04. Tidak Dianggap

1078 Words
Setelah menginap di hotel untuk merayakan ulang tahun Aryo—ayah Nadine, pagi ini kediaman keluarga Wijaya sudah kembali lengkap. Seharusnya Nadine senang. Saat ini keluarganya terlihat seperti keluarga yang bahagia. Orang yang melihat, mungkin akan berpikir mereka keluarga yang sempurna—ya, memang banyak orang yang menganggap bahwa keluarga Wijaya adalah keluarga yang sempurna. Orang-orang mengatakan bahwa mereka terlihat hangat dan harmonis. Namun tidak bagi Nadine. Selama 23 tahun ia hidup menjadi bagian dari keluarga ini, tidak pernah sedikit pun ia merasakan kehangatan itu. Contohnya seperti sekarang ini. Mereka terlihat hangat, keluarga beranggotakan lima orang itu saling mengobrol santai di meja makan—semua, kecuali Nadine dan ibunya. Hanya ayah dan kedua kakaknya saja yang saling berbincang seru, sedangkan Nadine dan ibunya hanya sibuk dengan makanannya. Bukan karena Nadine dan ibunya tidak mau ikut berbincang, melainkan karena ayahnya memang hanya mengajak dua kakak Nadine saja untuk mengobrol. Yang mereka obrolkan juga tidak jauh-jauh dari masalah rumah sakit, kinerja rumah sakit, dan masalah pekerjaan lainnya—yang tentu saja tidak akan bisa dipahami oleh Nadine maupun ibunya. Rasanya selalu menyakitkan setiap kali ayahnya hanya akan menganggap kakak-kakak Nadine saja, sedangkan dirinya dan ibunya diabaikan karena dianggap tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. “Semalam kamu kemana? Papa nggak lihat kamu di manapun.” Akhirnya ayahnya menyadari keberadaan dirinya, namun bukan obrolan semacam ini yang Nadine inginkan. Tidak dengan wajah dingin seperti ini. “Nadine nggak enak badan, jadi pulang duluan,” jawab Nadine tanpa berani menatap wajah ayahnya. Terkadang Nadine iri dengan kedua kakaknya. Dari kecil ayahnya selalu memperlakukan kedua kakaknya dengan baik, selalu mengajaknya berbincang dengan hangat. Sedangkan dirinya? Dia selalu mendapatkan perlakuan dingin seperti ini. “Papa dengar semalam kamu buat masalah. Kali ini apa lagi?” Di mata ayahnya, Nadine mungkin hanya sekedar pengacau yang tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan benar. “Cuma kecelakaan kecil,” balas Nadine singkat. Ia malas membahas kejadian di hotel lebih jauh lagi. Lagipula apapun yang dikatakannya, ia akan tetap dianggap pengacau. “Oh iya, ada satu hal lagi yang mau Papa tanyakan.” Nadine hanya diam, menunggu dengan was-was. “Papa dengar kamu jadi MUA sekarang. Apa itu benar?” (*MUA : Make Up Artist) Nadine membeku di tempatnya. Tangannya menggenggam alat makannya erat-erat. Dari mana ayahnya tahu soal ini? Ingatan Nadine terlempar pada kejadian di hotel semalam, tepatnya obrolannya dengan budenya hari itu. Budenya tahu kalau Nadine kembali menjadi MUA. Apakah ayahnya tahu hal ini dari budenya? “Kamu masih saja keras kepala. Papa susah-susah besarin kamu, biayain kamu les sana-sini, biayain kamu kuliah. Dan apa ini? Kamu malah main-main jadi MUA bukannya fokus sama skripsi kamu.” Nadine diam tidak membantah. Dia hanya menunduk sambil memainkan makanannya dengan sendok di tangannya. Dia tidak berencana untuk menjawab, mau dia menjelaskan pun ayahnya juga tidak akan mendengarkan. “Kegagalan kamu masuk kedokteran itu sudah sangat memalukan untuk keluarga Wijaya. Dan sekarang apa? Jadi MUA? Dimana otak kamu sebenarnya?” ucap Aryo tanpa beban. “Memang kenapa kalau jadi MUA?” gumam Nadine, masih dengan menundukkan kepala. “Apa salahnya jadi MUA?” Kali ini dia memberanikan diri menatap mata ayahnya. Ini pertama kalinya Nadine bersikap seberani ini. Biasanya dia hanya akan pasrah menerima ucapan pedas ayahnya, namun kali ini tidak tahu kenapa ada dorongan untuk memberontak. “Nadine…” Iriana mengusap lengan putrinya, berusaha untuk menenangkannya. “Papa bisa mendukung mimpi Mas Pram dan Mbak Retha, tapi kenapa mimpiku nggak bisa?” “Apa se-nggak berharga itu mimpiku di mata Papa?” Entah dapat keberanian dari mana, Nadine mengeluarkan semua uneg-unegnya. Hal yang selama ini selalu ia tahan, hari ini ia keluarkan juga. “Kamu pikir menjadi MUA itu suatu hal yang bisa dibanggakan?” Aryo mengatakannya dengan senyum sinis, seakan meremehkan mimpi sang putri. “Papa akan dukung mimpi kamu asalkan itu memang hal yang layak dibanggakan. Tapi MUA? Masa depan seperti apa yang mau kamu raih dengan mimpi semacam itu?” Lagi-lagi ayahnya membuat rasa rendah dirinya semakin menjadi-jadi. Ucapan ayahnya membuat Nadine terdiam. “Nadine, berhenti bermain-main dan fokus saja dengan jalan yang sudah Papa tentukan untuk kamu.” Titah ayahnya membuat hatinya berdenyut nyeri. Ayahnya hanya bisa menuntut Nadine ini dan itu. Memintanya sepintar kedua kakaknya, menuntutnya tunduk atas takdir yang sudah disiapkan ayahnya, tanpa tahu seberat dan seterjal apa jalan yang ia lalui. Kapan ayahnya sadar bahwa kapasitas otaknya tidak akan sama dengan kedua kakaknya, sekeras apapun ia berusaha. Nadine lelah menjalani kehidupan semacam ini. Ia lelah harus memenuhi ekspektasi ayahnya terus-menerus. “Papa mau ini terakhir kalinya kamu membantah ucapan Papa. Jadilah anak yang penurut dan jangan jadi pemberontak. Ini semua Papa lakukan demi masa depan kamu.” Demi masa depannya, ya? Nadine terkekeh dalam hati. Dia tahu betul ini bukan demi masa depannya melainkan demi reputasi keluarga ayahnya. Ayahnya hanya takut kebodohan Nadine mencoreng nama baik keluarga Wijaya. Sungguh ironis karena ayahnya lebih mementingkan reputasi keluarga dibanding kebahagiaan anaknya. *** Hari ini Nadine berencana untuk ke kampus. Dia mau mengerjakan skripsinya di perpustakaan dan ingin meminjam beberapa buku sebagai penunjang skripsinya. Tapi berhubung suasana hatinya pagi ini mendadak buruk, jadi dia memutuskan untuk mengerjakannya di rumah saja. Baru setengah jam menghadap laptop dan otaknya sudah seperti akan terbakar. Ia lalu memandangi deretan tulisan yang sudah ia tulis. Dia sedang menyusun latar belakang, namun setelah membacanya ulang, dia bergidik dan merutuki kemampuannya dalam menyusun kata. “Selama hampir 4 tahun ini aku ngapain aja sih?” desahnya sambil memukul kepalanya jengkel. Inilah alasan ia selalu terima-terima saja dikatai bodoh oleh ayahnya. Karena ya beginilah, kenyataannya dia memang sebodoh itu. Nadine bangkit dari kursi belajarnya, melakukan peregangan sebentar sebelum keluar dari kamarnya. Sepertinya dia butuh udara segar. Ia lalu berjalan menuju dapur. Mungkin air dingin bisa mendinginkan otaknya serta mengembalikan kinerja otaknya. Namun sebelum ia sempat mengambil air dingin, matanya sudah lebih dulu menangkap sosok ibunya yang sedang meringkuk di lantai dapur. Wajahnya pucat pasi dengan tangan memegangi bagian perutnya. “Ma-mama!!” Nadine berteriak panik, ia berlari menuju ibunya. Iriana masih menggeram kesakitan. Di saat bersamaan asisten rumah tangganya datang dan panik mendapati ibu dan anak sedang bersimpuh di lantai. “Non, nyonya kenapa?” “Panggil ambulan, Bi! SEKARANG!!” Bi Erna segera mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Sedangkan Nadine masih sibuk dengan ibunya yang semakin meremas perutnya, tanda bahwa sakit yang dirasakannya semakin tidak tertahan. Apa yang terjadi dengan ibunya? Tadi pagi ibunya masih baik-baik saja, tapi kenapa keadaannya tiba-tiba menjadi seperti ini? Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD