Di kehidupan Harold sebelumnya, penginapan Klaristia adalah penginapan yang sudah dijalankan oleh Hilda selama sepuluh tahun lamanya. Namun, disaat pertengahan tahun ibu Hilda meninggal dan membuatnya harus mengelola penginapan tersebut seorang diri.
Melayani setiap pelanggan dengan ramah dan memberikan pelayanan yang memuaskan, Hilda juga selalu memasang senyum sepanjang waktu hingga membuat banyak pelanggannya terpana. Sejak itu dia menjadi wanita terpopuler di kota Granot dalam waktu singkat.
Banyak orang yang melamarnya, namun Hilda tolak dengan baik-baik. Meskipun usia Hilda sudah termasuk ke dalam usia yang boleh untuk menikah, namun dia masih belum siap untuk urusan romansa seperti itu.
Hilda masih harus mengurus penginapan yang merupakan peninggalan ibunya, meski begitu dia tahu bahwa lama tidak lama kemudian, waktu akan berlalu dan dia harus segera mencari pasangan untuk menikah.
"Maaf ... apa sebelumnya ada seorang yang kasar datang kemari? Aku adalah pelayannya," ucap Regard dengan nada lembut.
"Ah, dia sudah naik duluan ke lantai dua, dan ini adalah kuncinya." Hilda menyerahkan sebuah kunci yang memiliki ukiran nomor 4 kepada Regard.
"Terimakasih, umm ...."
"Hilda."
"Ah, Terimakasih Nona Hilda,"
Setelah meninggalkan kalimat tersebut, Regard segera mendaftarkan namanya beserta Harold lalu berlari untuk naik ke lantai dua menyusul Tuan mudanya.
Hilda diam disana sambil menghela nafasnya dalam dalam, sifat pelayannya sungguh berbeda dari sifat Tuannya yang kasar.
Harold Sieghard, semenjak Hilda mendengar rumor mengenai keluarga Sieghard. Dia merasa percaya dan tidak percaya, dia tidak bisa mempercayai dengan sebuah berita yang disampaikan dari satu telinga ke telinga lainnya.
Dilain sisi, dia juga ingin mempercayai rumor itu karena tahu bagaimana sifat seorang bangsawan seharusnya.
Dan disaat Hilda bertemu dengan Harold secara langsung, tubuhnya menjadi gemetar, dari tatapannya yang setajam silet seolah mengelupas kulitnya. Hal itu membuat kepercayaan Hilda mengenai rumor itu menjadi lebih kuat.
"Dilihat dari wataknya yang kasar dan wajahnya yang mengerikan, sepertinya rumor mengenai keluarga Sieghard yang kejam itu benar," gumam Hilda dengan lirih.
***
Disisi lainnya, Harold sudah berada di kamarnya. Tidak begitu luas, dan hanya terdapat satu tempat tidur dan sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan ini.
Harold sekarang sedang mencoba beberapa kali mengayunkan pedang yang diberikan oleh Zoe. Sesuai apa yang ia duga, meskipun pedang ini sedikit tebal di bilah besinya, namun beratnya tetaplah ringan.
Harold beberapa kali mengayunkan pedangnya kesana kemari, membelah angin dan membuat suara desingan yang indah.
Namun, tiba tiba saja pintu kamar terbuka dan secara reflek Harold mengarahkan ujung pedangnya kepada orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"T-Tuan muda, itu berbahaya ...." Regard menelan ludahnya, karena ujung pedang tersebut hanya berjarak beberapa senti meter tepat di lehernya.
"Itu karena kau dengan lancang masuk ke dalam kamarku tanpa permisi, pecundang!" Harold kembali memasukkan pedang ke dalam sarungnya. "Jadi, ada apa kau kemari? Aku akan langsung menolak jika kau membuat permintaan tidur bersama."
"Tentu saja bukan Tuan muda, aku masih normal. Selain itu, apa anda yakin akan pergi ke Dungeon Abyss besok setelah mendaftar di Akademi? Tidakkah itu terlalu gegabah Tuan?" tanya Regard dengan cemas. Meskipun dia tahu bahwa Harold kuat, namun Dungeon bukan tempat untuk anak yang baru menginjak umur 17 tahun.
"Aku sendiri sudah memutuskan bahwa aku akan menjadi orang pertama yang akan menaklukkan Dungeon tersebut. Tidak ada yang boleh mencegahku!" balas Harold.
***
Hari menjelang pagi, matahari sudah kembali terlihat dari ufuk timur. Burung burung mulai berterbangan kesana kemari untuk mencari makanan untuk anaknya sembari beberapa kali bersiul, udara di pagi hari yang indah ini sangat sejuk menerpa pepohonan dan membuat Padang rumput menari-nari dengan lenggoknya.
Setidaknya itulah yang Harold bayangkan tentang pagi hari di kota Granot, namun kali ini ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Di tempat ini, di salah satu meja makan yang ada di bar lantai satu penginapan Klarista.
Harold sedang menikmati sarapannya dengan banyak mata yang mengarah padanya. Semua orang menatap dengan benci dirinya, dan disaat Harold beralih menatap mereka, justru mereka akan membuang muka. Oleh karena itu Harold mengacuhkan semuanya.
Ngomong-ngomong Regard sudah kembali ke Mansion Sieghard. Meski terjadi perdebatan yang panjang mengenai Harold yang akan pergi ke dungeon Abyss setelah seleksi masuk ke Akademi Notweir, tetapi Harold berhasil memenangkan debat tersebut.
Tentu saja, ia menggunakan otoritas seorang majikan untuk membungkam mulut Regard, dan itu cukup ampuh.
BRAK!!
"Aku kembali lagi, jadi berapa banyak yang kau punya hari ini, Hilda!?"
Sekelompok orang memakai baju armor masuk ke dalam Penginapan dengan cara membuka pintu cukup keras. Seketika semua orang yang ada di bar ini menunduk, ketika sekelompok pria berarmor tersebut masuk.
Harold tidak terlalu mengerti apa yang sedang terjadi, namun selama mereka tidak menganggu sarapannya, ia tidak akan melakukan tindakan apapun yang menyita perhatian banyak orang.
"Hilda, ini sudah waktunya. Kau tahu bukan? Baron Gilbert ingin kau segera membayar hutang yang ditumpuk oleh ibumu, atau apakah kau akan memilih cara yang kedua?"
Seorang Knight berarmor yang berada di barisan depan tersebut bertanya kepada Hilda dengan muka yang menyebalkan. Sepertinya jika dilihat dari lencana yang ada tepat di d**a mereka. Lambang itu adalah lambang kota Granot yang memiliki gambar tombak dan pedang yang saling bersilangan.
Menandakan bahwa mereka adalah orang dari pemerintahan, yang artinya para Knight tersebut adalah utusan dari bangsawan yang memegang kendali atas kota ini.
"Maafkan aku Tuan Mavis, tapi saya masih belum memiliki uangnya sekarang. Mungkin satu bulan lagi, tolong beri saya waktu sekali lagi." Hilda sedikit membungkuk.
"Kau tahu Hilda, kenapa kau tidak memilih cara yang kedua saja untuk melunasi hutangmu, dengan menikahi Baron Gilbert, kau dapat terlepas dari hutangmu. Terlebih lagi kau dapat hidup dengan bergelimpang harta, aku tidak tahu apa kau itu bodoh atau d***u?" Mavis menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.
"Aku mohon, aku tidak menginginkan itu, aku ingin menikah dengan seorang yang tulus kucintai. Tolong beritahu Baron Gilbert untuk memberi aku waktu satu bulan lagi." ucap Hilda.
"Aku takut tidak bisa melakukan itu, Hilda. Sungguh sayang seribu sayang."
"A-apa maksudmu, Tuan Mavis!?"
"Tuan Baron berkata, jika Hilda menolak. Maka seret paksa dia ke Mansionku, seperti itulah." Mavis menyeringai dengan lebar, lalu segera memegang lengan Hilda dan ingin menyeretnya keluar.
"T-Tuan Mavis!! T-tolong jangan—"
"Ayolah Hilda, dengan tubuh rampingmu itu, Baron Gilbert akan puas. Dan aku juga akan naik pangkat dari jabatanku, hahaha!" tawa Mavis, dengan para bawahannya yang lain.
"T-tolong!! Seseorang, t-tolong!!"
Hilda berteriak, namun tidak seorang pun yang mau menolongnya. Mereka hanya menunduk dan memilih tidak terlibat dengan seorang bangsawan, mereka tahu bahwa jika berurusan dengan bangsawan. Maka nyawa pun bisa melayang dengan mudah.
'kenapa?'
Hilda membelalakkan matanya, tidak ada satupun orang yang bergerak dari mejanya. Semua hanya berpura-pura tidak melihat dan menutup mulut serta mata mereka, demi keselamatan mereka sendiri. 'Kenapa?' itulah kalimat yang hanya dipikirkan oleh Hilda, padahal dia tidak melakukan apapun, dan padahal dia sudah berbuat baik kepada semua orang. Namun, apa seperti ini balasannya?
'seseorang, tolong aku?'
Terlarut dengan kesedihannya, Hilda mulai pasrah dengan keadaannya. Sementara itu, Mavis semakin menjadi-jadi dan menarik lengan Hilda lebih keras lagi. Mencoba menarik Hilda keluar dari penginapan.
"Kalian sampah menghalangi jalan, minggirlah!"
Sebuah suara masuk ke telinga Hilda. Dia membuka mata dan mendapati seorang pria berjubah hitam dan bertudung ingin segera keluar dari penginapan, namun karena pintu keluar dihalangi oleh Mavis dan bawahannya, dia tidak mendapatkan jalur untuk dapat keluar.
Namun, jika didengar dari suaranya sebelumnya. Hilda sangat mengenalinya, dia adalah Harold Sieghard, seorang dari keluarga Sieghard yang kejam.
"Nak, kau tahu sedang berurusan dengan siapa?" Mavis melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Hilda, dan mengambil posisi berdiri tepat satu meter dengan Harold.
"Apa kau tuli!? Minggirlah kalian para sampah, kalian menghalangi jalanku!"
Mendengar kalimat itu sekali lagi, muncul kerutan di dahi Mavis. Artinya dia mulai marah, "Paman akan tunjukkan tata Krama padamu Nak, tetapi sebelum itu kau akan menyesalinya karena telah berurusan dengan Baron Gilbert."
Harold hanya tersenyum di balik tudungnya saat mendengar perkataan Mavis. Baron Gilbert, adalah seorang bangsawan yang memiliki tingkat lebih rendah dibandingkan dengan keluarga Sieghard. Artinya, posisi Harold lebih tinggi disini.
Sementara semua mata terkejut dengan kenekatan Harold, Mavis sudah meluncurkan tinjunya ke muka Harold. Melihat itu, Harold segera bertindak, ia memiringkan sedikit kepalanya sehingga tinju itu hanya memukul udara hampa saja.
Kemudian, Harold melakukan pukulan telak di dagu Mavis. Membuat otaknya berguncang dengan keras yang pada akhirnya terjatuh pingsan. Semua orang menjadi lebih terpana dan dibuat kaget, melihat Mavis jatuh dalam satu pukulan.
Menyadari ketua mereka telah terjatuh, bawahannya segera menyiapkan posisi bertarung demi membalasnya, namun Harold membuka tudung jubahnya dan membuat para Knight tersebut terkejut bukan kepalang.
"K-Kau!?"
"Ya, aku adalah anak utama dari keluarga bangsawan Sieghard yang ternama. Harold Sieghard, sekarang siapa yang akan ingin maju terlebih dahulu, pecundang?!" ucap Harold dengan sorot mata tajam, sambil melengkungkan mulutnya kebawah.
Seketika para Knight tersebut membeku, mereka tahu bahwa posisi keluarga Sieghard lebih tinggi dari Baron Gilbert. Mereka adalah salah satu dari keluarga bangsawan yang tidak boleh disinggung, menelan ludah. Para Knight tersebut langsung membungkuk.
"M-maafkan kami!!"
Setelah itu para Knight tersebut segera membopong ketua mereka (Mavis) yang masih terkapar di lantai dalam keadaan pingsan, keluar dari penginapan. Suasana masih hening karena kejadian barusan, dan Harold segera beranjak keluar setelah jalan sudah kembali terbuka.
"A-anu..."
"Ada apa?"
"T-terimakasih banyak!" Hilda membungkuk dengan tulus. Mengucapkan kalimat tersebut dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Hmph! Aku tidak berbuat apapun padamu, aku hanya membersihkan sampah yang menghalangi jalanku, itu saja." Harold membuka pintu, dan kemudian keluar dari penginapan diiringi dengan suara pintu yang tertutup kembali.
Suasana di Penginapan masih hening, seperti sebelumnya.