PROLOG
"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Kalau kamu mau, besok aku bisa mengantarmu wisata sekitar sini,” kata Sissy.
“Tidak perlu. Aku akan menjaga Pak Diego di rumah sakit saja,” tolak Garry halus dan Sissy mengangguk. Dia tidak memaksa karena tahu bos pria itu masih dirawat.
“Maaf nanti tidak bisa mengajakmu masuk karena sudah terlalu malam. Lain kali …,” perkataan Sissy terputus saat Garry tiba-tiba menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Ada apa?" tanya Sissy bingung. Garry tidak mengatakan apapun, pria itu langsung menarik tengkuknya dan menciumnya.
Sissy terbelalak dengan detak jantung yang menggila, namun segila apapun apa yang terjadi sekarang, ini adalah hal yang tidak akan ditolaknya, jadi dia menutup matanya untuk mendalami apa yang baru pertama kali dia alami ini.
Ciuman itu hanya berlangsung sekejap. Belum sempat dia meresapi lebih jauh, pria itu sudah melepaskannya. Perlahan Sissy membuka matanya dan menatap sayu pada pria tampan yang telah mencuri ciuman pertamanya. Otaknya masih belum berfungsi dengan baik karena keterkejutan dan euforia dari ciuman indah tadi.
“Apa kau tidak bisa berhenti bicara?” tanya Garry lembut setelah sesi ciuman singkat mereka. Sebenarnya dia tidak terganggu dengan kecerewetan Sissy, dia hanya merasa gemas dan penasaran akan rasa bibir gadis itu yang tidak berhenti bicara sejak tadi. Ternyata rasanya sangat manis, semanis wajah gadis itu yang merona sekarang.
“A-aku terlalu berisik ya?” tanya Sissy sambil menunduk. Dia merasa sedih dan malu karena berpikir pria itu menciumnya hanya agar dirinya berhenti bicara, padahal itu adalah ciuman pertamanya. Sampai sekarang saja dia masih grogi dan jantungnya berdebar tidak keruan.
Garry tidak terbiasa dengan wanita yang malu malu dalam artian sebenarnya, bukan berpura pura malu. Dia mengangkat dagu wanita itu dan melihat kalau wajahnya sangat merah, bahkan di bawah sinar bulan yang redup pun dia masih bisa melihat wajah meronanya, yang malah membuatnya penasaran apakah bisa semakin merona?
“Tidak masalah. Aku suka mendengar suaramu,” jawab Garry lembut yang ternyata memang membuat wajah Sissy semakin merah. Garry memang perayu ulung, tapi kali ini dia memang jujur. Dia suka mendengar suara Sissy yang riang berceloteh, seakan hidupnya tanpa beban. Dan ternyata melihat wajah Sissy yang merona juga menarik untuknya.
Sissy yang masih malu merasa lidahnya kelu, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Begitupula Garry yang terdiam, tiba-tiba dia merasa sangat ingin mencium Sissy lagi saat melihat wajah Sissy sekarang yang menurutnya sangat menggemaskan. Sebenarnya bukan hanya mencium, dia bahkan ingin membawa Sissy ke hotel, namun akal sehatnya masih ada, jadi dia mengurungkan niat gilanya itu. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah melajukan kembali mobilnya sesuai dengan alamat yang ada di aplikasi peta di ponselnya. Tidak sampai lima menit, mereka sudah tiba di tujuan, sebuah rumah mewah bergaya klasik.
“A -aku masuk dulu ya. Terima kasih sudah mengantarku. Lain kali kita bertemu lagi,” jawab Sissy pamit sambil tertawa canggung.
“Lebih baik kita tidak bertemu lagi.” jawab Garry sambil tersenyum, berbanding terbalik dengan wajah Sissy yang langsung mendung saat mendengar perkataan Garry. Kebahagiannya saat mendengar Garry mengatakan menyukai suaranya tadi langsung sirna.
“Jangan menangis,” kata Garry sambil membelai pipi Sissy yang sekarang hampir menangis. Dia tidak nyaman dengan kejujuran yang dia lihat di mata wanita itu. Hidupnya yang penuh tipu muslihat dan manipulasi untuk bertahan hidup membuatnya tidak terbiasa dengan ketulusan.
“Tapi …,”
“Aku adalah pembunuh bayaran. Carilah pria lain yang lebih pantas untukmu. Masuk dan istirahatlah!” kata Garry memotong perkataan Sissy.
Dengan sedih Sissy keluar dari mobil dan terus menatap sendu pada mobil yang sudah berjalan menjauh dari rumahnya. Dia tetap disana hingga mobil itu hilang dari pandangan. Setelahnya, dengan lunglai dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Sepanjang malam Sissy tidak bisa tidur, otaknya terus mengulang kejadian tidak terduga hari ini. Mulai dari mereka berkenalan singkat di siang hari, hingga perseteruan yang hampir merenggut nyawanya dan berakhir dengan ciuman pertamanya yang begitu indah dengan bule super tampan bermanik abu misterius, yang dalam sekejap langsung memerangkap hatinya.
Sesekali dia tersenyum saat teringat awal pertemuan mereka di rumah sahabatnya, saat dirinya begitu terpesona saat pertama kali melihat pria itu.
Wajah tampan dengan mata berwarna abu-abu dan alis tebal, hidung mancung dan bibir seksi, apalagi lesung pipit di kedua pipi pria itu saat tersenyum, dan masih ditambah dengan janggut tipis yang menghiasi rahang persegi pria itu hingga ke dagu belahnya yang menambah kesan macho.
“Ladies, kenalkan ini asistenku. Garry Kean,” kata Diego memperkenalkan.
“Hai Garry, aku Sissy,” sapanya memperkenalkan diri sambil tersenyum lebar. Dia yang sejak tadi memang sudah menunggu untuk diperkenalkan langsung maju untuk menjabat tangan Garry Kean. Dia tidak mau keduluan teman-temannya!
“Garry,” jawab Garry sambil menjabat tangannya. Dia begitu terpesona sampai Jenny, sahabatnya, menyadarkannya.
“Ih Sissy, gantian dong!” komplain Jenny sambil menyikut temannya hingga tangan Sissy terlepas dan dia langsung menyambar tangan Garry.
“Jenny,” sapa Jenny memperkenalkan diri. Dia cemberut saat melihat Jenny tersenyum manis dan mengerjapkan bulu matanya menggoda Garry. Dia cemberut saat melihat kegenitan temannya yang satu itu.
“Garry” jawab Garry kembali tersenyum.
“Gantian!” sekarang Rose yang menyenggol Jenny yang langsung melepaskan tangan Garry.
“Rose,” kata Rose dengan wajah datar sambil mengulurkan tangan. Saat Garry menyalaminya, wanita itu memajukan tubuhnya dan berbisik di telinga Garry. Hal itu membuatnya semakin cemberut. Apa semua sahabatnya mau bersaing dengannya?
Perkenalan itu singkat, ditambah dengan beberapa basa basi percakapan sebelum mereka berpisah lagi.
Dia dan teman-temannya memang penggemar pria tampan dan biasanya hanya sebatas itu. Tapi ciuman tadi telah mengubah segalanya untuknya..
Bagi pria setampan Garry Kean, mungkin ciuman itu tidak berarti, tapi baginya, bukan hanya ciuman pertamanya yang dicuri, namun hatinya juga ditawan oleh sang pembunuh bayaran..
***