Ketakutan, Nadine pun mulai berontak. Tangannya berusaha menyingkirkan tangan Genta dari mulutnya, namun Genta terlalu kuat.
“Diam! Saya bukan mau macem-macem, saya cuma mau sembunyi!” bisik Genta setengah kesal karena gadis ini benar-benar tidak mau diam.
Nadine sudah mau berontak lagi namun urung saat mendengar seseorang berjalan memasuki toilet. Terdengar kran wastafel yang bergemericik, menandakan bahwa benar-benar ada orang di luar.
Entah siapa yang ingin Genta hindari, yang jelas Nadine tetap tidak terima pria itu masuk ke toilet wanita dengan seenaknya. Terlebih dengan santainya membekap mulutnya seperti sekarang ini, dan membuat Nadine ikut terjebak di ruangan yang sempit dan pengap ini!
“Kayaknya tadi aku ngeliat Genta,” ucap seseorang dari luar. Orang itu sepertinya tengah bergumam seorang diri.
Tapi suaranya terdengar tidak asing di telinga Nadine. Itu seperti… suara Retha!
Benar itu suara kakaknya!
Ada hubungan apa antara kakaknya dengan pria asing ini? Kenapa pria ini sampai harus bersembunyi?
“Halo, Mas. Mas Pram lihat Mas Genta nggak?”
Nadine dan Genta saling bertukar pandang. Bilik kamar mandi yang sempit membuat keduanya tidak bisa leluasa. Bergerak sedikit pasti akan menimbulkan suara.
“Iya, tadi aku lihat dia ada di sekitaran sini. Cuma tiba-tiba hilang. Apa dia udah balik ya?”
“Udah aku telfon, tapi nggak aktif.”
Retha terus saja berbicara melalui ponselnya. Entah apa yang Retha bicarakan, Nadine sudah tidak terlalu menyimak. Fokus Nadine kini hanya pada tangan Genta yang masih setia menutup mulutnya hingga membuatnya sulit bernapas.
Tangan Nadine kembali berusaha menyingkirkan tangan itu dari mulutnya. Tubuhnya juga bergerak tidak nyaman karena bilik yang terlalu sempit. Namun pria di depannya malah memelototinya, seolah memberi tanda agar dia tetap diam.
Nadine menatap pria itu ngeri. Apa pria itu berusaha untuk membunuhnya?! Apa dia tidak sadar kalau ia juga butuh bernafas?
“Yaudah kalau gitu, nanti coba aku telfon dia lagi aja.”
Setelah itu terdengar langkah kaki yang semakin menjauh diiringi dengan suara pintu kamar mandi yang tertutup.
Orang itu sudah pergi…
Merasa situasi sudah aman, Nadine pun menggigit sekuat tenaga telapak tangan Genta yang masih setia berada di depan mulutnya. Tangan kurang ajar itu butuh diberi pelajaran!
“Aduhh!! Gila kamu, ya?!” maki Genta saat merasakan gigitan di telapak tangannya.
Nadine tidak gentar dengan makian Genta. Perempuan itu justru dengan berani menatap nyalang ke arahnya.
“Tangan kurang ajar kamu itu memang butuh dikasih pelajaran!” Nadine lalu pergi meninggalkan Genta yang masih tercengang di tempatnya.
Apa-apaan perempuan itu?!
***
“Dasar cowok kurang ajar!!”
“Gak punya sopan santun!”
“Sial banget aku bisa ketemu orang kayak gitu!”
Nadine terus saja mengoceh sepanjang perjalanan. Hari ini ia memutuskan pulang saja ke rumah. Dia tidak mau tetap di hotel, selain karena malas bertemu keluarga besarnya, dia juga tidak mau tiba-tiba berpapasan dengan pria aneh tadi.
Nadine menoleh kanan kiri, matanya sibuk mencari taksi. “Perasaan belum malem banget, kenapa nggak ada taksi sama sekali?” gerutunya sambil mengecek jam di ponsel miliknya.
Di saat yang bersamaan, ada panggilan masuk ke ponselnya. Dari Oliver…
“Halo?”
“Masih di hotel?”
“Enggak. Aku lagi di pinggir jalan, mau cari taksi,” jawab Nadine sambil terus memperhatikan jalan raya di depannya.
“Mau kemana?”
“Mau pulang.”
“Kok pulang? Katanya mau nginep di sana bareng keluarga besar kamu?”
Tadinya sih begitu. Tapi berhubung hari ini banyak hal tidak menyenangkan, Nadine memutuskan pulang saja.
“Di hotel ada cowok aneh, aku nggak mau ketemu dia lagi.”
“Cowok aneh?”
Oliver terdengar khawatir. Namun Nadine sedang tidak ingin bercerita. Emosinya saat ini masih belum stabil jadi dia tidak ingin mengungkit masalah itu lagi.
“Kamu masih di daerah sekitaran hotel kan?”
Alis Nadine berkerut bingung, “Iya, memangnya kenapa?”
“Jangan kemana-mana, tunggu aku disana.”
Nadine mengerjapkan matanya bingung. Oliver mau menjemputnya? Tapi untuk apa?
“Aku mau naik taksi, nggak usah repot-repot jemput,” cegahnya pada sahabatnya itu.
“Aku udah di jalan. Aku matiin telfonnya.”
“Ha-halo?? Oliver?”
Panggilan sudah dimatikan sepihak. Nadine berdecak sebal, “Dasar keras kepala!”
Oliver adalah sahabatnya sejak masih SMA. Tidak hanya Oliver, Nadine juga bersahabat dengan Oliv—saudara kembar Oliver.
Mereka juga satu kampus, meskipun beda jurusan dan beda tahun masuk—karena Nadine sempat gap year satu tahun.
Bisa dibilang hanya Oliv dan Oliver teman yang Nadine punya. Saat SMA, Nadine terlalu sibuk les sana-sini demi bisa memenuhi ambisi ayahnya diterima di jurusan kedokteran, meski pada akhirnya gagal. Teman-temannya bilang Nadine terlalu ambis dan serius sehingga tidak ada yang mau bergaul dengannya.
Namun ada satu orang yang saat itu terus berusaha mendekati Nadine, orang itu adalah Oliv. Nadine ingat bagaimana Oliv yang pantang menyerah berusaha berteman dengannya.
Oliv gadis yang ceria, gadis itu juga yang membawa perubahan di diri Nadine yang dulunya murung dan membosankan kini berubah menjadi ceria seperti gadis seusianya.
Setelah berteman dekat dengan Oliv dia juga jadi mengenal Oliver, dan mereka bertiga pun menjadi sahabat hingga sekarang.
***
“Aku kan udah bilang nggak usah kesini!” omel Nadine pada pria yang saat ini sedang sibuk menyetir di sebelahnya.
“Kebetulan aku lagi di jalan deket sini, jadi sekalian aja.”
Nadine mengamati penampilan Oliver. Pria itu mengenakan kemeja putih yang sudah agak lusuh karena keringat, rambutnya juga terlihat berantakan.
“Kamu baru pulang kerja?”
“Iya,” ucapnya singkat. Pria itu terlihat lelah.
“Harusnya langsung pulang aja, kenapa malah nyamperin aku ke sini? Kamu pasti capek. Rumahku juga nggak searah sama apartemen kamu.”
Oliver menghentikan mobilnya karena di depan ada lampu merah. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran mobil sambil menghela nafas panjang. Hari yang melelahkan…
“Kamu capek?”
Oliver menoleh ke arah gadis di sampingnya. Gadis itu terlihat khawatir.
“Jangan terlalu diforsir. Kerja sewajarnya aja. Kalau kamu mati gara-gara kecapekan, perusahaan nggak akan pusing karena bisa cari pengganti kamu kapan aja.”
Ujung bibirnya terangkat membentuk senyum kecil, ia suka dengan perhatian kecil ini.
“Oliver!”
“Kamu dengar aku nggak sih?” omel Nadine karena yang diajak bicara hanya diam saja sambil memandangi dirinya.
“Aku lagi ngomong ini!!” Ya, Oliver tahu gadis itu sedang bicara. Dia juga sedang mendengarkannya. Oliver sangat menikmati wajah kesal Nadine saat ini. Ia juga sangat menikmati rentetan omelan yang keluar dari bibir mungilnya.
Oliver tersenyum melihat itu, namun wajahnya kembali datar saat mendapati gadis itu memangku jas yang sepertinya milik seorang pria.
“Itu punya siapa?”
Nadine mengikuti arah pandangnya dan terkejut mendapati jas milik pria di hotel tadi ternyata terbawa olehnya. Kenapa jas ini bisa ada padanya?!
“Harusnya tadi aku lempar aja jas ini ke muka cowok tadi! Kenapa malah kebawa sih?” gumamnya yang masih bisa didengar oleh Oliver.
“Itu punya cowok aneh yang kamu bilang di telfon tadi?”
Raut wajah Nadine menjadi tidak bersahabat. Sebenarnya dia sedang tidak ingin membahas kejadian di hotel tadi.
“Nadine?” panggil Oliver, menyadarkan Nadine bahwa pria di sampingnya ini masih menunggu jawabannya.
Nadine masih diam sambil menggigit bibir bawahnya. Dia ingin menghindari pertanyaan Oliver, namun Nadine kenal betul bagaimana Oliver. Dia tidak akan berhenti bertanya sebelum Nadine menceritakan semuanya.
“Lampunya hijau!” serunya yang diiringi dengan suara klakson dari belakang. Oliver berdecak sebal dan mulai kembali melajukan mobilnya.
Nadine menghela nafas lega karena berhasil menghindari desakan Oliver. Dia akan menceritakan tentang pria di hotel tadi, tapi tidak sekarang. Setidaknya Nadine ingin menunggu rasa kesalnya mereda dulu.
“Kita mampir ke apartemenku dulu, ya.”
Nadine menoleh bingung. Kenapa tiba-tiba?
“Kamu masih hutang penjelasan ke aku. Jadi kita ngobrol di apartemenku aja.”
Ternyata Nadine tidak bisa menghindar semudah itu. Ya, memang apa yang dia harapkan dari pria keras kepala seperti Oliver?
“Ada Oliv kan disana?” tanya Nadine memastikan.
“Kalau nggak ada Oliv aku nggak akan berani ajak kamu ke apartemenku.”
Oliver tinggal di apartemen sejak lulus kuliah. Hanya apartemen kecil dengan uang sewa yang relatif murah, namun ia dan saudara kembarnya—Oliv, senang bisa tinggal berdua disana. Oliver dan Oliv berasal dari keluarga yang sama-sama berantakannya dengan Nadine. Keluarga mereka utuh, hanya saja rasanya seperti tidak utuh.
Hampir setiap hari orang tua mereka bertengkar. Alasan itulah yang membuat Oliver dan Oliv memilih untuk hidup mandiri setelah lulus kuliah. Setidaknya disini mereka tidak perlu mendengar suara pertengkaran setiap malam. Mereka juga tidak perlu menjadi samsak tinju ketika ayah atau ibunya sedang berada di suasana hati yang buruk.
Sahabatnya yang malang….
Sepertinya Nadine tahu apa yang membuatnya bisa dekat dengan kedua saudara kembar ini. Itu karena mereka memiliki nasib yang serupa. Keluarga mereka utuh, namun rasanya seperti tidak utuh.