Kereta kuda mulai memasuki kota, meskipun malam kota masihlah sangat ramai dan terdapat banyak Kios yang berdiri di sepanjang sisi jalan menjajarkan beragam aneka barang maupun makanan yang akan dijual oleh para pedagang.
Dengan gemerlap lampu yang dipasang di setiap jalan membuat kota ini semakin meriah dan nampak cocok untuk dijadikan sebagai tempat para turis wisatawan.
Tentu saja, kota ini tidak jauh berbeda saat Harold yang di kehidupan sebelumnya sempat berkunjung, tempat ini masihlah sama seperti sebelumnya. Jadi Harold sudah mengingat dengan jelas tentang seluk beluk kota ini. Sehingga memudahkan dirinya agar tidak mudah tersesat.
"Tuan muda, kita sudah sampai di penginapan mewah Lorn," ucap Regard menghentikan kereta kuda.
Harold sempat melirik melalui jendela yang ada di dalam kereta kuda, disamping kereta terdapat sebuah penginapan dengan lantai lima dan gemerlap lampu yang berlebih. Seperti apa yang Regard bilang bahwa tempat ini adalah penginapan termahal di kota Granot. Harold hanya mengerutkan dahinya saat melihatnya.
Biasanya tempat seperti ini hanya akan dihuni oleh bangsawan kelas atas yang memiliki banyak harta yang melimpah.
Namun, Harold sudah memberikan sebagian uang miliknya ke para Bandit Treon. Oleh karena itu ia harus rajin-rajin berhemat untuk waktu ini, terlebih lagi ia tidak benar benar ingin menginap disana meskipun memiliki uang yang banyak sekalipun.
Ada satu penginapan yang ingin Harold kunjungi, dan di kehidupannya sebelumnya ia pernah menginap disana.
"Kau mau memerasku dasar sampah!? Aku sudah kehabisan sebagian uangku, jadi aku akan mencari penginapan yang murah ...."
"B-baiklah, kurasa didepan sana ada sebuah penginapan yang murah!" jawab Regard dengan segera.
"Bagus, bawa saja kuda jelek ini menuju ke sana!" perintah Harold.
Regard mengatakan "Baik!" dengan tegas dan lalu mulai mengendarai kereta kuda untuk maju ke depan. Tidak jauh di depan terdapat sebuah penginapan yang bernama Kloristia, kereta kuda lalu berhenti di depan penginapan tersebut.
"Maafkan saya Tuan muda, kurasa penginapan ini tidak menyediakan tempat untuk Kereta kuda. Jadi, saya harus mencari sebuah tempat untuk meletakkan kuda dan keretanya ini terlebih dahulu ...," ucap Regard dengan nada bersalah.
Namun, Harold tidak terlalu peduli dengan itu. Ia segera beranjak turun dari kereta kuda tersebut, sambil mengenakan jubah hitam yang dibawanya dari mansion untuk menutupi baju mewah bangsawan miliknya.
Harold sudah menduga bahwa ini akan terjadi saat mereka sampai di kota Granot, oleh sebab itu ia sudah mengantisipasinya.
"Kalau begitu cepatlah, aku akan masuk terlebih dahulu untuk menyewa kamar."
"T-tapi ...."
"Apakah kau punya masalah dengan itu, Regard!?"
"T-tidak, maafkan saya!"
Setelah itu Regard memacu kudanya kembali meninggalkan Harold di depan sebuah penginapan yang bernama Kloristia, Regard sedikit khawatir dengan ucapan sarkastik Tuan mudanya yang akan mengundang masalah saat masuk ke dalam penginapan tersebut.
Bisa-bisa nanti mereka akan diusir terlebih dahulu dan tidak akan diijinkan untuk menginap disana.
'Huff ... kuharap tidak akan masalah yang akan terjadi ketika aku meninggalkan Tuan muda sendirian' pikir Regard sambil menghela nafasnya, dan dia mulai mencari tempat untuk menyimpan kereta kuda tersebut.
Sementara itu di sisi lainnya, Harold mulai membuka pintu penginapan. Lonceng berbunyi saat ia mendorong pintu, lalu semua pandangan semua orang yang ada di dalam penginapan tersebut tertuju ke arahnya. Lantai satu adalah bar, Harold masih ingat dengan jelas tempat ini.
***
Masuk ke dalam penginapan, semua mata memandang ke arah Harold. Namun, itu hanya sesaat saja sebelum mereka langsung kembali beraktivitas seperti biasa.
Mengacuhkan perlakuan mereka, Harold berjalan mendekat ke arah meja Resepsionis yang terletak tidak jauh dari lokasi pintu masuk berada. Meja tersebut di jaga oleh seorang wanita cantik yang memiliki iris mata biru, dan pakaiannya yang nampak seperti rakyat biasa.
Rambutnya yang dikuncir poni-tail membuat wajah cantik miliknya tidak terkulai oleh lebatnya poni rambut. Harold mengenalnya, dia adalah seorang yang sama seperti di kehidupan sebelumnya, dia adalah wanita yang ramah terhadap semua orang bahkan seorang seperti dirinya dulu.
"A-ada yang bisa saya bantu!? Pelanggan yang terhormat, nama saya adalah Hilda." wanita itu sedikit berkeringat dingin, dan sedikit terbata-bata saat berbicara dengan Harold.
"Aku ingin memesan dua kamar untukku dan satu orang yang akan datang sebentar lagi, berapa harganya!?" tanya Harold dengan nada yang terdengar arogan. Tapi ia sudah mencoba untuk menekan kepribadian buruknya itu.
"Mohon tunggu sebentar ...." Lalu wanita tersebut merogoh laci meja untuk mengambil sesuatu.
Harold menunggu dalam diam disana, ia juga mendengar bahwa beberapa orang yang ada di belakangnya sedang melakukan bisik-bisik.
'Bukankah dia adalah Harold Sieghard dari keluarga bangsawan yang dirumorkan itu?'
'Sepertinya begitu, kenapa dia memilih penginapan murah seperti ini. Apa dia sudah jatuh miskin sekarang?'
Itulah yang Harold dengar dari mereka, meski agak jengkel Harold memilih tetap diam agar tidak membuat masalah dan agar tidak diusir di penginapan ini.
Setelah menunggu beberapa saat, wanita itu menyodorkan sebuah kunci ke arahnya.
"Ini adalah kunci kamarnya, harga, per-malam adalah 2 koin perunggu, berapa hari anda akan menginap?" tanya kembali si resepsionis yang bernama Hilda tersebut.
"Perkiraan hanya satu hari, berikan saja kunci satunya kepada orang yang akan datang sebentar lagi, namanya adalah Regard. Dia juga yang akan mengurus pendaftaran menggantikan aku," jawab Harold, lalu menyerahkan satu koin emas kepada Hilda.
"K-koin emas!? M-maafkan saya Tuan, tapi saya tidak memiliki kembalian. Jumlahnya terlalu besar."
"Tch! Kalau begitu simpan saja kembaliannya dasar sampah sialan!" ucap Harold lalu naik ke lantai atas untuk menuju ke kamarnya yang berada di urutan nomor lima.
Hilda hanya terdiam atas perlakukan kasar dari Harold, sementara semua orang yang ada di bar. Menatap dengan benci Harold, namun karena mereka telah mengetahui orang seperti apa dirinya, tidak ada satu pun yang ingin terlibat dengannya.
Sementara itu Harold berpikir bahwa ia akan menjauhi orang yang dekat dengannya di kehidupan sebelumnya, seperti Aurel, Hilda, dan beberapa orang yang masih ada kaitannya. Di kehidupan sebelumnya, Hilda mati karena salah satu kesalahannya.
Sekelompok Knight yang pernah menjadi musuh Harold ingin membalaskan dendam karena tangan ketua mereka yang terputus karena perbuatan Harold. Dan mereka datang ke penginapan ini untuk bertanya kepada Hilda, seorang yang sering berkomunikasi dengan Harold saat ia berada di Kota Granot.
Saat itu Knight itu bertanya, Hilda menjawab dengan kebohongan tentang Harold yang berada di ibukota Warret, walau sebenarnya ia waktu itu berada di Kerajaan Fuard untuk melakukan tugasnya sebagai Holy-Knight.
Dan saat Harold berkunjung ke kota Granot untuk ke sekian kalinya. Penginapan Klaristia telah roboh, hanya menyisakan puing-puing bangunan yang hangus dan seperti telah dibakar sebelumnya. Dan dari informasi yang ia dapatkan, Hilda dibunuh oleh beberapa Knight dan penginapannya dibakar begitu saja oleh mereka.
Oleh karena itu, demi menghindari kesalahan yang sama. Harold yang sekarang ini, akan mencoba untuk menjauhkan beberapa orang yang dekat dengannya di kehidupan yang lalu, demi menghindarkan mereka dari kematian.
'Di kehidupanku ini, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti sebelumnya'