan tulis di depan. Di balik tatapan tenangnya, hatinya bergemuruh. Ada keinginan yang dalam, sebuah kerinduan yang tidak pernah ia utarakan, untuk merasakan kehangatan keluarga yang selalu hadir.
Saat bel berbunyi tanda pelajaran dimulai, guru kelas mulai memperkenalkan diri. Suaranya lembut namun tegas, memimpin para siswa untuk fokus pada pelajaran pertama mereka. Hana mendengarkan dengan saksama, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Ia memikirkan rumah, di mana tidak ada yang menunggu kepulangannya. Tidak ada yang bertanya bagaimana harinya atau memeluknya setelah hari yang panjang. Mamahnya akan pulang larut malam, lelah setelah seharian bekerja. Papahnya mungkin baru tiba saat Hana sudah tertidur. Hidup mereka berjalan dengan ritme yang berbeda, seperti sebuah simfoni yang nada-nadanya tak pernah sinkron.
Sejak kecil, Hana sudah belajar mandiri. Ia tahu bagaimana menyiapkan sarapannya sendiri, membereskan barang-barang sekolahnya, bahkan belajar dan menyelesaikan tugas tanpa banyak bantuan. Mamahnya selalu berkata bahwa itu adalah tanda ia tumbuh menjadi anak yang kuat. Tapi kadang, Hana tidak ingin menjadi kuat. Ia ingin merasa diperhatikan. Ia ingin ada seseorang yang menghiburnya saat ia merasa sedih atau cemas. Ia ingin seseorang ada di sana untuknya, tidak hanya saat ia butuh bantuan, tapi juga saat ia hanya ingin ditemani.
Hari itu berlalu dengan lambat. Pelajaran demi pelajaran datang silih berganti, tapi perhatian Hana tidak sepenuhnya berada di kelas. Saat istirahat tiba, anak-anak lain berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling bercanda dan bermain. Hana memilih tetap di mejanya, membaca buku yang dibawanya dari rumah. Ia tidak terlalu tertarik untuk bergabung dengan kelompok manapun. Bukannya ia tidak suka bersosialisasi, tetapi ia merasa lebih nyaman dengan dunianya sendiri, tenggelam dalam cerita-cerita fiksi yang ia baca.
Ketika bel pulang akhirnya berbunyi, suasana kelas segera berubah menjadi riuh. Anak-anak berlari keluar kelas dengan penuh semangat, mencari orangtua mereka yang sudah menunggu di gerbang sekolah. Hana berjalan keluar kelas dengan langkah tenang, mengamati anak-anak lain yang dengan cepat berlari memeluk ibu atau ayah mereka. Ia melihat Tegar yang langsung berlari ke arah ibunya dengan senyum lebar di wajahnya, seolah lupa dengan tangisan yang terjadi di pagi hari. Momen itu membuat Hana tersenyum kecil, meski perasaan di hatinya masih terasa kosong.
Di depan gerbang, Hana berdiri sendirian. Bukan menunggu seseorang, tapi sekadar memperhatikan anak-anak lain yang satu per satu dijemput pulang. Ia tahu, kedua orangtuanya tak akan datang menjemput seperti orangtua lain. Seperti biasa, ia hanya menunggu jemputan dari supir mereka. Perjalanan pulang yang sunyi itu sudah jadi rutinitasnya, meskipun rasa sepi sering menyelinap tanpa bisa ia cegah.
Hana mulai melangkah meninggalkan gerbang sekolah, mengikuti jalan setapak yang sudah begitu akrab. Sinar matahari sore menghangatkan wajahnya, tapi tidak cukup untuk menghilangkan dingin yang bersarang di hatinya. Ia menengadah, memandang langit yang mulai memerah, bertanya-tanya bagaimana rasanya jika ada seseorang yang selalu ada di sampingnya. Bukan hanya hadir secara fisik, tapi benar-benar mendengarkan dan memahami apa yang ia rasakan.
Sepanjang perjalanan pulang, Hana berusaha mengalihkan pikiran dengan memikirkan tugas-tugas sekolah yang menanti. Namun, bayangan keramaian di sekolah tadi—anak-anak yang dijemput dengan penuh kasih oleh orangtua mereka—terus menghantuinya. Kenapa hidupnya terasa begitu berbeda? Kenapa ia selalu merasa sendirian, meski di tengah keramaian?
Setibanya di rumah, Hana membuka pintu dan mendapati rumah kosong seperti biasa. Ia menaruh tasnya di kursi, lalu duduk di ruang tamu yang sunyi. Hana menatap ke sekeliling, mendengar hanya suara detik jam yang monoton. Ia menyalakan televisi, bukan untuk menonton, tetapi untuk mengisi keheningan. Setelah beberapa saat, Hana menarik napas panjang, kemudian berdiri dan melangkah ke dapur. Di sana, ia mengambil bahan-bahan untuk menyiapkan makan malam sendiri, seperti yang biasa ia lakukan.
Di balik semua kesibukan yang ia jalani, Hana tahu ada sesuatu yang hilang. Ia kuat, mandiri, tapi itu bukanlah pilihan yang ia buat. Itu adalah keadaan yang harus ia terima. Dan meskipun ia mampu menjalani semuanya dengan baik, ada perasaan sepi yang tak pernah benar-benar pergi.
Hari itu, seperti banyak hari lainnya, berakhir dengan kesunyian yang akrab bagi Hana. Sebuah kehidupan yang dijalani sendirian, meski di tengah keramaian.