Semua orang punya ketakutan dalam hidupnya, namun bagaimana cara kalian bisa menghadapinya dengan tegar..
Author
***
Sudah dua hari berlalu saat terakhir Rishi bertemu dengan Aaron, Rishi banyak diam. Kepikiran dengan berbagai pertanyaan pemuda itu, seolah ketakutannya kembali lagi. Ia sebenarnya tak ingin berbuat tak sopan pada Aaron yang sudah begitu baik padanya.
Namun ada hal yang tak bisa ia katakan pada Aaron yang notabene baru dalam hidupnya, bukan ia tak peka atas semua kebaikan Aaron. Hanya saja, ia punya batasan dalam berteman dengan pemuda. Ia tak mau Aaron jadi salah paham padanya. Makanya lebih baik ia membentengi diri seperti yang sudah-sudah Rishi lakukan pada setiap pemuda yang ingin dekat dengannya.
Belum lagi rasa menyesal kepada ayah dan ibunya, setiap mereka bertemu di rumah Rishi selalu merasa bersalah pada ayah dan ibu yang sudah memberikan kepercayaan padanya. Membuat Rishi terasa bebannya makin berat.
Sambil menghela napas lelah Rishi duduk diruang belakang tempat biasa ia istirahat makan siang bersama Rara di toko tempat mereka bekerja, Rara yang melihat kearah Rishi lalu kekotak makan gadis itu secara bergantian. Tak tahan dengan sikap Rishi akhirnya Rara menyentak lamunan Rishi dengan menepuk pelan lengan gadis itu.
"Hoii!!" Rishi terkesiap terbangun dari lamunannya dengan cepat kemudian menoleh kearah Rara yang menatapnya dengan cengiran polos.
"Apa?" Rishi bertanya dengan nada malas.
"Kamu kenapa sih? Aku perhatikan dua hari ini kamu nggak fokus, kerjaannya melamun aja. Sampai-sampai Mbak Diana tegur kamu berkali-kali."
"Nggak papa kok," sahut Rishi dengan senyum tipis.
"Bohong!! Hayoo ngaku kamu itu kenapa? Masih merasa bersalah sama Ayah kamu ya?" pertanyaan Rara tepat sasaran terbukti Rishi menganggukkan kepala. Rara menghela napas.
"Yaudah kalau gitu jujur aja sama Ayah kamu. Kan beres," saran Rara.
"Nggak semudah itu Ra, kamu tahu kan aku paling nggak mau lihat wajah kecewa Ayah aku."
"Lalu terus kenapa kamu nekat melakukannya?"
"Ya karena aku udah janji sama Ibu Kinan, nggak enak juga kalau-kalau Ibu Kinan nggak lagi jadi pelanggan tetap kita lagi."
Ya, alasan Rishi berbohong pada orangtuanya bukan hanya takut beliau akan kecewa padanya, alasan lainnya adalah Kinan adalah pelanggan tetap di toko tempat ia kerja. Dan demi menjaga kesopanan pada para pelanggan ia rela berbohong pada ayah dan ibunya.
"Iya sih, tapi emang kenapa sih Ayah kamu melarang kamu dekat sama cowok-cowok?"
Nah, pertanyaan ini yang membuat Rishi gugup. Entah apa yang harus ia jawab lagi, rahasianya memang tak ada tahu selain keluarganya dan membagi rahasia itu pada Rara bukan sesuatu yang pantas walaupun Rara adalah teman dekatnya.
"Hmm.. Bukannya melarang hanya saja aku memang mau fokus sama keluarga aku dulu," elak Rishi.
"Yakin?" Rara masih tak percaya.
"Yupss," jawab Rishi yakin.
"Kalau emang bukan melarang? Kenapa kamu harus berbohong sama Ayah kamu waktu lagi berkunjung ke rumah Ibu Kinan?"
Skakmat...
Rishi duduk gelisah, hal itu pun tak luput dari pandangan Rara yang menyipitkan mata curiga. Dengan lembut Rara mengambil tangan Rishi lalu menggenggamnya.
"Aku tahu, pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku. Aku nggak maksa kok, tapi kamu harus ingat kalau kamu butuh teman cerita aku siap kok. Jadi jangan sungkan yah?" Rishi menatap Rara dengan lekat lalu membalas genggaman Rara sambil tersenyum terima kasih.
"Makasih ya udah mau mengerti Ra." Rara hanya menganggukan kepalanya.
"Yaudah makan gih, kasihan makanan kamu tuh daritadi dianggurin." tunjuk Rara pada kotak makanan milik Rishi yang belum ia sentuh sedari tadi akibat banyaknya melamun.
Rishi tersenyum lalu melanjutkan makan yang tadi disiapkan oleh ibunya. Memang ia lebih suka membawa bekal makanan dari rumah, selain untuk menghemat uang jajannya Rishi juga sangat tergila-gila pada masakan sang ibu. Berbeda dengan Rara yang hidup sendirian di ibu kota membuatnya harus memasak sendiri untuk makan sehari-hari.
Akhirnya mereka makan siang dengan tenang, setelah mencuci peralatan makan Rishi kembali kedepan toko untuk berjaga, ia memang terbiasa mencuci kotak makanannya, selain lebih praktis ia juga tak repot lagi kalau sudah pulang ke rumahnya nanti.
Hari ini pengantaran bunga untuk pelanggan diliburkan makanya baik Rara maupun Rishi tak ada jadwal mengantar. Mereka berdua stay di toko sampai tutup nanti. Diana yang berjaga di depan toko tersenyum begitu melihat Rara dan Rishi keluar bersamaan.
"Udah makannya?" tanyanya.
"Iya Mbak," jawab mereka kompak.
"Kalau gitu giliran Mbak ya yang makan, kalian jaga toko."
"Siap Mbak," sahut mereka berdua yang lagi-lagi kompak.
Diana tersenyum kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya untuk makan siang,
Rishi kembali pada posisinya yaitu meja kasir yang biasa Diana tempati, sedang Rara merapikan beberapa pot yang tanahnya berantakan dilantai toko. Rishi tersenyum ketika ada yang masuk ke dalam toko namun ketika melihat siapa orang yang berkunjung senyuman makin lebar.
"Mama Ayu."
***
"Kamu apa kabar, Nak?" tanya Ajeng Rahayu Pratiwi yang biasa Rishi panggil dengan mama Ayu. Setelah tadi pamit ke Diana dan Rara kalau ia akan ke luar sebentar untuk berbicara dengan Ayu. Diana mengizinkan saja sebab memang toko belum terlalu ramai namun tetap Diana kasih waktu tiga puluh lima menit saja.
Ayu adalah mama dari Desta, dokter yang pernah memeriksa tangannya sekaligus kakak kelas Rishi sewaktu SMA.
"Alhamdulillah baik kok Ma, kalau Mama apa kabar?" Ayu tersenyum lembut dengan mengelus pelan lengan Rishi.
"Alhamdulillah Mama sehat sayang."
"Ada apa ya, Ma? Katanya tadi ada yang ingin Mama sampaikan?" Ayu terlihat menghela napas panjang lalu menatap Rishi.
"Mama dapat pesan dari Amerika, kalau mereka sebentar lagi akan pulang." Ayu terdiam sejenak menunggu bagaimana reaksi Rishi, dan terbukti tubuh Rishi terlihat menegang di tempatnya. Ayu menyentuh pelan tangan Rishi yang ada dipangkuan gadis itu. Rishi terkesiap lalu menatap Ayu dengan mata berkaca-kaca.
"Kapan Ma?" tanya Rishi dengan nada yang lirih.
"Lima bulan lagi, mereka akan kembali ke sini. Katanya mereka sangat kangen sama kamu Nak, hanya saja mereka tak tega kalau sampai mendengar suara kamu. Makanya mereka di sana tak pernah mengabari kamu." Rishi akhirnya menangis dengan tersedu-sedu. Ayu segera menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya, inilah membuat Ayu tak tega menyampaikan hal ini pada Rishi. Sebab beliau tahu kalau gadis dalam pelukannya ini pasti akan menangis.
"Aku kangen banget sama Mami dan Papi,Ma," gumam Rishi dalam tangisnya.
"Iya, mereka juga kangen banget sama kamu Sayang." Ayu masih terus memeluknya sambil mengusap punggung Rishi. "Kamu sabar ya Sayang, kamu berdoa semoga mereka di sana selalu sehat dan secepatnya pulang membawa kabar bahagia." Rishi mengangguk dalam pelukan Ayu.
Setelah agak tenang, Rishi menjauhkan tubuhnya lalu menatap Ayu. "Pasti Ma, bahkan dalam setiap doa. Aku selalu minta kepada Allah untuk kesehatan dan keselamatan Mami, Papi juga dia." Ayu menganggukkan kepalanya.
"Aamiin Sayang, kamu yang sabar ya."
"Pasti Ma, pasti."
Ya, Rishi mempunyai keyakinan yang kuat kalau mereka akan membawa pulang bahagia. Itu yang selalu ia tanamkan dalam dirinya. Dengan keyakinan itu juga kadang membuat Rishi ketakutan.
Ketakutan akan kabar yang buruk akan ia dengar.
Aku hanya berharap, sesuatu yang dijanjikan Allah akan indah pada waktunya. Batinnya.
Bersambung...