I found a love for me
Darling, just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me..
Ed Sharen
***
Rishi sekarang sudah berada di dalam kamarnya, sewaktu pulang kerja tadi Rishi langsung masuk kekamarnya dan hanya menyapa ayah dan ibunya yang sedang menonton TV diruang tengah sedang Rifa mungkin lagi belajar dikamarnya.
Untung tadi ia sempat makan malam di luar bersama mama Desta, Ayu. Tadi memang ia pulang terlambat karena lembur di toko sampai jam tujuh malam. Pesanan bunga yang dipesan Ayu lumayan banyak, memang Ayu tadi datang ke toko tempat Rishi bekerja untuk memesan bunga yang ia dapat recomended dari temannya.
Dan ia tak menyangka ternyata toko bunga itu tempat kerjanya Rishi, makanya dari waktunya bertemu beliau langsung menyampaikan amanah yang beliau terima dari kakak iparnya yang masih sedang berjuang di benua Amerika yang jauh di sana.
Rishi bahkan belum cerita soal pertemuannya dengan Ayu kepada orangtuanya, ia hanya bilang pada ayah dan ibunya kalau ia sudah makan. Ini bukan bentuk kebohongan pada orangtuanya, Rishi akan menceritakan besok pada ayah dan ibunya tentang pertemuannya dengan Ayu. Malam ini ia hanya ingin menenangkan dirinya setelah mendapat kabar kalau sebentar lagi penantiannya akan segera berakhir.
Dengan mata terpejam, Rishi berkali-kali menarik napas pelan dan membuangnya. Mencoba menenangkan rasa gemuruh pada dadanya.
Dengan membuka matanya, Rishi mengganti posisi yang tadinya berbaring diranjang menjadi duduk. Dengan gerakan pelan Rishi membuka laci meja kecil yang ada di samping ranjangnya. Pada tumpukan paling bawah terlihatnya figura foto, Rishi mengambilnya lalu menatapnya lekat. Disana ada fotonya dengan seorang pria dewasa yang sangat ia sayangi.
Menyentuh lembut foto pria di sampingnya, matanya kembali berkaca-kaca bahkan pandangan pada foto tersebut sudah kabur akibat kumpulan airmata dimatanya yang sudah siap jatuh membasahi pipi mulusnya. Kedipan matanya membuat airmatanya akhirnya jatuh kepipi lalu ke foto yang ada ditangannya tepatnya di mana posisi foto pria itu.
Aku kangen banget, Mas! batinnya pedih.
Menarik napas menenangkan dirinya, Rishi segera menyimpan kembali figura foto itu ke tempat semula. Kembali membaringkan tubuhnya Rishi menutup matanya, kembali lagi ia menangis dalam tidurnya. Itulah yang menemani tidurnya selama tiga tahun yang ini. Ia hanya berharap semuanya akan indah nantinya.
Keesokan paginya, seperti biasa setelah mandi dan sholat subuh. Rishi keluar dari kamarnya untuk membantu sang ibu yang sedang sibuk didapur. Begitu sampai didapur sederhana Rishi melihat ibunya sedang sibuk membuat bumbu untuk nasi goreng yang akan mereka santap pagi ini.
"Pagi Ibu," sapa Rishi mendekati ibunya lalu memeluknya dari belakang. Wati tersenyum begitu melihat putri sulungnya pagi ini sangat manja. Dengan gerakan pelan beliau berbalik hingga pelukan Rishi terlepas.
"Ada apa?" tanya Wati dengan wajah teduhnya, mau tak mau Rishi tersenyum. Ibunya memang sangat mengerti dirinya.
"Ayah belum pulang dari masjid, Bu?" Rishi sengaja mengulur waktu.
"Belum, mungkin sebentar lagi." Darman memang tidak akan sholat jama'ah di rumah setiap subuh, beliau akan ke masjid dekat rumahnya dan berjama'ah dengan para bapak-bapak tetangga sekitar rumahnya. Biasanya juga sholat maghrib hanya saja beliau suka menjadi imam sholat di keluarganya.
"Aku mau bicara Bu."
Wati menatapnya lekat lalu bertanya, "Mau bicara soal apa, Mbak?"
Rishi menghela napas, "Kemarin waktu aku pulang terlambat karena memang ada pesanan dari pelanggan, dan sempat makan malam sama pelanggan itu juga Bu. Dan pelanggan toko kemarin adalah Mama Ayu."
Wati tampak terkejut namun dengan cepat menguasai diri, "Terus, apa yang Mbak Ayu katakan?"
Rishi menatap ibunya dengan sendu. "Beliau bilang kalau Mami dan Papi segera pulang."
Wati tersenyum lembut kemudian menarik tangan putrinya dengan pelan membawanya duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.
"Iya, Mbak Ayu udah mengabari Ibu dan Ayah soal kepulangan Mbak Ulfa dan Mas Radit akan pulang lima bulan lagi. Sebenarnya kami selalu berkomunikasi dengan baik selama ini. Bahkan beberapa kali Mbak Ulfa juga menelepon Ayah dan Ibu, mereka menayakan kabar kamu juga."
Rishi tentu saja kaget sebab selama ini baik ayah maupun ibunya tak pernah menceritakan perihal seringnya komunikasi mereka selama ini. Dimana orangtuanya ternyata selalu mendapat kabar dari Ulfa dan Radit di Amerika.
"Kenapa Ibu nggak pernah kasih tahu soal ini ke aku."
Wati mengenggam tangan Rishi lembut, "Maafkan Ibu, Mbak! Bukan maksud kami nggak ingin kasih tahu hanya saja kami nggak mau Mbak kepikiran dan akhirnya jadi sedih."
"Tapi aku kan harus tahu juga Bu, setidaknya kabar mereka di sana."
Menarik kedalam pelukannya Wati mengelus punggung putrinya dengan sayang, bahu Rishi bergetar pelan tanda ia sedang menangis dalam pelukan ibunya. Dengan gerakan pelan Rishi menarik dirinya dalam pelukan hangat ibunya.
"Di sini aku selalu harap-harap cemas dengan keadaan di sana, dan dengan egoisnya kalian malah nggak memberikan kabar itu pada aku," protes Rishi.
"Mbak dengar dulu penjelasan Ibu. Kami..."
Belum sempat Wati menjelaskan maksudnya supaya putrinya tak salah paham, Rishi malah pergi berlalu masuk ke dalam kamarnya dengan cepat bahkan ketika melihat ayahnya sudah pulang dari masjid. Rishi malah terus berjalan masuk kekamar tanpa menyapa ayahnya yang sedang Darman menatap putri sulungnya dengan heran.
Darman mengernyit melihat istrinya mematung di dalam dapur, lalu segera menghampirinya kemudian bertanya.
"Ada apa, Bu?"
Wati melihat suaminya dan tersenyum sedih. "Rishi sepertinya marah sama kita Ayah, karena kita nggak jujur sama dia kalau selama ini kita sering komunikasi sama Mbak Ulfa dan Mas Radit di Amerika."
Darman menghembuskan napas. "Nanti biar Ayah yang bicara sama Rishi ya. Ibu nggak usah khawatir," sahut Darman sambil menepuk pelan kepala istrinya.
***
Rishi berangkat ke toko tiga puluh menit lebih cepat, maka dari itu ketika ia sampai toko bunga belum buka. Karena itu Rishi menunggu di depan toko sampai Diana datang. Sekarang masih pukul tujuh pagi berarti masih ada beberapa menit lagi Diana akan datang.
Bahkan Rishi tak ikut sarapan bersama keluarganya, bukannya apa. Hanya saja Rishi masih merasa kecewa akan sikap diam orangtuanya yang sebenarnya mengetahui kabar dari Amerika. Andaikan dari awal ia tahu mungkin saja Rishi bisa tenang dengan mengetahui keadaan di sana bukannya menebak-nebak sesuatu seperti ini.
Juga Rishi yang tak ikut sarapan, ia juga tak membawa bekal makan siang untuknya. Jadinya mungkin makan siangnya ia akan bisa di luar saja, untung saja ada rumah makan berada tak jauh dari toko ini sekitar dua rumah dengan berjalan kaki tempat biasa Rara membeli makan siangnya.
Lima belas menit berlalu terdengar suara kendaraan bermotor masuk ke dalam parkiran toko yang ternyata Diana dan suaminya yang datang. Begitu Diana melihat Rishi yang sudah datang duluan tersenyum begitupun dengan suaminya.
Diana menghampiri Rishi yang tengah duduk di depan toko.
"Selamat pagi Rishi," sapa Diana ceria.
Rishi berdiri dan tersenyum, "Pagi juga Mbak Diana.. Mas Fajar," balasnya dengan menyapa suami Diana juga, Fajar.
"Pagi juga Rishi." Fajar sambil tersenyum.
"Sayang aku jalan dulu ya," pamit Fajar kepada Diana.
Dengan cepat Diana mencium tangan suaminya, "Hati-hati dijalan ya, Sayang."
Fajar mengangguk dan tersenyum pula pada Rishi. "Saya duluan ya, Rishi, tolong jaga Diana. Kalau-kalau ada pelanggan ada yang godain istri saya, bilang ke saya ya."
Rishi tertawa keras atas godaan yang dilayangkan Fajar pada istrinya. Sedang Diana hanya tersenyum malu.
Ketika Fajar berlalu dengan sepeda motornya, Diana dengan cepat membuka toko segera diikuti oleh Rishi yang berada di belakangnya. Setelah terbuka mereka masuk ke dalam toko namun berbeda ruangan, Rishi masuk keruangan yang biasa ia tempati istirahat bersama Rara sedang Diana menuju ke ruang kerjanya.
Tak berselang lama Rara datang juga, Rishi sedang menyapu dekat pot-pot yang kotor.
"Pagi Rishi," sapanya ceria.
Rishi berbalik dan membalas, "Pagi juga Rara."
Mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing, bahkan Rishi sempat melupakan rasa kecewanya pada orangtuanya untuk sementara.
Makan siang sudah tiba, Rara yang siap-siap untuk ke luar membeli makanan dihadang oleh Rishi yang masih berjaga di toko.
"Kamu mau beli makanan di warung Bu Yuyun, Ra?"
Rara mengangguk, "Iya Rish, kenapa kamu mau nitip?"
"Iya Ra, aku titip nasi goreng pete ya," pesannya.
"Oke deh." Rara berlalu cepat.
Diana ternyata mendengar dua pegawainya tadi saling bicara kemudian mendekati Rishi dan bertanya.
"Kamu nggak bawa bekal dari rumah, Rish?" tanyanya.
Rishi meringis, "Hmm iya Mbak. Kebetulan Ibu nggak masak lebih," bohongnya.
"Ohh." Diana ber-oh panjang, kemudian kembali ke meja kasir.
Rishi menghembuskan napasnya, ia tak mungkin berkata jujur pada Diana kalau ia ada masalah di rumahnya. Walau Diana baik padanya namun ada rasa canggung pada dirinya.
Tak lama Rara datang membawa dia bungkus makanan yang ia beli di warung sebelah, "Rish, yokk makan siang dulu," ajaknya.
Menghentikan pekerjaannya Rishi pamit makan siang pada Diana, "Mbak, kami kedalam makan siang dulu ya." Diana hanya mengacungkan jempolnya.
Mereka makan dalam diam, seperti kemarin. Hari ini pun tak ada antaran untuk pelanggan. Makanya mereka bisa tetap stay di toko kembali. Rishi makan dengan lahap nasi goreng pete andalannya.
Dengan semangat Rishi terus memakan nasi goreng petenya yang sangat menggugah selera, Rara yang menatap Rishi hanya geleng-geleng kepala.
"Makannya pelan-pelan aja Rish, nanti kamu malah keselek lho."
Rishi tersenyum salah tingkah, "Iya nih, habisnya lapar banget. Apalagi ini makanan favorit aku."
"Emang kamu nggak sarapan pagi tadi?" tanya Rara.
Rishi otomatis menghentikan gerakan tangannya ingin memasukkan nasi kedalam mulutnya, "Sarapan kok, tapi cuma sedikit doang sih." Rishi kembali berbohong. Rara terlihat mengangguk tanpa curiga lalu kembali makan dengan tenang.
Melihat Rara tak bertanya lebih lanjut membuatnya sedikit tenang, lalu kembali memakan makanan di depannya yang sempat tertunda. Namun tiba-tiba Rara bersuara kembali.
"Kamu kalau ngomong sama pelanggan jangan dekat-dekat ya," ujar Rara
Rishi mengernyit dahinya, "Emang kenapa?"
"Nanti semua pelanggan pada pingsan nyium bau tak sedap dari mulut kamu."
Wajah Rishi sontak memerah, sedang Rara tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rishi sudah kayak tomat busuk saking malunya.
Rishi lupa, seharusnya ia tak boleh makan pete disaat jam kerja kayak begini sebab kalau berbicara dengan pelanggan bisa-bisa bau tak sedap keluar dari mulutnya membuat para pelanggan kabur dan tak jadi membeli bunga.
"Dasar si Nona pete," ejek Rara sambil menjulurkan lidahnya meledek Rishi yang sedang menggerutu panjang.
Bersambung...