Bab 18

838 Words
Atmosfer adalah bar eksekutif yang menjadi tempat favorite para orang kaya yang memiliki kantong tebal. Atmosfer selalu memberikan pelayan yang memuaskan kepada para pengunjung dan tamu eksekutif mereka. Hingga kini tak ada ada yang pernah dikecewakan ketika mereka datang ke atmosfer untuk mencari hiburan ataupun hanya duduk-duduk berkumpul di barnya. Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya dalam mengatur kinerja di atmosfer. gina berhasil membawa atmosfer menjadi yang teratas mengalahkan tempat-tempat hiburan lainnya. Atmosfer menjadi tempat hiburan yang paling diminati kalangan atas karena kejelian gina menyeleksi pekerja dan menempatkan mereka di tempat yang tepat. Tidak sembarang orang bisa diterima di atmosfer. Tidak hanya dengan bermodal memiliki wajah yang cantik ataupun tampan saja yang diperlukan atmosfer tapi juga membutuhkan kecakapan dan kepiawaian yang baik dalam melayani para tamu dari kalangan elit. Memberikan pelayanan yang memuaskan adalah intinya. Jika mereka bisa membuat para tamu puas akan pelayanan mereka maka uang yang mengalir pada mereka pun menjadi berlimpah. Seperti halnya beni, yang dipercaya gina untuk menjadi asistennya. Beni sangat pandai dalam tutur kata menarik hati para tamu dan menangani segala urusan kebutuhan tamu- tamu atmosfer. Dia selalu tahu bagaimana menyenangkan tamu. Tak jarang dia mendapatkan banyak tips dari para tamu. Tapi kini sepertinya gina sedang fokus merencanakan sesuatu pada Ana. Melakukan sesuatu yang tak biasanya dia lakukan pada para wanita- wanita haremnya. Gina turun tangan langsung dalam menyeleksi tamu yang akan dilayani ana. Padalah biasanya itu adalah pekerjaannya beni. Tapi khusus untuk ana. Beni tak diperkenankan untuk ikut campur. Tidak semua tamu yang memanggil ana dipenuhi keinginannya. Bahkan banyak tamu yang khusus datang meminta dilayani oleh ana pun ditolak oleh gina tanpa alasan jelas. Ia telah menyia- nyiakan banyak pemasukan yang seharusnya bisa didapat atmosfer. Hal itu tentu saja berimbas pada beni. Membuat beni pusing tujuh keliling, dia harus pintar-pintar mencari alasan agar tamunya tidak kecewa dan mau menggantikan ana dengan wanita lain. Sepertinya gina sengaja membuat nama ana perlahan- lahan hilang dari para wanita atmosfe dan dari hadapan tamu. Beni tak habis pikir sebenarnya apa yang gina inginkan pada ana. Kenapa kini gina terus memanggil wanita ini selalu di saat waktu tertentu. Waktu dimana seseorang akan datang mengunjungi harem. Di waktu itu hanya Ana yang tak ada disitu. Apakah gina sedang merencanakan sesuatu? Atau sedang mempersiapkan ana untuk melakukan sesuatu yang besar. Kepala beni penuh dengan pikiran-pikiran berbagai kemungkinan yang terus berkecamuk. Diliriknya ana yang berjalan di belakang mengikutinya tanpa ekspresi dan berwajah tenang. Ditatapnya wanita itu dengan penuh penasaran dan rasa ingin tahu. Tapi wanita ini tak pernah mau menjawab. Dia hanya diam membisu menutup rapat kedua mulutnya. 'ah...sudahlah. lebih baik tidak tahu apa-apa saja' batin beni tidak mau ambil pusing. Dia adalah orang yang fleksibel tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain jika orang itu tidak ingin melibatkannya. Dia harus pandai menempatkan diri agar tidak mendapatkan kesulitan dalam hidupnya kelak. Cukup hanya menjalankan tugas dan perintah yang diberikan tanpa bertanya ataupun protes. Walaupun perintah-perintah dari gina mendatangkan tanda tanya besar di hatinya. Di depan ruang kerja gina. Beni mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar sahutan gina untuk menyuruh masuk. Beni mengedikkan kepalanya memberi isyarat pada ana untuk masuk kedalam ruangan. Setelah ana masuk beni bergegas pergi setelah menutup kembali ruang kerja gina. Banyak tugas yang sudah menantinya. Dan banyak perintah- perintah gina yang membuat kepalanya selalu berdenyut pusing akhir-akhir ini. Kini Di dalam ruang kerja gina..... Ana hanya berdiri diam di tempatnya setelah pintu si belakangnya tertutup kembali. Dia menanti disana tanpa ada inisiatif apa- apa. Gina yang sedang duduk dibalik meja kerjanya mengalihkan matanya dari dokumen-dokumen yang sedang dibacanya pada ana. Menatap ana dengan intens dengan berbagai pikiran yang selalu berkecamuk di hatinya.. Keputusannya memilih ana untuk ikut serta dalam pesta yang diadakan gerald tempo hari adalah suatu keputusan yang salah. Awalnya dia berpikir untuk memperkenalkan ana pada para pengusaha itu. Karena gina yakin ana tentunya akan mampu menarik perhatian mereka. Berharap pelayanan yang diberikan ana sama dengan pelayanan ana pada saat diuji dulu. Pelayanan yang sama diberikan ana tentunya akan membuat tamunya itu puas. Dan mendatangkan keuntungan yang banyak pada atmosfer. Memang rencana yang diharapkannya berjalan lancar. Tamunya memang puas akan pelayanan ana. Hanya saja dia tak menyangka ana akan melayani mereka semua, bahkan membuat mereka semua tak berdaya. Para peserta pesta tak hanya puas. Tapi sangat dan sangat puas. Dan itu menjadi awal mula masalah. Mereka menjadi kecanduan akan ana. Bahkan sejak itu mereka selalu saja mencari ana. Jika bukan ana yang melayani maka mereka akan marah dan mengamuk seperti orang yang kesetanan. Dan gina akhirnya menyadari satu hal. Hal yang sudah terlambat untuk dicegahnya. Dia hanya bisa berusaha mengatasi hal itu agar tidak semakin menyebar. Ana itu sebuah candu. Candu yang membuat siapa saja yang sudah mencicipinya tak akan merasa puas. Mereka akan menginginkan lebih dan lebih lagi. Mereguk manisnya candu. Oleh karena itu gina hanya memberikan ana pada orang yang sudah merasakan candu ana..agar candu itu tidak semakin menyebar luas.. Gina pun menyadari hal itu. Karena dia juga merasakannya. Perasaan yang tak bisa dipendamnya. Yang tak bisa mencengah keinginannya untuk selalu ingin memanggil Ana setiap harinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD