Dua hari sebelumnya, Charlotte hidup dengan damai bersama dengan ibunya Elena. Hidup di sebuah desa sederhana yang bernama Kornel, dimana desa tersebut berada di luar kekuasaan keluarga Sieghard, karena letak desa tersebut yang lumayan jauh dari kota Wisdom.
Dari uang tunjangan hidup dari Harold, Elena dan penduduk Desa lainnya dapat membangun tempat tinggal sendiri meski itu kecil, karena uang tersebut juga harus digunakan oleh kebutuhan hidup lainnya.
Di sebuah bangunan reyot yang terbuat dari kayu, Elena hidup bersama dengan putrinya yang sekarang sudah menginjak umur 15 tahun. Perlakuan dari penduduk Desa lainnya juga masih baik, sehingga Elena menjadi betah dan nyaman saat tinggal disana.
Selain itu, hutang budi dari Harold tidak akan Elena lupakan. Karena orang itu, Elena masih dapat bersama dengan anaknya hingga sekarang ini, karena orang itu juga Elena masih mendapat kesempatan hidup lebih lama, karena orang itu pula Elena dapat terlepas dari masalah dengan keluarga Sieghard.
Terlalu banyak rasa terimakasih yang ingin disampaikan kepada Harold, begitu pula dengan bantuan yang diberikan olehnya, Elena merasa bahwa rasa terimakasih saja belum cukup untuk membalas jasanya.
Namun, meski telah menyelamatkan semua orang. Harold tetap kena imbasnya karena reputasi keluarganya menjadi sangat buruk setelah insiden p*********n tersebut.
'Kuharap Tuan muda Harold baik-baik saja sekarang.'
Elena menatap kosong langit langit rumahnya yang reyot. Saat ini dia duduk di sebuah sofa yang panjang, sambil merajut benang yang akan dibuat menjadi sebuah pakaian nantinya.
"Ibu!! Aku sudah pulang!!"
Terdengar suara langkah kaki dan teriakan yang memasuki rumah, dan tidak lama kemudian. Seorang gadis cantik, memiliki rambut yang panjang dan memiliki iris mata bewarna hijau seperti berlian mewah, berdiri di depan Elena dengan tubuh yang dipenuhi oleh keringat dan nafas yang terengah-engah.
Di sampingnya terdapat seorang lelaki yang terlihat satu tahun lebih tua dari gadis itu, kondisinya juga sama. Dia memiliki rambut hitam legam dan iris mata biru, seluruh tubuhnya juga berkeringat seperti gadis yang berdiri di sampingnya.
"Luke, sudah berapa kali aku bilang, jangan ajari Charlotte teknik bertarung," ucap Elena kepada pemuda tersebut.
"H-hahahaha!" Pemuda yang bernama Luke tersebut menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal. "Maafkan aku, Bibi."
"Jangan salahkan Luke, aku sendirilah yang memintanya untuk mengajariku teknik bertarung, agar aku tidak akan menjadi orang lemah seperti dulu dan menjadi seorang yang mampu melindungi ibu dari bahaya..."
Charlotte mengatakan itu dengan semangat Elena hanya menghela nafas karena tingkah laku anaknya tersebut. Di samping itu, teman masa kecilnya Luke memiliki perasaaan khusus pada Charlotte, Elena dapat mengetahui itu dari tingkah dan gelagatnya yang terkadang tersipu malu saat berbicara dengan Charlotte.
"Huff ... baiklah, ibu tidak akan melarangmu lagi, tetaplah ingat dengan batasanmu, Charlotte. Ibu tidak akan memaafkanmu jika kau terluka parah," ucap Elena. "Dan Luke, tolong lindungi Charlotte."
"Tentu saja, tanpa bibi minta. Aku akan terus menjaganya seumur hidupku," dengan mantap Luke mengatakan itu. Elena tersenyum puas atas jawabannya yang sangat bisa diandalkan tersebut.
"Sekarang kalian berdua beristirahatlah, besok lusa kalian harus mendaftar di Akademi Notweir bukan?" ucap Elena.
"Baik!"
Jawab mereka berdua bersamaan, satu hari kemudian. Mereka melakukan perjalanan ke kota Granot untuk mengikuti seleksi masuk ke Akademi Notweir lusa nanti.
***
Akademi Notweir, adalah sebuah dimana seseorang memperdalam ilmu tentang sihir. Sebuah tempat yang dibangun khusus, oleh tiga orang legendaris yang disebut sebagai Three-lancer.
Dan sejak itu pula, kota Granot dikenal dengan sebutan kota dimana sihir itu lahir. Memang sedikit berlebihan, namun keberadaan tiga legendaris itu memiliki pengaruh yang sangat besar di kota ini.
Akademi Notweir bukan hanya sekolah biasa untuk menciptakan penyihir yang berkualitas, namun tempat tersebut juga menjadi ajang pencarian anak berbakat oleh Kerajaan Monzard.
Lalu, biasanya anak dengan lulusan terbaik di Akademi tersebut akan diberi permintaan khusus untuk masuk ke dalam Holy-Knight (Ksatria suci) yang merupakan pasukan dibawah pengawasan Raja secara langsung.
Dan saat ini, Harold sudah berdiri di halaman Akademi Notweir, bersama dengan orang-orang orang yang akan ikut seleksi hari ini, jujur saja jumlahnya sangat banyak dan hampir memenuhi halaman.
Di depan Harold terdapat sebuah panggung yang diatasnya berdiri seorang pria tua beruban yang memakai setelan jas hitam yang rapi dan, dibelakang panggung tersebut ada sebuah bangunan tinggi dan besar yang merupakan Akademi Notweir itu sendiri.
"Sekian penjelasannya, untuk mengikuti seleksi di Akademi Notweir, kalian harus memasuki ruangan dimana didalamnya sudah terdapat beberapa guru untuk menilai seberapa berbakat kalian. Lalu, dengan begini aku nyatakan bahwa penerimaan murid baru Akademi Notweir, telah resmi dibuka!"
Pria tua itu mengatakan dengan lantang, semua calon murid bersorak semangat dan antusias untuk segera menunjukkan bakat mereka kepada para guru yang akan menilai nantinya.
Ngomong-ngomong, pria tua yang disana adalah kepala sekolah Akademi ini. Dia bernama Noren, dia sudah memegang jabatan sebagai kepala sekolah selama 5 tahun yang lalu.
Setelah menyampaikan kalimat tersebut kepada calon murid baru, Noren turun dari panggung. Ditemani oleh dua wanita yang sepertinya adalah seorang guru, lalu di panggung digantikan oleh seorang pria yang lebih muda dari Noren.
"Namaku adalah Rainer, salah satu dari guru di Akademi ini. Sebelum melakukan seleksi, harap ambillah satu kertas di dalam bola kaca ini, tapi tolong jangan berebut karena aku yang akan memanggil nama kalian satu per satu, cukup merepotkan tapi memang itulah tugasku." ucap Rainer, lalu dia mengeluarkan secarik kertas di balik jas miliknya.
Rainer mulai memanggil nama calon murid satu per satu yang kemudian akan naik ke panggung untuk mengambil kertas yang ada di dalam bola kaca diatas meja.
Karena calon murid berjumlah 230 orang, sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama. Tentu saja, kebanyakan dari pendaftar adalah seorang bangsawan yang kaya, mereka naik ke atas panggung dengan elegan dan menunjukkan sisi terbaiknya kepada calon-calon murid lainnya.
Hingga.
"Aurel Bladeheart!"
Saat nama itu disebutkan, seorang gadis berambut pirang dan memiliki iris mata yang indah, memakai sepasang pakaian yang indah pula, naik ke atas panggung.
Rambutnya yang terurai menyita banyak pandangan para pria, terutama adalah Harold. Harold tidak pernah menyangka, bahwa Aurel Bladeheart yang merupakan tunangannya akan ikut dalam seleksi Akademi Notweir.
"Oi ... siapa nama gadis cantik itu?"
"Kurasa dia dari keluarga kelas atas, kalau tidak salah namanya adalah Aurel Bladeheart ... dan dari kabar yang kudengar, dia sudah bertunangan dengan anak pungut dari keluarga Sieghard. Kalau tidak salah namanya adalah Harold."
"Tch!! Bukankah dia anak dari bangsawan kejam itu? Bagaimana bisa sampah sepertinya mendapat seorang gadis yang sempurna seperti itu."
Itulah bisik-bisik dari beberapa orang di sekitar Harold.
Mereka semua tidak menyadari bahwa Harold Sieghard, adalah orang yang berada tepat beberepa meter dari mereka. Yah, mungkin mereka hanya mengenal nama Harold dari rumor tersebut, dan masih belum mengetahui wajah aslinya.