Chapter 6: Teman di Balik Kata

1057 Words
Hari ini adalah hari Sabtu, dan seperti biasanya, Hana mengisi waktunya dengan hal-hal yang ia sukai. Setelah minggu yang sibuk dengan sekolah dan kegiatan renang kemarin, ia memutuskan untuk mengunjungi toko buku di pusat kota. Toko buku itu selalu menjadi tempat favorit Hana, tempat di mana ia bisa merasa tenang dan lupa sejenak tentang kesepiannya. Saat memasuki toko buku, aroma khas kertas dan tinta menyambutnya. Rak-rak tinggi penuh dengan buku dari berbagai genre berjejer rapi, seolah menunggu untuk dibuka dan dijelajahi. Hana berjalan perlahan di antara rak-rak, matanya mengamati sampul-sampul buku yang menarik perhatiannya. Ia menghabiskan beberapa saat di bagian buku fiksi, memilih beberapa novel remaja yang sudah lama ia incar. Tak hanya itu, ia juga mencari buku-buku pelajaran untuk membantu tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk. Setelah berkeliling di bagian fiksi, Hana kemudian beralih ke rak-rak buku pelajaran. Ia memilih beberapa buku matematika dan bahasa Indonesia, serta buku catatan baru untuk menulis. Ia selalu menyukai buku catatan dengan desain sederhana, tapi elegan, yang bisa ia gunakan untuk mencatat segala hal yang penting. Di tengah asyiknya memilih buku, pikiran Hana melayang ke hal lain. Seperti biasa, ada dorongan dalam dirinya untuk segera pulang dan membuka buku diary-nya. Diary itu adalah tempat di mana ia bisa mencurahkan segala isi hatinya, tempat di mana tidak ada yang akan menghakimi atau merasa bosan dengan ceritanya. Dalam buku diary itu, Hana selalu menulis tentang hari-harinya, perasaan yang ia rasakan, bahkan hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain tidak penting. Namun bagi Hana, menulis di diary adalah cara terbaik untuk mengekspresikan dirinya. Hana memutuskan untuk segera membayar buku-buku yang sudah ia pilih. Saat di kasir, ia sempat menatap buku diary berwarna biru muda yang menarik perhatiannya di rak samping meja kasir. Tanpa ragu, ia menambahkannya ke dalam daftar belanjaannya. Diary baru itu akan menjadi teman setia barunya, menggantikan diary lama yang sudah hampir penuh dengan tulisan-tulisannya. Setelah membayar, Hana keluar dari toko buku dengan tas penuh buku. Ia merasa puas dengan pilihannya, dan tak sabar untuk segera pulang dan memulai hari dengan membaca dan menulis. Di perjalanan pulang, Hana terus memikirkan diary-nya. Baginya, diary itu bukan sekadar buku. Diary adalah sahabat yang tak pernah pergi, tak pernah meninggalkannya saat ia merasa kesepian. Di antara semua orang yang mungkin tak memahami atau sibuk dengan urusan mereka, diary selalu ada untuk mendengarkan. Tidak ada yang mengganggu saat Hana menulis, tidak ada yang menyela atau mempertanyakan perasaannya. Hanya ada Hana dan lembaran-lembaran kosong yang menunggu untuk diisi dengan kata-kata yang keluar dari hatinya. Sesampainya di rumah, Hana langsung menuju kamarnya. Ia menaruh tas bukunya di meja belajar, lalu mengambil buku diary lamanya yang sudah setia menemaninya sejak beberapa bulan terakhir. Sambil duduk di tepi tempat tidurnya, Hana membuka halaman baru dan mulai menulis tentang hari ini. Ia menceritakan pengalamannya di toko buku, buku-buku yang ia beli, dan perasaannya ketika menemukan diary baru yang cantik. "Hari ini aku mampir ke toko buku lagi. Aku suka berada di sana. Di antara semua buku itu, aku merasa damai. Kadang-kadang, aku merasa buku adalah satu-satunya teman yang mengerti aku. Mereka tidak pernah menghakimi, tidak pernah membalas dengan komentar yang menyakitkan. Mereka hanya ada di sana, selalu siap menemaniku kapan saja aku membutuhkan." Hana terus menulis dengan lancar, seolah jari-jarinya tahu persis apa yang ingin ia ungkapkan. Tak jarang, ia berhenti sejenak untuk merenung, memikirkan bagaimana rasanya menjadi orang yang lebih banyak berkomunikasi melalui tulisan daripada bicara. Hana memang lebih irit bicara, terutama kepada orang-orang yang tidak terlalu dekat dengannya. Keluarganya, terutama orang tuanya, sering kali sibuk sehingga tidak banyak percakapan hangat di antara mereka. Hana lebih memilih menyimpan banyak hal dalam pikirannya dan mengungkapkannya melalui kata-kata yang ia tulis. Satu-satunya orang yang bisa membuat Hana berbicara lebih banyak adalah kakaknya, Farel. Farel selalu memiliki cara untuk mengajak Hana bercerita. Meskipun terkadang hanya obrolan sederhana, Hana merasa nyaman berbicara dengan kakaknya. Hanya kepada Farel lah Hana bisa berbagi perasaannya tanpa harus merasa canggung atau takut dihakimi. Kakaknya selalu mendengarkan, dan meski Farel tidak selalu memberikan solusi, kehadirannya sudah cukup bagi Hana. Sore itu, ketika Hana sedang asyik menulis di diary-nya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Farel masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat di tangannya. Ia meletakkan satu cangkir di meja samping tempat tidur Hana, lalu duduk di kursi dekat jendela. "Kamu lagi nulis apa, Dek?" tanya Farel sambil menyeruput tehnya. Hana menutup diary-nya dengan senyuman kecil. "Enggak, cuma nulis cerita harian aja," jawabnya singkat. Farel tersenyum sambil mengangguk. "Kamu masih sering nulis di diary, ya? Aku ingat waktu kamu kecil, kamu suka banget nulis semua yang terjadi setiap hari." "Ya, sampai sekarang masih. Menurutku, diary itu teman yang selalu bisa diandalkan. Enggak pernah bosan mendengarkan aku," kata Hana sambil menatap diary-nya dengan penuh kasih. Farel tertawa kecil. "Kamu benar-benar penulis, ya? Mungkin suatu hari nanti semua tulisanmu ini bisa jadi buku." Hana hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya. Meskipun ia tahu bahwa menulis adalah salah satu hal yang paling ia cintai, ia masih belum yakin apakah ia benar-benar ingin menerbitkan semua tulisannya. Baginya, menulis di diary adalah sesuatu yang sangat pribadi, sebuah pelarian dari dunia luar yang kadang terasa terlalu keras. "Bang Farel, menurut kamu... aku aneh, enggak?" tanya Hana tiba-tiba. Farel mengangkat alisnya. "Aneh? Maksud kamu?" Hana menggigit bibirnya sebentar sebelum menjawab. "Aku lebih suka menulis daripada bicara. Rasanya, cuma sama Bang Farel aja aku bisa ngobrol panjang lebar. Sama orang lain, aku lebih banyak diam." Farel menatap adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kamu enggak aneh, Han. Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengekspresikan diri. Kamu suka menulis, dan itu bagus. Enggak semua orang bisa merangkai kata-kata sebaik kamu. Lagipula, kita enggak harus selalu bicara banyak untuk bisa dimengerti." Hana tersenyum mendengar jawaban kakaknya. Dalam hatinya, ia merasa lega. Farel selalu tahu cara untuk membuatnya merasa lebih baik. Setelah beberapa saat, Farel berdiri dan mengusap kepala Hana dengan lembut. "Jangan terlalu banyak mikir, ya. Kalau kamu butuh cerita, aku selalu ada," katanya sebelum keluar dari kamar. Hana menatap pintu yang tertutup, lalu menatap diary-nya. Hari itu, ia merasa sedikit lebih ringan. Ia mungkin masih merasa sendiri di banyak kesempatan, tapi ia tahu bahwa ada orang-orang seperti Farel yang selalu peduli padanya. Dan, tentu saja, ada diary-nya, teman setianya yang selalu ada di saat-saat sunyi. "Mungkin aku tidak akan pernah benar-benar merasa sendiri, selama aku masih bisa menulis," tulis Hana di akhir catatannya sebelum menutup buku dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD