Setengah jam telah berlalu, sudah beberapa calon murid yang maju untuk mengambil kertas di atas panggung. Sementara itu, kali Harold mulai keram karena terlalu lama menunggu, jika saja kedua kakinya tidak dialiri Mana, mungkin saja ia sudah tumbang sekarang ini.
Semua orang yang ada di sekitarnya mulai berkenalan satu sama lain dan mulai berbincang-bincang antar individu maupun kelompok.
Tentu saja pada awalnya terdapat dua atau tiga orang yang mendatangi Harold untuk mengajaknya berbincang, namun setelah mulutnya yang sarkastik muncul, mereka mulai menghindarinya. Kau tahu? sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaan ini.
Karena tidak memiliki teman, Harold memilih diam di tempat dan menunggu hingga gilirannya tiba saja.
"Kau!? Apa yang orang sepertimu lakukan disini? Jangan bilang kau mendapat sebuah surat undangan yang sama, Harold Sieghard?"
"?!"
Seorang perempuan tiba-tiba muncul di sampingnya dan membuat Harold terkejut, tentu saja Harold tidak menunjukkannya secara langsung, tapi jantungnya benar benar hampir copot tadi.
Seseorang itu adalah Aurel Bladeheart, Tunangannya, atau lebih tepat disebut dengan Tunangan politiknya. Harold sudah memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengannya karena tidak ingin kejadian di kehidupan sebelumnya terulang kembali, dimana Aurel mati karenanya.
"Hmph!"
Membuang mukanya, Harold meninggalkan wanita itu. Mengacuhkannya dan menjauh darinya sebisa mungkin.
"A-apa?!" Aurel nampak mulai geram dengan sikap Harold yang sombong, seakan-akan hanya menganggap keberadaannya seperti angin yang lewat belaka.
Namun, itu hanya sesaat saja sebelum Aurel merubah mukanya dengan raut wajah licik. Dia tersenyum penuh kemenangan.
"Harold Sieghard! apakah kau datang kemari untuk merusak reputasi Akademi ini!?"
Langkah Harold terhenti, dan pandangan semua orang tertuju ke arahnya. Dari orang yang bercakap-cakap, maupun seorang guru yang sedang sibuk mengurusi data calon siswa.
Semua mata tertuju ke arahnya, karena mereka sangat mengenal sekali nama tersebut.
Seorang bangsawan yang memiliki reputasi buruk karena dirumorkan memporak-porandakan sebuah Desa hanya karena alasan yang sepele.
"Apa gadis itu baru saja mengucapkan Harold Sieghard!? Jadi pria yang memiliki mulut pisau tadi adalah Harold yang itu?"
"Jadi orang itu yang bernama Harold, dia hanya akan membuat nama Akademi Notweir menjadi jatuh jika mendaftar disini."
Beberapa desas desus mulai terdengar, masuk ke dalam telinganya. Namun, Harold masih bersikap tenang karena ia sudah tahu bahwa kejadian seperti ini cepat atau lambat pasti akan segera terjadi.
Berbalik, Harold menatap Aurel yang saat ini tersenyum penuh kemenangan, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya yang masih seperti papan cucian.
"Aurel Bladeheart, seorang wanita yang bahkan tidak dapat mengendalikan sihirnya dengan baik, dan kalah dalam pertandingan satu lawan satu denganku, pecundang sepertimu tidak pantas untuk memanggil namaku." Harold dengan arogannya.
"Kau..!!!"
Aurel mulai tersentak kesal, dan semua orang mulai kembali berbisik mengenai apa yang dikatakan oleh Harold sebelumnya.
Untuk Harold sendiri, ia sengaja membuat kesan buruk kepada Aurel agar dia tidak terlibat jauh dalam kehidupannya lagi, ada pepatah mengatakan bahwa setiap pertemuan seseorang akan terikat oleh benang takdir yang kuat. Oleh sebab itu, Harold ingin memutuskan benang takdir itu dari Aurel dan juga dirinya sendiri.
"Apa?! Jika kau ingin mengatakan sesuatu maka katakanlah sekarang, Incompetent," lanjut Harold.
"A-aku ...."
Aurel kehilangan kata-katanya saat mendengar kalimat tersebut.
Sementara para orang masih terfokus pada mereka berdua, guru Rainer yang sedari tadi berdiam kemudian mulai melanjutkan tugasnya untuk memanggil nama calon murid selanjutnya.
"Luke Endersilk, silahkan naik ke atas panggung!"
***
"Harold Sieghard! Apakah kau datang kemari untuk merusak reputasi Akademi ini!?"
Charlotte langsung tersentak saat mendengar suara tersebut. Dia sekarang juga berada di kerumunan yang ada di halaman Akademi Notweir, bersama dengan teman masa kecilnya Luke.
Meskipun Akademi Notweir adalah sekolah yang berkelas dan ternama, sekolah itu tidak menerapkan sistem kasta. Sehingga bangsawan maupun rakyat jelata dapat masuk jika mereka memiliki bakat dalam sihir.
"Ada apa Charlotte?"
Luke yang berada di samping Charlotte mulai merasa khawatir karena wajah Charlotte yang tidak seperti biasanya. Charlotte yang tadi sempat tenggelam di pikirannya, kembali sadar.
"Luke, ikutlah denganku sebentar."
"?!"
Charlotte menarik lengan Luke sambil menerobos beberapa orang guna melihat apa yang terjadi di sumber suara tersebut.
Charlotte dapat mendengarnya, ada seorang yang memanggil nama Harold sebelumnya, seorang yang paling dia hormati karena kebaikannya sampai sekarang ini, dan sudah membantu keluarga serta seluruh penduduk Desa Horen.
Setelah beberapa kali berdesakan, langkah Charlotte terhenti saat melihat seorang pria berambut hitam, dengan iris mata merahnya, dan memiliki wajah arogan serta sombong.
Ya, tidak salah lagi bahwa dia memanglah orangnya, Harold Sieghard.
Luke yang berada di samping Charlotte mengerutkan keningnya saat melihat orang tersebut. Pria yang bernama Harold itu sekarang sedang berhadapan dengan anak bungsu dari keluarga Bladeheart yang terkenal.
"Aurel Bladeheart, seorang wanita yang bahkan tidak mampu mengendalikan sihirnya dengan baik, dan kalah dalam pertandingan satu lawan satu denganku, pecundang sepertimu bahkan tidak pantas untuk memanggil namaku."
Seperti biasa, Harold akan mengeluarkan kata-kata yang akan mengundang masalah kepada orang lain. Dari yang Charlotte tahu dari berita yang tersebar, wanita tersebut adalah tunangan dari Harold. Tapi, kenapa hubungan mereka sangat buruk?
"Charlotte, apakah dia itu benar benar seorang yang menyelamatkanmu dulu? Dia tidak terlihat seperti pria baik?" Luke yang ada di sampingnya berbisik.
"Bukan, bukan dia orangnya."
Jawab Charlotte dengan wajah yang murung, dia teringat dengan pesan Harold yang pernah ia katakan sebelumnya, bahwa tidak boleh memberitahu siapapun tentang kejadian 10 tahun yang lalu. Oleh karena itu, Charlotte menghormati permintaan Harold, karena hanya itulah caranya membalas Budi.
Tidak lama kemudian, nama Luke dipanggil oleh guru yang bernama Rainer. Luke segera naik ke atas panggung dengan tatapan sinis para bangsawan, mungkin karena dia adalah rakyat jelata, itulah sebabnya.
Meski Akademi tidak menerapkan sistem diskriminasi, namun itu tidak berlaku dari para bangsawan yang menganggap bahwa diri mereka istimewa. Mereka akan tetap tidak suka, jika terdapat seorang jelata yang memiliki status lebih rendah berada di Akademi ternama seperti Notweir.
"Harold Sieghard!"
Setelah mengambil kertas yang dimaksud, Luke turun dari panggung. Dan disaat itulah dia berpas-pasan dengan Harold. Luke meliriknya, begitupun dengan Harold, yang kemudian lewat begitu saja untuk mendapat gilirannya.
Dua jam telah berlalu, dan semua calon murid telah kembali di posisi masing-masing dengan secarik kertas di tangan mereka. Di dalam kertas tersebut, tertuliskan nomor yang tidak Harold mengerti apa fungsinya.
"Nomor di kertas itu adalah nomor antri kalian yang akan kalian gunakan untuk memasuki ruangan pengujian, seperti yang kepala sekolah Noren jelaskan sebelumnya, bahwa di ruangan tersebut akan ada beberapa guru yang akan menguji seberapa berbakatnya kalian, dan menentukan kelas yang akan kalian masuki nantinya, sekian!"
Setelah menyampaikan itu, Rainer turun dari panggung. Kemudian para calon murid dibimbing untuk masuk ke dalam gedung Akademi Notweir, mereka melewati lorong-lorong kelas disana sambil menikmati seberapa mewahnya akademi ini.