Bab 16

799 Words
Beni hanya bisa terpelongo dengan mulut menganga lebar saat memasuki ruangan itu untuk memeriksa keadaan ruangan vvip karena penghuninya belum ada satu pun yang keluar untuk waktu yang sangat lama. Semua penghuni ruangan vvip terkapar terkulai lemas diatas sofa. Bau s*x menguar memenuhi ruangan. Mereka tidur atau pingsan ya? Pikir Beni sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal dengan wajah bingung mengamati mereka. Ruangan tampak sunyi tanpa ada yang bersuara. Sepertinya telah terjadi pesta s*x yang liar disini. Simpul beni setelah mengamati seisi ruangan. Akhirnya pesta pun usai. Dengan para tamu yang kemudian pulang dengan wajah sumringah puas. Gina pun mendapat laporan yang memuaskan atas pelayanan anak buahnya pada para tamunya. Terutama cerita tentang Ana. Sesuai dengan prediksinya Ana sungguh mendatangkan keuntungan bagi Atmosfer. Bahkan Gerald memberikan tambahan bonus yang lebih dari biasanya. Tampaknya pria itu kali ini sangat terpuaskan. Nama Ana pun menjadi buah bibir para pria yang datang ke atmosfer. ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••• Hari ini Ana memasuki kembali ruangan Harem setelah diberi waktu untuk istirahat beberapa hari oleh Gina. Setelah pesta itu Ana terus tertidur sepanjang waktu. Dirinya hanya bangun saat Angela mengantarkan makanan. Ana seperti sedang hibernasi mengumpulkan kembali staminanya setelah tertempuran panjang yang sangat menguras tenaganya. Kedatangannya disambut Angela dengan antusias tapi tidak dengan tatapan tak suka dari Felicia beserta teman-temannya. "Bagaimana keadaanmu Ana" sapa Angela ramah. Ana masih merasa sangat mengantuk dan ingin kembali tidur. Tapi dirinya dipaksa bangun oleh beberapa orang hingga mengantarkannya kesini. Pandangannya tertuju pada ranjang di tengah ruangan. Ada Felicia dan teman-temannya sedang berbaring diatasnya. Toh dia hanya butuh bagian kecil dari ranjang untuk merebahkan diri. Tanpa menghiraukan tatapan bermusuhan dari Felicia,Ana tetap melangkahkan kakinya menuju ranjang. " Ngapain kamu kesini" tegur Felicia tak suka saat Ana menghampiri tempat kekuasaannya. Ana hanya menatap Felicia datar tak menjawab tegurannya kemudian tatapannya mengarah pada pinggir ranjang yang kosong. Felicia segera beranjak dari ranjang dan berdiri di depan Ana. " Ini tempatku. Sana cari tempat lain" usir felicia menunjukkan pada ana dialah penguasa di harem itu. " Feli, berilah sedikit tempat untuk Ana. Toh ranjangnya masih banyak tempat" sela Angela kesal pada arogansi Felicia. " Tak usah ikut campur Angela. Kamu mau mencari masalah denganku?" Bentak Felicia menatap Angela dengan tatapan tak suka. Dia merasa Angela sekarang sudah semakin kurang ajar berani membantah perkataannya. Selama ini apapun yang dia perintahkan dan atur di dalam harem ini tak ada yang berani membantah. Dialah sang penguasa harem. Angela hanya diam dan menghela napas tak berani menyela lagi. Jika Felicia sudah mengeluarkan nada seperti itu tandanya dia sedang dalam suasana tidak baik. Dan semua kemarahannya ditujukan pada Ana yang telah menjatuhkan harga dirinya tempo hari. Ana yang merasa dia tak pernah mencari masalah dengan Felicia hanya diam dan tetap tak bergeming dari tempatnya. Ana heran kenapa mau tidur saja dipersulit. Padahal kan ranjang itu masih luas. Dia hanya membutuhkan sedikit tempat untuk dirinya berbaring. Perempuan di depannya ini terus saja mengoceh mengusirnya. " Dasar jalang. Sana pergi cari tempat lain. Ini adalah tempatku" umpat Felicia kesal mendorong tubuh Ana menjauhi ranjang. Jalang? Ana menatap felicia geli.walau wajahnya masih menunjukkan ekspresi datar tak menunjukkan emosi dalam pikirannya. Jalang kok teriak jalang. Padahal dirinya sendiri juga jalang. Batin Ana geli. Mereka sama-sama menjajakan diri pada setiap pria. Tak ada yang membedakan mereka disini. Semua sama-sama pelayan s*x para pria. Tapi Ana tak ingin berdebat, seperti kehidupannya sebelumnya, percuma saja dia bersuara dan menyerukan keinginannya. Semua hanyalah sia-sia belaka. Diam adalah yang paling baik. Tidak membuatnya cape. Dan Tidak membuat masalah semakin rumit. Dia hanya ingin tidur. Itu saja. Kenapa tidur saja dipersulit. Dipandanginya felicia yang terus mengoceh di depan wajahnya. Dengan kesal Felicia terus mengoceh. Segala omongan kasar dan menghinanya ditumpahkannya untuk memancing respon Ana. Aduh itu mulut berisik sekali. Kesan Ana dalam hati. Kesal dengan suara Felicia yang mulai cempreng karena terus nyerocos teriak. Ditarikany kepala Felicia mendekatinya dan..... "Mmmmmmpppphhh...." Erang felicia dengan mata melotot kaget saat mulutnya dibungkam oleh mulut Ana. Dirinya shock tak bereaksi atas aksi ana yang tiba-tiba menyumbat mulutnya dengan bibirnya. Ana melumat bibirnya dengan keras cukup lama. Para wanita di harem pun shock dan hanya bisa tercengang atas aksi ana yang tiba- tiba. Ana nelepaskan pagutannya. Ditatapnya Felicia dengan wajah datar. Dalam hati ia tersenyum geli melihat wanita itu masih membeku. 'Ah..Akhirnya diam juga dia' batin ana.. Dengan santai ana membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan memejamkan matanya melanjutkan tidurnya yang terganggu sebelum dirinya dibawa kesini. Tak dipedulikannya kehebohan yang akan terjadi. Karena Felicia tak mengusiknya lagi setelah itu. Yang penting dia bisa tidur. Itu sudah cukup baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD