Seorang gadis cantik dengan gaun peach selututnya terlihat sedang mengendap-ngendap di tengah kerumunan pesta. Dengan kaki jenjangnya, ia pun berhasil kabur dari hiruk pikuk pesta dan memilih berdiri di pojok ruangan sendirian. Sosok itu adalah Nadine Wijaya, anak bungsu dari Aryo Wijaya yang seorang dokter sekaligus pemilik RS. Medika Wijaya.
Hari ini adalah ulang tahun ayahnya, dan seperti biasa dilakukan perayaan besar-besaran di ballroom hotel dengan mengundang keluarga besar dan rekan kerja ayahnya.
Setiap tahun ayahnya memang menyewa ballroom hotel khusus untuk merayakan ulang tahun beliau. Tidak hanya itu, beliau juga menyewa kamar-kamar hotel disini untuk tempatnya menginap bersama keluarga besarnya.
Menit demi menit berlalu, namun gadis 23 tahun itu masih tidak bergeming dari tempatnya. Matanya masih asyik mengamati pemandangan di depannya yang tampak tidak familiar. Banyak orang asing yang tidak ia kenal, kebanyakan adalah rekan kerja ayahnya yang juga seorang dokter.
Semua orang terlihat akrab. Kedua kakaknya juga terlihat sangat menikmati pesta. Kedua kakaknya juga berprofesi sebagai dokter di RS. Medika Wijaya. Kakak pertamanya, Pramudya merupakan dokter spesialis bedah jantung di sana. Sedangkan kakak keduanya, Retha merupakan dokter residen (*Residen : Dokter umum yang sedang menjalani pendidikan spesialis).
Pantas mereka terlihat akrab, mereka sudah saling kenal dengan orang-orang disini karena rekan satu profesi. Sepertinya hanya Nadine saja yang merasa asing. Dia merasa sesak dan ingin kabur saja rasanya.
Mata Nadine berpindah ke kerumunan lain. Kali ini perkumpulan keluarga besar ayahnya. Nadine langsung menelan ludahnya gugup. Berkumpul dengan keluarga besar ayahnya juga bukan pilihan yang bagus.
“Nadine,” tegur seseorang di belakangnya membuat gadis yang disebut Nadine tadi terlonjak kaget.
“Mama bikin kaget aja.”
“Dari tadi Mama cariin nggak tahunya malah mojok di sini. Kamu ngapain disini sendirian?” tanya Iriana, Ibu Nadine.
“E-enggak, cuma mau… ambil minuman,” kata Nadine yang langsung menyambar minuman dari nampan yang dibawa pramusaji di sana.
“Ayo ikut kumpul sama yang lain, dari tadi bude sama tante kamu udah nyariin.”
Iriana meraih pergelangan tangan putrinya, bermaksud menggandengnya menuju ke tengah pesta. Namun Nadine buru-buru menjauh.
“Bisa nggak Nadine nggak usah ikut kumpul-kumpul keluarga?” cicitnya takut-takut.
Pertemuan keluarga selalu membuat Nadine takut. Ia sudah hafal apa yang akan dibahas oleh orang-orang di sana, dan Nadine tidak siap dengan itu.
“Cuma nyapa sebentar aja kok, Nad. Nggak akan lama,” bujuk ibunya. Namun Nadine masih ragu.
“Mama temenin,” bujuknya lagi.
Nadine masih terlihat enggan. Namun melihat wajah ibunya yang memohon penuh harap membuatnya tidak tega.
Dia yakin jika ia memilih tidak menunjukan batang hidungnya pasti ibunya yang akan jadi sasaran. Nadine tahu betul bagaimana watak keluarga besar ayahnya.
“Janji cuma sebentar?” cicit Nadine sambil mengulurkan tangan kanannya.
Iriana menyambut tangan putrinya sambil tersenyum lega. “Iya, Sayang. Mama janji nggak akan lama.”
***
Di sinilah Nadine sekarang, berada di tengah-tengah keluarga besar ayahnya dengan perasaan was-was.
“Ini dia yang ditunggu dari tadi. Dari mana aja kamu, Nadine? Pram sama Retha aja udah nyapa bude dari tadi, kamu malah ngilang,” omel budenya.
“Ta-tadi… lagi cari minum,” jawabnya sambil menunjukkan gelas minuman yang ia bawa. Saking gugupnya Nadine sampai tidak sadar kalau masih membawa gelas yang diambilnya secara asal tadi.
“Bude denger dari papa kamu, katanya kamu lagi ngerjain skripsi, ya?”
Nadine menelan ludahnya gugup. Ini dia yang dia takutkan. “Iya, Bude.”
“Udah sampai mana?”
Nadine sudah mulai gelisah. Dia tidak mungkin mengatakan pada budenya kalau dia masih berkutat menulis latar belakang. Bisa habis dicecar dia nanti!
“Bantu doa aja ya, Mbak, biar skripsinya Nadine bisa cepet selesai,” potong Ibu Nadine.
Nadine langsung bersorak dalam hati. Dia lega karena ibunya menyela di saat yang tepat.
“Kamu masih suka main makeup?” Budenya kembali bertanya, kali ini tanpa senyum ramah di wajahnya.
“Masih suka ambil job makeup?” tanyanya lagi. Nadine memucat di tempatnya. Tangannya mulai berkeringat dingin membuatnya takut gelas di genggamannya bisa tergelincir kapan saja.
“Kamu tahu Papa kamu nggak suka itu, tapi kenapa masih kamu lakukan?” Budenya bertanya dengan sinis. Senyum miringnya seolah puas karena telah menemukan titik terlemah Nadine.
Nadine memang menyukai makeup dari dulu. Kecintaannya pada makeup membuatnya sempat berniat mengambil kuliah jurusan tata rias dan busana. Namun hal itu ditentang oleh ayahnya.
Ayah Nadine terobsesi menjadikan ketiga anaknya dokter seperti dirinya. Namun sayang, ambisi ayahnya tidak bisa tercapai karena anak bungsunya tidak punya harapan untuk menjadi dokter karena kapasitas otaknya.
Berkali-kali Nadine mencoba mendaftar di jurusan kedokteran, mulai dari negeri hingga swasta, namun tidak ada satupun yang mau menerimanya.
Nadine bahkan sampai gap year atas perintah ayahnya, dan memutuskan untuk belajar setahun penuh agar bisa diterima di jurusan kedokteran. Namun hasilnya nihil, dia tetap tidak diterima sekeras apapun ia berusaha.
Nadine bersyukur pada akhirnya ayahnya menyerah untuk menjadikannya dokter seperti kakak-kakaknya. Meski begitu, Nadine tetap tidak bisa menjalani hidup seperti kemauannya. Ia tetap disetir oleh ayahnya. Jurusannya yang sekarang pun juga atas perintah ayahnya.
“Kamu sudah gagal menjadi dokter, seenggaknya coba tekuni jurusan kamu yang sekarang. Jadi yang terbaik di jurusan kamu, jangan bikin malu keluarga besar Wijaya, terutama ayahmu.”
Keluarga besar Nadine dari pihak ayahnya memang mayoritas seorang dokter. Rumah sakit yang diwariskan ke ayahnya tadinya adalah milik kakek Nadine. Itu sebabnya kegagalan Nadine menjadi dokter merupakan aib bagi keluarga mereka.
“Jurusan Psikologi itu nggak susah, jadi apa yang bikin kuliah kamu nggak selesai-selesai? Lihat sepupu kamu, mereka sepantaran sama kamu dan mereka sudah lulus dari setahun yang lalu.”
“Lihat juga kedua kakak kamu. Contoh mereka. Mereka sukses jadi dokter karena kerja keras mereka. Nggak kayak kamu kerjanya main-main aja, mimpi apa Aryo punya anak susah diatur macam kamu?”
Lagi-lagi dibandingkan…
Nadine hanya bisa tersenyum getir mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut budenya. Dibanding-bandingkan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari baginya, tapi tidak tahu kenapa rasanya tetap saja menyakitkan.
Keluarganya hanya melihat kegagalannya tanpa tahu proses apa yang Nadine lalui. Mereka tidak tahu sekeras apa Nadine mengimbangi otak cemerlang kedua kakak dan sepupu-sepupunya agar tidak tertinggal.
Mereka tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu kesulitan apa yang tengah Nadine hadapi. Hal yang mereka yakini hanyalah Nadine yang tidak mau berusaha, Nadine yang tidak bekerja keras, Nadine yang tidak suka belajar. Di mata mereka Nadine adalah sosok gadis berotak kosong yang hanya pandai bersolek.
“Mbak, setiap orang kan punya kelebihan masing-masing. Nadine memang gagal menjadi dokter, tapi bukan berarti Nadine gagal dalam hidupnya. Aku yakin Nadine akan sukses di jalan lain,” kata Iriana berusaha menyelamatkan putri bungsunya dari cecaran kakak iparnya.
“Ini karena kamu terlalu memanjakan dia! Anakmu ini nggak ada bedanya sama kamu, bisanya cuma di rumah dan nggak bisa apa-apa. Aku bersyukur Pram dan Retha mewarisi kecerdasan Papanya, kalau enggak mungkin dia akan bernasib sama kayak adiknya ini!”
Ucapan menohok budenya yang ditujukan ke ibunya membuat Nadine tidak terima. Ia sudah akan membalas perkataan pedas itu namun tangannya segera ditahan ibunya. Iriana menggeleng, tanda bahwa ia tidak mau Nadine memperpanjang masalah ini.
“Tadi katanya kepala kamu pusing? Sana istirahat, biar tamu lainnya Mama yang urus.”
Nadine menatap ibunya ragu. Ibunya sengaja berbohong agar Nadine bisa segera lepas dari situasi tidak mengenakkan ini. Namun Nadine juga tidak tega membuat ibunya terjebak sendirian di situasi seperti ini.
“Udah sana, istirahat di kamar. Nanti kalau papa kamu nanyain biar Mama yang jawab.”
Dengan berat hati Nadine menjauh dari kerumunan. Ia berjalan gontai menuju kamar hotel, seperti perintah ibunya. Ibunya benar, ia memang butuh istirahat.
‘Tapi Mama gimana?’ batin Nadine tidak tenang. Matanya sesekali menoleh ke belakang berusaha memastikan ibunya baik-baik saja di tengah kerumunan keluarga besar ayahnya.
Tanpa disangka tindakan tidak hati-hatinya menimbulkan masalah baru. Terlalu fokus menoleh ke belakang membuatnya tanpa sengaja menabrak orang di depannya. Gelas berisi jus jeruknya tumpah mengenai sisi kiri jas orang itu.
Orang dengan jas yang sudah basah karena jus jeruk itu menatap Nadine marah. Nadine buru-buru mengelap jas itu dengan tangannya yang gemetaran. “Ma-maaf, saya nggak sengaja.”
Orang itu tidak menjawab. Namun ekspresinya mengatakan betapa kesalnya dia. Nadine mulai takut, terlebih saat kekacauan ini mengundang banyak mata para tamu di pesta.
Tanpa sadar air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. Ia panik. Nadine takut kekacauan ini menimbulkan kemarahan ayah dan keluarga besarnya.