Bab 17

977 Words
Hari-hari ana di atmosfer berlalu seperti biasa. Dirinya sudah mulai terbiasa menjalani hidup di Atmosfer. Setiap hari dia akan dijemput dan dibawa untuk berkumpul di harem oleh Angela. Kehidupannya di atmosfer hanya berkisar kamarnya, harem dan ruangan-ruangan yang harus didatanginya saat menerima tamu. Tak pernah turun ke bar atau ke tempat lain. Angela selalu setia mendampingi, duduk disamping ana bercerita berbagai hal untuk mengusir kebosanan.walaupun teguran ataupun obrolannya tak pernah berbalas. Ana walaupun sudah mulai menikmati hidup di atmosfer mulutnya masih saja selalu terkunci. Dirinya tetap saja tak pernah mau berbicara dengan siapapun.. Hanya duduk diam dan menatap hampa. Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan ana. Ana tak butuh teman, dia hanya ingin sendiri seumur hidupnya hingga ajal menjemput. Sempat ada beberapa wanita yang berusaha untuk mencoba mendekatinya dan mencari perhatiannya berharap menjadi temannya. Sepak terjang Ana di pesta yang diadakan oleh gerald telah menjadi perbincangan hangat di harem. Ana saat ini sudah menjadi panutan diantara mereka. Membuat mereka ingin belajar dari ana, bagaimana caranya bisa menghadapi banyak pria sekaligus seperti di pesta itu. Tapi usaha pendekatan mereka sia-sia. Mereka seolah berbicara dengan patung. Ana tak pernah ada niat membalas sapaan mereka. Sehingga satu per satu akhirnya menyerah untuk mencoba dekat dengan ana. Yang pasti tak ada yang berani mengusik ana. Apalagi setelah melihat aksi ana yang menyerang felicia waktu itu. Lebih baik mereka mencari aman saja. Menjaga jarak dari ana. Untuk melayani tamu pun dia tak diberi banyak pekerjaan. Dia hanya dipanggil untuk menemani satu atau dua orang tamu saja.. kebanyakan tamu yang dilayaninya pun hanya orang-orang yang pernah dilayaninya sebelumnya. Yang sepertinya hanya ingin dilayani oleh ana. Felicia? Dia tetap menguasai harem. Hanya saja dia tidak mengusik ana lagi. Dia selalu menjaga jarak dari ana. Hanya ana yang dibiarkannya bertindak sesuka hati di dalam harem. Felicia hanya menatap ana dengan pandangan yang berbeda. Tapi tak menghampirinya. Dia hanya selalu menatap ana dari jauh tanpa kata. Ana tak menghiraukan apa arti dari tatapan Felicia. Selama dia tak diusik itu sudah cukup. Yang dipikirkan ana hanya yang penting dirinya tetap hidup. Tak perduli seperti apa kehidupan yang dijalaninya, akan dia terima asalkan dia tetap hidup. Karena itulah pesan terakhir ibunya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. ' Tetaplah hidup..walau apapun yang akan kamu hadapi, tetaplah hidup' hanya itu kata terakhir ibunya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Hanya ucapan itu yang terus mengiang di ingatannya dan menjadi pegangan hidupnya hingga sekarang. Apakah dirinya seorang jalang? Ya..tak dipungkirinya jika kata-kata itu melekat di dirinya. Karena dia sangat mudah masuk ke dalam pelukan satu pria ke pria lainnya. Semua diterimanya tanpa terkecuali. Hei..ini atmosfer.. tempatnya para jalang, tugas mereka adalah menjadi pemuas nafsu para pria. Semua wanita disini adalah jalang. Jiwa liarnya selalu ingin mereguk kenikmatan lebih dan lebih lagi. Tak peduli bahwa dia harus berbagi atau apapun itu. Selama ada yang menghampirinya akan diterimanya dengan senang hati. Hari-hari di kehidupan masa lalunya dulu telah melatih dirinya mempunyai tubuh yang sudah kebal menghadapi segala macam siksaan. Seorang diri menghadapi tiga orang pria b***t yang tak ada rasa puas menyentuhnya bahkan sering berebutan untuk memasukinya tanpa mengiraukan dirinya yang sudah kelelahan bahkan pingsan kala itu.. Bahkan lubang belakangnya pun tak luput dari siksaan, hanya demi memuaskan hasrat birahi para pria b***t itu. Dan masih banyak kejadian lain yang dihadapi di masa lalunya. Yang membuat hatinya membeku tak memiliki emosi lagi hingga sekarang. Tapi sekarang dia hidup jauh dari para pria b***t itu. Terlepas dari siksaan-siksaan mereka dan menjalani hidup lebih nyaman di atmosfer walau dirinya tetap tak terlepas dari para pria b***t lainnya. Setidaknya disini dia bisa makan makanan enak sepuasnya. Menyantap berbagai makanan yang dulunya dipikirnya tak akan pernah dia nikmati seumur hidupnya lagi. Seperti saat ini dia sedang berdiri di depan meja makan yang diatasnya telah tersaji makanan-makanan lezat yang menggugah seleranya. Matanya berbinar bahagia melihat makanan-makanan yang melimpah diatas meja penuh dengan berbagai macam hidangan. Dia menyantap makanan-makanan itu dengan lahap seolah takut esok dirinya tak akan pernah menyantap makanan lezat itu lagi. Padahal kemaren dan kemarennya lagi dia sudah menyantap hidangan yang sama itu setiap hari. Gaya makannya menarik perhatian penghuni harem. Dirinya menjadi pusat perhatian dan tontonan menarik para wanita-wanita itu, menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Tak ada yang berani mengejeknya. Bahkan felicia pun tak menggubris kelakuan barbar ana dalam menyantap makanan. Angela pun hanya bisa mengegeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi ana. Hingga kedatangan beni mengusik keasikan mereka yang tadinya hanya fokus pada tingkah ana. Mata beni menatap sekeliling mencari- cari seseorang diantara puluhan wanita di harem itu. Saat ini adalah saat istirahat para wanita di harem. Sudah beberapa hari ini beni selalu datang setiap hari di waktu yang sama. Dan yang dicarinya diwaktu seperti ini hanya satu orang. Beni berjalan menuju ana setelah menemukan dirinya yang sedang asik menyantap hidangan. " Ikut denganku" panggil beni setelah berdiri di hadapan ana. Angela yang berdiri disamping ana menatap beni sambil mengernyit heran. " Gina memanggil" tambahnya sebelum angela membuka suaranya hendak bertanya. " Kenapa Gina selalu memanggil ana setiap hari" heran angela. Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Gina biasanya hanya memanggil para pekerja ke kantornya jika mereka membuat masalah. Dan jika beni tak bisa mengatasi masalah yang ditimbulkan mereka maka gina yang akan memanggil dan menghukum mereka. Tidak mungkin kan ana membuat masalah tiap hari. Jika iya, pasti dia juga sudah diusir dari atmosfer. Karena atmosfer tak menerima biang onar. Ana segera mengikuti beni tanpa membuat beni menunggu lebih lama lagi, tatapannya mengucapkan sampai jumpa pada makanan-makanannya dari dalam hatinya. Dari tempatnya, Felicia menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan heran dan perasaan curiga. Hampir setiap hari Gina selalu memanggil Ana, disetiap jam istirahat mereka. Bahkan Pekerjaan ana pun Gina yang menentukan. Dia yang mengatur siapa saja yang bisa menemui ana. Padahal biasanya untuk urusan pemilihan para wanita dengan para tamu harusnya itu adalah bagian beni. karena itulah pekerjaan beni di atmosfer ini. Apakah ada yang direncanakan gina pada ana??....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD