Bab 19

823 Words
Kemarilah" panggil gina menggerak-gerakkan jarinya memberikan isyarat pada ana untuk menghampirinya. Gina menatap ana tanpa menutupi lagi hasrat dimatanya pada ana. Matanya menatap ana dengan pandangan penuh damba.Dia sendiri tak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Sejak hari dia menguji ana. Pikirannya tak pernah lepas dari ana. Dikepalanya selalu terbayang cumbuan ana padanya. Hanya membayangkan itu saja sudah membuat tubuhnya meremang mendambakan ana. Awalnya dia pikir itu adalah hal yang biasa. Hanya karena dia kagum akan pelayanan s*x ana yang luar biasa saat itu. Memang tidak dipungkiri dia juga sering mencumbu wanita, itu jika dia melakukan s*x threesome atau lebih dengan jumlah wanita yang lebih banyak. Tapi diluar hal itu, dia tak ada keinginan untuk b******u dengan wanita. Dia lebih suka b******u dengan pria. Dia masih menyukai batang p***s yang besar untuk memasuki dirinya. Ana adalah sebuah pengecualian baginya. Berapa kalipun dia memuaskan hasratnya pada seorang pria, itu semua tak akan pernah cukup jika dia tak dipuaskan oleh ana. Awalnya dia berusaha untuk menahannya dan mengabaikan rasa itu. Tapi rasa itu terus bergejolak. Membuatnya menjadi kelimpungan dan mudah emosi. Hanya ana dan ana yang dipikirkannya. Hingga setelah dia berhasil mereguk manisnya candu ana, emosinya menjadi stabil kembali. Pikirannya menjadi jernih kembali dan bahkan dia bisa bekerja dengan lebih semangat. Gina menghela nafas, "Apa yang telah kamu lakukan padaku ana. Kamu benar-benar seperti candu. Siapapun yang menyentuhmu tak akan pernah puas akan kamu." Desah gina lirih membelai wajah ana yang kulitnya sehalus pualam. " Kamu tahu...aku harus mengatur sedemikian rupa agar tak banyak orang kecanduan akan dirimu" " Rasanya ingin terus mengurungmu di sini menemaniku sepanjang hari, mereguk rasamu tanpa kenal waktu dan dunia luar lagi." " Aku ingin kamu hanya milikku..tak ada yang mencarimu ataupun menginginkanmu lagi" Ana hanya menatap gina datar. Tak membalas ataupun menjawab ucapan-ucapan gina. Apa pedulinya jika banyak orang yang menganggapnya candu dan kecanduan akan dirinya. Itu bukan keinginannya. Toh mereka yang mendekatinya. Dia hanya menyambut siapapun yang mendekatinya. Gina mendekatkan wajah ana pada dirinya. Dikulumnya bibir ana yang merekah indah. Bibir yang selalu menghantuinya. Dipagutnya bibir itu dengan rasa lapar. Tapi bibir itu tak membalas pagutannya. Tak merespon setiap cumbuannya pada bibir itu. " Ah...kamu ini benar-benar seperti boneka. Yang diam saja tak ada reaksi diperlakukan bagaimana pun juga untuk menjadi b***k nafsu." Dilucutinya pakaian ana hingga tak ada satu pun benang yang melekat di tubuh ana. Tubuh telanjang ana yang indah terpampang di depan matanya. Gina menatap tubuh itu dengan tatapan lapar. Didudukkannya ana dipinggir meja kerjanya. Digodanya perut ana dengan mengeluskan jari-jarinya disana. Tetap saja ana tak ada reaksi yang diberikan ana. Gina meraih kursi kerjanya untuk memposisikan dirinya duduk dihadapan ana. Dilebarkannya kedua paha ana selebar mungkin. Agar belahan yang berada di pangkal pahanya tampak jelas di depan matanya. Membuatnya leluasa bersenang-senang disana. Tangannya mulai menyerusuk ke dalam belahan itu, munyelinap ke dalamnya, mengelus-elus bagian yang berwarna merah muda itu dengan penuh damba. Membelai-belai k******s ana dengan lembut. "Dibeginikan pun kamu masih tak bereaksi" pandang gina dengan takjub pada wajah datar ana. Gina menyerusukkan kepalanaya ke pangkal paha ana. Lidahnya menjulur menjilati benda itu. Bermain-main membelai benda itu. Dilebarkannya belahan itu untuk dapat ke inti v****a ana. Lidahnya bermain-main di k******s ana. Membelai-belai benda itu dengan lembut dan perlahan. Kemudian Mengecap dan mencumbu benda itu dia sesekali dengan gemas menggesekkan giginya pada benda itu. Diobok-oboknya k******s itu menggunakan lidah dan bibirnya dengan penuh nafsu. Nafasnya semakin memburu. Gina pun memasukkan dua jarinya ke dalam liang v****a ana yang hangat dan sempit itu. Mengocok-ngocok menimpulkan suara keciprat dari hentakan tangannya. Walaupun v****a ana sudah mulai becek dan basah tapi tak ada reaksi apapun dari mulut ana. Setelah puas mengobok-obok v****a itu. Gina mengakat kepalanya menatap ana dengan mata sayu yang dipenuhi hafsu birahi. Mulutnya basah penuh dengan cairan ana yang bercampur salivanya. Bibirnya yang berlepotan cairan ana memagut bibir ana dengan birahi yang semakin menggebu. "Saatnya ON" bisik gina dengan lidahnya yang membelai-belai daun telinga ana. Tangan gina mulai membelai-belai d**a telanjang ana menanti reaksi ana. Dan begitu gina mulai meremas d**a yang membuncah indah itu. Ana pun bereaksi. "Aaahhhh..." Desahan pun keluar dari mulut ana yang mulai terbuka, yang langsung disambar gina dengan pagutan lapar penuh nafsu. " Mmpphhh..." Lidahnya melesak masuk ke dalam rongga mulut ana menjelajah didalam sana, melilit lidah ana yang juga mulai membalas aksinya. Suara pagutan dan cercapan saliva terdengar bersama suara eranga-erangan diantara lidah mereka yang saling berbelit dan menjelajah di dalam rongga mulut mereka yang terus berpagutan. Hingga kemudian mereka menjauhkan wajah mereka dengan napas memburu menghirup udara sebanyak mungkin. Napas yang semakin memburu, mata sudah sayu dipenuhi oleh nafsu birahi. " Aku sudah tak tahan" ujar gina diantara napas nya yang terus memburu. Dengan gerakan cepat ditanggalkannya semua pakaiannya. Hingga kini tubuhnya telanjang bulat tanpa ada benang yang melekat selembar pun. Duduk diatas kursi kerjanya sambil mengangkang lebar siap menyambut ana untuk memasukinya. Gina menatap ana dengan mata sayu penuh nafsu birahi. " Jilat..." desah gina serak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD