02. Hari yang Sial

1194 Words
Benar-benar hari yang sial! Dari awal Genta memang tidak menyukai pesta. Dia sudah berencana untuk tidak datang. Namun temannya, Pram, meneleponnya terus menerus dan memintanya untuk datang ke pesta ulang tahun ayahnya yang sekaligus pemilik rumah sakit tempat Genta bekerja. Sekarang Genta menyesal kenapa dia harus menuruti permintaan Pram. Berkat itu juga dia harus mendapati jasnya tersiram jus jeruk milik gadis yang saat ini sedang menunduk takut di hadapannya. Genta menghela nafasnya perlahan, berusaha meredam amarahnya. Namun bukannya helaan nafas pelan yang keluar melainkan helaan nafas kasar. Helaan nafas kasar itu membuat gadis di depannya semakin ketakutan. “Ma-maaf, saya nggak sengaja.” Mata Genta mengikuti tangan gadis itu yang mulai menyeka bagian jasnya yang terkena jus jeruk. Aroma jus jeruk itu mulai menyeruak ke indra penciumannya, membuat emosi Genta semakin naik. Dia benci aroma jeruk! “Ma-maaf, saya bener-bener nggak sengaja,” ucapnya yang entah sudah keberapa kali. Yang jelas Genta mulai muak dengan permintaan maaf itu. Genta bukan orang yang penyabar. Dia tipe orang yang sulit mengendalikan amarahnya, dan melihat gadis itu dengan cerobohnya menumpahkan minuman ke jas miliknya membuat Genta ingin meledak. Genta sudah bersiap untuk mengeluarkan sumpah serapahnya. Namun tangisan gadis itu membuatnya menelan kembali makiannya. Sial! Kenapa dia menangis?! “Hei, kenapa malah nangis?!” ucap Genta panik. Orang-orang menatap keduanya dengan tatapan penasaran. Sebagian besar bahkan menatap Genta dengan tatapan menuduh seolah Genta yang membuat gadis ini menangis. Hah, yang benar saja! Tidak mau mengundang semakin banyak perhatian, Genta langsung menarik lengan kurus itu dan menyeretnya keluar dari ballroom. *** “Sudah selesai?” Nadine mengangguk malu sambil sesekali menyeka air matanya yang kini mulai mereda. Tadi tanpa sadar dia menangis di hadapan pria itu, dan Nadine pun juga tidak tahu apa yang membuatnya menangis seperti tadi. Apakah karena panik? Takut? Atau itu hanya luapan emosi yang sudah ia tahan sejak mengobrol dengan budenya tadi? Entahlah, Nadine pun bingung. “Saya yang kamu siram tapi kenapa jadi kamu yang nangis?” Akhirnya Genta berhasil mengeluarkan uneg-unegnya. Pria itu terlihat menyugar rambut lebatnya frustasi. Sedangkan Nadine hanya bisa memandangnya dengan tatapan penyesalan. Mata Nadine turun ke jas yang dikenakan pria di depannya. Jas itu basah! Jas yang tadinya berwarna abu muda kini berubah warna menjadi jingga di bagian depannya. ‘Jus jeruk sialan!’ rutuk Nadine dalam hati. “Sa-saya bisa bantu cuciin jasnya sebentar…“ “Itu pun kalau Mas nggak keberatan,” ucap Nadine hati-hati. Nadine sadar dia salah. Dia berjalan dengan tidak hati-hati sehingga menyebabkan jas pria itu tersiram minuman miliknya. Dia merasa punya tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini. “Kamu mau cuci dimana?” sangsinya. “Ada toilet, saya bisa cuci disana.” “Nggak usah, saya mau langsung pulang aja.” Genta sudah tidak berselera melanjutkan pesta. Suasana hatinya sudah terlanjur buruk! “Tapi pestanya kan baru mulai.” “Noda di jas itu juga harus buru-buru dicuci, kalau enggak bakalan berbekas,” kata Nadine yang seolah paham soal cuci mencuci. Padahal mencuci saja tidak pernah! Well, informasi ini ia dapat dari Bi Erna—asisten rumah tangga di rumahnya. Bi Erna selalu mengatakan hal yang sama setiap kali Nadine menumpahkan sesuatu di bajunya. Genta terlihat berpikir sejenak. Sebenarnya dia malas berhadapan dengan orang yang tidak ia kenal. Ia cenderung tidak suka terlibat masalah lebih jauh dengan orang yang tidak dikenalnya. Namun masalah kali ini mungkin bisa ia kecualikan karena dia tidak mau ada noda yang berbekas di jas kesayangannya. Lagipula, dia juga sudah jauh-jauh datang ke sini, dia bahkan harus menembus kemacetan demi bisa menghadiri pesta ini. Rugi rasanya jika ia pulang begitu saja tanpa memberi salam ke pemilik pesta. “Oke,” putus Genta. Tangannya mulai melepas jas yang menyisakan kemeja putih polos di tubuhnya. Ia lalu menyerahkan jas tersebut kepada gadis di depannya. Nadine menerima jas itu dan mulai berjalan menuju salah satu toilet yang terletak tidak jauh dari pintu masuk ballroom. Namun matanya menyipit saat ia merasakan langkah seseorang yang mengikutinya. “Kenapa berhenti?” tanya Genta saat mendapati Nadine yang tiba-tiba berhenti. Nadine memutar tubuhnya dan menatap pria itu waspada. “Kenapa ngikutin saya?” “Karena kamu bawa jas saya.” Jadi pria ini tidak percaya padanya? “Mas nggak usah khawatir, saya nggak akan bawa kabur jas ini. Nggak tertarik juga.” “Saya cuma takut kamu ngerusakin jas saya, itu limited edition.” Genta tidak bohong. Jas itu memang edisi terbatas. Tapi yang terpenting adalah jas itu pemberian mendiang ayahnya, itu sebabnya dia tidak bisa mempercayakan jas itu ke sembarang orang. “Nggak akan saya rusakin. Jadi Mas tunggu disini aja.” “Gimana bisa saya percaya?” Nadine menggigit bibir bawahnya kesal. “Yaudah kalau nggak percaya, ambil lagi jasnya. Cuci aja sendiri!” “Katanya mau tanggung jawab?” “Saya tanggung jawab kok, tapi Mas tunggu disini aja. Nggak usah ngikut sampai kamar mandi. Kalau dilihat orang nanti gimana? Takutnya mereka mikir yang enggak-enggak.” Genta mengamati area di sekitar mereka yang terlihat sepi. Di lantai ini tidak ada siapapun selain mereka berdua. Para tamu pasti sedang sibuk di dalam ballroom. “Nggak ada siapa-siapa disini. Cuma ada kita berdua,” kata Genta bersikeras. “Lagian saya cuma bakal liatin dari lorong kamar mandi aja, nggak akan sampai masuk ke dalam. Saya nggak segila itu.” Mau sampai kamar mandi atau cuma di lorong, tetap saja Nadine keberatan! Dia ini perempuan, dan berduaan bersama pria asing di ruang yang sepi tentu membuatnya tidak nyaman. “Terserah.” Nadine lalu melanjutkan langkahnya. Genta mengikuti perempuan itu sambil diam-diam tersenyum kecil. Gadis ini mengingatkannya pada Anya, putrinya. Mereka sama-sama suka meledak-ledak. *** “Udah belum?” Saat ini Genta sedang menunggu Nadine mencuci jasnya. Gadis itu mencucinya di kamar mandi wanita, jadi Genta menunggu di luar, seperti ucapannya. “Belum!” teriak Nadine dari dalam. “Kenapa susah banget sih,” omel Nadine dengan suara pelan. Sudah hampir lima belas menit, namun Nadine belum juga berhasil menghilangkan noda jingga di jas pria itu. Sekarang ia menyesal kenapa dia harus menyanggupi untuk mencuci jas ini dengan tangannya sendiri? Padahal jelas-jelas ia tidak ahli dalam hal mencuci! “Lama banget, kamu beneran bisa nggak sih?” Komentar Genta membuat Nadine semakin uring-uringan. Dengan kesal ia mengucek jas itu dengan sekuat tenaga, sambil membayangkan jas ini adalah si pemilik jas. “Jangan dikucek kenceng-kenceng, jas saya bisa rusak nanti.” Ucapan Genta langsung menghentikan pergerakan Nadine. Pria itu cenayang ya?! Nadine menyerah. Dia tidak bisa menghilangkan nodanya. Apa dia bilang saja ke pria itu kalau dia akan mencucinya di laundry? Atau dia bilang saja akan membelikannya yang baru? Tapi pria tadi bilang jas ini limited edition? “Gimana ini…” rengek Nadine, meratapi nasib jas di tangannya. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, dan tertutup dengan kencang. Nadine yang tadinya sibuk mencuci di depan wastafel langsung terkesiap. Nadine melotot mendapati Genta yang kini berada di hadapannya. Pria itu masuk ke toilet wanita! Nadine sudah akan berteriak, namun Genta lebih gesit. Genta menutup mulut Nadine dengan tangan kanannya sebelum gadis itu sempat berteriak. Ia lalu menariknya ke salah satu bilik kamar mandi, dan menguncinya dari dalam. Nadine panik. Mau apa pria asing ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD