Bab 15

807 Words
Ana memyambut kedua orang itu dan melayani mereka berdua tanpa ada rasa lelah. Dirinya sanggup menyeimbangi gempuran dari kedua orang itu secara bergantian. Bahkan bisa melayani keduaanya secara bersamaan. Gerald yang saat ini sedang menggempur Felicia yang sedang menungging diatas sofa konsentrasinya teralihkan pada Ana. Saat mendengar Ana yang mendesah-desah mendayu tak jauh darinya. Membuatnya penasaran. Sambil terus memompakan batangnya di dalam lobang v****a Felicia. Pandangan Gerald malah tertuju pada kegiatan Ana. Yang saat ini sedang menggenjot dirinya diatas tubuh salah satu koleganya. Sedangkan yang satu lagi batangnya sedang dikocok-kocok Ana dengan tangannya. Desahan-desahan yang dikeluarkan Ana lebih menarik perhatian gerald untuk terus menatap ana dari pada desahan Felicia. Ritme hentakan Getald malah mengikuti suara desahan Ana. Yang semakin membuat birahi Gerald memuncak. " ouchh..ahh..ahhhh.." Filicia mengerang dan terengah-engah menerima tempo hentakan Gerald yanag makin cepat dan keras menghantamnya. Hingga membuat dia mengerang menuju puncak kenikmatannya. Felicia mulai kehabisan tenaga. Sedang Gerald dibelakang masih menghentak-hentak tubuhnya tak memperdulikan kelelahananya. Hentakannya terakhir yang kuat disusul suara lenguhan Gerald dan semburan cairannya di dalam sana. Membuat Felicia terkulai lemas diatas sofa dengan nafas ngos-ngosan. Gerald msh siap bertempur dengan batangnya yang masih keras di pangkal pahanya. Dilihatnya Felicia yang sepertinya sudah yang sanggup. Rasa penasarannya pada Ana sangat besar. Saat Gerald ingin beranjak bergabung dengan Ana, tangan Felicia menahannya. " Aku masih sanggup melayani tuan." Felicia menarik Gerald menghampirinya. Di tuntunnya batang p***s Gerald yang besar masuk ke lobang vaginanya yang sudah terasa perih karena gempuran Gerald yang bertubi-tubi. Tapi ditahannya rasa perihnya. Mana mungkin dia kalah dari anak baru itu. Akan ditunjukkannya pada Gerald bahwa dirinya lebih unggul dari anak baru itu. Tapi egonya justru menyiksanya. Suara-suara pergumulan Ana justru membuat jauh dilubuk hati Felicia menciut dan menyadari bahwa dirinya sudah terkalahkan. Sambil kembali menggenjot Felicia Gerald takjub melihat aksi Ana. Sedang Felicia terkaget melihat orang-orang yang tadi dilayani Ana telah terkapar kelelahan. Tatapan Felicia bertemu pandang dengan Ana yang menyeringai puas menatapnya. Felicia menggeretakkan giginya geram. Dia merasa bahwa Ana sedang meremehkannya dan bangga karena mengalahkannya. Tapi dirinya tidak sedang baik-baik saja. Tubuhnya sedang tersiksa dan kelelahan. Hentakan- hentakan Gerald bukannya membuat dirinya nikmat. Desahan yang keluar dari mulutnya pun bukan desahana nikmat tapi desahan kesakitan. Sampai dia menggigit bibirnya untuk meredam rasa sakit di pangkal pahanya. Dirinya sudah tak kuat lagi bertahan. Dia telah kalah telak dari Ana. Dia memyerah. Hingga dia mendesah lega saat akhirnya Gerald melenguh puas dan menyemburkan lahar panas diatas perutnya. Felicia pun terkulai lemah menyerah. Dirinya sudah benar-benar tak sanggup. Para penghuni ruangan itu sebagian besar sudah terkulai lemah si atas sofa menjadi penonton. Saat ini hanya tersisa tiga orang pria yang masih memiliki stamina lebih. Gerald menghampiri Ana yang saat ini sedang bergelut bersama dua orang pria. Dirinya sangat penasaran akan Ana. " Layani aku." Ujar Gerald mengarahkan batangnya di hadapan Ana yang sedang digenjot. Ana menatapnya menggoda, tanpa kata dikulumnya batang itu di dalam mulutnya. Gerald mendesah tubuhnya meremang nikmat. "Ahh...mulutnya saja sudah seenak ini" desah Gerald. Penisnya langsung mengembang keras dan kaku. Bersamaan dengan orang yang menggempur Ana melenguh sudah mencapai puncaknya. Mencabut penisnya dan memuncratkan lahar panas diatas d**a Ana. Setelah orang itu terhempas diatas sofa dengan tubuh lelah tapi merasa terpuaskan. Gerald segera menyambar Ana. Segera diarahkan penisnya ke pangkal paha Ana. Gerald terkejut. Lobamg Ana begitu sempit. Penisnya yang besar dengan susah payah berusaha memyerusuk masuk. " Akhh...sempitnya.." erang gerald terus berusaha memasukkan batang penisnya lebih dalam. " Ahh..nikmatnya" erang gerald saat mulai menggerak-gerakkan bokongnya, disambut desahan Ana. " Lebih cepat.." erang ana menatapnya memohon. Benar-benar sangat nikmat di setiap gerakannya. Membuat gerald ingin dan ingin lagi. Hingga tanpa terasa dia pun mencapai puncaknya. Tapi masih belum cukup baginya. Hanya istirahat sejenak kemudian dilanjutkannya menggempur Ana. " Gantian Gerald. Giliran dong" protes yang seorang lagi yang juga belum terpuaskan." " Kamu ambil belakangnya" Gerald pun mengubah posisi Ana untuk berada di atasnya. Dengan penisnya yang masih menancap di dalam v****a Ana. Direbahkannya tubuh Ana tengkurup diatas dadanya. Sedang pria yang satu lagi mengambil posisi di belakang Ana. "Akhhh.." jerit ana terlonjak kaget saat lobang anusnya dimasuki oleh p***s pria itu. Yang untungnya sudah licin bekas lumuran air maninya. " Oughhh.." erang Ana saat semuanya sudah melesak masuk. Biarpun ini bukan pertama kalinya lobang anusnya dimasuki tetap saja tubuhnya sempit. "Aahhhh...ahhh.." desah Ana nikmat saat kedua pria itu mulai bergerak beriringan. Menggempur Ana dari bawah dan dari belakang.. tubuh ana pun ikut bergerak menikmati desakan dalam dirinya. " Ough.. ini menyenangkan..." Erang kedua pria itu semakin menggenjot dengan tempo yang semakin dipercepat. Desahan-desahan ketiga manusia terus itu semakin memburu membahana memenuhi ruangan. Hingga mereka menyemburkan lahar panas bersamaan di dalam sana. Kali ini mereka benar-benar kelelahan. Dan sangat terpuaskan. Semuanya K.O diatas sofa. Begitu juga dengan Ana. Dia tersenyum sangat puas. Merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan matanya dengan tubuh dipenuhi cairan m**i para pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD