Sevda memasuki feri dan mencari tempat duduk. Namun hatinya terluka saat menyaksikan Serkan yang duduk berdampingan dengan Hazal. Apalagi, Hazal tengah menyenderkan kepalanya di bahu Serkan. Tentu saja itu menciptakan rasa pedih dalam benak Sevda.
Gadis itu mengerjap. Membalikkan tubuhnya, berjalan ke belakang.
"Sevda, kau baik-baik saja?" tanya Oyku yang masih sibuk menata koper.
"Oyku, aku akan ke belakang sebentar," ujarnya dengan langkah cepat sehingga tanpa peduli menabrak Ayaz.
"Apa kau sudah tidak waras?!" ketus Ayaz, namun tak dihiraukan oleh Sevda.
Bulir bening langsung tersapu oleh jari telunjuk. Jari kelingking pun memerankan hal yang sama. Air mata Sevda mendadak bocor saat melihat pria idamannya bersama gadis lain. Yah, siapa juga yang tidak akan sedih dengan hal tersebut.
"Hazal itu ular. Dia memang selalu suka menggoda pria-pria tampan!"
"Sevda, kau tidak boleh menyerah untuk mendapatkan cintamu!"
Mendapatkan perkataan Oyku dan Cansu mengiang di gendang telinganya. Gadis itu menarik napas panjang dan menganggu.
"Yah, aku tidak boleh menyerah. Aku sudah pernah kalah dalam hal percintaan, tapi tidak lagi. Aku pasti akan mendapatkan cintaku." Senyum yang dibuatnya tampak hambar.
"Memangnya siapa Hazal? Oyku dan Cansu benar. Hazal itu hanya suka menggoda Serkan. Dan Serkan tidak mungkin memiliki hubungan dengannya." Sevda mencoba memantapkan hati. Tanpa ia tahu, bahwa yang sebenarnya, pria idamannya kini sudah menjadi milik orang lain.
"Aku harus tegar!" Sevda membalikkan tubuhnya. Kembali melangkah menuju tempat duduk di mana teman-temannya bersandar.
Sevda hendak duduk bersama Oyku, namun Oyku sudah berpasangan dengan Burak. Dan sesuai rencana untuk menyatukan mereka, Sevda tidak mungkin menyuruh Burak untuk berpindah tempat. Ia ingin Burak dan Oyku bisa menghabiskan waktu bersama agar keduanya lebih dekat lagi.
Sevda kembali maju. Melihat hanya satu tempat duduk yang kosong. Yaitu di sebelah Ayaz. Dan tidak mungkin Sevda mau menyandarkan punggungnya di samping pria itu. Hanya akan ada keributan jika itu terjadi.
"Nona, kenapa kau masih berdiri? Ayo duduklah. Kita akan segera berangkat." Salah seorang petugas memberi aba-aba. "Kau bisa duduk dengannya. Dia juga temanmu, kan?" tunjuknya pada kursi kosong di samping Ayaz.
Ayaz tampak hendak protes, tetapi Sevda buru-buru duduk walau dengan terpaksa.
"Yang benar saja? Apa kau tidak bisa mencari tempat duduk lain?" celetuk Ayaz tak terima saat gadis yang ia benci bersanding dengannya.
"Kau pikir aku juga mau di sini? Aku terpaksa. Kau dengar?" balas Sevda ketus.
"Kau memang suka sekali menggangguku. Dasar ikan koi!"
"Berhenti menyebutku ikan koi, manusia es!" timpal Sevda tak terima.
"Menyebalkan!" Ayaz memalingkan wajah ke samping. Tepat ke arah pemandangan laut. Dari sana, ia melihat segerombolan camar yang menyabet roti-roti yang sengaja dilempar oleh para pengunjung.
Pemandangan tersebut tentu juga membuat Sevda merasa senang. Keindahan Bhosporus dan burung camar memang selalu melekat di kota Istanbul, Turki. Tanpa sadar, gadis itu mendekatkan tubuhnya pada Ayaz demi melihat pemandangan yang lebih luas.
"Apa yang kau lakukan?!" Lagi-lagi Ayaz muak dengannya. "Apa kau sengaja mendekatiku?"
"Apa?" Sevda membulatkan mata. "Jangan bicara omong kosong, Manusia beku. Asal kau tahu, aku tidak sudi melakukan itu."
"Lalu kenapa kau dekat-dekat denganku? Menyingkirlah!" Garis mata tampan itu tampak menegas.
"Aku hanya ingin melihat pemandangan luar. Itu saja. Sama sekali tidak ada niatan untuk berdekatan denganmu!" ketus Sevda.
"Oh jadi kau ingin melihat pemandangan luar? Sekarang berdiri dan keluarlah lalu menyebur ke laut. Kau akan melihat pemandangan indah di sana," ejek Ayaz dengan nada bicara menyebalkan.
Sevda memutar mata bosan. Mulai menggeser pantatnya sampai ke ujung kursi. Ia juga tak sudi jika harus saling berdempetan dengan pria dingin yang berada di sisinya.
"Ufff… menyebalkan." Ayaz mendesah gusar saat tiba-tiba teringin kencing. "Kenapa semuanya menjadi menyebalkan hari ini?" Pria itu mendirikan tubuhnya. Bergerak keluar dari kursi dan berjalan ke belakang.
Sevda meliriknya. Menyadari kalau pria itu menuju toilet, ia langsung menggeser tubuhnya untuk sampai di dekat jendela. Sekarang, ia bisa menyaksikan pemandangan selat Bhosporus dengan sangat leluasa.
"Ya Tuhan… indah sekali. Turki memang sangat menakjubkan."
Kedua mata Sevda serasa dimanjakan oleh keindahan Bhosporus. Air laut yang menciprat mengenai lengannya, membuat menengok keluar jendela. Segerombolan Lumba-lumba tampak berlomba menandingi kecepatan pesiar yang ditumpanginya. Ombaknya yang mulanya tenang, kini sedikit terguncang. Dan jangan lupakan burung camar yang tiada hentinya mengelilingi pesiar tersebut. Setiap pesiar dan kargo tampak dikerumuni olehnya. Menunggu manusia baik hati yang melemparinya roti untuk disantap.
Sevda tak luput mengabadikan momen tersebut dengan ponsel canggihnya. Bahkan ia juga mengambil swafoto dan mengirimkannya pada w******p grup keluarga. Lantas kembali ia menikmati keindahan alam Turki.
Dari sana, Sevda bisa melihat sisi benua Eropa yang tampak tak jauh. Terlihat juga perbedaan antara arsitektur timur tengah dengan Eropa yang membaur. Namun menikmati semua keindahan itu harus terganggu saat gendang telinga Sevda terangsang suara derap langkah kaki yang mendekat.
"Apa manusia es itu sudah kembali? Bagaimana jika dia merebut posisi dudukku nanti?"
Sevda tak kehilangan akal. Ia segera menyenderkan punggungnya dan memejamkan mata rapat, berpura-pura terlelap.
"Yang benar saja?!" Suara Ayaz langsung merasuk gendang telinganya lagi. Bernada kesal juga emosi.
"Bisa-bisanya dia tidur di tempat dudukku. Benar-benar gadis yang menyebalkan!" Ayaz terpaksa duduk di tempat Sevda yang tadi. "Kalau saja jendela ini lebih besar, aku pasti akan melemparkannya ke laut." Desahan napas gusar terdengar berat, membuat Sevda menahan tawa.
"Kenapa bisa aku terjebak dengan gadis ini. Gadis sialan yang membuat hari terakhir belakangan ini menjadi kacau," cerca Ayaz dengan suara pelan.
"Tidak perlu berbisik-bisik, Manusia beku! Aku bisa mendengar semuanya."
Mata Ayaz langsung membola. Menengok ke samping cepat. Semakin emosi saat melihat kedua mata Sevd yang mulai membuka. Dan ya, senyuman mengejek gadis itu, benar-benar membuatnya sangat muak.
"Kau… jadi kau hanya berpura-pura tidur?"
"Ehm!" Tanpa rasa bersalah, Sevda mengangguk mantap. Tak juga memudarkan senyumnya. "Agar kau tidak mengusirku. Sekarang aku sudah mendapatkan tempat duduk di pinggiran jendela. Itu membuatkan gembira. Aku bisa melihat pemandangan Bhosporus dengan jelas diri."
"Gak tahu diri! Cepat menyingkir!"
"Tidak akan!"
Ayaz muali geram. Tangannya mengepal dengan sempurna, serta rahang yang mengeras. "Apa aku harus menyeratmu? Hah!"
"Diamlah, Manusia beku. Apa kau tidak bisa mengalah sedikit dengan seorang gadis? Pria macam apa kau?"
"Aku bisa melakukan itu pada seribu gadis asal tidak dengan dirimu."
"Terserah. Yang penting, aku bisa menikmati selat Bosphorus di sini dengan leluasa. Ufff… lihatlah burung camar itu, sepertinya dia tidak suka denganmu."
Ayaz tertawa sumbang. "Apa kau tidak sadar, kalau camar itu merasa muak denganmu dan tak sabar untuk mencabik-cabik dirimu!"
"Lalu aku akan menjadi hantu dan memakanmu!" timpal Sevda seadanya.
"Hahaha. Lelucon yang bagus!" balas Ayaz dengan nada mengejek. "Sekarang diamlah! Aku mau tidur!"
Pria itu menyemburkan napas kasar. "Ufff… Serkan, kau merusak tidurku dan sekarang membiarkanku bersama dengan gadis gila ini. Rasanya masih mengantuk sekali." Ayaz menguap dengan mata terpejam.
"Dasar beruang. Kau memang pantas jika tinggal di kutub Utara. Sekalian kau hibernasi di sana," gumam Sevda menyindir.
"Apa kau mengatakan sesuatu, Ikan koi?"
"Tidak. Tidak ada." Sevda menggeleng cepat. Kembali terfokus pada jendela sampingnya dan menikmati suasana luar.
Sementara Ayaz mulai menyandarkan punggungnya. Melirik ke jendela, melihat burung-burung camar yang beterbangan. Pekikannya yang menyatu dengan deburan ombak, membuat pikiran dan hati pria itu sedikit tentram. Ayaz memang sangat menyukai burung camar.
Perlahan, kedua kelopak mata itu menutup, menyembunyikan bola cokelat terangnya.
Sevda melirik ke samping. Menyadari Ayaz yang sudah terlelap. Ia pun kembali mengambil swafoto dengan baground Bhosporus. Sudah lumayan banyak ia mengabadikan momen perjalanannya dan mengirimkan semua foto tersebut pada Deniz juga Leon.
Dering tanpa pesan masuk terdengar dari ponselnya. Itu pesan dari Leon.
[Oh, Tuan putri sekarang sudah memiliki pangeran?]
Disusul pula dengan pesan dari Deniz.
[Kau memiliki kekasih tapi kau tidak bilang padaku. Apa kau takut kalau aku akan cemburu?]
Mata Sevda langsung membola membaca pesan dari kedua saudaranya tersebut.
[Apa maksudmu?]
Sevda membalas pada mereka masing.
Ponsel kembali bergetar.
[Jangan berpura-pura lugu, Sevda. Siapa pria yang ada di sampingmu itu? Dia pasti kekasihmu, kan?] Ditambah pula emoticon tertawa.
Bagaimana mereka tahu kalau di sampingku ada seorang pria?
Sevda kembali mengecek semua foto yang ia kirim pada mereka tadi. Dan salah satu dari foto tersebut terdapat bahu Ayaz dan sebagian kepalanya yang ikut terpotret.
"Ufff… kenapa aku tidak mengecek terlebih dahulu sebelum mengirimnya?" Sevda menepuk jidatnya.
[Dia bukan kekasihku. Bahkan bukan juga temanku. Dia hanya pria yang menyebalkan dan membuatku merasa kesal. Kau tahu, aku membencinya!]
Sevda mengirimkan pesan tersebut pada Deniz juga Leon.
[Hmmm… terlihat meragukan]
Itu balasan dari Leon. Ditambah pula dengan emoticon tertawa sebanyak lima.
[Awas jangan membencinya terlalu banyak, nanti kau bisa jatuh cinta padanya] Jawaban dari Deniz.
"Kalian benar-benar suka sekali menggodaku!"
Sevda mengirimkan emoticon marah pada mereka lantas menutup ponselnya. Saat ia menengok ke samping, ia melihat Ayaz yang hendak terjungkal lantaran tertidur begitu lelapnya. Namun Sevda segera menarik tangannya, membuat tubuhnya sangat dekat dengan pria itu.
Ayaz bahkan mengira kalau lengan Sevda sebuah guling. Di bawah kesadarannya, ia memeluk lengan itu dengan erat dan menyamankan kepalanya di bahu Sevda.
"Apa yang pria ini lakukan?" Sevda memandang jijik ke arah Ayaz. Ia mencoba melepaskan pegangan pria itu, namun tangan kekarnya itu terlalu erat sehingga membuatnya kesusahan.
Dengan amat terpaksa, Sevda mengesampingkan egonya dan membiarkan pria itu memeluk tangannya.
Angin laut sepoi-sepoi yang menyatu dengan pekikan camar, membuat suasana menjadi damai sehingga rasa kantuk mengetuk pintu Sevda. Gadis itu menguap, matanya mulai menyipit. Tak kuasa menahan rasa kantuk yang menyegarkan.
Tak lama, akhirnya gadis itu memejamkan mata dengan kepala yang bersandar di bahu Ayaz.